NovelToon NovelToon
Mon Mari Est Un Mafia (Suamiku Seorang Mafia)

Mon Mari Est Un Mafia (Suamiku Seorang Mafia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Harem
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Alya adalah definisi dari "Cantik tapi Kelakuan Minus". Gadis asal Jakarta yang sedang mencoba peruntungan beasiswa di Paris ini memiliki bakat luar biasa dalam mencari masalah. Suatu sore, karena lapar yang amat sangat dan penglihatan yang kabur akibat lapar, Alya salah memasuki sebuah gedung tua yang ia pikir adalah restoran "All You Can Eat". Ternyata, itu adalah lokasi eksekusi musuh oleh The Four Kings of Paris—si kembar empat pewaris takhta mafia terkutuk: Lucien (Si Dingin yang Otoriter), Marc (Si Jenius yang Licik), Julien (Si Sniper yang Pendiam), dan Etienne (Si Bungsu yang Psikopat tapi Manis).
​Alih-alih gemetar ketakutan, Alya malah protes karena "menu steak" di sana terlalu banyak darahnya (padahal itu darah beneran). Terpikat oleh keberanian yang mendekati kegilaan dan wajah cantiknya, sang pemimpin, Lucien, memutuskan bahwa Alya adalah "tumbal" yang tepat untuk mematahkan kutukan keluarga mereka yang harus menikah dengan wanita dari Timur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MELARIKAN DIRI DENGAN GAYA... JATUH TERJUNGKAL

Kegelapan di aula kastil itu bukan sekadar padam lampu biasa. Ini adalah kegelapan yang pekat, jenis kegelapan yang biasanya mengawali adegan pembantaian dalam film-film mafia yang sering ditonton Alya di laptop bajakannya. Namun, alih-alih mencium aroma maut, hidung Alya justru menangkap bau parfum maskulin yang bercampur aduk dari empat sisi.

​"Bang... ini gelap banget, saya nggak bisa liat apa-apa kecuali bayangan idung kalian yang pada mancung-mancung," bisik Alya, suaranya sedikit bergetar di antara desingan napas para pria yang mengepungnya.

​"Diam, Alya. Ne bouge pas (Jangan bergerak)," perintah Lucien. Suaranya rendah dan sangat tenang, sebuah ketenangan yang justru membuat bulu kuduk Alya berdiri.

​Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari arah pintu masuk. DAR! DAR! Percikan api dari moncong senjata menyinari ruangan sesaat, memperlihatkan kekacauan para tamu yang mulai tiarap dan berteriak dalam bahasa Prancis yang tidak dimengerti Alya.

​"Marc, jalur belakang!" perintah Lucien lagi.

​Alya merasa lengannya ditarik dengan kuat namun hati-hati. Dia dibawa berlari di tengah kegelapan. Masalahnya satu: Alya mengenakan gaun malam merah marun dengan belahan tinggi dan—yang paling menyiksa—sepatu hak tinggi berukuran sepuluh sentimeter yang dipaksakan oleh penata busana tadi sore.

​"Waduh Bang! Pelan-pelan! Ini kaki saya bukan kaki kuda!" keluh Alya sambil mencoba menyeimbangkan tubuhnya.

​"Kita tidak punya waktu untuk mengeluh, Chérie," sahut Etienne yang berada di belakangnya, sesekali melepaskan tembakan balasan ke arah kegelapan. "Valois mengirim tentara bayaran. Mereka ingin mengambilmu sebagai sandera untuk menekan kami."

​Alya membelalak. "Gue diculik? Ogah! Mending gue balik ke Jakarta jualan seblak daripada jadi sandera di sini!"

​Mereka sampai di sebuah koridor sempit yang menuju ke arah dapur kastil. Julien memimpin di depan, gerakannya sangat sunyi seperti hantu. Setiap kali ada bayangan musuh yang muncul di ujung lorong, puf! Julien melumpuhkan mereka dengan senjata berperedam suaranya sebelum Alya sempat berteriak "copet".

​"Oke, kita lewat jendela ini," bisik Marc sambil menunjuk sebuah jendela besar yang mengarah ke taman belakang.

​"Jendela? Bang, kita ini di lantai dua! Saya bukan Spider-Man!" protes Alya saat melihat ketinggian di luar sana. Di bawah sana ada semak-semak rimbun, tapi tetap saja, itu tinggi.

​"Lompat saja, aku akan menangkapmu," kata Lucien yang sudah berada di bawah dalam sekejap—entah bagaimana caranya dia turun secepat itu, Alya tidak sempat melihat.

​Alya menarik napas panjang. Dia menatap tiga kembaran lainnya yang menunggunya dengan wajah tidak sabar. "Oke, Alya. Lu bisa. Bayangin aja di bawah sana ada gerobak bakso gratis. One, two, three!"

