NovelToon NovelToon
Bukan Menantu Pilihan Umi

Bukan Menantu Pilihan Umi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Perjodohan
Popularitas:464
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Antara Bakti Ibu Dan Janji Pada Istri

Antara bakti ibu dan janji pada istri menjadi hantaman badai psikologis yang paling kejam bagi Azzam sewaktu dering telepon genggamnya memecah keheningan kamar hotel kecil dekat stasiun kota. Melalui pengeras suara, kepanikan meluncur deras dari penuturan salah seorang pengurus asrama senior mengenai kondisi Umi Kalsum yang mendadak tidak sadarkan diri setelah kepergiannya siang tadi. Tubuh sang ustaz muda seketika menegang sempurna, menggenggam gawai erat sementara pandangan matanya tertuju pada lembaran catatan kecil milik Hana yang tergeletak di atas kasur. Jantungnya berdegup tidak keruan, menempatkan dirinya pada posisi terjepit yang menuntut pengorbanan salah satu belahan jiwanya.

"Ustaz Azzam harus segera kembali malam ini juga karena detak jantung Umi sempat melemah saat ambulans puskesmas datang," desak pengurus senior dari seberang talian komunikasi.

Azzam mengusap wajahnya yang tampak kusut masai, membiarkan helingan napas berat keluar dari rongga dadanya yang terasa kian menyempit. "Saya akan segera meluncur setelah memastikan situasi di sini kondusif, tolong dampingi ibu saya dengan pengobatan terbaik dahulu."

"Jangan menunda waktu lagi, Ustaz, karena nama kamulah yang terus beliau sebut sebelum kesadarannya hilang total," sahut suara di ujung telepon sebelum sambungan terputus.

Pilihan pelik yang tersaji di hadapannya terasa laksana sepasang mata pisau yang siap mengoyak integritas moral yang selama ini ia agungkan di hadapan para santri. Jika ia memilih memutar balik kendaraan menuju wilayah pesantren, maka peluang untuk melunakkan hati keluarga Hana malam ini akan musnah sepenuhnya. Namun, membiarkan wanita tua yang telah melahirkannya terbaring sekarat tanpa kehadiran putra tunggalnya adalah sebuah tindakan durhaka yang tidak akan pernah diampuni oleh hukum langit. Rasa dilema memuncak, memicu gejolak emosi yang membuat sang ustaz muda terduduk lesmas di tepi ranjang dengan kepala tertunduk sedalam lubang penyesalan.

Sementara itu, di dalam kehangatan rumah beralur modern pusat kota, Hana justru sedang terjaga di depan mesin jahit kayunya yang mulai berderu halus. Lembaran kain sutra marun dipotong dengan sangat hati hati mengikuti garis pola busana muslimah yang sempat ia rancang bersama pemilik butik sore tadi. Fokus kerjanya menjadi tameng terbaik untuk menghalau bayangan Azzam yang beberapa jam lalu sempat berdiri mematung meratapi rantai besi pagar rumah orang tuanya. Hana menyadari bahwa keputusannya menolak menemui sang suami bukan karena hilangnya rasa cinta, melainkan bentuk pertahanan diri agar tidak kembali terjebak dalam pusaran intimidasi domestik.

"Mengapa kamu belum beristirahat, Hana, padahal waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam?" tanya sang ayah yang tiba tiba muncul di ambang pintu ruang kerja.

Hana menghentikan injakan pedal mesin jahitnya sejenak, menoleh dengan seulas senyum tenang yang menghiasi wajah ayunya. "Saya ingin menyelesaikan satu contoh potongan jubah ini, Ayah, agar besok pagi bisa langsung dikirim ke meja produksi rekanan bisnis."

"Ayah melihat keteguhan yang luar biasa di dalam matamu, persis seperti ibumu saat muda dahulu ketika menghadapi ujian hidup," puji lelaki paruh baya itu dengan binar mata bangga.

