Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.
Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.
Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Aroma obat-obatan memenuhi ruangan rumah sakit. Annisa duduk diam di depan meja dokter sambil menggenggam lembar hasil pemeriksaan di tangannya. Jemarinya gemetar pelan, sementara matanya terus membaca kalimat yang sama berulang kali.
Sudah lima kali dirinya datang ke rumah sakit yang sama. Lima kali melakukan pemeriksaan. Dan lima kali pula hasilnya tidak pernah berubah.
Annisa menelan ludah susah payah sebelum akhirnya mengangkat wajahnya menatap wanita di depannya.
“Dokter Emeli…” suaranya lirih dan bergetar. “Apa saya benar-benar tidak bisa punya anak?”
Dokter Emeli duduk tenang sambil melepas kacamatanya perlahan. Wajahnya tampak iba, meski ada sesuatu yang sulit dijelaskan tersembunyi di balik tatapannya.
“Bu Annisa,” katanya lembut, “kami sudah melakukan pemeriksaan berulang kali. Kondisi rahim Anda memang sangat sulit untuk hamil.”
Dada Annisa terasa sesak.
“Tapi … masih ada kemungkinan kan dok?” tanyanya penuh harap.
Emeli menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan. “Harapannya sangat kecil.” Wanita itu mendorong map hasil pemeriksaan ke arah Annisa. “Secara medis, Anda bisa dikatakan mandul.”
Kalimat itu terasa seperti palu yang menghantam kepala Annisa. Dunia seakan berhenti berputar sesaat.
Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya, namun Annisa berusaha keras menahannya.
“Tidak mungkin…” bisiknya pelan. “Saya sehat … saya tidak pernah punya riwayat penyakit serius.”
“Banyak faktor yang bisa menyebabkan infertilitas,” jelas Emeli cepat. “Dan kondisi setiap wanita berbeda.”
Annisa menunduk, pikirannya langsung tertuju pada Haikal.
Suaminya sangat menyukai anak-anak. Bahkan, beberapa bulan terakhir, ibu mertuanya terus menyinggung soal keturunan setiap kali mereka bertemu.
Kalau Haikal tahu hasil ini, apakah pria itu masih akan mempertahankannya.
“Dok…” suara Annisa kembali terdengar lirih. “Apa suami saya nanti masih bisa bahagia kalau bersama saya?”
Pertanyaan itu membuat Emeli terdiam sejenak. Namun, sedetik kemudian wanita itu kembali memasang senyum profesionalnya.
“Cobalah ikhlas menerima keadaan.” Kalimat itu justru membuat hati Annisa semakin hancur.
Air matanya akhirnya jatuh. Annisa menggenggam hasil pemeriksaan itu erat sebelum berdiri perlahan dari kursinya.
“Terima kasih, Dok.”
Emeli mengangguk pelan. “Jaga kesehatan Anda.”
Annisa tersenyum tipis meski terasa pahit, lalu berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah lemah.
Pintu tertutup.
Dan saat Annisa benar-benar pergi, senyum di wajah dokter Emeli perlahan menghilang. Wanita itu mengambil ponselnya, lalu mengirim sebuah pesan singkat pada seseorang.
“Dia percaya.”
Annisa keluar dari rumah sakit dengan langkah pelan.
Langit sore tampak mendung, sama seperti hatinya saat itu. Jemarinya menggenggam erat tas berisi hasil pemeriksaan yang baru saja dia terima. Lagi-lagi hasilnya sama.
Kata itu seperti kutukan yang terus menghantuinya selama lima tahun terakhir pernikahannya dengan Haikal. Tanpa Annisa ketahui, hasil itu bukanlah hasil pemeriksaan yang sebenarnya. Namun, kebohongan yang terus disembunyikan seseorang darinya.
Sesampainya di rumah, suara tawa para wanita langsung terdengar dari ruang tamu.
Rumah itu kembali dipenuhi ibu-ibu komplek yang datang menghadiri arisan Lasmi. Semenjak Haikal naik jabatan dua hari lalu, ibu mertuanya itu semakin gemar mengadakan kumpul-kumpul untuk memamerkan keberhasilan anaknya.
Annisa menarik napas pelan sebelum masuk. Baru beberapa langkah, salah satu ibu-ibu langsung menyapanya.
“Eh, Annisa baru pulang?” tanyanya ramah.
Annisa tersenyum tipis. “Iya, Bu.”
Tatapan beberapa orang langsung jatuh pada dirinya. Ada yang memperhatikan tas di tangannya, ada pula yang saling berbisik pelan. Lalu seorang wanita paruh baya bertanya tanpa rasa sungkan.
“Lima tahun nikah kok belum punya momongan juga sih, Nisa?” Pertanyaan itu membuat suasana sedikit hening.
Annisa menegang. Belum sempat menjawab, Lasmi yang duduk di tengah para tamu langsung mendecak sinis.
