NovelToon NovelToon
Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / CEO / Kontras Takdir / Pernikahan rahasia
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.

Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.

Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.

Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.

Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.

Mereka dibayar oleh suaminya.

Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.

Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.

Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:

tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 — Catatan yang Bukan dari Psikolog

BAB 14 — Catatan yang Bukan dari Psikolog

Elsa menemukan nama ibuku pada jalur salinan terapi Nadira pukul sebelas lewat empat puluh menit.

Bukan tanda tangan langsung. Helena Kalyana tidak pernah meninggalkan namanya pada dokumen yang dapat dipakai untuk menuduhnya. Jejaknya berupa rangkaian persetujuan: auditor program yang pernah bekerja sebagai sekretaris yayasannya, perusahaan pengelola yang alamatnya sama dengan kantor hukum keluarga, lalu satu terminal yang berada di lantai khusus Kalyana Family Welfare Foundation.

“Ringkasan itu dibuka dari ruang Helena tiga kali dalam dua tahun,” kata Elsa melalui sambungan terenkripsi.

Aku berdiri di dalam lift menuju kantor yayasan. Administrator klinik mengunggah berkas ke portal audit, lalu auditor yayasan mengunduhnya dengan dalih pemeriksaan penggunaan dana.

“Isinya bukan laporan keuangan.”

“Aku tahu. Mereka juga tahu.”

Pintu lift terbuka sebelum Elsa selesai mengingatkan agar aku tidak datang sendirian.

Kantor yayasan menempati dua lantai paling tenang di gedung utama. Dindingnya dipenuhi foto Helena bersama anak-anak penerima beasiswa, korban bencana, dan perempuan yang memperoleh bantuan hukum. Tidak satu pun gambar menunjukkan orang yang kehilangan bantuan karena menolak instruksinya.

Resepsionis berdiri ketika melihatku.

“Ibu Helena sedang rapat.”

“Batalkan.”

“Pak Rendra—”

“Aku tidak meminta izin.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Nada yang sama dengan yang selalu kupakai ketika ingin sebuah pintu dibuka. Aku berhenti melangkah.

Resepsionis tampak menunggu perintah berikutnya.

“Maaf,” kataku. “Tolong sampaikan aku perlu bicara dengannya sekarang. Kalau dia menolak, aku akan menunggu.”

Perempuan itu terlihat lebih bingung oleh permintaan maafku daripada oleh kedatanganku.

Aku menunggu enam menit.

Helena menerima aku di ruangannya tanpa memindahkan satu pun berkas dari meja. Ibuku berusia lima puluh delapan tahun, tetapi tidak pernah membiarkan siapa pun menyebutnya tampak lelah. Rambutnya tersisir rapi, blus kremnya tidak memiliki satu lipatan pun, dan secangkir teh berada di sisi kanan meja seolah pertemuan kami sudah dijadwalkan.

“Kamu meninggalkan rapat kemarin,” katanya.

“Kau mengambil ringkasan terapi Nadira. Aku punya log akses, tapi aku ingin mendengar alasanmu.”

Helena menyentuh gagang cangkir, lalu melepaskannya lagi.

“Kalau begitu kita dapat melewati basa-basi.”

Ia menunjuk kursi di depannya. Aku tetap berdiri.

Helena tidak memaksa. Ia selalu lebih menyukai kepatuhan yang diberikan tanpa terlihat diminta.

“Yayasan membayar program kesehatan mental. Audit adalah bagian dari tanggung jawab kami,” katanya.

“Ringkasan serangan panik, rasa bersalah, dan rencana perjalanan bukan audit. Nadira bukan aset keluarga hanya karena ia penerima manfaat dan menantu Kalyana.”

Tatapan Helena bergerak tipis.

“Kamu terdengar seperti baru menyadarinya.”

Kalimat itu mengenai sasaran karena diucapkan tanpa nada tinggi.

Aku akhirnya duduk, bukan karena ia menang, tetapi karena kemarahanku mulai membuat setiap gerakan terasa mengancam.

“Rendra,” lanjutnya, “kamu menempatkan pengemudi, sahabat, psikolog, klien, dan pemilik apartemen di sekitar Nadira. Jangan datang kemari dengan kemarahan seorang suami yang baru menemukan konsep privasi.”

“Aku bertanggung jawab atas apa yang kulakukan. Itu tidak memberi hak kepadamu memperluas jaringan.”

“Jaringan itu milik keluarga jauh sebelum kamu menjadikannya kisah cinta.”

“Lingkar Aman dibuat Laksmi.”

“Dengan akses yang berasal dari perusahaan ini.”

“Untuk melindungi Nadira dari perusahaan ini.”

Helena tersenyum kecil.

“Itulah versi yang disukai Laksmi.”

Aku membuka log di tablet.

“Kau menerima tiga salinan. Apa yang kau lakukan dengannya?”

“Menyimpannya. Seperti kamu menyimpan informasi selama bertahun-tahun.”

“Aku tidak pernah mendapat salinan lengkap karena Mira menolak.”

“Dan kami mengetahui penolakan itu.”

Aku menatapnya.

Yayasan bukan hanya memantau Nadira, tetapi juga usahaku memperoleh informasi.

“Kau mengawasi aku melalui program itu.”

“Aku mengawasi risiko keluarga—orang-orang yang tindakannya dapat memengaruhi ribuan pegawai, investor, dan penerima bantuan.”

“Dengan kata lain, semua orang. Termasuk aku, selama tindakanku dapat mengganggu rancangan yang kau sebut keluarga.”

Itu keyakinan lama Helena. Reputasi bukan milik orang yang menjalaninya, melainkan milik semua orang yang bergantung pada nama keluarga dan nama Kalyana.