​Alya melompat.

​Gaya melompatnya sebenarnya sudah cukup estetik di detik pertama—rambutnya tertiup angin, gaun merahnya berkibar dramatis seperti jubah pahlawan. Namun, di detik kedua, kain gaunnya yang terlalu panjang tersangkut di bingkai jendela.

​"EH?! EH?!"

​Tubuh Alya terhenti sesaat di udara sebelum akhirnya kain itu robek dengan suara KREK! yang sangat memilukan. Karena keseimbangannya hilang, Alya tidak jatuh dalam posisi berdiri atau dipeluk ala bridal style oleh Lucien.

​Dia jatuh terjungkal.

​Bruk! Gedebuk!

​Alya mendarat dengan pantat terlebih dahulu tepat di atas tumpukan daun kering yang ternyata menyembunyikan genangan lumpur sisa hujan sore tadi. Dan yang lebih parah, dia mendarat tepat di kaki Lucien, dengan posisi kaki kangkang ke atas dan wajah yang tertutup robekan kain gaunnya sendiri.

​Hening.

​Lucien menatap ke bawah, ke arah "permaisurinya" yang sekarang lebih mirip bungkus paket yang salah alamat. Marc, Julien, dan Etienne yang menyusul lompat (dengan pendaratan sempurna layaknya atlet olimpiade) hanya bisa terpaku melihat pemandangan di depan mereka.

​"Kau... tidak apa-apa?" tanya Lucien, mencoba menahan otot wajahnya agar tidak berkedut karena ingin tertawa.

​Alya menyingkirkan kain dari wajahnya. Wajah cantiknya kini tercoreng lumpur hitam. "Bang... tadi gaya gue pas di udara keren nggak? Bilang keren atau gue mogok masak selamanya."

​Etienne tidak tahan lagi. Dia tertawa terbahak-bahak sampai harus memegang perutnya. " C'est magnifique! (Itu luar biasa!) Aku belum pernah melihat seseorang melarikan diri dari pembunuhan massal dengan gaya salto kegagalan seperti itu!"

​"Diem lu, Bang Imut! Ini gara-gara baju kalian yang kebanyakan gaya tapi kurang fungsi!" Alya mencoba berdiri, tapi dia menyadari satu hal yang mengerikan. "Eh... sepatu gue mana?!"

​Dia melihat ke bawah. Satu sepatunya masih nempel di kaki kiri, sementara yang kanan... hilang entah ke mana dalam lumpur.

​"Lupakan sepatumu, kita harus pergi!" Marc menarik Alya menuju mobil yang sudah menunggu di balik pagar kastil.

​Mereka berlari melintasi taman. Alya berlari dengan satu kaki memakai high heels dan satu kaki nyeker, membuatnya berjalan seperti zombi yang sedang encok. "Aduh, aduh! Sakit Bang! Ini kerikilnya tajam-tajam kayak omongan tetangga!"

​Tanpa bicara banyak, Julien tiba-tiba membungkuk dan mengangkat Alya ke atas bahunya seperti mengangkat karung beras.

​"Woi! Bang Patung! Turunin gue! Gue bukan barang dagangan!" teriak Alya sambil memukul-mukul punggung Julien.

​"Kau terlalu lambat," sahut Julien pendek. "Diamlah."

​Mereka sampai di sebuah sedan hitam antipeluru. Julien melemparkan—ya, harfiahnya melemparkan—Alya ke kursi belakang, di mana dia terjepit di antara Lucien dan Marc, sementara Etienne duduk di depan samping Julien yang menyetir.

​Mobil itu melesat membelah malam Paris dengan kecepatan yang membuat jantung Alya serasa pindah ke ginjal. Di belakang mereka, lampu-lampu mobil musuh mulai terlihat mengejar.

​"Julien, ambil jalur memutar melalui Seine," perintah Marc sambil membuka laptopnya untuk memantau radar.

​"Etienne, bersiap di jendela," tambah Lucien.

​Alya yang masih belepotan lumpur hanya bisa meringkuk di tengah. Dia melihat Etienne mengeluarkan senapan mesin kecil dari laci dasbor dengan ekspresi sangat gembira, seolah dia baru saja diberi mainan baru.

​"Bang... kita bakal mati nggak?" tanya Alya pelan.

​Lucien menoleh, menatap Alya yang tampak kecil dan berantakan di antara mereka. Dia mengulurkan tangannya yang besar, lalu dengan lembut menyeka noda lumpur di pipi Alya menggunakan sapu tangan sutranya.

