NovelToon NovelToon
ME | Possessive BadBoy

ME | Possessive BadBoy

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Fantasi Isekai / Nikahmuda
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Smarrr

Nadia tak suka dengan perjodohan yang orang tuanya berikan padanya dengan Jayden Mahendra.

Jayden san Nadia kini resmi menjadi suami istri, tapi pernikahan mereka masih harus di sembunyikan sampai mereka lulus sekolah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smarrr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Pagi itu, suasana rumah jayden dan Nadia terasa berbeda. Mereka terlihat sibuk dengan barang-barang yang akan dibawa. Jayden, dengan semangatnya memeriksa tiket pesawat dan paspor, sementara Nadia, istrinya, memastikan bahwa pakaian dan perlengkapan pantai sudah terkemas rapi.

Mereka sudah terlalu bersemangat memikirkan pantai dan matahari Bali yang akan mereka nikmati. Mobil yang akan mengantar mereka ke bandara sudah terparkir di depan rumah, dan supirnya dan beberapa bodyguard yang juga berjaga di depanm enunggu.

Setelah semuanya terkemas, Jay berkumpul di ruang tamu, memeriksa sekali lagi apakah ada yang tertinggal.

Nadia mengingatkan untuk mematikan semua barang-barang mereka agar tak d yang tertinggal, dan Jay memastikan. "Udah semua sayang," kata Jay dan mengenggam tangan Nadia berjalan ke depan.

Ketika mereka sampai di bandara, suasana semakin ramai. Dan ternyata Arnold, Jesica, Arga dan Mela sudah menunggu kedatangan nereka di bandara.

Orang-orang terlihat berlalu lalang, ada yang terburu-buru, ada juga yang seperti mereka, tampak antusias dan gembira.

Check-in berjalan lancar, dan tidak lama kemudian mereka sudah duduk di ruang tunggu, menanti penerbangan yang akan membawa mereka ke pulau dewata, tempat dimana kenangan indah akan segera tercipta.

Bali.....!!!

Mereka akhirnya sampai di Bali, semua berseru bahagia, apa lagi dengan Jayde dan Nadia yang ingin honeymoon di kota itu.

Mereka menginap di vila milik Jayden yang bahkan Arnold dan yang lainya tak mengetahui.

"Anjir, punya vila diem- diem aja," kata Arnold merangkul bahu Jay.

"Singkirin atau mau potong gaji?" Tukas Jay dengan ekspresi yang datar.

"Ampun deh gue, masih aja soal gaji," Arnold mengelus bahu Jay dan menjauh dari cowok itu.

"Makanya jangan deket-deket, dia lagi sensi, soalnya kan pengennya berduaan aja, ehh... Malah bininya pengen ngajak kita," sahut Jesica menggoda Jay.

"Ya udh kita masuk ke kamar masing-masing ya guys," seru Jesica yang langsung menarik lengan Arnold, kemudian di susul oleh Jayden dan Nadia. Tinggalkan Arga dan Mela.

"Sia lan Nadia, gue di tinggal berdua begini, masa gue satu kamar sama kak Arga. Kan nggak mungkin, tapi mau sih, wkwkwkk," gumam Mela dalam hati.

Membayangkan satu kamar saja sudah membuat wajah Mela bersemu merah.

"Ehem... Mel," panggil Arga karena mela malah berdiri di tempat.

"Ah.. i-iya kak, kenapa?"

"Aku anter ke kamar kamu yuk," kata Arga.

"Kamar aku? Kita....." Sahut Mela ragu bertanya soal kamar mereka berdua. Karena yang lain sudah masik ke dalam kamar masing-masing.

"Kita beda kamar kok, Nadia sam Jay kan udah menikah, udah pasti satu kamar kan? Kalau Arnold dan Jesica itu mereka udah biasa satu kamar dimanapun, kamu emang nggak takut kalau satu kamar sama aku?"

Degh!

Mela menelan ludahnya dengan kasar. "Nggak takut sih, mau malah, tapi gengsi ahh.." gumam Mela lagi.

"Hehehe..." Lain di hati lain di bibir.

"Ya udah yuk, aku anter," Arga membawakan koper milik Mela ke kamar.

"Yahh... mereka nggak satu kamar," keluh Jesica dan Arnold mengangguk.

"Iya, padahal kita udah sengaja ninggalin mereka berdua biar mereka satu kamar ya sayang," kini Jesica yang mengangguk sebagai jawaban.

Akhirnya Jesica dan Arnold hanya bisa masuk ke dalam kamar lagi setelah mengintip Arga juga Mela.

"Makasih kak, Mela masuk kamar duluan ya," kata Mela malu-malu meong.

Setelah melihat Mela masuk ke kamar, Arga berjalan menuju kamarnya sendiribyang terletak di sebelah kamar Mela.

Arga sengaja berada di sana agar jika Mela memerlukan sesuatu memudahkan dirinya untuk membantu.

Di kamar Jayden!

"Kita langsung ke pantai kan? Pengen renang, pakai bikini ya?" Kata Nadia dan Jayde terbelalak.

