Semuanya bermula dari sebuah kejadian yang sama sekali tidak pernah ia rencanakan.
Tinggal di panti asuhan membuat gadis itu terbiasa menjalani hidup sederhana,Jauh dari kata kemewahan,Namun satu hal yang selalu berhasil membuatnya tersenyum adalah kelinci kesayangannya.
Hingga suatu hari,Kelinci itu tiba-tiba kabur.
Tanpa berpikir panjang,Ayla berlari mengejarnya hingga keluar ke jalan raya,Karena terlalu fokus mengejar,ayla tak menyadari sebuah motor melaju ke arahnya.
Brak!
Dalam hitungan detik,Hidupnya seolah berubah.
Beruntung,Seseorang datang menolongnya sebelum keadaan menjadi lebih buruk,Pertemuan yang awalnya hanya sebuah ketidaksengajaan itu ternyata menjadi awal dari kisah yang jauh lebih besar.
Siapa sebenarnya lelaki yang menolongnya?
Dan apakah setelah pertemuan itu,Takdir seolah terus mempertemukan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira Maulidah salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Sepulang sekolah mereka berdua langsung kerumah bagas
Beberapa menit kemudian,Mereka sampai.
Pintu dibuka dan mama bagas langsung tersenyum hangat.
"Ayla"ucapnya.
Ayla tersenyum sopan.
"Iya,Tan."
"Masuk,Kalian pasti capek."
Mereka duduk di ruang tamu.
Bagas terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu,lalu berdiri.
"Ma,Aku ke atas sebentar ya."
Mama bagas mengangguk.
"Iya."
Bagas menoleh ke ayla sebentar.
"Tunggu."
Ayla mengangguk pelan.
"Iya."
Sekarang tinggal ayla dan mama bagas.
Suasana tidak terlalu canggung karena mereka sudah cukup sering bertemu.
Mama bagas menuangkan minum,Lalu duduk di samping ayla,Mama bagas menatap ayla dengan lembut,Seolah membaca sesuatu dari matanya.
"Kemarin kalian sempat bertengkar, ya?."
Ayla sedikit terkejut tapi lalu mengangguk pelan.
"Iya,Tan"suaranya tenang,meski ada sedikit rasa bersalah yang tersisa.
"Tapi sudah kami selesaikan."
Mama bagas tidak langsung menjawab hanya memperhatikan ayla dengan hangat.
Ayla menarik napas kecil,lalu melanjutkan.
"Sekarang kami sama-sama lagi fokus buat perbaiki diri."
Hening sejenak,Tapi bukan hening yang canggung lebih ke hening yang penuh pengertian.
Mama bagas tersenyum pelan.
"Itu yang paling penting"katanya lembut.
"Bukan hubungan yang nggak pernah retak tapi yang mau saling belajar setelah retak."
Ayla mengangguk,matanya sedikit berkaca-kaca.
"Iya,Tan kami lagi belajar."
Mama bagas menepuk tangan ayla dengan penuh kasih.
"Jaga dia baik-baik,ya."
Ayla tersenyum kecil.
"insyaAllah,Tan."
Hening sebentar.
Lalu mama bagas menarik napas pelan.
"Kamu tahu nggak kenapa bagas kadang gampang emosi?."
Ayla menoleh.
"Aku belum tahu sepenuhnya."
Mama bagas mengangguk pelan.
"Dulu pernikahan saya dan papanya bagas tidak disetujui oleh kakeknya."
Ayla langsung fokus mendengarkan.
"Karena itu waktu bagas kecil,Dia pernah tidak dianggap sebagai cucu."
Ayla terdiam.
Mama bagas melanjutkan dengan suara pelan,
"Bahkan pernah dia dibentak langsung."
Mama bagas berhenti sejenak.
"kamu bukan cucuku."
Hati ayla langsung terasa sesak dan ayla menunduk pelan.
"pasti sakit banget."
Mama bagas mengangguk.
"Iya,Dari situ bagas jadi anak yang lebih tertutup."
Hening.
"Dia takut ditolak lagi"lanjutnya.
Ayla menggenggam tangannya sendiri.
"Tapi semuanya berubah waktu kakeknya sakit"ucap mama bagas.
Ayla menoleh.
"Kakeknya minta maaf ke papa bagas,Ke saya dan ke bagas juga."