Aku pernah menertawakan keyakinan itu. Kemudian, tanpa sadar, aku memakai pola yang sama kepada Nadira: kebebasannya dapat dibatasi karena ada risiko yang hanya kupahami.

“Apa tujuan ringkasan itu?” tanyaku.

“Persiapan jika pernikahanmu memburuk dan Nadira menyerang keluarga melalui media, pengadilan, atau klien-kliennya.”

“Dia bukan musuh.”

“Belum.”

Tanganku mengeras di atas paha.

“Kau mungkin belum melakukannya, tetapi berkas itu disiapkan untuk merusak kredibilitasnya.”

Aku teringat semua makan malam keluarga ketika Helena bertanya apakah Nadira cukup tidur, apakah pekerjaannya terlalu berat, dan apakah kami sedang merencanakan anak. Nadira selalu mengira pertanyaan itu bentuk perhatian seorang ibu mertua. Aku pun menganggapnya percakapan biasa. Sekarang aku tahu setiap jawaban mungkin dibandingkan dengan ringkasan yang diambil dari ruang terapi.

“Apa Nadira pernah tahu kau membaca ini?” tanyaku.

“Tidak.”

“Apakah kau pernah menemuinya dengan memakai informasi tersebut?”

Helena tetap diam.

Itu sudah cukup.

Helena memiringkan kepala.

“Bukankah itu yang selalu kamu lakukan? Menyiapkan kemungkinan terburuk lalu menyebutnya perlindungan?”

Pertanyaan itu kubiarkan tanpa jawaban.

Ia bangkit dan berjalan ke lemari rendah di belakang meja. Dari laci terkunci, ia mengambil map berwarna merah tua. Map itu diletakkan di hadapanku, tetapi tangannya tetap berada di atasnya.

“Kamu tahu apa yang paling berbahaya dari Nadira?” tanyanya. “Orang melihatnya sebagai mediator yang tenang, istri keluarga kaya, dan perempuan yang mampu membedakan manipulasi dari kasih sayang. Kalau dia bicara, orang akan percaya.”

“Mereka seharusnya percaya setelah melihat bukti. Biarkan dia menentukan.”

Helena menyandarkan tubuh.

“Kamu berubah lebih cepat daripada dugaanku. Apa kamu pikir pengakuan akan membuatnya kembali?”

Pertanyaan itu dulu akan membuatku mencari jawaban yang memperbesar kemungkinan Nadira pulang.

“Bukan itu tujuannya. Aku hanya terlambat mengakui apa yang kulakukan.”

Kali ini, Helena terlihat benar-benar memperhatikanku.

Aku menggeser map merah ke arahku. Ia menahannya.

“Apa isinya?”

“Penilaian risiko reputasi Nadira, riwayat terapi yang berhasil kami verifikasi, dan skenario jika ia mengajukan perceraian.”

“Kau membuat berkas untuk menghancurkannya.”

“Aku membuat berkas untuk memastikan satu pernikahan tidak menghancurkan keluarga.”

Aku menarik map itu. Helena tidak melepaskannya.

“Berkas itu milik yayasan.”

“Data di dalamnya milik Nadira.”

“Kamu tidak pernah terlalu peduli pada kepemilikan data sebelum datanya berada di tangan orang lain.”

Perhatianku jatuh pada tangannya di atas map.

Ia benar lagi. Kebenaran yang dipakai untuk mempertahankan tindakan salah tetaplah alat.

Aku melepaskan map.

Helena merapikan posisinya, lalu duduk kembali.

“Damar sudah mengirim permintaan penyimpanan dokumen. Tidak ada berkas Nadira yang boleh dipindahkan, dihapus, atau dibuka tanpa catatan. Log aksesmu juga akan kuserahkan.”

“Kepada pengacara istrimu—membuka yayasan ibumu demi perempuan yang ingin menceraikanmu?”

“Aku membuka bukti pelanggaran. Hubungan keluarga tidak mengubah namanya.”

Wajah Helena tetap tenang, tetapi jarinya mengetuk meja sekali. Gerakan kecil yang selalu muncul ketika sesuatu tidak berjalan sesuai perhitungannya.

“Kamu boleh menyerahkan log,” katanya. “Tapi jangan berharap Nadira berterima kasih.”

“Aku tidak mengharapkannya.”

“Jangan berharap dia memahami bahwa beberapa tindakan kita mencegah hal yang lebih buruk.”

“Aku akan menjelaskan apa yang kulakukan. Bukan meminta dia membenarkannya.”

Helena menatapku lama.

“Kamu benar-benar sedang mencoba menjadi lelaki baik.”

“Tidak. Aku sedang berhenti memakai niat baik sebagai pembelaan.”

Aku berdiri.

Sebelum keluar, mataku kembali pada map merah. Di sudut sampul terdapat kode yang kukenal dari arsip lama Aditya.

A-17.

Aku berhenti.

“Kenapa kode arsip ayah Nadira ada di berkas perceraian kami?”

Helena tidak melihat map itu.

“Karena keduanya selalu terhubung.”

“Bagaimana?”

“Kamu menikahi perempuan yang hidupnya dibangun di atas bukti yang dapat menjatuhkan keluarga kita. Pernikahanmu membuat bukti itu tetap diam. Perceraianmu akan membuat orang bertanya mengapa.”

“Jangan sentuh berkas Aditya.”

“Aku tidak perlu menyentuhnya. Salinan untuk dewan, regulator, dan tiga redaksi media sudah disiapkan sejak lama.”

Aku berbalik penuh.

Helena mengangkat cangkir tehnya, tetapi belum meminumnya.

“Kalau Nadira mengajukan cerai,” katanya, “seluruh negeri akan membaca berkas ayahnya sebelum tinta permohonannya kering.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!