NovelToon NovelToon
Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Menikahi tentara / Antagonis Jahat
Popularitas:785
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Larasati membuka mata dan mendapati dirinya terjebak di dalam sebuah novel — menjadi "istri pertama yang jahat", hamil enam bulan, tepat di detik sang suami, perwira dingin Arya Reksonegoro, mengucap satu kata: cerai.
Ia tahu jalan ceritanya. Di novel itu, tokoh seperti dirinya menggugurkan kandungan, bercerai, lalu menghilang — dan dua tahun kemudian keluarga Reksonegoro direhabilitasi, hidup bahagia bersama "tokoh utama wanita" yang terlahir kembali.
Tapi Laras menolak mengikuti naskah.
Saat keluarga suaminya difitnah, jatuh miskin, dan terusir dari Jakarta ke sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, ia justru memeluk erat suaminya, menolak cerai, menolak menyerah. Dengan satu rahasia yang tak dimiliki siapa pun — ia tahu masa depan — Laras perlahan menghangatkan hati sang perwira yang dingin, memenangkan seluruh keluarga besar yang tadinya membencinya, dan satu per satu mementahkan rencana si "tokoh utama" yang terlahir kembali.
Yang tak ia duga: perempuan yang selama ini dianggap anak buangan ini... ternyata menyimpan rahasia asal-usul yang mengguncang seluruh negeri. Ibunya seorang pahlawan yang gugur. Ayah kandungnya — seorang jenderal legendaris yang selama puluhan tahun mencarinya.
Dari menantu yang dihina menjadi permata yang diperebutkan seluruh keluarga; dari istri buangan menjadi putri sang jenderal. Sekali ini, Laras akan menulis ulang takdirnya sendiri.
"Kalau kamu pikir aku akan menyingkir sesuai naskah… kamu salah besar, Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8

Rumah Kontrakan di Kaki Bukit

Mobil berhenti di depan rumah berdinding bata yang belum seluruhnya diplester.

Pak Waluyo sudah menunggu sambil memegang gantungan kunci. Kemeja batiknya rapi, tetapi sandal yang dipakainya penuh lumpur.

“Selamat datang di Girimulyo,” katanya. Matanya bergerak dari Guntur ke koper di atap mobil, lalu berhenti pada perut Laras. “Saya dengar perjalanannya jauh.”

“Terima kasih sudah membantu menyiapkan tempat,” jawab Guntur.

Pak Waluyo tersenyum sopan. “Desa kami sederhana. Mungkin tidak seperti yang biasa dipakai keluarga dari Jakarta.”

Kalimat itu terdengar ramah, tetapi tatapannya sedang menimbang. Laras langsung mengenali kepala desa yang dalam cerita lama selalu membela putri bungsunya, Melati.

Pak Waluyo membuka pintu.

Bau lembap dan asap lama menyambut mereka. Lantainya semen kasar. Ada dua kamar kecil, satu ruang tengah, serta dapur belakang dengan tungku kayu. Cahaya senja masuk melalui celah di bawah genting. Sebuah ember diletakkan tepat di bawah noda bocor pada langit-langit.

Sekar berhenti di ambang pintu. “Kamar mandinya di mana?”

Pak Waluyo menunjuk bangunan kecil di belakang. “Air diambil dari sumber bersama. Ada sumur juga, tapi pompanya rusak.”

Rukmini menarik napas pelan.

Di Menteng, satu kamar mandi mereka lebih luas daripada dapur ini.

“Kontraknya satu bulan dulu,” lanjut Pak Waluyo. “Kalau betah, bisa diperpanjang. Pemiliknya saudara saya.”

Arya membaca perjanjian sederhana, memeriksa nominal, lalu meminta tanda terima. Pak Waluyo tampak sedikit heran, tetapi menandatanganinya.

“Kami tetap perlu melapor data penghuni ke RT,” katanya. “Maklum, sekarang banyak kabar dari kota.”

“Silakan sesuai prosedur,” jawab Arya.

Pak Waluyo tidak menemukan kegugupan yang ia cari. Setelah menyerahkan kunci, ia pamit dengan janji mengirim seseorang menunjukkan sumber air esok pagi.

Sebelum pergi, ia menunjuk rumah besar bercat hijau di ujung jalan. “Itu rumah saya. Kalau perlu apa-apa, datang saja. Istri saya, Bu Sri, biasanya di rumah. Anak-anak juga sering membantu urusan desa.”