Ayla mendengarkan dengan serius.
"Dan sejak saat itu kakeknya benar-benar menerima bagas."
Mama bagas tersenyum hangat.
"Sekarang malah jadi cucu yang paling disayang."
Ayla menghela napas pelan.
"Lebih tepatnya cucu satu-satunya"tambah mama bagas pelan.
Hening.
Ayla menatap lantai,pikirannya penuh.
"Makanya"Mama bagas menatapnya lembut.
"kalau dia kadang terlihat keras itu karena dia takut kehilangan."
Ayla mengangguk pelan.
"aku mulai ngerti sekarang."
Mama bagas tersenyum.
"Dan kamu berarti buat dia."
Ayla terdiam,tapi ada kehangatan di matanya.
Langkah kaki terdengar dari tangga,Bagas turun kembali.
Tatapannya langsung ke ayla.
"Lama ya?."
Ayla menoleh dan tersenyum kecil.
"Nggak kok."
Bagas mengernyit.
"Kalian ngobrol apa?."
Mama Bagas tersenyum santai.
"Ngobrol biasa."
Ayla ikut tersenyum.
"Iya biasa."
Bagas menatap mereka curiga,Tapi tidak memaksa.
Tanpa ayla sadari hari itu,Ayla tidak hanya datang ke rumah bagas tapi juga mulai memahami luka yang selama ini bagas simpan sendirian.
Bagas menatap mereka berdua beberapa detik,Lalu menghela napas pelan.
"Ya sudah yang penting kalian akur"ucap mama bagas santai.
Mama Bagas tertawa kecil.
"Memangnya selama ini nggak akur?."
Bagas mengangkat bahu.
"Nggak tahu,Kalian suka bisik-bisik."
Ayla tersenyum tipis.
"Rahasia perempuan."
Bagas mengerutkan kening.
"Aneh."
Suasana perlahan mencair.
Mama Bagas berdiri.
"Kalian mau makan dulu?Mama sudah masak."
Bagas langsung menjawab,
"Mau."
Ayla ikut mengangguk.
"Iya,Tan."
Mereka bertiga berjalan ke ruang makan.
Di tengah obrolan ringan itu,Sesekali ayla melirik bagas,Tatapannya berbeda,Tidak lagi sekadar melihat,Tapi mencoba memahami,Bagas yang biasanya terlihat kuat,tenang, bahkan kadang dingin,Ternyata menyimpan luka yang tidak pernah bagas ceritakan,Ayla menunduk sedikit, Jemarinya saling bertaut.
"Jadi selama ini kamu seperti itu karena takut kehilangan ya gas"ucapnya dalam hati.
Ayla menghela napas pelan.
"Pantas kamu jadi gampang marah waktu lihat aku sama orang lain"
Ayla menatap bagas lagi,Kali ini lebih lama.
Bagas yang sadar ditatap,Mengernyit.
"Kenapa?."
Ayla tersenyum kecil.
"Nggak apa-apa."
Bagas masih terlihat curiga, tapi tidak bertanya lagi.
Ayla kembali menunduk.
"Maaf ya,aku kemarin juga nggak sepenuhnya ngerti kamu."
Hatinya terasa hangat tapi juga sedikit sesak.
"Kalau kamu takut kehilangan."
Ayla menggigit bibirnya pelan.
"Aku nggak mau jadi alasan kamu merasa kehilangan lagi."
Ayla mengangkat wajahnya pelan,Menatap Bagas yang sedang berbicara dengan mamanya,Untuk pertama kalinya,Ayla tidak hanya mencintai bagas karena siapa dia sekarang,tapi juga menerima semua luka yang pernah membentuknya,Ayla terus memperhatikan bagas dalam diam.
Cara bagas tertawa kecil saat mamanya bercanda,Cara dia duduk santai tapi tetap sigap semuanya terlihat biasa,tapi sekarang terasa berbeda di mata ayla ada sesuatu yang sebelumnya tidak ayla lihat Sesuatu yang lebih dalam.
Mama bagas meletakkan makanan di meja.
"Coba ini ayla,Mama masak khusus"ucapnya sambil tersenyum hangat.
Ayla langsung tersadar dari lamunannya.
"Iya tan,Terima kasih"jawabnya sopan.
