NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Dewi

Sistem Penakluk Dewi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:282
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Enzo pikir hidupnya yang serba pas-pasan dan biasa saja tidak akan pernah berubah, sampai sebuah notifikasi aneh bertajuk “Sistem Penakluk Dewi” muncul di ponselnya. Bukan memberi kekayaan dadakan atau jurus sakti, sistem ini justru bekerja seperti cermin jujur yang menelanjangi kelemahan dirinya sekaligus mengurai trauma orang-orang di sekitarnya. Terjebak di antara tuntutan ekonomi, dinamika tiga gadis muda yang menyimpan luka masa lalu, dan dua wanita matang yang lelah dengan kepalsuan hidup, Enzo dipaksa belajar satu hal: menaklukkan hati seseorang tidak pernah butuh trik sulap, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima ketidaksempurnaan manusia apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAYA DAN MOTOR YANG MOGOK

Awan mendung tebal berwarna abu-abu kehitaman bergelayut rendah di atas perbatasan kota sejak sore hari. Angin basah berembus agak kencang, membawa aroma tanah kering yang tersiram titik-titik air pertama. Gerimis halus mulai turun satu per satu, membasahi permukaan aspal hitam yang membisu di sepanjang jalan pintas pemukiman yang sepi.

Enzo melangkah tenang di atas trotoar berbatu, menyusupkan kedua tangannya ke dalam saku celana jins lamanya. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaan harian mengangkut papan kayu di area pergudangan. Pikirannya masih terngiang oleh teguran keras dari Sistem Penakluk Dewi tadi malam—teguran tajam yang membongkar kelemahan utamanya: sikap lambat mengambil keputusan dan kecenderungannya yang terlalu pasif menunggu krisis terjadi.

"Gue nggak boleh cuma diam nunggu orang lain terdesak..." gumam Enzo pelan seraya menatap rintik hujan yang mulai merapat.

Jalan pintas yang ia lalui sore ini adalah jalur sepi yang jarang dilalui kendaraan umum, diapit oleh bentangan lahan kosong dan pepohonan rindang di kanan kiri. Di pertigaan jalan yang temaram oleh lampu penerangan yang redup, Enzo menangkap bayangan seseorang sedang berdiri membungkuk di samping sebuah sepeda motor matic tua berwarna hitam.

Enzo menghentikan langkahnya sejenak, memicingkan mata menembus tirai gerimis yang makin lebat.

Gadis itu mengenakan jaket parasit tipis berwarna biru tua yang sudah basah oleh titik-titik air hujan. Rambut panjangnya yang diikat ekor kuda tampak agak lepek menempel di tengkuk. Ia berulang kali menghentakkan kakinya kasar pada tuas starter manual motornya, namun mesin tua itu hanya mengeluarkan suara batuk kusam yang langsung mati kembali.

Gadis itu adalah Maya.

Enzo mengenali sosok rekan kerja paruh waktu yang biasanya selalu bersikap ceria di depan umum itu. Namun sore ini, di jalanan sepi yang diguyur gerimis, tidak ada senyum manja atau tawa segar di wajah Maya. Yang tersisa hanyalah raut wajah letih, napas berburu yang tertahan, serta sepasang mata yang menyimpang frustrasi yang amat pekat.

Gadis itu tampak begitu lelah usai menyelesaikan shift kerjanya dan jadwal kuliah yang padat, kini harus terjebak di tengah jalanan sepi dengan kendaraan yang tidak bisa diandalkan.

Mengingat evaluasi sistem tadi malam, Enzo tidak ragu-ragu lagi. Ia tidak menunggu Maya berteriak minta tolong atau membiarkan gadis itu makin terdesak oleh hujan yang makin deras. Enzo langsung mempercepat langkah kakinya, melangkah lebar mendekati lokasi Maya berdiri.

"Mogok, May?" tanya Enzo tenang seraya menghentikan langkahnya dua tapak di samping motor tua itu.

Maya tersentak kaget mendengarkan suara pria yang tiba-tiba muncul dari kegelapan. Gadis itu menyapu usapan air hujan di dahi dengan punggung tangannya, lalu menoleh cepat. Begitu menyadari bahwa pria di hadapannya adalah Enzo—pria yang pernah menyaksikan pertengkarannya di kafe dan pernah ia tolak bantuannya—duri pertahanan diri Maya langsung berdiri tegak seketika.

Gadis itu menyilangkan tangannya di dada, menatap Enzo dengan pandangan curiga dan gengsi yang mengeras.

"Nggak usah ikut campur," cetus Maya ketus seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Hujan makin deras, May," balas Enzo datar, matanya tidak berkedip menatap raut wajah Maya yang kaku.

"Kalau lu terus-terusan menghentak tuas itu tanpa ngecek businya, akinya bisa soak dan mesinnya makin banjir," sambung Enzo jujur.

"Gue bilang nggak usah ikut campur ya nggak usah!" sembur Maya dengan nada suara yang sengaja ditinggikan demi menutupi rasa canggung dan paniknya. "Gue bisa urus motor gue sendiri! Lu pergi sana, nggak usah sok peduli!"