"Enggak! Boleh ke pantai tapi nggak pake bikini! Biar apa? Biar cowok-cowok jelek itu pada ngeliatin badan kamu? Enggak!!" Tegas Jayden melarang.

"Terus bikini aku nganggur dong? Terus aku ke pantai pake apa?"

"Pake baju sayang, kan baju kamu juga banyak yang kamu bawa, kalau perlu nanti beli baju sepuasnya kamu, ASAL JANGAN DAN TIDAK PAKE BIKINI!" tegasnya lagi dan Nadia cemberut.

"Ahh... Nggak asik ah," gerutu Nadia merajuk.

Jay mengusap wajahnya kasar, dia tahu apa yang Nadia inginkan, tapi Jay juga tak mau jika badan Nadia akan menjadi fantasi bagi cowok sia lan yang ada di pantai nanti.

Jay melangkah mendekati Nadia yang masih berdiri di depan koper, memeluknya dari belakang dengan erat.

"Jangan marah, aku cuma nggak mau ada yang lihat badan kamu selain aku," lirih Jayden menjelaskan dan berharap Nadia akan mengerti.

"Hemmm..." Sahut Nadia hanya berdehem.

"Masih marah?"

Kini Nadia sadar jika apa yang Jay ucapkan ada benarnya juga, "Enggak," sahutnya.

"Coba kalau nggak marah cium suaminya dulu," kata Jay membalikan badan Nadia agar berhadapan dengan Jay.

"Ish... Mesum kan?" Ketus Nadia.

"Tujuan kita kan honeymoon sayang, kamu lupa?"

"Kita baru dateng."

"Emang kenapa kalau baru dateng? Aku kangen denger jerit... Mmm" Nadia membungkam mulut Jay saat cowok itu akan melanjutkan ucapannya.

"Jangan berisik! Takut kedengeran sama yang lain!" Pekik Nadia dan Jay malah terkekeh.

"Semua kamar di sini sudah di fasilitasi dengan kedap suara sayang, jadi jangan khawatir, kamu mau teriak sekeras apapun nggak bakal ada yang denger."

"Ishh.. mesum! Jangan- jangan kamu dulu sering bawa cewek kesini ya?"

"Cewek? Kamu yang pertama aku bawa kesini baby, aku bahkan nggak pernah pacaran karena aku nunggu kamu dari dulu asal kamu tahu! Kamunya aja yang lupa sama aku."

"Beneran nih yang pertama? Kalau kiss?" Tanya Nadia penasaran.

"You one and only, kalau kamu masih nggak percaya, belah aja nih da da aku, pasti kamu nemuin nama kamu terukir indah di hatiku."

"Iyuhhhhh..... Kamu kenapa jadi pinter gombal gini sih?" Cibir Nadia yang malah mengejek Jay. "Ehh tapi tadi kamu bilang kalau kmau nunggu aku dari dulu? Maksudnya?" Nadia penasran.

"Kamu nggak inget sama cowok yang dulu ngedeketin kamu dan ngajak kamu kenalan? Wajar sih kalau nggak inget, soalnya kamu ngomong aja masih cadel banget waktu itu."

Nadia semakin tak mengerti dengan penjelasan yang Jay ucapkan. "Apaan sih, aku nggak ngerti." Keluhnya.

Jay menarik badan Nadia dan memeluknya lagi, "Pokoknya cuma kamu, dan aku rela nunggu begitu lama karena kamu, karena jika bukan kamu, aku nggak mau menghabiskan sisa hidupku dengan wanita lain."

Ucapan Jay sukses membuat wajah Nadia bersemu. Nadia menatap kedua manik mata Jay dengan bergantian, melingkar kedua tanganya ke leher Jay dan mendekatkan wajahnya perlahan.

"Boleh aku yang mulai?" Jay menarik sudut bibirnya dan akhirnya persekopan pun terjadi.

Suara kecipak dari bi bir keduanya terdengar di telinga Jay dan Nadia. Membuat keduanya semakin bergai rah sampai tangn Jay mulai merambat ke mere mas pinggang Nadia.

"Eughhh..." Satu leng uh lolos dari bi bir hir mungil Nadia. Dan Jay semakin bersemangat.

"Mau di atas," bisik Nadia dengan mudahnya menanggalkan semua kain yang saat itu menutupi badanya.

Jayden terbelalak, dia juga menelan ludahnya susah payah, saat bagaimana dia melihat istrinya begitu inisiatif waktu ini.

Dan mereka bergelut. Memandikan keringat bersama, di beberapa tempat dan beberapa kali pelepasan.

Hal serupa iuga terjadi di kamar Jesica dan Arnold. Tapi tidak dengan Arga dan Mela. Dua orang itu kini tengah menikmati teh hangat di teras karena hari mulai sore sambil menikmati matahari tenggelam.

"Kok yang lain nggak turun- turun ya kak? Mereka ketiduran kah?" Tahya Mela dengan polosnya. Padahal dia tak sepolos itu.