Bagas melirik sekilas ke arah ayla.
"Kamu dari tadi diam saja"ucap bagas..
Ayla sedikit tersenyum.
"Lagi lapar."
Bagas mengangkat alis.
"Tumben,Biasanya juga banyak ngomong."
Ayla hanya tersenyum kecil tanpa membalas.
Bagas memperhatikannya beberapa detik, seolah merasa ada yang berbeda,Tapi lagi-lagi tidak bertanya.
Mereka mulai makan bersama.
Suasana hangat terasa di meja makan.
Mama bagas sesekali bercerita ringan,Bagas menanggapi santai dan ayla ikut tersenyum mendengarkan.
Namun di balik itu,Pikiran ayla masih berjalan,Setiap kali Bagas berbicara,Ayla seperti mencoba membaca lebih dalam,Bukan hanya kata-katanya tapi perasaannya.
Beberapa saat kemudian.
"Ayla."
Suara bagas memanggilnya pelan.
Ayla langsung menoleh.
"Iya?."
Bagas menatapnya lurus.
"Kamu yakin nggak apa-apa?."
Ayla sedikit terdiam.
Pertanyaan itu sederhana,tapi terasa berbeda,Lebih lembut dari biasanya.
Ayla mengangguk pelan.
"Iya aku cuma lagi banyak mikir aja."
Bagas menyandarkan punggungnya.
"Mikir apa?."
Ayla sempat ragu,Namun akhirnya ayla menjawab,pelan.
"tentang kamu."
Bagas sedikit terkejut.
"Aku?."
Ayla mengangguk.
"Iya."
Hening sejenak.
Mama bagas hanya tersenyum tipis melihat mereka,lalu memilih diam,Memberi ruang.
Ayla menarik napas kecil.
"Selama ini aku kira aku sudah cukup ngerti kamu."
Ayla menatap bagas lebih dalam.
"Ternyata belum."
Bagas tidak langsung menjawab.
Tatapannya berubah sedikit lebih serius.
Ayla melanjutkan.
"Aku sering lihat kamu marah cemburu atau jadi dingin."
Ayla menunduk sebentar.
"Dan jujur aku kadang kesal."
Bagas menghela napas pelan.
"Ya aku tahu."
Ayla kembali menatapnya.
"Tapi sekarang aku mulai ngerti kenapa."
Hening.
Tatapan bagas sedikit melembut.
Ayla tersenyum tipis.
"Kamu bukan sekadar marah,tapi kamu takut."
Kata-kata itu membuat bagas terdiam.
Untuk beberapa detik,tidak ada yang berbicara,Seolah kata itu tepat mengenai sesuatu yang selama ini ia sembunyikan.
Bagas menunduk sedikit,lalu tertawa pelan, tapi terdengar hambar.
"Sejelas itu, ya?."
Ayla menggeleng.
"Nggak."
Ayla tersenyum lembut.
"Kalau nggak diceritain mama kamu,Mungkin aku masih nggak ngerti."
Bagas melirik ke arah mamanya.
Mama bagas hanya tersenyum santai sambil melanjutkan makan.
Bagas menghela napas panjang.
"Kadang aku sendiri juga nggak sadar."
Ayla mendengarkan dengan serius.
"Aku cuma nggak mau kehilangan."
Suasana langsung hening.
Ayla merasakan dadanya menghangat,ayla mengangguk pelan.
"Iya aku ngerti sekarang."
Ayla kemudian sedikit mendekatkan posisinya.
"Dan aku di sini bukan buat ninggalin kamu,Gas."
Bagas menatapnya.
Tatapan mereka bertemu tidak ada emosi berlebihan dan tidak ada drama,Hanya terdapat kejujuran yang pelan,tapi dalam.
Ayla tersenyum kecil.
"Justru aku mau tetap di sini."
Bagas tidak langsung menjawab.
Namun kali ini,tatapannya tidak lagi penuh curiga,Ada sesuatu yang berubah,Lebih tenang dan Lebih percaya.
Mama bagas melihat itu semua,Lalu tersenyum hangat tanpa berkata apa-apa.
Di meja makan sederhana itu,Tanpa disadari bukan hanya luka lama yang mulai dipahami,Tapi juga kepercayaan yang perlahan mulai tumbuh kembali.