Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur
Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21: Pelukan yang Tak Pernah Sampai
Hujan sore itu turun begitu deras, membasahi seluruh kota sampai jalanan berubah menjadi sungai kecil yang keruh dan dingin. Suara rintik air memukul atap-atap rumah, membasuh debu di dedaunan, tapi tidak bisa membasuh sedikit pun rasa sakit yang membara di dalam dada Raga.
Setelah keluar dari toko baju tempat Lira bekerja, ia berjalan sempoyongan di tengah guyuran air, tidak peduli bajunya menempel dingin di kulit, tidak peduli rambutnya basah kuyup menutupi wajahnya. Kakinya melangkah tanpa tujuan, matanya kosong menatap aspal yang berkilau basah, di dalam dadanya terasa ada ribuan jarum tajam yang menusuk terus-menerus, sakitnya tidak ada obatnya.
Ia baru saja melihatnya. Wanita yang ia cari selama tiga tahun, yang ia tempuh ribuan jalan, yang ia korbankan seluruh harta, waktu, dan bahkan kewarasannya demi menemukannya… ada tepat di depannya. Berjarak kurang dari satu meter. Bisa ia sentuh, bisa ia pegang, bisa ia peluk erat-erat seperti yang ia impikan setiap malam.
Tapi apa yang terjadi?
“Maaf… Apakah kita saling kenal, Tuan? Wajahmu terasa sedikit akrab… Tapi maaf, aku tidak ingat pernah bertemu denganmu sebelumnya.”
Kalimat itu bergema terus di dalam kepalanya, berulang kali, tanpa henti. Bukan benci, bukan marah, bukan dendam… tapi ketidaktahuan. Bagi Lira, Raga hanyalah orang asing biasa, sama seperti pedagang sayur, sama seperti tetangga sebelah, sama seperti ribuan orang lain yang lewat di hidupnya tanpa jejak. Cinta yang dulu begitu dalam, janji yang dulu begitu suci, tawa dan air mata yang dulu mereka bagi bersama di tengah bahaya maut… semuanya lenyap begitu saja, terhapus bersih dari ingatan wanita itu, seolah tidak pernah ada sama sekali.
Raga bersandar di tembok bangunan tua di sudut jalan, menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu menangis dalam diam. Air matanya bercampur dengan air hujan, sampai tidak bisa dibedakan mana air langit dan mana air mata hatinya. Ia memukul dadanya sendiri dengan kepalan tangan, rasa sakit fisik itu ia cari, hanya supaya sedikit bisa mengurangi rasa sakit di jiwanya yang jauh lebih besar, jauh lebih menyiksa.
“Bodoh… Kenapa aku tidak bilang semuanya? Kenapa aku tidak memeluknya? Kenapa aku hanya diam dan pergi?” batinnya menyalahkan dirinya sendiri dengan keras.
Ia tahu alasan sebenarnya. Ia takut.
Ia takut jika ia memaksa, jika ia berteriak, jika ia menceritakan semuanya, Lira akan merasa kaget, merasa takut, merasa terganggu. Ia takut wanita yang ia cintai itu akan menganggapnya orang gila, orang yang berbahaya, orang yang mengganggu kedamaian hidupnya yang baru ia dapatkan susah payah setelah kecelakaan itu. Ia tidak mau menjadi orang yang dibenci oleh satu-satunya alasan hidupnya itu. Ia tidak mau kehadirannya malah membuat Lira menderita lagi.
Karena cinta yang tulus itu, kadang bukan berarti harus memiliki. Kadang, cinta itu berarti rela menahan rasa sakit yang paling perih, rela pergi, rela menjadi orang asing… asal orang yang dicintai itu tetap hidup aman, tenang, dan bahagia.
Tapi betapa beratnya menahan rasa itu di dalam dada. Betapa perihnya harus melihat orang yang kau cintai hidup damai, tapi damai itu tidak ada tempatnya untukmu di sana. Betapa hancurnya hatimu setiap hari, saat kau tahu separuh jiwamu ada di sana, tapi kau tidak boleh menyentuhnya sedikit pun.
Di dalam toko baju yang sudah sepi itu, Lira—yang masih hidup dengan nama Maya—masih berdiri diam di belakang mejanya, lama setelah sosok pria itu menghilang di balik tirai air hujan. Jarinya yang terluka oleh jarum jahit masih terasa perih, tapi rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit yang tiba-tiba menyayat hatinya saat melihat punggung pria itu yang berjalan menjauh dengan langkah tergesa-gesa.
