NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali: ChatGPT Jadi Senjata Rahasiaku

Terlahir Kembali: ChatGPT Jadi Senjata Rahasiaku

Status: sedang berlangsung
Popularitas:61
Nilai: 5
Nama Author: Elang

Arka Wicaksono, 28 tahun, programmer lulusan bootcamp. Hidupnya habis di depan layar komputer — lembur tanpa akhir, gaji pas-pasan, dan mimpi yang sudah lama mati. Sampai suatu malam, jantungnya berhenti di tengah shift ketiga berturut-turut. Mati. Tamat.

Atau begitulah seharusnya.

Arka membuka mata di kamar kos-nya di Bandung. Tahun 2018. Usia 20 tahun. Mahasiswa ITB semester 5.

Dan di saku celananya — sebuah smartphone dari tahun 2026 dengan satu aplikasi yang tidak seharusnya ada: ChatGPT.

AI yang bisa menulis kode sempurna dalam hitungan detik. Merancang produk yang belum pernah dilihat dunia. Menganalisis pasar dengan ketepatan yang melampaui konsultan manapun.

Dengan ingatan masa depan di kepalanya dan AI tercanggih di tangannya, Arka memulai dari nol: menyelamatkan pabrik ayahnya yang hampir bangkrut, membangun platform teknologi yang mengguncang industri, dan diam-diam menyiapkan strategi yang akan membuat dunia berlutut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18: Pertemuan Pertama dengan Nadia

Arka pergi ke Jakarta keesokan harinya.

Dia perlu bertemu calon advertiser yang Kevin janjikan minggu lalu. Dua brand FMCG tertarik pasang iklan di KlikNews sebelum buzzer storm terjadi. Sekarang, setelah #KlikNewsBahaya trending, mereka mungkin berubah pikiran. Tapi Kevin sudah mengatur meeting-nya, dan Arka tidak akan membatalkan hanya karena ada orang yang bayar buzzer untuk menghina dia.

Meeting pertama: batal. Brand manager-nya mengirim WhatsApp pagi itu: *"Maaf, Pak Arka, kami perlu menunggu situasi mereda."*

Meeting kedua: batal juga. Alasan sama.

Arka berdiri di lobi gedung perkantoran di Thamrin, menatap ponsel dengan dua pesan pembatalan. Pukul dua siang. Kereta kembali ke Bandung berangkat dari Gambir jam enam. Empat jam kosong di Jakarta tanpa tujuan.

Dia keluar dari gedung dan memanggil Grab ke Kota Tua. Tidak ada alasan bisnis. Dia hanya butuh berjalan. Berpikir. Dan Kota Tua, dengan bangunan-bangunan kolonial yang megah dan runtuh sekaligus, selalu memberikannya semacam ketenangan.

---

Kota Tua sore hari.

Cahaya keemasan jatuh miring di antara bangunan Museum Fatahillah dan gedung-gedung tua di sekelilingnya. Turis berfoto di depan sepeda warna-warni. Penjual es krim keliling mendorong gerobak di trotoar yang retak. Bau gorengan dan asap kendaraan bercampur di udara yang lembap.

Arka berjalan pelan di sepanjang trotoar Jalan Kali Besar. Pikiran-nya berputar—buzzer campaign, advertiser yang kabur, DAU yang turun. Semua masalah yang bisa dipecahkan dengan waktu dan strategi. Tapi saat ini, di sore Jakarta yang panas, dia hanya ingin berhenti berpikir sebentar.

Lalu dia mendengarnya.

"HEI! TOLONG! JAMBRET!"

Teriakan perempuan. Di depannya, sekitar dua puluh meter, seorang gadis jatuh tersungkur di trotoar. Sebuah motor melaju menjauh—penumpang belakangnya memegang tas kecil yang baru saja direnggut.

Arka berlari tanpa berpikir.

Motor itu sudah terlalu jauh dan terlalu cepat. Arka berlari ke arah gadis yang jatuh. Dia sampai dalam lima detik.

"Kamu nggak apa-apa?"

