Wen Sekar tidak pernah suka dengan keramaian.
Di usia 26 tahun, dia hanyalah karyawan administrasi biasa di Kota Angin — gaji pas-pasan, tidak punya teman dekat, dan lebih memilih menghabiskan waktu sendirian di kamar kos-nya. Satu-satunya kenangan berharga adalah kasih sayang Kakek dan Nenek Wen yang membesarkannya sejak bayi, setelah ia ditemukan di pinggir jalan oleh mereka.
Suatu malam, tusuk konde mutiara peninggalan Nenek tiba-tiba memberikannya kemampuan luar biasa: sebuah ruang penyimpanan ajaib di mana waktu berhenti, dan mimpi-mimpi yang menunjukkan bencana dahsyat yang akan melanda dunia.
Sekar tidak menunggu. Dia mulai menimbun — beras, minyak goreng, obat-obatan, alat pertanian, senapan berburu, empat buku panduan bertahan hidup. Semua disimpan dalam ruang ajaibnya. Ketika orang lain masih tertawa, Sekar sudah siap.
Dan bencana datang. Satu per satu: banjir besar, gempa dahsyat, pandemi global, dan akhirnya — letusan Supervulkan Yellowstone yang menyelimuti bumi dalam musim dingin vulkanik selama sepuluh tahun.
Sendirian di dataran tinggi Pulau Karang, lalu di kedalaman Hutan Damai di Kalimantan, Sekar bertahan. Dia belajar menanam singkong, berburu babi hutan, membuat tempe, membangun rumah dengan tangannya sendiri. Dia menghadapi perampok, binatang buas, dan kesunyian yang tak berujung — dan menang.
Tapi kisah ini bukan hanya tentang bertahan hidup.
Di usia 46 tahun, Sekar menemukan seorang bayi perempuan yang dibuang di depan gerbang kota. Dan saat itu, dia teringat dirinya sendiri — bayi yang pernah dibuang di pinggir jalan, lalu diselamatkan oleh cinta tanpa syarat.
Sekar mengambil bayi itu dan menamainya Anin.
Dari seorang gadis pendiam yang bertahan sendirian, Sekar menjadi seorang Mama — meneruskan warisan cinta yang dulu diterimanya dari Kakek dan Nenek Wen.
Ini adalah kisah tentang seorang perempuan yang tidak membutuhkan siapa pun untuk hidup — tetapi menemukan alasan untuk hidup demi seseorang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 006
Pulang ke Desa Lembah
Rumah Kakek dan Nenek.
Empat kata itu membuat Sekar hampir tidak tidur. Saat langit Kota Angin masih abu-abu, ia sudah duduk di tepi kasur, memandangi map bening berisi surat pengunduran diri. Motor bekasnya terparkir di halaman belakang kos, basah oleh embun pagi. Di rak meja, Empat Kitab Bertahan Hidup tersusun rapi seperti empat batu pemberat agar ia tidak mundur.
Ia mandi, mengikat rambut, menyelipkan tusuk konde mutiara, lalu memasukkan surat itu ke tas.
Di kantor, semua berjalan terlalu biasa.
Mesin absensi berbunyi. Rekan kerja membicarakan sarapan. Atasannya mengeluh soal laporan yang belum rapi. Sekar duduk di kursinya, menyalakan komputer, dan menunggu sampai pukul sembilan.
Lalu ia berdiri.
"Pak, saya mau menyerahkan ini."
Atasannya menatap map bening di tangannya. "Apa?"
"Surat pengunduran diri."
Ruangan kecil itu mendadak terasa lebih sepi. Dua rekan kerja yang sedang mengetik berhenti sebentar.
Atasannya mengerutkan dahi. "Mendadak sekali. Kamu dapat kerja baru?"
Sekar menunduk sopan. "Ada urusan keluarga di desa. Saya harus pulang."
"Tidak bisa cuti dulu?"
"Tidak, Pak. Maaf."
Ia tidak menjelaskan mimpi, ruang penyimpanan, atau tumpukan beras yang tidak terlihat. Ia hanya berdiri dengan kedua tangan di depan tubuh, menahan napas sampai atasannya akhirnya menerima surat itu.
"Nanti HRD hubungi soal prosesnya."
"Iya, Pak. Terima kasih."
Ketika keluar dari kantor setelah membereskan mejanya, Sekar membawa satu kardus kecil berisi mug lama, pulpen, dan kotak makan kosong. Tidak ada yang berat. Tetap saja bahunya terasa seperti baru melepaskan beban bertahun-tahun.
Di kos, ia tidak membuang waktu.
Pakaian seperlunya masuk ke tas. Empat buku, charger, dokumen, dan barang pribadi masuk ke ruang penyimpanan ajaib. Ia membiarkan tas di box belakang motor tampak berisi pakaian biasa. Kepada ibu kos, ia mengatakan akan pulang ke desa beberapa hari.
"Hati-hati di jalan, Mbak. Sendirian?"
