Ini bukan tentang pengkhianatan atau perselingkuhan.
Ditinggal kabur calon suami sehari sebelum pernikahan demi wanita lain adalah hal memalukan bagi Kanaya. Namun, terjebak dalam pernikahan darurat dengan Yudha, calon adik iparnya yang 7 tahun lebih muda dari usianya, jauh di luar bayangannya.
Tanpa cinta, tanpa persiapan, dia harus memulai hidup seatap dengan laki-laki yang lebih pantas menjadi adiknya.
Inilah kisah dua jiwa yang dipaksa bersatu demi sebuah nama baik. Apa yang terjadi dengan kisah mereka setelah menikah? Akankah rumah tangga mereka bisa bertahan? Apakah rasa cinta akhirnya tumbuh di antara mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kado Permen
Setelah membersihkan sisa-sisa make up yang menempel di wajah, Kanaya langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia sama sekali tidak berminat menyentuh gunungan kado yang menumpuk di sofa. Mulai dari pemberian sang suami, keluarga, sahabat, hingga murid-muridnya. Rasa lelah yang teramat sangat setelah beraktivitas seharian ditambah pesta ulang tahun, membuat Kanaya memutuskan untuk menunda unboxing itu sampai esok hari.
"Yank, nggak mau buka kado dulu?"
Melihat istrinya bergeming dan mengabaikan kado-kado yang terkumpul, termasuk kotak hadiah darinya, Yudha bertanya dengan nada heran. Biasanya, wanita adalah makhluk paling antusias kalau urusan membuka hadiah ulang tahun, lalu sibuk memamerkannya di akun media sosial.
"Besok aja, deh. Capek banget..." sahut Kanaya seraya menyusun bantal untuk menyangga kepalanya.
"Nggak penasaran sama sekali nih isinya apa?" goda Yudha lagi, berjalan mendekati tempat tidur.
"Isinya nggak akan berubah meskipun baru dibuka besok," sahut Kanaya pasrah, matanya sudah setengah terpejam.
"Coba buka satu dulu, Yank. Minimal yang ini." Yudha melangkah ke sofa, memilah tumpukan kado, lalu mengambil sebuah kotak kecil pemberiannya. "Coba buka yang ini! Kecil banget kadonya, jangan-jangan isinya permen," kelakar Yudha seraya menyodorkan bingkisan itu ke hadapan Kanaya.
Kanaya menarik tipis sudut bibirnya, karena ia tahu kado itu adalah pemberian dari Yudha.
"Masa ulang tahun dikasih kado permen? Emangnya aku itu Lulu sama Keyla? Pelit amat!" Kanaya menimpali candaan suaminya
Memiliki suami dengan selera humor tinggi lambat laun membuat Kanaya lihai mengimbangi gaya candaan Yudha. Terkadang, Kanaya merenung sendiri. Justru humor-humor kecil seperti inilah yang membuat rumah tangga mereka sejauh ini terasa begitu hangat dan harmonis. Jauh dari desas-desus miring orang luar yang mengira mereka menikah karena terpaksa.
"Makanya, cepetan buka, Yank! Kalau beneran isinya permen, jitak aja orang yang kasih," sahut Yudha dibarengi tawa kecil.
Melihat sang suami sangat ingin melihat reaksinya, Kanaya akhirnya mengalah. Ia bangkit dari rebahannya dan duduk di tempat tidur. Dengan gerakan perlahan penuh hati-hati, jemarinya mulai merobek kertas kado berwarna gold tersebut.
Sebuah kotak beludru maroon dari merek perhiasan ternama langsung menyembul di balik kertas yang terkoyak.
"Wow... permen zaman sekarang bungkusnya keren ya, berkelas," seloroh Yudha lagi, membuat Kanaya terkekeh.
Begitu tutup kotak itu dibuka, kilauan mewah dari sebuah cincin berlian langsung memantulkan cahaya lampu kamar, menyambut pandangan mata Kanaya yang seketika melebar.
"Keren nih. Ada permen bentuk cincin berlian. Pasti harganya mahal," canda Yudha lagi, berpura-pura takjub dengan hadiahnya sendiri.
"Pastilah! Cuma bos-bos yang bisa kasih gini." Kanaya menatap Yudha dengan binar mata yang tidak bisa berbohong. Dia bisa memperkirakan cincin itu harganya sangatlah mahal.
Rasa lelahnya seketika menguap, tergantikan oleh kehangatan di hatinya. Kanaya mengulurkan tangan, mengusap lembut rahang tegas suaminya seraya mencondongkan tubuh lebih dekat.
"Makasih, ya!" bisik Kanaya tulus.
Sebelum Yudha sempat membalas dengan candaan baru, Kanaya sudah lebih dulu menempelkan bibirnya, mengecup bibir suaminya dengan kelembutan.
Yudha sempat mematung saat bibir Kanaya mendarat di bibirnya. Meski kecupan sudah jadi menu harian mereka, tapi, ini pertama kalinya Kanaya yang mengambil inisiatif lebih dulu mengecupnya.