Ia masih bisa mengingat jelas wajah pria itu. Wajah yang tampan namun tampak sangat lelah, mata yang indah namun penuh kesedihan yang begitu dalam, sorot mata yang seolah menyimpan ribuan cerita sedih yang belum sempat diceritakan kepada siapa pun. Wajah itu… sungguh terasa sangat akrab, sangat dekat, seolah ia sudah melihatnya ribuan kali, seolah wajah itu adalah wajah yang paling sering ia pandang setiap hari seumur hidupnya.
Tapi kenapa ia tidak ingat? Kenapa kepalanya terasa kosong dan berat setiap kali ia mencoba menggali ingatan tentang pria itu? Kenapa hatinya terasa sakit sekali, seolah baru saja kehilangan sesuatu yang paling berharga di dunia ini?
Lira duduk kembali di kursinya, tangannya gemetar saat merapikan benang dan kain di depannya. Air mata tiba-tiba keluar begitu saja, mengalir pelan di pipinya tanpa sebab yang jelas.
“Kenapa aku menangis? Dia hanya orang asing… Dia hanya salah mengira aku orang lain… Kenapa rasanya hatiku hancur begitu saja?” gumamnya pelan, bingung, sedih, dan penuh rasa penasaran yang semakin besar.
Sejak kecelakaan itu, sejak ia bangun dengan ingatan yang kosong bagai kertas putih, perasaan aneh seperti ini selalu datang menghampirinya. Kadang ia melihat pemandangan tertentu, tiba-tiba hatinya penuh rasa rindu yang tidak tahu kepada siapa. Kadang ia mendengar lagu sedih, tiba-tiba ia menangis tanpa alasan. Kadang ia melihat pasangan suami istri yang saling mencintai, tiba-tiba ia merasa cemburu dan kesepian, seolah ia pernah memiliki cinta yang begitu indah seperti itu, tapi entah bagaimana hilang begitu saja dari hidupnya.
Ia merasa separuh jiwanya hilang. Ia merasa hidupnya tidak lengkap. Ia merasa ada bagian dari dirinya yang tertinggal di suatu tempat yang jauh, di masa lalu yang gelap dan tidak bisa ia ingat lagi.
Dan hari ini, rasa itu datang lagi, lebih kuat, lebih nyata, lebih menyakitkan dari sebelumnya. Rasa bahwa separuh jiwanya itu… ada pada pria asing yang baru saja keluar dari tokonya itu.
“Siapa kamu sebenarnya? Dan siapa aku sebenarnya?” bisiknya di dalam keheningan ruangan yang sepi, suara itu tenggelam oleh suara hujan yang masih turun deras di luar.
Meskipun hatinya hancur lebur, meskipun rasa sakitnya tidak tertahankan lagi, Raga tidak pergi meninggalkan kota itu. Ia tidak bisa. Setelah melihat wajah Lira dengan jelas, setelah tahu bahwa istrinya itu hidup, sehat, dan aman, harapannya yang sudah lama mati kini hidup kembali, tumbuh kuat di dadanya, meskipun harapan itu masih tipis dan penuh duri.
Ia menyewa sebuah kamar kosong kecil, sempit, dan sederhana di gang sempit yang tidak jauh dari tempat tinggal Lira. Ia mengubah penampilannya sedikit: memotong rambutnya lebih pendek, memakai baju biasa yang murah, tidak lagi terlihat seperti anak orang kaya dulu, supaya tidak mudah dikenali atau dicurigai orang lain.
Dan sejak hari itu, hidup Raga berubah menjadi satu hal saja: Menjadi bayangan yang selalu ada di dekat Lira, tanpa pernah terlihat.
Setiap pagi, tepat pukul enam pagi, saat Lira keluar dari rumahnya untuk berjalan kaki ke tempat kerja, Raga sudah berjalan di belakangnya, berjarak sekitar dua puluh sampai tiga puluh langkah, bersembunyi di balik orang banyak, di balik tiang listrik, atau di balik bangunan. Ia melihat cara Lira melangkah yang lembut, melihat cara Lira menyapa tetangga dengan senyum manisnya, melihat cara Lira mengibaskan rambutnya saat terkena angin pagi… hal-hal kecil itu menjadi satu-satunya kebahagiaan kecil yang ia miliki setiap hari. Cukup baginya hanya melihatnya dari jauh, cukup baginya hanya tahu dia ada di sana, dia baik-baik saja, itu sudah cukup untuk membuatnya kuat bertahan hidup.
