NovelToon NovelToon
The Last Survivors

The Last Survivors

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:122
Nilai: 5
Nama Author: Pineapple banana

Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Natalia duduk di tepi jendela ruangan lantai atas, ikut berjaga bersama Danu dan yang lainnya. Matanya menatap lurus ke luar—ke arah jalan raya yang kini mati, tak ada lampu kendaraan, tak ada suara orang, hanya kegelapan pekat dan kesunyian yang terasa mencekam. Hembusan angin malam menembus celah jendela, membawa hawa dingin yang tak biasa.

Dari seberang ruangan, Danu memperhatikannya. Ia melihat Natalia duduk sendirian, pandangannya kosong seolah terhanyut dalam pikiran yang berat. Danu berjalan mendekat, lalu duduk perlahan di sebelahnya.

"Melamun tidak akan mengubah dunia, Nat," ucapnya pelan namun tegas.

Natalia tersenyum tipis, tertawa kecil yang terdengar getir di tengah keheningan. Ia lalu menoleh ke arah Danu. "Aku hanya merasa... malam ini, hawa-nya sangat berbeda. Lebih dingin, lebih sunyi... seolah sesuatu yang besar sedang mendekat."

Danu ikut memandang ke luar jendela. "Setiap malam akan selalu begini, Natalia. Dunia sudah berubah. Dan hanya kita—sisa-sisa manusia yang masih berdiri—yang bertahan di tengah kiamat ini."

Natalia mengangguk pelan, matanya kembali menatap kegelapan. "Semoga kelompok kita tetap seperti ini... tetap utuh, tetap saling menjaga."

"Ya, semoga saja..." Danu menghela napas panjang. Malam itu benar-benar sunyi. Kesunyian yang begitu pekat hingga bisa merasuki tulang, membuat siapa pun yang mendengarnya merasakan ketakutan yang tak terucapkan.

Di sudut ruangan lain, Rafli juga sedang berjaga. Matanya tak lepas dari jalanan di bawah, dan hatinya terasa semakin gelisah. Ada perasaan tidak enak yang terus mengganjal di dada—seperti firasat bahaya yang sedang mengintai dari kegelapan. Ia pun berjalan mendekati Danu yang tak jauh dari sana.

"Danu..." panggil Rafli pelan namun serius.

"Ya, Raf. Ada apa?"

"Aku hanya khawatir dengan tempat ini. Kita terlalu santai membiarkan gerbang depan dan pintu lobi begitu saja. Aku punya ide—malam ini kita cari balok-balok atau kayu yang kuat untuk menutup dan mengunci pintu lobi dan gerbang depan itu." Rafli menunjuk ke arah bawah, ke gerbang utama gedung. "Kita perkuat pertahanan sebelum terlambat."

Natalia langsung menegakkan tubuh, matanya melebar. "Kau benar... bagaimana jika kawanan zombie itu datang ke sini saat kita sedang tertidur lelap? Kita takkan sempat lari."

"Baiklah," Danu langsung bangkit berdiri, suaranya tegas dan penuh keyakinan. "Kita kumpulkan orang-orang yang masih bangun, lalu ajak mereka membantu. Semakin banyak tangan, semakin cepat selesai."

Natalia pun ikut berdiri. Bersama Danu, ia berjalan menuju ke arah Jodie, Simon, dan Aldo yang sedang beristirahat di sudut ruangan.

"Ada apa?" tanya Aldo saat melihat ketiganya mendekat dengan wajah serius.

"Aldo, ikut kami. Kita mau mencari beberapa balok dan kayu besar untuk dipasang dan mengunci gerbang depan serta pintu lobi," ajak Danu.

Jodie langsung berdiri, wajahnya tegang. "Kenapa... Apa ada bahaya? Apakah kawanan zombie itu sudah datang?"

"Belum," jawab Rafli yang ikut mendekat, "tapi aku merasakan firasat yang sangat buruk malam ini. Dan di dunia seperti sekarang, kita tak boleh menunggu bahaya datang baru bergerak. Kita harus siap sebelum itu terjadi."

Aldo langsung berdiri dan meraih senjatanya. "Baiklah. Aku ikut."

"Dan aku juga," tambah Jodie tanpa ragu. Simon pun mengangguk setuju, bangkit berdiri bersiap berangkat.

Kelima orang itu—Natalia, Danu, Rafli, Aldo, dan Jodie—berjalan bersama menuju tangga, menuju lobi bawah untuk mencari bahan penguat pertahanan mereka. Malam semakin gelap, dan di kejauhan, angin mulai berhembus lebih kencang, seolah membawa suara langkah-langkah tertatih yang perlahan mendekat...

Mereka berbondong-bondong bergerak turun ke lobi, langkah kaki terdengar samar di tangga gedung sekolah itu. Tanpa banyak bicara, masing-masing mengambil peran — ada yang mengangkat balok kayu tebal, ada yang menarik lemari tua, semuanya bekerja sama dengan cepat dan hati-hati untuk menutup dan mengganjal gerbang depan hingga tak ada celah sedikit pun yang tersisa. Tangan mereka bekerja dengan sigap, mengikat, menumpuk, dan mengganjal agar tempat yang mereka huni ini benar-benar aman dari para kawanan zombie itu.

"Oke, sudah cukup..." ucap Danu pelan namun tegas, saat balok terakhir terpasang kokoh menahan gerbang besi itu.

Mereka pun berbalik dan bergegas masuk ke dalam gedung, lalu memperkuat pintu masuk utama dari dalam — menyusun beberapa balok besar, mendorong meja-meja guru dan kursi-kursi berat hingga menumpuk rapat menutupi pintu. Semua dilakukan dengan napas tertahan, seolah setiap suara yang keluar bisa memancing bahaya yang mengintai di luar sana.

Natalia menatap tumpukan penghalang itu dengan napas memburu, tangannya masih gemetar sedikit karena tegang. "Semoga... semoga mereka tidak berhasil masuk ke dalam sini," ucapnya lirih, penuh harap namun dibalut kecemasan yang tak bisa disembunyikan.

Rafli menepuk bahunya pelan, matanya masih memandang pintu yang kini tertutup rapat itu. "Kita sudah berusaha sekuat tenaga. Sekarang tinggal berdoa semoga ini cukup menahan mereka sampai pagi."

Suasana di lobi kembali hening, hanya terdengar suara napas mereka yang saling bersahutan. Di luar sana, kesunyian masih menyelimuti jalanan — namun hati mereka tahu, bahaya itu mungkin sedang berjalan mendekat, perlahan namun pasti, di bawah kegelapan malam yang semakin pekat.

bersambung

1
Abyyasdemons
keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!