Pada suatu malam minggu yang gerimis, hubungan asmara antara Rama dan Ratna resmi berakhir di sebuah kedai kopi yang sunyi. Ratna mengambil keputusan untuk menyudahi hubungan mereka karena menyadari adanya standar hidup dan perbedaan kelas sosial yang tidak mampu dipenuhi oleh Rama. Meski hancur, Rama menerima keputusan tersebut dengan ketegaran yang dipaksakan. Perpisahan itu menjadi semakin kontras dan menyakitkan ketika Ratna dijemput oleh sebuah sedan Eropa putih mewah yang merepresentasikan dunia barunya yang penuh kenyamanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kopi yg dingin
Malam minggu di sudut kota selalu punya cara tersendiri untuk merayakan keramaian. Lampu-lampu jalanan berpijar benderang, memantulkan kesibukan orang-orang yang lalu lalang dengan tawa dan obrolan hangat. Namun, di salah satu sudut kedai kopi yang mulai sepi, atmosfernya terasa sangat berbeda. Di sana, di sebuah meja kayu yang terletak agak menyudut, duduk sepasang kekasih yang baru saja melewati keheningan yang panjang. Keheningan itu akhirnya pecah oleh sebuah kalimat yang meluncur pelan, namun dampaknya begitu menghantam.
"rama.... sepertinya hubungan kita cukup sampai disini saja...."
Kalimat itu terucap dari bibir Ratna. Suaranya tidak tinggi, tidak juga terdengar penuh amarah. Itu adalah sebuah keputusan yang terdengar sangat bulat dan telah dipikirkan matang-matang.
Rama tersenyum getir mendengar kalimat itu. Senyum yang tidak benar-benar mengekspresikan kebahagiaan, melainkan sebuah bentuk pertahanan diri agar ia tidak terlihat runtuh seketika. Namun, jauh dari lubuk hatinya, Rama tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Ada rasa sesak yang menjalar, tetapi bersamaan dengan itu, ada pula sebuah keinsafan yang mendalam. Ia juga sadar selama ini tak bisa memberikan sesuatu yg bisa menyenangkan ratna. Selama menjalin hubungan, ia tahu ada banyak keinginan Ratna yang tak mampu ia penuhi. Ada standar hidup yang tidak bisa ia jangkau dengan kondisinya yang sekarang. Rama sadar, cinta saja ternyata tidak pernah cukup untuk menambal jurang perbedaan di antara mereka.
Menolak atau memohon pun rasanya akan sia-sia dan hanya akan memperpanjang harga dirinya yang mulai terkikis. Maka, dengan sisa-sisa ketegaran yang ia miliki, rama hanya mengangguk. Ia menerima keputusan itu tanpa perdebatan.
Melihat respons Rama yang begitu tenang dan pasrah, Ratna sempat terdiam sejenak. Ada sedikit keraguan atau mungkin rasa bersalah yang melintas di matanya, sebelum akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya sekali lagi.
Rama menatap cangkir kopinya yang mulai mendingin.
Mengatakan apa?
Meminta Ratna bertahan?
Atau meluapkan kekecewaannya?
Semua itu tidak akan mengubah apa pun yang sudah menjadi keputusan wanita di hadapannya.
"g perlu..." jawab Rama singkat, nyaris berbisik.
Ratna mengembuskan napas pelan, seolah ada beban berat yang baru saja terangkat dari pundaknya. "baiklah.... jaga dirimu. aku pamit..."
Wanita itu berdiri dari kursinya. Gerakannya anggun, namun penuh ketegasan bahwa momen di antara mereka telah benar-benar selesai. Tanpa menunggu balasan lagi dari Rama, wanita itu berdiri dan langsung berbalik menuju sedan putih yg baru saja datang. Mobil mewah itu berhenti tepat di depan area kedai kopi, memancarkan kemilau lampu yang kontras dengan kegelapan malam.
ratna masuk kesana tanpa menoleh lagi kebelakang. Langkahnya mantap, mengubur semua kenangan yang pernah mereka rajut bersama di atas aspal dan rintik hujan masa lalu. Rama terus memperhatikannya dari kejauhan. Di balik kaca film yang agak gelap, Rama bisa melihat siluet yang tidak asing. Didalam sana sudah ada laki laki yg bernama tony. Lelaki yang tentu saja memiliki segalanya, sesuatu yang selama ini gagal Rama berikan kepada Ratna.
Perlahan sedan itupun berjalan dengan deru mesin yg menggelegar. Suara knalpotnya yang bertenaga besar seolah menegaskan kelas dan strata sosial yang berbeda. Mobil itu melesat membelah jalanan kota, membawa pergi Ratna dan seluruh cerita yang pernah ada.
Rama masih bergeming di kursinya. Pandangannya lurus menatap kekosongan yang ditinggalkan oleh mobil tersebut.
"inilah hidup" kata rama dalam hati.