Setiap siang, saat Lira keluar membeli makan atau sekadar duduk beristirahat di teras toko, Raga selalu duduk di tempat yang tersembunyi tapi bisa melihatnya dengan jelas. Ia menatapnya diam-diam dengan mata penuh rindu, menghafal setiap gerak-geriknya, menyimpan setiap senyumnya di dalam hati, seolah itu adalah harta paling berharga yang ia miliki. Ia tidak berani mendekat, tidak berani menyapa, tidak berani mengganggu. Ia hanya ada di sana, menjaga, mengawasi, dan mencintainya dalam diam.
Setiap sore, saat Lira pulang kerja, Raga selalu mengantarnya kembali sampai ke depan pintu rumahnya, memastikan ia masuk dengan selamat, baru kemudian ia pulang ke kamar kosongnya yang dingin dan sunyi, tempat di mana ia akan menghabiskan malamnya sendirian, ditemani foto Lira yang sudah kusam dan pudar.
Hari-hari itu terasa seperti neraka sekaligus surga baginya. Neraka karena harus melihatnya tapi tidak bisa menyentuhnya, tidak bisa memanggilnya dengan nama yang paling ia cintai, tidak bisa memeluknya saat ia rindu. Surga karena setidaknya ia masih bisa melihatnya, masih ada di dekatnya, masih bisa menepati janji yang pernah ia ucapkan dulu di bawah langit: “Aku akan selalu melindungimu, di mana pun kamu berada, apa pun keadaannya, sampai napas terakhirku.”
Namun takdir seolah belum puas menyiksa hati mereka berdua. Masih ada pertemuan-pertemuan kecil yang menyayat hati, pertemuan yang selalu membuat mereka dekat sekali, hampir bersatu, tapi selalu terpisah oleh dinding tipis yang tak terlihat, membuat rasa rindu itu semakin besar, rasa sakit itu semakin tajam, dan jarak itu terasa semakin jauh meskipun tubuh mereka berjarak hanya beberapa langkah saja.
Kali keempat berpapasan: Di Warung Makan yang Ramai
Siang itu, matahari bersinar terik membakar kulit, udara terasa panas dan gerah. Lira keluar dari tokonya untuk membeli makan siang di sebuah warung makan sederhana yang selalu ia kunjungi setiap hari. Warung itu penuh sesak oleh pekerja pabrik dan pedagang, suara bising dan hiruk pikuk memenuhi seluruh ruangan, jadi Lira terpaksa harus duduk berbagi meja dengan orang lain.
Kebetulan, satu-satunya kursi kosong yang tersisa ada di sisi berlawanan dari tempat duduk Raga. Raga yang sudah ada di sana sejak tadi, hendak segera pindah tempat saat melihat Lira datang, tapi warung itu terlalu penuh, tidak ada satu pun kursi kosong lain yang tersisa. Akhirnya ia hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam, menutupi separuh wajahnya dengan topi, berusaha menyembunyikan dirinya, berdoa semoga Lira tidak memperhatikan atau mengenalinya.
Lira duduk di sana dengan santai, tidak curiga sama sekali. Jarak wajah mereka hanya sekitar tiga puluh sentimeter. Mereka duduk di meja yang sama, makan makanan yang sama, menghirup udara yang sama, saling berhadapan, bisa saling menyentuh tangan jika hanya mengulurkan sedikit saja.
Di sana, Raga bisa melihat Lira dengan sangat jelas. Ia bisa melihat bulu mata panjang wanita itu yang berkedip pelan, bisa melihat ujung hidungnya yang manis, bisa melihat bibirnya yang bergerak kecil saat mengunyah, bisa melihat bekas luka kecil di pelipis kiri yang bekas benturan keras saat kecelakaan dulu… semuanya begitu jelas, begitu nyata, begitu dekat. Hanya tinggal mengulurkan tangan sedikit saja, ia bisa menyentuh wajah itu, wajah yang ia rindukan selama ribuan hari dan malam yang panjang itu.
Raga menahan napasnya sekuat tenaga, hatinya berdebar kencang sekali sampai rasanya mau meledak di dada. Ia menatap Lira dengan pandangan yang penuh cinta, penuh rindu, penuh rasa sakit, seolah ia ingin menyalurkan semua perasaannya lewat tatapan matanya itu, seolah ia ingin berteriak lewat mata: “Ini aku, Lira… Ini aku, orang yang paling mencintaimu di dunia ini… Lihat aku… Kenali aku…”
Dan tiba-tiba, Lira berhenti mengunyah.
Perasaan itu datang lagi. Rasa ada yang sedang menatapnya dengan sangat tajam, sangat hangat, sangat penuh perasaan, rasa yang membuat seluruh tubuhnya merinding halus, rasa yang membuat hatinya bergetar hebat sampai jantungnya mau melompat keluar dari dada.
