Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.
Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.
Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Kotak pertama yang diangkat Nathan robek di bagian bawah.
Buku latihannya jatuh ke lantai kos.
"Jangan bilang ini pertanda," gumam Nathan.
Alexander mengambil dua buku yang tercecer. "Ini pertanda kamu terlalu banyak menyimpan soal matematika."
"Itu namanya investasi masa depan."
"Kalau begitu investasimu hampir menimpa kaki saya."
Herlina Halim, yang sedang melipat pakaian di dekat kasur, tertawa pelan.
Kos lama itu masih sempit. Dindingnya masih menyimpan bekas lembap. Meja kecil masih goyah kalau disentuh dari sisi kanan. Tetapi hari itu, untuk pertama kalinya, barang-barang mereka tidak dirapikan karena takut diusir.
Barang-barang itu dirapikan karena mereka akan pindah.
Ia tidak menuju rumah besar atau apartemen mewah.
Hanya kontrakan sederhana dua kamar dengan ventilasi lebih baik, air yang tidak sering mati, dan jarak yang cukup dekat dari sekolah Nathan.
Untuk keluarga Wijaya-Halim, itu sudah seperti membuka jendela setelah bertahun-tahun menahan napas.
Alexander mengangkat satu map keluarga dari laci lama.
Di dalamnya ada tanda terima SPP Nathan yang sudah lunas, salinan surat pengangkatan Advokat Tetap, dan lencana kuningan Herman Wijaya.
Herlina melihat lencana itu.
Tangannya berhenti melipat pakaian.
Alexander menangkap perubahan itu.
"Bu."
Herlina menunduk lagi. "Jangan letakkan sembarangan. Itu peninggalan ayahmu."
"Saya tahu."
"Kalau tahu, simpan baik-baik."
Alexander menutup map, tetapi tidak memasukkannya ke kardus.
"Hari ini kita ke makam Ayah?"
Nathan, yang sedang membetulkan kotak, langsung menoleh.
Herlina diam cukup lama.
"Setelah zuhur," katanya akhirnya.
Makam Herman Wijaya berada di pinggiran Kota Cahaya, di kompleks pemakaman sederhana yang tidak pernah ramai. Nisan ayahnya tidak besar. Namanya tertulis rapi, tetapi tidak ada gelar, tidak ada jabatan, tidak ada catatan tentang pekerjaan yang pernah membuat Herlina menatap foto lama dengan mata terlalu berat.
Alexander berdiri di depan nisan itu dengan map keluarga di tangan.
Nathan menaruh bunga, lalu mundur beberapa langkah.
"Aku tunggu di sana," katanya, menunjuk pohon dekat pagar.
Ia cukup muda untuk ingin ikut, tetapi cukup peka untuk tahu percakapan ini bukan miliknya.
Herlina berjongkok, membersihkan daun kering di dekat nisan.
"Ayahmu dulu tidak suka tempat ramai," katanya.
"Saya tidak ingat."
"Kamu terlalu kecil."
"Saya ingat suaranya sedikit."
Tangan Herlina berhenti.
Alexander membuka map. Ia mengeluarkan lencana kuningan dan foto lama yang dulu pernah ia lihat sekilas: Herman Wijaya menggendong bayi kecil, Herlina berdiri di sampingnya dengan senyum yang belum mengenal kehilangan.
"Bu, waktu kita ke Bank Cakra Sentosa, mereka menyebut catatan khusus. Saya melihat kode IRN-27/YP."
Herlina tidak menatapnya.
"Saya juga tahu setelah kasus MakanYuk, ada orang di bank mulai memperhatikan nama saya."
Kali ini Herlina menoleh.
"Dari mana kamu tahu?"
"Saya tidak tahu penuh. Tapi terlalu banyak hal yang bergerak setelah nama saya muncul di koran."
Angin lewat pelan di antara makam.
Alexander menahan diri agar tidak bicara terlalu cepat.
Di ruang sidang, ia bisa menekan saksi sampai celah terbuka.
Di depan ibunya, ia tidak ingin menang.
Ia ingin dipercaya.
"Bu, Ayah sebenarnya siapa?"
Wajah Herlina berubah seperti orang yang mendengar pintu lama diketuk dari dalam.
"Ayahmu adalah orang baik."
"Saya tidak menanyakan itu."
"Tapi itu yang paling penting."
"Saya tahu dia orang baik. Kalau tidak, Ibu tidak akan menyimpan lencana ini seperti menyimpan napas sendiri."