“Ya gimana mau punya cucu?” ucapnya sambil menyeruput teh. “Kalau menantunya memang tidak becus kasih keturunan.”
Beberapa ibu langsung tertawa kecil, wajah Annisa memucat.
“Bu…” lirihnya menahan malu. “Kami masih berusaha.”
Lasmi malah tersenyum mengejek.
“Berusaha?” Wanita itu melirik tas Annisa. “Kamu baru pulang dari rumah sakit kan?”
Annisa terdiam.
“Dan hasilnya pasti sama lagi.” Lasmi terkekeh kecil. “Mandul tetap mandul.”
Tawa kecil kembali terdengar di ruang tamu. Rasanya seperti ada sesuatu yang menghantam ulu hati Annisa begitu keras. Matanya mulai memanas, harusnya seorang ibu mertua menenangkannya, memberinya semangat atau setidaknya menjaga harga dirinya di depan orang lain. Tetapi, Lasmi justru menghancurkannya tanpa rasa kasihan sedikit pun.
“Kasihan juga Haikal,” sambung salah satu tamu. “Sudah sukses, tapi belum punya penerus.”
Lasmi langsung mengangguk setuju. “Itulah nasib anak saya. Salah pilih istri.”
Annisa mengepalkan jemarinya erat. Dadanya sesak menahan malu dan sakit hati yang bercampur menjadi satu. Tetapi, di depan semua orang itu, dirinya hanya bisa diam. Karena tidak ada seorang pun di rumah itu yang berada di pihaknya.
“Haikal itu sebenarnya pintar,” ucap Lasmi sambil memainkan gelang emas di tangannya. “Sayangnya dulu dia salah pilih istri.”
Annisa yang baru hendak melangkah menuju tangga langsung berhenti.
“Entah perempuan sembarangan dari mana yang dia nikahi,” lanjut Lasmi tanpa rasa bersalah. “Asal-usulnya saja tidak jelas. Haikal itu cuma kemakan cinta buta.”
Tawa beberapa ibu-ibu kembali terdengar. Annisa memejamkan mata sesaat. Kalau saja mereka tahu, kalau saja Lasmi tahu siapa dirinya sebenarnya. Namun, Annisa terlalu lelah untuk membela diri. Tanpa mengatakan apa pun, dia langsung berjalan menuju kamarnya di lantai atas.
Pintu kamar tertutup pelan.
Baru setelah itu Annisa menjatuhkan tubuhnya di tepi ranjang. Air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh juga. Dadanya terasa begitu sakit, tangannya gemetar saat mengambil ponsel dari dalam tas.
Satu-satunya orang yang ingin dia dengar saat ini hanyalah Haikal, suaminya. Annisa segera menghubungi nomor pria itu.
Beberapa detik kemudian panggilannya tersambung.
[Hallo?] suara Haikal terdengar dingin dari seberang sana.
Masih terdengar suara orang berbicara dan nampak ramai diujung sana.
“Mas…” suara Annisa bergetar pelan. “Kamu sibuk?”
[Ya jelas sibuk.] Nada Haikal terdengar kesal. [Aku lagi kerja.]
Annisa menelan ludah.
“Aku baru pulang dari rumah sakit…”
[Terus?] Jawaban singkat itu membuat hati Annisa semakin ciut.
“Ibu tadi ngomong macam-macam lagi di depan tamu,” lirihnya. “Aku malu, Mas.”
Bukannya menenangkan, Haikal malah menghela napas kasar.
[Annisa, kamu nelepon cuma buat ngadu hal beginian?]
Annisa terdiam.
[Aku capek kerja seharian, jangan tambah pikiranku lagi.]
“Tapi aku cuma—”
[Kata-kata ibu juga nggak ada yang salah,] potong Haikal dingin. [Coba introspeksi diri.]
Air mata Annisa kembali jatuh. “Kamu juga nyalahin aku?”
[Lah memang kenyataannya begitu.] Nada suara Haikal mulai meninggi. [Lima tahun nikah belum punya anak. Ibu malu sama tetangga itu wajar.]
Annisa menutup mulutnya menahan tangis.
“Mas … aku juga sakit dengar semua itu.”
[Kalau sakit ya cari solusi, bukan nangis terus.]
Kalimat itu terasa seperti pisau yang menusuk tepat di dadanya. Padahal yang paling hancur dengan keadaan ini adalah dirinya sendiri. Namun, tak ada seorang pun yang mencoba memahami perasaannya.
“Udah ya,” ucap Haikal cepat. “Jangan ganggu aku kerja lagi.”
Sambungan telepon terputus. Annisa menatap layar ponselnya kosong. Beberapa detik kemudian, tubuhnya luruh pelan di atas ranjang, tangisnya pecah.
Di rumah itu, bahkan suaminya sendiri tidak pernah benar-benar menjadi tempat pulang untuknya.
bahwa kehadirannya sungguh berharga