​"Selama kau bersamaku—bersama kami—kau tidak akan mati. Itu adalah janji De Calvi," suaranya terdengar sangat meyakinkan, membuat Alya sedikit merasa tenang meski di luar sana suara peluru mulai menghantam bodi mobil. TANG! TANG!

​"Tapi Bang, kalau mobil ini meledak, daster-daster gue di penthouse aman kan?" tanya Alya lagi.

​Lucien menghela napas panjang. "Fokuslah pada nyawamu, bukan dastermu, Alya."

​"Daster itu investasi, Bang! Nyari motif macan yang pas itu susah!" balas Alya tak mau kalah.

​Pertempuran di jalanan Paris malam itu benar-benar gila. Mobil mereka meliuk-liuk di antara kendaraan lain, menabrak beberapa tempat sampah kayu, dan sesekali melakukan drifting yang membuat Alya mual. Etienne sibuk menembaki ban mobil pengejar di belakang sampai akhirnya satu per satu mobil musuh terbalik atau menabrak tiang lampu.

​" Au revoir, imbéciles! (Selamat tinggal, bodoh!)" seru Etienne sambil melambaikan tangan ke arah ledakan di belakang.

​Setelah dirasa aman, mobil melambat dan masuk ke sebuah terowongan rahasia yang menuju ke sebuah bangunan apartemen lain, bukan penthouse yang sebelumnya.

​"Kita tidak bisa kembali ke tempat kemarin. Valois sudah tahu lokasinya," jelas Marc.

​Mereka keluar dari mobil. Alya keluar dengan gaya yang jauh dari kata anggun. Dia turun dengan kaki telanjang, gaun robek-robek, dan rambut yang sudah menyerupai sapu ijuk.

​"Oke, kita sampai," kata Lucien.

​Alya menatap bangunan baru di depannya, lalu menatap keempat suaminya yang masih terlihat rapi (kecuali Etienne yang rambutnya agak berantakan kena angin). Dia kemudian melihat bayangan dirinya di kaca mobil.

​"Gila... gue baru sadar. Gue cantik-cantik begini penampilannya udah kayak gembel habis tawuran," ujar Alya sambil meratapi nasibnya.

​"Tapi kau gembel yang pemberani," goda Etienne sambil mencolek hidung Alya.

​Alya menepis tangannya. "Bodo amat. Pokoknya besok saya mogok jadi ratu. Saya mau jadi rakyat jelata aja yang kerjanya cuma tidur sama makan. Capek tahu, baru sehari jadi istri mafia aja udah disuruh latihan parkour terjungkal!"

​Lucien mendekati Alya, melepas jas hitamnya, dan menyampirkannya ke bahu Alya yang terbuka. "Masuklah. Mandi, dan istirahatlah. Besok... kita harus membicarakan tentang pernikahan resmimmu."

​"Hah?! Masih berlanjut? Gue pikir tadi itu acara perpisahan!" jerit Alya.

​"Ini baru permulaan, Alya," kata Marc sambil tersenyum misterius. "Kau sudah melihat gaya kami bekerja. Sekarang, kau harus belajar cara hidup bersama kami."

​Alya berjalan masuk ke dalam apartemen baru itu dengan satu sepatu di tangan dan jas Lucien yang kebesaran. Dia terlihat konyol, semprul, dan benar-benar tidak cocok berada di tengah-tengah dunia mafia yang serius. Namun, di mata keempat pria kembar itu, justru ketidakcocokan itulah yang membuat mereka tidak bisa melepaskan pandangan darinya.

​"Bang Patung," panggil Alya saat mereka di dalam lift.

​Julien menoleh sedikit. "Apa?"

​"Besok beliin saya sendal jepit ya. Yang warna hijau kalau ada. Biar kalau kabur lagi, saya nggak terjungkal gara-gara high heels sialan ini."

​Julien terdiam sesaat, lalu sudut bibirnya berkedut—hampir menyerupai senyum. "Akan kupikirkan."

​Alya tersenyum puas. Setidaknya, dia sudah berhasil membuat si sniper kaku itu hampir tersenyum. Sambil bersandar di dinding lift, Alya membatin, Jakarta, kangen banget gue sama lu. Tapi kayaknya di sini bakal lebih seru... kalau gue nggak mati duluan, sih.

​Dan dengan begitu, malam yang penuh peluru itu berakhir dengan Alya yang tertidur berdiri di bahu Marc, sementara Lucien menjaganya dari belakang, memastikan tidak ada lagi lumpur atau bahaya yang bisa menyentuh "bencana" kesayangan mereka itu.

1
Aiyliqa Ciie ImuEyt
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Aiyliqa Ciie ImuEyt
🤣🤣🤣🤣ngakak parah...
falea sezi
lnjut🤣
falea sezi
🤣🤣 poliandri gpp lahh cogan semua yee kan
Dania
semangat tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!