Dukungan nyata yang mengalir dari sang ayah menjadi energi tambahan yang menguatkan tekad Hana untuk terus melangkah maju menyongsong masa depan baru. Wanita muda itu merasa bahwa udara kota memberikan kebebasan berpikir yang selama ini dikebiri oleh aturan kaku dan sindiran tajam di lingkungan surau tua. Pikirannya tidak lagi terbebani oleh ketakutan akan penilaian salah dari pengurus asrama putri yang kerap menjadikannya bahan guningan sosial. Ia tahu bahwa status hukum pernikahannya akan segera ditentukan di meja hijau pengadilan agama, dan dirinya siap menerima segala konsekuensi sosial dengan kepala tegak.

Kembali ke kamar hotel beralas ubin dingin, Azzam akhirnya mengambil keputusan besar setelah menghabiskan waktu satu jam dalam sujud sujud panjang memohon petunjuk. Ia memasukkan kembali lembaran catatan kecil milik Hana ke dalam saku jubah abu tuanya, lalu menyandang ransel hitam dengan gerakan cepat yang penuh kepasrahan. Sang ustaz muda sadar bahwa kewajiban mendampingi ibu yang sedang kritis adalah prioritas syariat yang tidak bisa ditawar, meski hal itu harus mengorbankan waktu komunikasinya dengan sang istri. Sebelum melangkah keluar menuju area parkir kendaraan roda dua, ia menyempatkan diri mengirimkan sebuah pesan singkat berisi permohonan maaf dan penjelasan jujur kepada nomor gawai Hana.

"Hana, ibuku sedang kritis di rumah sakit daerah, saya harus kembali malam ini juga demi menunaikan bakti anak," ketik Azzam dengan jemari yang gemetar hebat.

Ia menatap layar gawainya selama beberapa menit, berharap ada sebaris kalimat balasan atau sekadar tanda bahwa pesan tersebut telah terbaca oleh sang istri tercinta. Namun, layar digital itu tetap menampilkan keheningan yang kaku, mencerminkan ketetapan hati Hana yang masih enggan membuka ruang komunikasi pribadi. Azzam menghela napas panjang, memasukkan gawai ke dalam saku jaket tebalnya lalu melangkah lebar membelah kegelapan malam menuju kendaraan roda duanya. Deru mesin kendaraan memecah kesunyian jalan protokol kota, membawa pergi sang lelaki kembali menuju lingkaran konflik asal yang kini sedang membara di kampung halaman.

Perjalanan malam menyusuri jalur lintas provinsi ditempuh Azzam dengan kecepatan tinggi di bawah guyuran hujan gerimis yang mulai membasahi permukaan aspal hitam. Pikiran sang ustaz terbagi menjadi dua bagian besar, satu sisi mencemaskan keselamatan nyawa ibundanya, sementara sisi lain mengkhawatirkan berkas gugatan cerai yang kian dekat menuju persidangan. Setiap kelokan jalan yang ia lalui laksana mengingatkan dirinya pada setiap jengkal kesalahan masa lalu sewaktu membiarkan Hana berjuang sendiri di dapur umum pesantren. Penyesalan itu datang bertubi tubi menghantam kesadaran batinnya, melahirkan tekad baru untuk menyelesaikan kekacauan internal yayasan secepat mungkin agar bisa kembali mengejar pengampunan Hana.

Sesampainya di koridor depan ruang perawatan intensif rumah sakit daerah saat fajar mulai menyembul di ufuk timur, Azzam mendapati situasi sudah sangat ramai oleh kerumunan santri senior. Sarah berdiri di dekat pintu kaca dengan wajah yang tampak sembap, langsung mengahampiri langkah kaki Azzam dengan gerakan yang terkesan sengaja dibuat dramatis di depan publik. Beberapa pengajar tua menatap kedatangan sang putra mahkota dengan pandangan yang bercampur antara kelegaan dan tuntutan pertanggungjawaban moral atas kekacauan manajemen keuangan yang sempat terbongkar kemarin.