Herlina menggenggam ujung kerudungnya.
Alexander menurunkan suara.
"Saya tidak meminta Ibu menceritakan semuanya hari ini. Tapi saya perlu tahu apakah rekening itu, kode itu, dan nama Ayah berhubungan dengan sesuatu yang berbahaya."
Herlina menatap nisan Herman.
Untuk beberapa detik, Alexander merasa ibunya akan kembali menutup semuanya.
Lalu Herlina berkata, "Berbahaya bagi orang yang salah."
Dadanya mengencang.
"Maksud Ibu?"
"Ayahmu pernah bekerja di tempat yang tidak bisa Ibu sebut sembarangan. Ia melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat. Ia menolak diam. Setelah itu, banyak orang yang lebih kuat daripada keluarga kita ingin namanya hilang."
Alexander tidak bergerak.
IRN.
Kode itu kembali berdiri di kepalanya.
"Institut Riset Nasional?" tanyanya pelan.
Herlina memejamkan mata.
Itu sudah cukup sebagai jawaban, meski bukan pengakuan penuh.
"Kenapa Ibu tidak pernah bilang?"
"Karena kamu masih kecil. Karena Ryan juga masih kecil. Karena Nathan belum lahir. Karena setiap kali Ibu mencoba membuka berkas lama, seseorang selalu mengingatkan bahwa anak-anak Herman Wijaya masih hidup."
Suara Herlina tidak bergetar.
Justru karena itu, Alexander tahu ketakutannya sudah terlalu lama menjadi kebiasaan.
"Siapa yang mengingatkan?"
Herlina menggeleng.
"Belum waktunya."
"Bu."
"Alex, dengarkan Ibu." Herlina menatapnya penuh. "Kamu sekarang sudah lebih kuat. Ibu melihatnya. Kota ini juga mulai melihatnya. Tapi orang-orang yang menghancurkan ayahmu tidak sama dengan Anthony, tidak sama dengan Robert, tidak sama dengan perusahaan yang bisa kamu kalahkan dengan satu putusan."
"Itu alasan untuk berhenti?"
"Tidak." Mata Herlina memerah. "Itu alasan untuk bersiap."
Alexander menggenggam lencana Herman.
Logam itu dingin, lalu perlahan hangat oleh telapak tangannya.
"Kalau saatnya tiba, Ibu akan cerita semuanya?"
Herlina menatap nisan suaminya.
"Ibu janji."
"Kapan?"
"Ketika kamu tidak hanya punya keberanian untuk membuka kebenaran, tapi juga kekuatan untuk melindungi orang-orang yang akan terluka karena kebenaran itu."
Alexander menunduk.
Di belakang mereka, Nathan berdiri jauh, pura-pura memperhatikan jalan, tetapi bahunya kaku. Ia pasti tidak mendengar semua kata, namun ia tahu sesuatu yang besar sedang bergerak.
Alexander memasukkan foto lama kembali ke map.
"Ayah pernah difitnah?"
Herlina menutup mata.
"Suatu hari, kamu akan mendengar banyak orang menyebut nama ayahmu dengan cara yang salah."
"Dan Ibu ingin saya siap membantahnya."
"Ibu ingin kamu siap membuktikannya."
Kalimat itu jatuh lebih berat daripada batu nisan.
Alexander menatap nama Herman Wijaya.
Selama ini, ayahnya adalah luka keluarga.
Hari itu, untuk pertama kalinya, ia menjadi perkara yang menunggu dibuka.
Sebelum pulang, Herlina menyentuh nisan pelan.
"Mas, anakmu sudah mulai bisa berdiri," bisiknya. "Tapi aku masih takut."
Alexander tidak pura-pura tidak mendengar.
Ia hanya berdiri di samping ibunya.
"Takut tidak apa-apa, Bu."
Herlina menoleh.
"Yang tidak boleh adalah membiarkan mereka terus menang karena kita takut."
Di kejauhan, Nathan melambaikan tangan kecil, memberi isyarat bahwa ojek yang mereka pesan sudah datang.
Alexander memasukkan lencana Herman ke saku jas.
Map keluarga berada di tangannya.
Kode IRN-27/YP belum terbuka.
Nama Yusuf Pratama belum ia pahami.
Musuh ayahnya belum punya wajah.
Tetapi janji sudah keluar dari mulut Herlina.
Dan bagi Alexander, janji seorang ibu di depan makam suaminya lebih kuat daripada surat panggilan mana pun.