NovelToon NovelToon
Dewa Pedang Malas

Dewa Pedang Malas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemalasan Taktis, Target Baru, dan Efisiensi Jiwa Dewa Pedang

​Asrama VIP Sayap Barat Akademi Kekaisaran berdiri terisolasi di atas tebing yang menghadap langsung ke parit energi spiritual. Paviliun pribadi ini dikelilingi oleh barisan pohon persik perak yang berfungsi sebagai penyaring kebisingan alami. Di dalam kamar utama, setelah ranjang Giok Es Spiritual berhasil dipasang oleh para pelayan yang kelelahan, atmosfer kemalasan yang biasa kembali memenuhi ruangan.

​Namun, pagi ini ada sesuatu yang berbeda.

​Xiao Mei masuk ke dalam kamar sembari membawa nampan berisi teh herbal hangat. Sepasang mata porselennya melebar saat melihat Ji Huang tidak lagi berbarung miring memeluk bantal sutra. Pemuda itu duduk tegak di tepi ranjang, jubah linennya terpasang rapi, dan di atas meja giok di depannya telah bertumpuk belasan gulungan perkamen tua tentang peta topografi Ibu Kota Kekaisaran dan kronologi sejarah dinasti kuno.

​"Tuan Muda..." Xiao Mei meletakkan nampan dengan tangan sedikit gemetar. "Apakah Anda... sedang tidak enak badan? Mengapa Anda bangun sebelum matahari menyentuh pucuk pohon persik dan membaca dokumen-dokumen ini?"

​Ji Huang tidak mendongak, jemari fanya dengan santai menggeser satu gulungan peta kuno. "Xiao Mei, jangan menatapku seolah-olah aku baru saja berubah menjadi murid ambisius yang gila kultivasi. Aku tetaplah Ji Huang yang menganggap gerak tubuh berlebih adalah pemborosan energi."

​Pemuda itu menghela napas malas, lalu menatap Xiao Mei dengan pandangan lempeng. "Mengumpulkan informasi sejak dini bukanlah tanda kerajinan, melainkan kemalasan taktis. Jika aku tahu siapa saja potensi pengganggu yang bisa merusak jam tidur siangku di masa depan, aku bisa menyingkirkan mereka lebih awal sebelum mereka sempat mengetuk pintu asramaku. Ini disebut efisiensi energi jangka panjang."

​Xiao Mei mengerjipkan matanya, mencoba mencerna logika absurd tuannya, lalu membungkuk hormat sebelum undur diri dari kamar.

​Saat malam tiba dan kabut spiritual tebing mulai menebal, Ji Huang merebahkan tubuhnya dalam posisi miring yang paling nyaman. Namun, kesadarannya tidak tertidur. Jiwa kuno sang Dewa Pedang tenggelam ke dalam labirin ingatan sedalam samudera yang tersimpan di dalam wadah daging ini.

​Ji Huang yang asli—remaja cacat yang ringkih dari klan cabang Kota Amerta—sebenarnya telah mati malam itu, tepat sebelum jiwanya mengambil alih. Tubuh ini awalnya hanyalah sebuah cangkang kosong yang tersisa akibat siksaan faksi Huang Zhen. Namun, saat surat wasiat dengan segel darah dari Ji Tian terbakar menjadi abu kemarin, sisa-sisa emosi hangat dan residu karma dari pemilik tubuh asli mendadak bergejolak, melekat erat pada kesadaran Dewa Pedang-nya.

​Sebagai entitas tertinggi yang pernah mendominasi jalan langit di kehidupan masa lalu, Ji Huang sangat memahami hukum sebab-akibat (Samsara).

​"Ji Huang yang asli telah tiada, dan aku menggunakan wadah dagingnya untuk menikmati ketenangan dunia fana ini," batinnya sembari menatap langit-langit kamar yang gelap. "Ji Tian adalah ayah yang tulus, dan misteri wanita yang menjadi ibu dari tubuh ini adalah belenggu karma yang belum tuntas. Mengabaikan belenggu ini hanya akan membuat sirkulasi Qi-ku tersendat di masa depan. Anggap saja penyelidikan ini sebagai biaya sewa mutlak karena aku telah menduduki tubuh ini."