"Ustaz Azzam, syukurlah kamu tiba tepat waktu karena dokter baru saja keluar memberikan laporan perkembangan medis Umi," ucap Sarah seraya berusaha menyentuh lengan jaket Azzam.

Azzam melangkah mundur satu tapak secara halus, menghindari kontak fisik seraya mengarahkan tatapan matanya lurus pada pintu kaca ruang perawatan. "Bagaimana kondisi ibuku sekarang, Sarah, jangan membuang waktu dengan drama yang tidak perlu di tempat suci ini."

"Kondisi fisik beliau masih lemah akibat tekanan darah yang melonjak drastis, namun kesadarannya sudah mulai pulih perlahan," sela salah seorang dokter senior yang baru keluar ruangan.

Langkah kaki Azzam terasa sangat berat saat melangkah masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi oleh aroma obat obatan tajam serta bunyi ritmis alat pemantau jantung. Di atas ranjang besi, Umi Kalsum terbaring lemah dengan selang oksigen yang terpasang pada hidungnya, menghilangkan seluruh kesan angkuh yang selama puluhan tahun melekat pada sosoknya. Wanita tua itu membuka matanya perlahan, memandangi putra tunggalnya dengan tatapan mata yang sayu seolah sedang menyimpan beban penyesalan yang tidak kalah besar. Azzam berlutut di tepi ranjang, meraih jemari tangan ibundanya yang terasa dingin lalu mengecupnya dengan segenap rasa bakti yang masih tersisa di dalam dada.

"Azzam, maafkan semua kekeliruan ibumu yang terlalu memaksakan kehendak duniawi hingga membuatmu pergi meninggalkan surau," bisik Umi Kalsum dengan suara yang teramat lirih dan putus putus.

Air mata yang selama ini ditahan Azzam akhirnya runtuh juga membasahi punggung tangan wanita paruh baya yang telah membesarkannya dengan penuh ketegasan aturan tersebut. "Umi tidak perlu memikirkan hal itu dahulu, fokuslah pada kesembuhan fisik, urusan yayasan biar saya yang ambil alih kepemimpinannya untuk sementara waktu."

"Jangan tinggalkan ibumu lagi demi wanita kota itu, Azzam, karena pesantren ini membutuhkan keberadaanmu secara mutlak," sambung Umi Kalsum dengan sisa kekuatan otoritase yang mulai muncul kembali.

Pernyataan dari bibir sang ibunda seketika membuat suasana hangat di dalam ruangan medis itu kembali berubah menjadi kaku dan dipenuhi oleh ketegangan tersembunyi. Azzam terdiam seribu bahasa, menyadari bahwa kesembuhan fisik ibunya ternyata belum mampu mengubah pandangan kolot mengenai status sosial Hana di mata keluarga besar mereka. Dilema yang sempat mereda kini kembali membakar dinding dadanya, menuntut ketegasan sikap seorang lelaki dewasa yang tidak boleh lagi menjadi budak kepatuhan buta. Dari balik tirai pembatas ruangan, Sarah tampak tersenyum tipis menyaksikan bagaimana sang penguasa yayasan kembali menggunakan kelemahannya untuk mengunci kebebasan langkah kaki Azzam.

Sementara itu, di kantor pengadilan agama pusat kota, Hana baru saja turun dari kendaraan roda empat milik ayahnya dengan membawa selembar map dokumen berwarna kuning. Langkah kakinya yang anggun mantap melangkah melintasi halaman luas bangunan pemerintah tersebut, bersiap menghadiri proses pendaftaran verifikasi berkas gugatan khulu yang telah disusun rapi. Tidak ada keraguan sedikit pun yang tersisa di dalam hatinya, melainkan sebuah keyakinan penuh untuk merebut kembali hak kedaulatan dirinya sebagai seorang wanita merdeka. Di ambang pintu masuk utama, seorang pria misterius berpakaian rapi tampak sengaja berdiri menghadang jalur langkah kakinya sambil memegang sebuah amplop cokelat tebal yang mencurigakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!