Gadis itu duduk di trotoar, lutut kirinya berdarah—terkelupas oleh aspal. Tangan kanannya memegangi siku yang lecet. Rambutnya—hitam panjang, diikat ekor kuda yang sekarang berantakan—jatuh menutupi setengah wajahnya.

"Tas saya—ponsel saya—" Suaranya bergetar, tapi tidak menangis. Matanya tajam, bukan mata yang mudah panik. "Semua peralatan kerja saya di sana."

Arka berlutut di sebelahnya. "Lututmu berdarah. Bisa berdiri?"

Gadis itu mencoba berdiri, meringis. "Bisa. Saya... saya harus lapor polisi—"

"Lapor polisi nanti. Sekarang lututmu dulu." Arka mengeluarkan tisu dari ransel—kebiasaan dari kehidupan sebelumnya, selalu bawa tisu—dan memberikannya. "Tekan lukanya. Aku panggilkan GrabBike ke klinik terdekat."

Dia mengeluarkan ponsel dan membuka Grab. Gadis itu menatapnya—pertama kali benar-benar melihatnya.

Arka Wicaksono. Dua puluh tahun, tapi matanya lebih tua. Kaos hitam polos, celana cargo, ransel. Tidak tampan secara dramatis, tapi ada sesuatu dalam caranya bergerak—efisien, tenang, tanpa gerakan yang tidak perlu—yang membuat orang memperhatikan.

"Kamu... baik sekali," kata gadis itu, sedikit bingung. Di Jakarta, orang yang berhenti untuk membantu korban jambret bukan hal yang umum. Kebanyakan orang berjalan lebih cepat, menghindari masalah.

"Cuma kebetulan lewat." Arka memesan GrabBike. "Driver datang tiga menit."

"Terima kasih." Gadis itu menempelkan tisu di lututnya, meringis sedikit, lalu mengulurkan tangan yang tidak lecet. "Nadia. Nadia Putri Ayu."

Arka menjabatnya. Tangannya kecil tapi genggamannya kuat—genggaman orang yang terbiasa berjabat tangan profesional.

"Arka."

"Arka siapa?"

"Arka Wicaksono."

Nadia mengangguk. Nama itu tidak memicu reaksi apa pun—dia tidak tahu siapa dia. Tentu saja tidak. KlikNews baru dua bulan, dan Arka bukan selebriti.

Tapi Arka tahu siapa Nadia.

Ingatan itu datang dari kehidupan sebelumnya.

Nadia Putri Ayu. Jurnalis yang di kehidupan sebelumnya menjadi salah satu reporter investigasi paling tajam di Indonesia. Wajahnya pernah Arka lihat di layar TV—melaporkan korupsi pejabat daerah, membongkar kartel minyak sawit ilegal, mewawancarai menteri dengan pertanyaan yang membuat mereka berkeringat.

Di 2024—kehidupan sebelumnya—Nadia sudah menjadi editor senior di salah satu media besar. Mereka tidak pernah bertemu secara langsung. Tapi Arka mengikuti karyanya. Mengagumi keberaniannya.

Dan sekarang dia duduk di trotoar Kota Tua dengan lutut berdarah, berusia dua puluh dua tahun, dan belum menjadi siapa-siapa.

"Kamu kerja di sekitar sini?" tanya Arka, berusaha menjaga suaranya tetap normal.

"Magang. Di KompasTV." Nadia mengusap rambutnya dari wajah. "Saya baru ditugaskan meliput kondisi Kota Tua untuk segmen heritage. Semua footage ada di ponsel yang dirampas." Dia menghela napas panjang. "Tiga jam syuting, hilang dalam lima detik."

"Bisa reshoot?"

"Harus. Nggak ada pilihan lain." Nadia mencoba tersenyum—senyum profesional yang menyembunyikan frustrasi. "Ini Jakarta. Jambret itu... resiko pekerjaan."

GrabBike tiba. Seorang driver dengan jaket hijau berhenti di depan mereka.

Arka membantu Nadia berdiri. Dia meringis tapi bisa berjalan.

"Ke klinik terdekat?" tanya Arka.

"Nggak usah klinik. Apotek aja, beli betadine dan plester." Nadia naik ke motor dengan hati-hati. Lalu dia menoleh ke Arka.

