Aluna adalah seorang gadis yang diangkat oleh keluarga kaya sebagai pengganti anak perempuan mereka yang hilang, Jesselyn. Meski hidupnya tampak bahagia, sebenarnya ia hanya diperlakukan sebagai bayangan dari Jesselyn.
Setelah dewasa Aluna dijodohkan dengan Davion Harold, yang lagi-lagi karena pria itu adalah pria yang dulu Jesselyn sukai. Apapun yang terjadi Aluna harus bertahan dalam pernikahan tersebut, itulah pesan kedua orang tua angkatnya.
Namun pernikahan itu membuat Aluna semakin tersiksa dan merasa tak diinginkan oleh siapapun. Pada akhirnya Aluna mengambil keputusan paling mengerikan di dalam hidupnya, coba keluar dari bayang-bayang Jesselyn dan hidup sebagai dirinya sendiri. Melanggar keinginan orang tua angkatnya untuk pertama kali.
"Dav, aku ingin kita cerai," ucap Aluna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PP Bab 9 - Apa Masih Bisa Diam
Awalnya Davion berjalan di depan ketika mereka hendak turun ke lantai 1, tapi kemudian dia memperlambat langkahnya agar bisa seiring dengan Aluna.
"Huh." Davion menghela nafas kasar, seperti sedang menunggu seorang putri berjalan. "Bisakah berjalan lebih cepat?" tanya Davion kemudian.
"Bisa Dav, apapun yang kamu mau akan aku usahakan," jawab Aluna.
'Ya Tuhan," batin Davion, akhirnya dia tidak mampu berkata apa-apa lagi.
Langkah mereka akhirnya sampai di ruang makan. Suasana di sana terasa hangat, kontras dengan ketegangan yang diam-diam masih membelit keduanya. Mommy Ivana dan Daddy Aston sudah duduk di kursinya masing-masing, memang sudah menunggu sejak tadi.
Begitu melihat Davion dan Aluna datang bersama, wajah mom Ivana langsung berbinar, senyum lembutnya merekah penuh kebahagiaan yang tulus.
“Akhirnya kalian datang juga,” ucap mom Ivana.
Aluna menundukkan kepala sedikit sebagai bentuk hormat sebelum duduk di kursi yang telah disiapkan. Gerakannya tetap anggun seperti biasa, tidak tergesa, tidak pula menunjukkan kegugupan yang sebenarnya berputar hebat di dalam dadanya.
Sementara Davion duduk di sampingnya dengan ekspresi datar, nyaris tanpa emosi apapun. Meski sebenarnya dia pun masih terus kesal pada istrinya sendiri.
Para pelayan segera menyajikan hidangan makan siang. Beragam menu tersaji dengan sempurna. Namun Aluna tidak merasa terkesan sedikitpun, selama ini dia juga diperlakukan bak putri di keluarga Myles. Hanya saja dia harus bersikap seperti Jesselyn, sementara di rumah ini Aluna harus jadi menantu yang sempurna.
Mommy Ivana tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Aluna. Sejak tadi matanya terus mengikuti setiap gerakan kecil menantunya itu, cara ia duduk, cara ia menyendok makanan, bahkan cara ia menundukkan kepala. Semua terlihat begitu anggun, nyaris terlalu sempurna.
“Aluna, makanlah yang banyak, Sayang,” ucap Ivana lembut, nada suaranya penuh perhatian. “Kamu harus menjaga kondisi tubuhmu. Apalagi sekarang…” Ivana terkekeh kecil, matanya melirik sekilas ke arah Davion sebelum kembali ke Aluna. “Mommy tahu bagaimana rasanya jadi pengantin baru.”
Kalimat itu meluncur begitu saja, bahkan terkesan menggoda. Namun bagi Aluna, kata-kata itu seperti menyambar tepat di dadanya.
Seketika Aluna tersedak.
Batuknya tertahan dan napasnya jadi tersengal sejenak. Ia buru-buru menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan suara agar tidak terlalu mencolok.
Wajahnya sedikit memerah, bukan hanya karena tersedak tetapi juga karena kenyataan pahit yang hanya ia sendiri yang tahu.
Karena tidak ada malam pertama dalam pernikahannya. Tidak ada kedekatan apa pun yang bisa disebut sebagai hubungan suami istri.
“Aluna!” Ivana langsung panik, tangannya bergerak cepat mengambil segelas air dan memberikannya. “Pelan-pelan, Sayang.”
“Maaf, Mom,” ucap Aluna lirih setelah berhasil menenangkan dirinya. Ia menerima air itu dengan kedua tangan, menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan kegelisahan yang hampir terbaca.
Di sampingnya Davion hanya diam, sedikitpun tak berniat mengulurkan minum untuk Aluna. Kebetulan ibunya pun bergerak lebih cepat.
"Jangan meminta maaf Aluna, mommy mu yang salah. Di meja makan malah bicara seperti itu," ucap Daddy Aston yang ikut buka suara.
"Maaf, Dad. Maafkan mommy ya sayang," kata mommy Ivana pula.
Aluna sampai tertegun ketika mendengarnya, kata maaf itu mudah sekali keluar dari mulut sang ibu mertua. Padahal untuk mama Sarah dan papa Pieter tak pernah ada kata maaf dalam kamus mereka. Apapun yang mereka lakukan adalah kebenaran.