Sebuah penerimaan yang brutal namun nyata. Hebatnya, semua pergolakan batin itu terjadi tanpa ada ekspresi sedih atau air mata. Rama tidak menangis. Air mata terlalu mewah untuk sebuah kekalahan yang sudah ia prediksi sejak lama. Dengan gerakan yang sangat santai, seolah tidak terjadi badai apa pun dalam hidupnya, dia pun mengaduk kopinya yang tinggal setengah. Ia sesap cairan hitam sedikit pahit itu perlahan, menikmati sisa-sisa kehangatannya.
Setelah itu, ia mengambil sebungkus rokok dari kantong jaketnya, mencabut sebatang, dan membakar rokoknya. Asap putih mengepul ke udara, meliuk-liuk sebelum akhirnya hilang ditiup angin malam. Yah malam minggu ini makin terasa sunyi bagi rama. Kesunyian yang tidak hanya datang dari sekitar kedai yang mulai menutup pintunya, tetapi kesunyian yang mengakar di dalam dadanya.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan asap rokok. Setelah kopinya habis dan puntung rokoknya dipadamkan di asbak, Rama merasa tidak ada lagi alasan untuk berlama-lama di sana. Cerita di kedai ini sudah selesai.
Dia pun beranjak dari sana menuju parkiran. Langkah kakinya terdengar terseret di atas paving blok. Di sudut area parkir yang agak temaram, disana sudah menanti motor matic lama yg sudah setia menemani dia dari waktu kuliah dan bekerja. Motor dengan bodi yang sudah lecet di beberapa bagian, mesin yang kadang batuk-batuk, namun selalu bisa diandalkan untuk mengantarkannya ke mana saja. Motor itulah saksi bisu perjuangannya menembus kerasnya hidup di kota ini.
Rama pun menghidupkan mesin. Suara mesin motor matic-nya terdengar cempreng, sangat kontras jika dibandingkan dengan deru sedan Eropa yang beberapa menit lalu memekakkan telinga. Setelah memastikan lampu utama menyala, ia lalu mengarahkan motor nya ke kost.
Malam itu, langit tampaknya ikut merasakan apa yang tersembunyi di kepala Rama. Ditengah cuaca yg sedikit gerimis, rintik air mulai membasahi jaket kainnya yang sudah mulai menipis. Jalanan menjadi basah dan licin, memantulkan cahaya lampu merkuri berwarna kuning. Namun, Rama tak berniat untuk menepi. Rama masih memacu motornya di bawah guyuran gerimis yang perlahan mulai mendinginkan kulitnya. Saat ini, ia tak peduli cuaca yg penting bisa pulang dan istirahat. Tubuhnya lelah, jiwanya bahkan jauh lebih lelah. Ia hanya ingin segera sampai ke tempat tujuannya.
Sesampainya di bangunan petak dua lantai itu, suasana sudah sepi. Aroma kayu lapuk dan udara lembap menyambutnya. Setelah smpai dikamar kost, Rama langsung mengunci pintu dari dalam. Ia melempar kunci motornya ke atas meja kayu kecil, lalu tanpa sempat mengganti pakaian yang agak basah oleh gerimis, rama pun merebahkan dirinya dikasur tipis. Kasur busa yang sudah kempes di bagian tengahnya, beralaskan lantai semen yang dingin.
Dalam posisi telentang menatap langit-langit kamar yang berbercak karena bocor, pikirannya kembali teringat kejadian tadi. Bayangan Ratna yang melangkah masuk ke dalam mobil mewah itu kembali berputar otomatis di otaknya seperti kaset rusak.
"motor matic vs sedan eropa" batin rama menjerit.
Sebuah perbandingan yang sangat telak. Sebuah analogi nyata tentang bagaimana dunia ini bekerja. Perjuangan bertahun-tahun di atas motor matic, kalah dalam sekejap oleh kenyamanan yang ditawarkan oleh kabin sedan eropa. Ada rasa perih yang sempat mencuat, namun sedetik kemudian berubah menjadi sebuah tawa ironis yang tertahan di tenggorokan.
"hahah mustahil jika dipaksakan" kata rama, berbicara pada kesunyian kamarnya sendiri.
Ia menertawakan kebodohannya yang sempat berpikir bahwa cinta dan kesetiaan bisa memenangkan segalanya. Realita malam ini telah menamparnya dengan sangat keras, membangunkannya dari mimpi-mimpi masa kuliah yang naif. Hubungan itu memang sudah layu sebelum berkembang lebih jauh, dan memaksanya bertahan hanya akan membuat kedua belah pihak terluka.
Rama menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan perlahan. Ia membalikkan badannya membelakangi lampu kamar yang masih menyala, mencoba memejamkan mata di atas kasur tipisnya. Ia menolak untuk tenggelam dalam kesedihan yang berlarut-larut.
Kehilangan Ratna memang sebuah pukulan, tetapi hidup tidak berhenti hanya karena satu orang pergi menaiki sedan putih.
"sudahlah besok masih ada hari baru..." gumamnya menutup malam yang panjang itu.
Besok ia masih harus bangun pagi, memanaskan motor matic-nya, dan kembali bekerja. Hidup harus tetap berjalan, dengan atau tanpa Ratna di sisinya.