"Uhuk..." Arga tersedak minuman mendengar apa yang Mela tanyakan. "Mungkin aja, kecapean mungkin jadi mereka memilih untuk tidur dulu," sahut Arga kemudian.

Mela hanya mengangguk. Dia terlalu grogi jika terlalu lama bersama Arga. Apa lagi hanya berdua seperti ini.

"Mau jalan-jalan?"

"Hah?"

"Jalan-jalan, mau?"

"Kita berdua aja kak?" Tanya Mela semakin grogi.

"Mau siapa lagi? Mereka aja belum keluar kamar dari tadi."

Mela menelan ludahnya susah payah. "Omaigaatt... Tolong pegangin gue ini, rasanya kaki gue lemes seketika," gumam Mela.

"Kamu sakit? Kalau sakit ya udah nggak apa-apa lain kali aja."

"Mau! Mau!" Seru Mela menjawab dengan cepat, ia tak mau menyia-nyiakan waktu yang sudah tercipta kali ini.

Arga tersenyum, dan itu membuat jantung Mela berdegup semakin cepat.

Mereka berdua berjalan-jalan di tepi pantai, menghirup udara yang segar yang pantai tawarkan pada setiap orang di sana.

"Duduk sana yuk," ajak Arga berhenti dan duduk di tepi Pantai.

Tak mereka duduk, karena keduanya saling diam, Mela membuka suara terlebih dahulu untuk percakapan.

"Kak Arga kok nggak bawa pacar kakak? Kaya temen kakak itu."

Arga menggeleng pelan, "Nggak punya," jawabnya yang kala itu membuat Mela ingin jingkrak-jingkrak.

"Kamu sendiri kenapa nggak bawa pacar kamu?" Tanya Arga balik.

"Mana ada yang mau sama aku kak, jelek, miskin udah gitu tah sendiri fashion aku nggak kaya cewek-cewek lainya, ini juga semua pakaian vang aku pake dari Nadia kak.

Nadia adalah sahabat aku yang paling baik, dia satu-satunya orang yang temenan sama aku di sekolahan waktu itu," ujar Mela jujur.

"Emang ada yang bilang kamu jelek?

Kalau masalah miskin, nggak boleh ngomong gitu, jarus lebih bersyukur lagi karena di luar sana ada yang nasibnya lebih buruk dari kita, soal pakaian aku, aku rasa oke oke aja."

"Hehe... Iya maaf kak, kadang aku ngerasa insecure aja karena selama ini belum pernah ada cowok yang mau deketin aku."

"Emang aku bukan cowok?" Tanya Arga dan Mela malah bingung sendiri.

"Kakak cowok, tapi kan kakak nggak deketin aku," sahut Mela yang sebenarnya jantungnya serasa ingin lepas dari tempatnya.

"Kalau aku bilang aku deketin kamu, kamu percaya?"

Degh! "Tuh kan jantung gue mau loncat, tolong weeii," seru Mela dalam hatinya. "Pura-pura bego aja dulu deh." Imbuhnya.

"Maksudnya kakak?" Kan pura pura bego si Mela mah. Udah di kode juga.

"Bukan apa-apa kok, lupain aja," ucapan Arga kini malah membuat Mela lesu.

"Yah.. kok nggak jadi sih, lagian gue sih,sok pura pura bego lagi." Ocehnya dalam hati merutuki dirinya sendiri.

"Kita pulang yuk aja yuk kak, kali aja yang lain udah bangun," ajak Mela akhirnya memilih untuk kembali ke villa.

Arga mengangguk, ia jelas betul melihat kekecewaan dari raut wajah Mela. Tapi apa daya, Arga hany amsih terlalu takut untuk menbina hubungan lagi setelah kekasihnya memilih selingkuh karena tahu jika dirinya seorang duda, dia takut hal itu akan terjadi lagi jika Mela mengetahui hal yang sebenarnya tentang dirinya.

Tak lama kemudian mereka sampai kembali di villa, dimana di sana Jayden, Nadia, Jesica dan Arnold sudah keluar dari periltapaan mereka.

"Dari mana kalian?" Tanya Jay.

"Cieee... Udah makin deket aja," goda Nadia tapi Mela malah memilih masuk ke dalam kamar.

"Gue ke kamar dulu ya, kalian lanjut ngobrolnya dulu, gue mau mandi," mela beralasan.

Arga menatap punggung Mela menjauh, ada rasa gelisah karena Arga melihat raut aajah Mela yang lesu.

"Gue ke kamar dulu ya, kalian lanjut ngobrolnya dulu, gue mau mandi," mela beralasan.

Arga menatap punggung Mela menjauh, ada rasa gelisah karena Arga melihat raut aajah Mela yang lesu.

"Nggak Lo apa- apain kan anak orang?" Tanya Jay lagi.

"Nggak anjir! Dia bilang kan mau mandi,"

"Lo nggak mandi?" Tanya Arnold kemudian.

"Nanti aja."

1
S.Marrr
Halloweeww gGuysss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!