"Suka, nggak?" tanya Yudha dengan senyum menggoda, menikmati rona merah yang mendadak muncul di wajah istrinya setelah mereka berpagutan.
"Mana ada perempuan yang nggak suka dikasih begini?" Kanaya menahan senyum sambil menyematkan cincin bermata berlian itu ke jari manis kanan. Ia memandangi jarinya sejenak sebelum menatap Yudha dengan mata menyipit.
"Tapi awas, ya. Jangan pernah kasih hadiah secantik ke perempuan lain. Kecuali Mama Rima sama Mamaku."
Yudha tertawa renyah, lalu mengacak rambut Kanaya gemas. "Hahaha, siap, Nyonya! Aman, itu bisa diatur."
"Coba liat kado yang lain. Sekalian dibuka aja, deh!" Karena mood-nya membaik setelah mendapatkan kado dari sang suami, Kanaya mengurungkan niatnya membuka kado esok hari. Dia memilih membukanya saat ini juga.
"Udah nanti aja! Besok aja unboxing-nya." Kali ini Yudha melarang. Tadi dia membujuk Kanaya untuk segera membuka kado karena dia ingin Kanaya melihat hadiah darinya saja.
"Diiih, curang!" cibir Kanaya.
Yudha terkekeh. Ia menarik pinggang Kanaya mendekat hingga jarak di antara mereka terkikis habis. "Ada 'urusan' yang jauh lebih penting untuk dikerjakan malam ini daripada sekadar buka kado, Yank," bisiknya menggoda di telinga Kanaya. Tak menunggu waktu lama, Yudha sudah menjatuhkan tubuh Kanaya ke tempat tidur.
"Aku udah kasih kamu kado, udah kasih kejutan private dinner sama keluarga. Giliran yang ulang tahun traktir aku, dong!" Yudha menatap mata Kanaya penuh damba.
Kanaya tersenyum. Tangannya melingkar di tengkuk Yudha. "Kamu mau makan apa memangnya? Nanti aku yang traktir, deh."
"Makan kamu!" Sekejap kemudian mereka berdua kembali berpagutan, memulai keintiman suami istri yang tak pernah bosan mereka lakukan.
***
Layar ponsel Yudha menyala, menampilkan pesan masuk dari Yogi. Sebuah undangan digital, prosesi akad nikah kakaknya dengan Wulan. Sederhana, tanpa informasi mengenai resepsi. Hanya ada torehan tanggal dan jam kapan janji suci itu akan diucapkan.
"Yud, akhir pekan ini Mas nikah sama Wulan."
"Kalau bisa kamu datang, ya. Buat perwakilan keluarga. Cuma kamu yang Mas undang."
"Cuma akad nikah aja, nggak ada resepsi."
"Karena dana terbatas."
Rentetan pesan itu menyertai di bawah gambar undangan yang dikirimkan Yogi.
Yudha merapatkan punggungnya ke sandaran kursi, hempasan napas panjangnya terdengar berat. Melihat nasib sang kakak yang kini terpuruk di titik nadir, rasa iba mendadak menyeruak di hatinya.
Seandainya dulu Yogi tidak mengambil keputusan pendek, jalan hidupnya pasti jauh lebih mapan setelah bersanding dengan Kanaya. Namun, jika Yogi menikah dengan Kanaya, lalu bagaimana dengan nasibnya sendiri?
Baru beberapa minggu menikah, Yudha merasakan telah mereguk kehangatan hidup bersama Kanaya sebagai sepasang suami istri. Dan demi apa pun, ia kini tak akan pernah rela jika perempuan itu menjadi milik kakaknya.
Yudha lalu mengetik pesan balasan. "Insya Allah, Mas."
Setelah membalas pesan Yogi, dia mencari kontak papanya, berencana ingin menghubungi sang papa. Dia melirik jam digital yang tertera di pojok atas ponselnya, menunjukkan kalau waktu istirahat sebentar lagi tiba.
"Assalamualaikum, Pa. Papa lagi sibuk, nggak?" sapa Yudha ketika panggilannya akhirnya terhubung dengan Wirawan.
"Waalaikumsalam, nggak, Yud. Ada apa?" balas Wirawan dari seberang.
"Aku ke sana jemput Papa makan siang, ya!" Kabar rencana pernikahan Yogi, bagaimanapun juga, ia rasa sang papa harus mengetahuinya. Dalam pernikahan, restu orang tua tetap harus diberikan agar pernikahan penuh berkah dan rumah tangga berjalan secara Sakinah Mawaddah Warahmah.
"Oke, Yud. Papa tunggu di kantor."
Setelah mendapat balasan dari papanya, Yudha segera berpamitan dan mengakhiri percakapan. Dia lalu menaruh ponsel di saku bagian dalam blazer dan mengambil dompet yang kemudian ia selipkan di saku celananya. Laptop pun ia shutdown sebelum akhirnya ia meninggalkan ruang kerja untuk mengunjungi kantor papanya.
❤️❤️❤️
Bersambung...
pasti senang sekali Yudha kalo tau Yaya tetiba positif
semoga garis dua ya nay