Kata-kata tajam yang diluncurkan Maya sarat dengan nada penolakan yang dingin. Di masa lalu, respons defensif seperti ini disebabkan oleh trauma pengkhianatan masa lalunya, membuat Maya selalu mencurigai setiap pria yang mencoba mendekatinya dengan niat baik.

Namun Enzo tidak tersinggung atau mundur selangkah pun. Ia tidak membalas nada kasar Maya dengan amarah, tidak pula memanjakan gengsi gadis itu dengan rayuan manis. Enzo bersikap pragmatis dan objektif.

"Lu mau berdiri di sini sampai malam sambil kehujanan cuma demi mempertahankan gengsi?" tegur Enzo lugas, suaranya rendah menembus suara gemericik air hujan di dedaunan.

Maya tertegun sejenak, bibirnya terkatup rapat. Dagu gadis itu terangkat tinggi, namun kilat mata frustrasinya tidak bisa disembunyikan.

Enzo tidak menunggu izin lisan yang rumit dari Maya. Ia melangkah maju, berlutut di samping bodi bawah motor matic tua itu tanpa memedulikan celana jins lamanya yang tergesek tanah basah.

"Heh! Mau ngapain lu?!" seru Maya kaget seraya melangkah mundur satu tapak.

"Ngecek karburator sama businya," jawab Enzo singkat tanpa menoleh.

Pemuda itu merogoh saku samping celana lamanya, mengeluarkan kunci busi sederhana dan obeng kecil yang selalu ia bawa saat bekerja di gudang. Enzo membuka penutup plastik bodi bawah motor Maya dengan gerakan terampil, menarik keluar tutup busi yang sudah kusam oleh jelaga hitam.

Sesuai dugaan Enzo, celah busi motor matic itu telah tertutup rapat oleh penumpukan kerak karbon dan basah oleh rembesan bensin akibat dipaksa distarter berulang kali.

Enzo mengusap jelaga hitam di ujung busi itu menggunakan ujung kain perca bersih dari sakunya, meniup celahnya perlahan, lalu menyetel jarak renggang pemantiknya dengan hati-hati.

Maya berdiri mematung di bawah naungan gerimis, menyaksikan jemari tangan Enzo yang agak kotor bergerak cekatan di bawah lampu motornya yang redup. Tidak ada kepalsuan, tidak ada usaha untuk bersikap tegap memamerkan kekuatan, hanya ada ketelitian kerja nyata dari seorang pria yang tahu persis apa yang harus dilakukan.

Rasa curiga dan benteng gengsi yang dibangun Maya selama bertahun-tahun mendadak terasa begitu rapuh dan konyol di hadapan tindakan polos pemuda di depannya ini.

"Coba sela tuasnya sekarang, May," perintah Enzo seraya memasang kembali busi itu ke tempatnya dan berdiri merapikan pakaiannya.

Maya menatap Enzo ragu-ragu sejenak. Namun, melihat sorot mata Enzo yang jujur dan tanpa pamrih, gadis itu akhirnya mengangguk pelan. Maya memutar kunci kontak motornya, menarik tuas gas sedikit, lalu menghentak tuas manualnya dengan tumit kakinya.

Brumm!

Mesin motor tua itu mendadak terbatuk sekali, lalu meraung hidup dengan suara konstan yang halus. Lampu depan motor menyala terang membakar rintik hujan di udara.

Maya membelalakkan matanya kaget, menatap mesin motornya yang kini bergetar stabil, lalu beralih menatap Enzo yang sedang mengusap telapak tangannya yang kotor oleh oli tipis menggunakan kain perca.

"Mesinnya cuma banjir bensin karena businya kotor," kata Enzo tenang seraya mengantongi kembali kunci sederhananya. "Sekarang sudah aman dipakai jalan."

Maya menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Pipi cantiknya bersemu merah samar oleh rasa malu dan haru yang bercampur aduk. Kebiasaan buruknya yang selalu berprasangka jahat pada kebaikan orang lain mendadak terasa menyengat nuraninya.

"Makasih..." bisik Maya lirih, suaranya hampir tenggelam oleh deru hujan, namun terdengar sangat murni di telinga Enzo.

"Sama-sama, May," sahut Enzo seraya menyunggingkan senyum tipis yang membumi.

Saat hujan gerimis mulai membesar menjadi rintik-rintik yang rapat, ponsel tua di saku celana Enzo bergetar halus dua kali secara berurutan. Enzo merogoh benda itu, melirik layar retaknya yang menyala redup di balik telapak tangannya.

[Pembaruan Data Target: Maya (21 Tahun)]

[Analisis Tindakan: Inisiatif Proaktif & Bantuan Teknis Nyata.]

[Status Emosional Target: Benteng pertahanan diri dan trauma prasangka target mulai runtuh secara signifikan. Target mengakui kepedulian tulus Anda.]

[Keterikatan Maya Meningkat: 12% -> 22%]

[Catatan Sistem: Kecepatan bertindak Anda telah berhasil mengubah persepsi Target.]

Enzo mematikan layar ponsel tuanya, menyusupkannya kembali ke dalam saku celana jinsnya. Ia menatap Maya yang sedang memegang setang motornya dengan raut wajah yang jauh lebih melunak.

"Naik, May," kata Enzo tegas dan mantap seraya menunjuk jok belakang motor tua itu. "Hujan makin deras. Gue yang bonceng lu sampai rumah."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!