Lira perlahan mengangkat wajahnya, menatap lurus ke depan.
Mata mereka bertemu lagi.
Untuk detik yang panjang, mereka saling menatap diam-diam di tengah keramaian dan suara bising itu. Semua suara di sekitar mereka seolah lenyap, semua orang di sekitar mereka seolah menghilang, hanya ada mereka berdua di dunia ini.
Di mata Lira, ada kebingungan, ada rasa aneh, ada rasa tertarik yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Di mata Raga, ada ribuan kata yang tidak bisa diucapkan, ada ribuan rindu yang tidak bisa diluahkan, ada ribuan cerita yang belum sempat diceritakan.
Detik itu terasa berjalan sangat lambat, seolah waktu berhenti berputar hanya untuk mereka berdua.
Raga yang tidak kuat menahan rasa sakit itu lagi, tidak kuat menahan rasa ingin menangis yang meledak di dadanya, segera menundukkan wajahnya dengan cepat, mengambil uang di sakunya, meletakkannya di meja dengan tangan gemetar, lalu berjalan keluar dari warung itu dengan langkah cepat dan tergesa-gesa, tanpa makan habis, tanpa menoleh lagi ke belakang, takut jika ia menoleh sekali saja, ia akan hancur dan tidak sanggup pergi lagi.
Saat sosok Raga menghilang di balik pintu kayu warung, Lira masih menatap tempat kosong itu dengan pandangan kosong dan bingung. Nasi di piringnya sudah dingin, tapi ia tidak punya selera makan sama sekali. Dadanya terasa sakit lagi, sakit yang sama, sakit yang selalu muncul setiap kali ia bertemu dengan pria itu.
“Kenapa dia selalu pergi… Kenapa setiap kali aku mulai merasa dekat, dia selalu pergi menjauh… Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia selalu ada di dekatku?” gumam Lira pelan di dalam hatinya, rasa penasaran dan rasa rindu itu semakin besar dan kuat, sampai membuatnya tidak tenang sepanjang hari itu.
Ia mulai menyadari sesuatu yang aneh. Pria itu bukan orang asing biasa. Ia bukan orang yang kebetulan bertemu sekali dua kali. Ia selalu ada di sana. Di pasar pagi, di taman kota, di toko baju, di warung makan… Di mana pun ia pergi, dalam kerumunan orang banyak, di sudut matanya, ia selalu bisa melihat bayangan sosok pria yang sama. Sosok yang tampan, sedih, dan selalu menatapnya dengan tatapan yang aneh dan penuh makna itu.
Dan anehnya, rasa takut itu tidak pernah ada. Ia tidak merasa takut, tidak merasa diganggu, tidak merasa diawasi. Sebaliknya, ia merasa aman. Ia merasa nyaman. Ia merasa ada seseorang yang sedang menjaganya dari kejauhan, seseorang yang tulus, seseorang yang baik, seseorang yang tidak akan pernah menyakiti dirinya.
Hati kecilnya mulai berbisik pelan, meskipun ia tidak berani mengakuinya: “Dia ada hubungannya dengan masa lalumu. Dia ada hubungannya dengan ingatan yang hilang itu. Dia adalah bagian dari dirimu yang hilang itu.”
Kali kelima berpapasan: Di Toko Obat Saat Sakit
Seminggu kemudian, Lira jatuh sakit. Ia terserang demam tinggi dan flu berat karena sering terkena hujan, tubuhnya terasa lemas sekali, kepalanya pusing berputar, dan ia tidak kuat bekerja sama sekali. Sore itu, dengan susah payah dan langkah terhuyung-huyung, ia berjalan keluar rumah untuk membeli obat di toko obat yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Udara sore itu dingin dan berangin, membuat tubuh Lira yang sedang demam semakin menggigil kedinginan. Ia berjalan pelan, memegang dinding tembok untuk menopang tubuhnya yang lemas, wajahnya pucat sekali, matanya terlihat lelah dan sayu.
Di belakangnya, berjarak sepuluh langkah, Raga berjalan dengan hati cemas yang luar biasa besar. Saat ia melihat Lira keluar rumah dengan wajah sakit dan langkah terhuyung-huyung itu, jantungnya mau copot karena panik. Ia ingin sekali berlari mendekat, memapah tubuh wanita itu, menggendongnya pulang, merawatnya, membelikan semua obat yang ia butuhkan, menjaganya sampai ia sembuh kembali… tapi ia tidak boleh. Ia hanya orang asing. Ia tidak punya hak untuk melakukan itu.
Ia hanya bisa berjalan di belakangnya dengan hati gelisah, tangannya mengepal erat menahan rasa ingin mendekat yang meledak-ledak.