​Rasa penasaran yang lahir dari jiwa Dewa Pedang bukan karena ambisi, melainkan karena keangkuhan alami seorang penguasa. Siapa pun faksi di Ibu Kota Kekaisaran yang telah membuat ayah tiruannya harus membakar panci dapur karena merenung, dan memaksa ibu dari tubuh ini melarikan diri, harus dimasukkan ke dalam daftar orang yang layak dibuat tidur selamanya.

​Keesokan paginya, untuk pertama kalinya sejak tiba di akademi, Ji Huang melangkah keluar dari Paviliun Sayap Barat. Tujuannya adalah Paviliun Arsip Kuno, sebuah bangunan pagoda raksasa sembilan lantai yang menyimpan miliaran catatan sejarah dinasti, silsilah klan agung, hingga catatan perang terlarang yang tidak dipublikasikan kepada murid biasa.

​Kehadiran Ji Huang yang berjalan dengan sandal kayu pletag-pletog dan selimut bebek rajutan tangan ayahnya yang melingkar di bahu sempat menarik perhatian beberapa murid yang sedang membaca. Namun, Ji Huang mengabaikan mereka. Dia langsung berjalan menuju lantai lima, tempat arsip sejarah domestik Ibu Kota Kekaisaran dari dua dekade lalu disimpan.

​Alih-alih membalik halaman buku satu per satu seperti yang dilakukan oleh para sarjana atau murid rajin, Ji Huang memilih metode menghinhimpun informasi yang paling malas dalam sejarah akademi.

​Dia menarik sebuah kursi malas yang terbuat dari kayu rotan di pojok ruangan, mendudukinya dengan posisi menyandar yang sempurna, lalu memejamkan kedua matanya.

​Wuuush...

​Dari balik dahi fanya, Ji Huang melepaskan sepercik Indera Ilahi (Divine Sense) tingkat tinggi miliknya secara tipis dan tidak terdeteksi oleh formasi pelindung perpustakaan. Energi kesadaran dewa itu menyebar bagai benang-benang gaib tak kasat mata, menyusup ke dalam sela-sela rak kayu, lalu memindai, membaca, dan menyalin isi dari ratusan gulungan kuno sekaligus dalam hitungan milidetik.

​Di mata murid lain dan penjaga perpustakaan, Ji Huang hanyalah seorang anak manja baru yang menumpang tidur siang di kursi fasilitas perpustakaan. Tidak ada yang tahu bahwa di dalam kepalanya, gelombang data sejarah ibu kota dua puluh tahun lalu sedang disaring dengan kecepatan yang mengerikan.

​Dua jam berlalu dalam keheningan. Di dalam lautan informasi yang masuk ke dalam kesadarannya, Indera Ilahi Ji Huang mendadak terhenti pada sebuah dokumen rahasia bersandikan energi hukum kekaisaran yang telah dihapus sebagian secara paksa menggunakan tinta darah.

​Dokumen itu mencatat tentang sebuah tragedi pembersihan internal yang terjadi dua belas tahun lalu di Ibu Kota. Sebuah klan agung yang memiliki otoritas garis darah suci pelindung takhta, dituduh melakukan pengkhianatan terhadap kaisar setelah salah satu putri suci mereka menolak perjodohan politik dan melarikan diri membawa segel warisan kuno ke wilayah perbatasan barat.

​Nama klan itu sengaja dicoret dari semua buku sejarah resmi, namun jejak sisa energi hukum yang tertinggal di kertas arsip tidak bisa membohongi persepsi seorang Dewa Pedang.

​Klan Ye. Salah satu dari Tiga Klan Pilar Langit yang mengendalikan inti pemerintahan Kekaisaran.

​Ji Huang perlahan membuka sepasang mata sayunya. Kilat dingin yang menembus ruang dan waktu memancar sedetik, sebelum kembali meredup menjadi tatapan lempeng yang mengantuk. Dia bangkit berdiri dari kursi rotan, mengibas debu yang menempel di selimut bebek rajutan ayahnya, lalu melangkah pergi meninggalkan Paviliun Arsip Kuno.

​"Klan Ye dari Ibu Kota Kekaisaran..." gumam Ji Huang polos sembari menatap menara inti akademi yang menjulang di kejauhan. "Jadi mereka yang menjadi sumber kerikil tajam dalam tidur siang keluarga kecilku? Baiklah, mari kita lihat seberapa keras kepala orang-orang kota besar itu saat aku mematahkan pilar mereka nanti."

1
Shen shandian luo
semua di labeli fana..tusuk gigi fana segala
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!