Laras mengenali rumah tersebut dari alur lama. Di sanalah Melati dibesarkan sebagai anak kesayangan, dilindungi bahkan ketika kesalahannya merugikan orang lain.

“Terima kasih, Pak,” kata Laras. “Besok kami juga akan menyerahkan salinan identitas untuk laporan RT. Malam ini cukup nama penghuni dan nomor kontak dulu.”

Pak Waluyo berkedip, lalu menerima catatan yang sudah disiapkan Laras. Ia mungkin berharap keluarga kota yang panik dan tidak paham aturan desa. Sebaliknya, perempuan hamil di depannya telah menyiapkan data sebelum diminta.

“Rapi sekali,” komentarnya.

“Supaya tidak merepotkan siapa pun.”

Senyum Pak Waluyo tetap terpasang, tetapi matanya menjadi lebih hati-hati.

Begitu ia pergi, Sekar menutup pintu. Daun pintu itu miring dan kembali terbuka sendiri.

Arya menahan dengan kaki. “Engselnya turun.”

Ia menggulung lengan kemeja, mengambil perkakas dari mobil, lalu mulai bekerja. Guntur membantu menurunkan barang. Rukmini dan Sekar menyapu debu serta sarang laba-laba.

Laras ingin mengangkat satu kardus, tetapi empat suara menegurnya hampir bersamaan.

“Jangan.”

Ia mengangkat kedua tangan. “Baik. Aku mengatur saja.”

Ia membagi barang menurut kamar, memisahkan obat dari makanan, dan meminta kotak besi Maharani ditempatkan di sudut paling kering. Piagam serta buku kulit masuk ke tas tahan air di bawah pakaian bersih.

Air pertama dibawa Arya dan Guntur dari pompa umum menggunakan jeriken yang dipinjamkan pemilik rumah. Warnanya jernih, tetapi Laras tetap meminta air minum dimasak. Sekar membersihkan dua ember dengan sabun sebelum mengisinya. Rukmini mengelap rak dapur tiga kali sampai kainnya tidak lagi hitam.

Pekerjaan bergerak lebih cepat setelah setiap orang memiliki tugas. Menjelang gelap, satu kamar sudah layak tidur, dapur tidak lagi berdebu, dan jalur menuju kamar mandi diterangi lampu baterai.

Arya memilih kamar belakang untuk mereka. Dindingnya tidak serapuh kamar depan dan jendelanya menghadap sisi yang terlindung bukit. Ia menutup celah jendela dengan kain, membersihkan kasur tipis, lalu menggelar alas tambahan.

“Bapak dan Ibu seharusnya memakai kamar ini,” kata Laras.

“Kamar depan cukup,” jawab Rukmini. “Kamu butuh tempat yang tidak kena angin.”

Sekar membawa bantal. “Kalau Mbak Laras sakit malam-malam, kita semua yang repot.”

Nada suaranya ketus, tetapi ia menepuk bantal sampai debunya hilang sebelum meletakkannya.

Makan malam menjadi ujian berikutnya.

Kayu bakar lembap membuat tungku mengepulkan asap. Rukmini batuk, Sekar mengipasi api terlalu keras, dan panci hampir terguling. Laras meminta mereka memakai kompor portabel yang dibeli di Jakarta untuk malam pertama.

“Besok baru belajar tungku saat terang,” katanya.

Tak lama kemudian, nasi, telur kecap, dan sayur hangat tersaji di ruang tengah. Mereka duduk melingkar di lantai karena tidak ada meja makan.

Guntur mengambil suapan pertama. “Enak.”

Rukmini tertawa lelah. “Bapak selalu bilang enak kalau semua orang hampir menyerah.”

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Jakarta, mereka tertawa bersama.

Setelah makan, Arya memeriksa atap dan menggeser ember ke titik bocor. Ia menaruh senter, air minum, dan obat Laras di samping kasur.

“Kalau mau ke belakang malam-malam, bangunkan aku.”

“Mas juga lelah.”

“Tetap bangunkan.”

Di luar, beberapa bayangan berhenti di jalan, memandangi rumah kontrakan baru. Bisikan tentang keluarga jenderal yang jatuh terdengar bersama suara jangkrik.

Laras berbaring di sudut paling hangat yang disiapkan Arya. Mereka berhasil melewati malam pertama.

Namun dari cara Pak Waluyo menimbang setiap koper dan tetangga mengintip dari gelap, Girimulyo belum memutuskan apakah akan menerima mereka atau menjadikan mereka tontonan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!