Hati Aluna sedikit sesak, entah kenapa tiba-tiba terenyuh seperti ini.
"Mommy tidak salah, aku yang kurang hati-hati," ucap Aluna kemudian, "Terima kasih minumnya, aku sudah lebih baik," timpalnya pula.
"Sekarang makan dengan tenang ya, mommy tidak akan menganggu lagi."
"Baik, Mom dan mommy tidak pernah mengganggu ku," jawab Aluna patuh.
Daddy Aston dan Davion sama-sama menatap Aluna sejenak. Davion masih dengan tatapannya yang tajam, sementara Daddy Aston berbeda.
Ada sesuatu yang terasa mengganjal di hati Daddy Aston.
Gadis itu terlihat terlalu penurut dan entah kenapa membuatnya merasa tidak tenang. Aluna seperti seseorang yang berada dalam tekanan. Apalagi ketika ingat percakapan dengan Pieter kemarin, kembali terlintas dengan jelas di benaknya bagaimana pria itu dengan terburu-buru membicarakan soal uang, bahkan sebelum pernikahan ini benar-benar selesai.
Cara bicaranya semuanya terasa tidak wajar untuk seorang ayah yang baru saja menikahkan putrinya.
Seolah-olah yang ia nikahkan bukanlah sang anak, melainkan seekor binatang.
“Davion," panggil Daddy Aston kemudian.
Suaranya memecah keheningan yang sempat tercipta, semua orang sontak menoleh ke arahnya termasuk Davion.
“Ya, Dad?”
Aston menatap putranya dalam-dalam, sorot matanya berbeda dari biasanya, lebih serius.
“Sekarang Aluna adalah tanggung jawabmu," ucap Daddy Aston.
Yang terkejut justru Aluna saat mendengar hal tersebut.
“Daddy tahu pernikahan ini mungkin akan sulit untuk kalian terima, tapi Daddy benar-benar memohon padamu jagalah Aluna. Karena sekarang Aluna hanya punya kamu sebagai pelindungnya."
Deg! Aluna sampai tersentak saat mendengar hal tersebut. 'Mommy Ivana, lalu Daddy Aston, kenapa keduanya begitu baik seperti ini? Apa mereka benar-benar menyayangi ku?' batinnya lirih.
Di mulutnya masih ada makanan dan kini terasa sulit untuk ditelan.
Sementara Davion kini berada di posisi yang tak bisa menolak ataupun membantah keinginan kedua orang tuanya, terutama tentang pernikahan ini. "Iya, Dad," jawab Davion, dia hanya bisa mengucapkan satu kata itu saja, IYA.
Setelahnya Davion menatap Aluna yang duduk di sampingnya, tatapan itu membuat Aluna pun menoleh ke arah Davion. Tanpa sadar kata tiba-tiba Davion menggenggam tangan kiri Aluna yang ada di atas meja.
Sentuhan mendadak yang membuat Aluna membeku, namun ia tak menarik tangannya. Membuatkan semuanya jadi pemandangan yang indah untuk mommy Ivana dan Daddy Aston.
Selesai makan siang bersama Davion kembali menggenggam tangan Aluna ketika mereka kembali ke kamar.
Davion terpaksa melakukan semuanya karena ucapan sang ayah, tak biasanya Daddy Aston bicara serius begitu dan sekarang hanya karena Aluna Daddy sampai memohon padanya.
'Apa hebatnya wanita ini? Sampai mommy dan Daddy begitu menyukainya,' batin Davion, dia masih terus menggenggam tangan Aluna dengan langkah yang nyaris seirama.
'Hanya gadis yang penurut, bodoh,' makinya lagi, namun hanya mampu dia ucapkan di dalam hati.
Begitu tiba di kamar dan pintu tertutup, Davion segera melepas genggaman tangannya dengan kasar, bahkan sedikit mendorong tubuh Aluna sampai tubuh wanita itu sedikit terhuyung.
Aluna sangat terkejut, dia tak tahu apa-apa dan tiba-tiba mendapatkan perlakuan kasar.
"Dav_"
"Diam," sanggah Davion dengan cepat, "Pintar sekali sandiwara mu ya, sampai Daddy Aston memohon padaku untuk menjaga mu." Davion maju satu langkah mendekat dan Aluna reflek mundur.
Karena Davion tidak hanya sekedar maju, namun juga menatapnya dengan begitu tajam.
Melihat Aluna yang ketakutan tak membuat Davion menghentikan langkah, dia terus maju hingga Aluna terpojok di meja rias.
"Kamu sangat penurut dan begitu tenang, apa masih bisa diam saja saat aku mencekikmu?"
gua yg merasa sama-sama perempuan keknya diperlakukan seperti ini hina bgt, atuhlah tor.. tega bgt buat karakter Luna ky gini ga ada jiwa struggle nya utk memberontak kek.. gua gigit jugaa bi sendal 😭😭🥶🥶🤫🤫
huh.. abidin katro tgl bilang aj aku ketagihan aroma mu syg.. 🤭🤭
Pengen nimpuk kepala Davion deh😡