"Iya, Bu. Saya sudah biasa."
Itu tidak sepenuhnya benar. Tapi Sekar tidak ingin ada pertanyaan tambahan.
Ibu kos menatap motor bekasnya. "Kalau capek, berhenti. Jangan maksa."
Sekar mengangguk. "Iya, Bu. Terima kasih."
Ia menyalakan mesin. Suaranya kasar, tapi hidup. Saat motor mulai bergerak keluar gang, dada Sekar terasa sempit. Kota Angin di pagi menjelang siang masih sibuk seperti biasa. Warung nasi menggoreng tempe. Anak sekolah menyeberang jalan. Sopir angkot berteriak mencari penumpang.
Semua orang bergerak seperti hari esok pasti sama dengan hari ini.
Sekar tidak lagi bisa percaya pada itu.
Jalan menuju Desa Lembah memakan waktu beberapa jam. Dari pusat Kota Angin, ia melewati jalan besar, lalu jalan kabupaten yang lebih sepi. Gedung-gedung berubah menjadi toko kecil, toko kecil berubah menjadi rumah berdinding bata, lalu sawah dan kebun mulai terbuka di kiri kanan.
Angin membawa bau tanah basah dan daun pisang.
Sekar berhenti dua kali. Sekali di pom bensin kecil, sekali di warung pinggir jalan untuk membeli air mineral. Pemilik warung, seorang perempuan tua, menatap motor dan box belakangnya.
"Mau jauh, Nak?"
"Ke Desa Lembah."
"Oh, lewat jalan atas saja. Jalan bawah banyak lubang setelah hujan kemarin."
"Terima kasih, Bu."
Sekar mengikuti saran itu. Jalan atas lebih sempit, tapi pemandangannya terbuka ke bukit-bukit rendah. Di kejauhan, awan menggantung tebal di atas lembah. Ia pernah melihat pemandangan itu ratusan kali saat kecil, duduk di boncengan motor Kakek Wen, memeluk pinggang lelaki tua itu agar tidak jatuh.
Kakek selalu berkendara pelan.
Nenek selalu marah dari halaman kalau mereka pulang terlalu sore.
Sekar memperlambat motor tanpa sadar.
Semakin dekat ke desa, ingatan datang seperti bau masakan dari dapur lama. Pohon rambutan di tikungan. Jembatan kecil dengan pagar besi biru. Mushola di ujung jalan yang catnya sudah diganti. Lapangan tanah tempat anak-anak dulu bermain layangan.
Beberapa rumah berubah. Beberapa hilang. Tapi bentuk jalan masih sama, seperti telapak tangan yang ia kenal meski sudah lama tidak digenggam.
Papan kayu bertuliskan Desa Lembah muncul di sisi jalan.
Sekar berhenti di depannya.
Mesin motor masih menyala pelan. Ia menatap tulisan itu sampai matanya panas.
Ia pulang bukan karena rindu saja.
Ia pulang karena mungkin dunia yang ia kenal sedang menuju sesuatu yang buruk, dan satu-satunya tempat yang masih terasa seperti akar adalah desa ini.
Rumah Kakek Wen dan Nenek Wen berada di ujung jalan kecil dekat kebun kosong. Cat pagarnya mengelupas. Tanaman liar merambat di sisi tembok rendah. Pohon mangga di halaman masih berdiri, lebih besar daripada ingatan Sekar, cabangnya menaungi atap genteng tua.
Sekar mematikan motor.
Keheningan langsung jatuh.
Ia turun, melepas helm, lalu berdiri di depan pagar. Tangannya mencari kunci lama di tas. Kunci itu dingin, sudah menghitam di beberapa bagian. Kerabat jauh yang mengirim kardus Nenek juga mengirim kunci rumah, seolah rumah tua itu hanya barang yang belum sempat diurus.
Sekar memasukkan kunci ke lubang gembok.
Butuh dua kali putaran sebelum gembok terbuka.
Pintu pagar berderit.
Suara itu membuat dadanya sakit.
Halaman berbau tanah, daun kering, dan kayu tua. Di dekat teras, bangku bambu tempat Kakek biasa minum teh masih ada, salah satu kakinya miring. Pintu depan tertutup rapat, tapi kaca jendelanya berdebu. Sekar bisa melihat bayangan dirinya sendiri di sana, lebih dewasa, lebih kurus, lebih asing.
Ia naik ke teras.
Jarinya menyentuh kusen pintu.
Dalam ingatan, Nenek berdiri di tempat yang sama, mengelap tangan dengan kain, lalu berkata, "Cuci kaki dulu, Sekar. Baru masuk."
Sekar menutup mata.
Selama bertahun-tahun, ia mengira sudah terbiasa menjadi sendirian.
Ternyata tidak.
Di depan rumah tua itu, dengan motor bekas di halaman dan dunia yang mungkin akan runtuh di belakangnya, Sekar menggigit bibir sampai perih.
"Kakek. Nenek."
Suaranya pecah kecil.
"Sekar pulang."