"Kamu nggak kasih tahu kamu kerja apa."

Arka diam sedetik. "Mahasiswa."

Nadia memiringkan kepala. Matanya—gelap, cerdas, dengan sesuatu yang menyerupai radar bawaan jurnalis—mempelajarinya.

"Kamu bicara seperti orang yang sudah bekerja bertahun-tahun," katanya. "Bukan mahasiswa biasa."

"Mungkin."

Senyum kecil. "Terima kasih, Arka. Serius." Dia memberikan nomor ponsel temannya ke Arka. "Ini nomor teman saya—ponsel saya kan dirampas. Kalau kamu pernah butuh bantuan media atau jurnalistik... well, saya masih magang, tapi saya tahu banyak orang."

Arka menyimpan nomor itu. "Semoga lututmu cepat sembuh."

"Semoga jambretnya ketangkap." Nadia mengenakan helm yang diberikan driver. "Tapi ini Jakarta. Probabilitasnya... rendah."

Motor berangkat. Nadia menoleh sekali lagi sebelum menghilang di tikungan.

---

Malam itu, di kamar hotel budget dekat Gambir yang sama murahnya dengan hotel di Surabaya tiga bulan lalu, Arka duduk di tepi kasur.

Nadia Putri Ayu.

Di kehidupan sebelumnya, dia tidak pernah bertemu Nadia. Hanya melihatnya di layar, mengaguminya dari jauh—jurnalis berani di negara yang tidak selalu ramah terhadap jurnalis berani.

Dan sekarang mereka sudah bertemu. Di trotoar Jakarta yang retak, dengan lutut berdarah dan footage yang hilang.

Arka tahu dia harus hati-hati. Dia tidak percaya pada takdir; dia percaya pada data, strategi, dan eksekusi. Tapi pertemuan ini membuatnya tidak tenang, seperti variabel baru yang masuk ke persamaan yang sudah dia rencanakan.

Dia menggeleng. Fokus. Buzzer campaign masih berjalan. Advertiser masih kabur. Ada perang yang harus dimenangkan sebelum dia bisa memikirkan hal lain.

Arka membuka NusaPhone. Tapi sebelum dia membuka ChatGPT, dia membuka browser dan mengetik di search bar:

*"Arka Wicaksono"*

Hasil pertama: artikel Techinasia tentang KlikNews. Foto-nya ada di sana—diambil dari LinkedIn profile yang Kevin buatkan.

Kalau Nadia penasaran—kalau dia mengetik namanya—dia akan menemukan ini.

Arka menutup browser. Membuka ChatGPT.

Saatnya menyusun rencana balas dendam.

---

Di sebuah kos-kosan di daerah Tebet, Jakarta Selatan, Nadia Putri Ayu duduk di kasur dengan kaki terangkat—lutut yang dibalut plester berdenyut pelan. Ponsel pinjaman teman sekamar di tangan.

Dia mengetik di search bar: *"Arka Wicaksono"*

Hasil pertama muncul.

**"KlikNews: Seorang Mahasiswa ITB Sedang Mengubah Cara Indonesia Membaca Berita — Techinasia"**

Nadia membaca headline itu dua kali.

*Mahasiswa?*

Dia membuka artikel. Membaca. Scrolled down. Membaca lagi.

Pendiri KlikNews. 500.000+ DAU dalam dua bulan. Sebelumnya mendirikan Oyen—brand blind box nasional. Dua puluh tahun.

Nadia meletakkan ponsel di dada. Menatap langit-langit.

Orang yang tadi menolongnya di trotoar—yang memberikan tisu, memanggil Grab, dan berbicara dengan ketenangan orang empat puluh tahun—adalah pendiri salah satu startup paling viral di Indonesia saat ini.

Dan dia bilang dia "mahasiswa."

"Bukan mahasiswa biasa," gumam Nadia, mengulang kata-katanya sendiri.

Dia menyimpan artikelnya. Radar jurnalisnya menyala, kali ini bercampur rasa penasaran yang terlalu personal.

Setidaknya, belum.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!