Sesampainya di toko obat, Lira masuk dan berdiri di depan rak obat dengan mata kabur karena pusing. Ia mencoba meraih botol obat di rak atas, tapi tubuhnya terlalu lemas, kakinya gemetar, dan tiba-tiba pandangannya gelap seketika. Tubuhnya terhuyung ke samping, hampir saja jatuh terjerembap ke lantai dingin.
“AWAS!!!”
Suara teriakan itu terdengar kencang dan panik, bersamaan dengan dua tangan kuat yang segera menangkap tubuh lemas Lira tepat sebelum tubuh itu menyentuh lantai.
Lira membuka matanya yang kabur, melihat wajah yang sangat ia kenal itu ada tepat di depan wajahnya, jaraknya hanya beberapa sentimeter saja. Wajah yang sedih itu kini penuh rasa panik dan cemas yang luar biasa, mata itu menatapnya dengan ketakutan yang nyata, tangan itu memegang bahu dan pinggangnya erat-erat untuk menopang tubuhnya.
“Kamu baik-baik saja? Kamu sakit sekali kan? Kenapa berjalan sendirian dalam kondisi begini?” suara Raga terdengar gemetar dan cemas, keluar begitu saja tanpa ia sadari, suara yang penuh perhatian, penuh kasih sayang, suara yang terdengar begitu akrab, begitu dekat, begitu hangat di telinga Lira.
Untuk sesaat, waktu berhenti berputar.
Lira terbaring lemah di pelukan Raga, wajah mereka saling berhadapan, napas mereka saling bertemu. Di dada Lira, rasa hangat dan rasa aman yang luar biasa besar menyebar ke seluruh tubuhnya, rasa yang belum pernah ia rasakan saat disentuh orang lain mana pun. Hatinya berdegup kencang sekali, campuran antara rasa sakit, rasa lega, rasa rindu, dan rasa bahagia yang samar-samar.
Ia ingin sekali berkata sesuatu. Ia ingin sekali bertanya: “Siapa kamu? Kenapa kamu begitu cemas padaku? Kenapa rasanya aku sudah lama ingin berada di pelukanmu ini?”
Tapi tepat saat itu, pemilik toko obat datang mendekat dengan suara ramah, memecah momen itu.
“Nona, kamu sakit ya? Mari duduk dulu di sini, istirahat sebentar.”
Suara itu membuat kesadaran Raga kembali pulih seketika. Ia tersentak kaget, menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Ia baru saja memeluk, memegang, dan menunjukkan perhatian berlebihan kepada wanita yang menganggapnya orang asing. Ia baru saja melanggar batas yang sudah ia buat sendiri.
Wajah Raga seketika berubah pucat karena panik. Dengan gerakan cepat dan gugup, ia segera melepaskan pelukannya, mengangkat tubuh Lira dengan hati-hati dan menidurkannya di kursi kayu di dekat situ, lalu segera mundur ke belakang, menjauhkan jarak, wajahnya menunduk dalam-dalam karena rasa malu dan rasa sakit yang menusuk.
“Ma… Maafkan saya, Nona… Saya… Saya hanya takut kamu jatuh… Saya tidak bermaksud apa-apa… Maafkan saya…” suara Raga keluar parau dan gemetar, hampir tidak terdengar.
Lira yang masih lemas, duduk diam di kursi itu, menatap pria itu yang mundur menjauh dengan hati yang sakit kembali. Ia merasa ada sesuatu yang indah yang baru saja direnggut paksa dari tangannya, sesuatu yang hangat dan nyaman yang baru saja ia rasakan, tapi sekarang hilang lagi.
“Ti… Tidak apa-apa… Terima kasih… Terima kasih sudah menolongku…” bisik Lira pelan, suaranya lemah dan sedih.
Raga tidak berani menatap wajahnya lagi. Ia segera memanggil pemilik toko, membayar obat-obatan yang dibutuhkan Lira dengan cepat, lalu meletakkan bungkusan obat itu di meja di depan Lira dengan tangan gemetar.
“Ini… Obat yang kamu butuhkan… Minumlah teratur… Semoga cepat sembuh…” ucapnya cepat, tanpa menatap mata Lira, lalu tanpa menunggu jawaban, ia segera berbalik badan, berjalan keluar dari toko obat itu dengan langkah cepat, menghilang di balik pintu kaca, sebelum air matanya jatuh di depan wanita itu.
Lira duduk diam di sana, menatap pintu yang baru saja ditutup itu, menatap bungkusan obat yang masih hangat di atas meja, matanya penuh air mata yang tertahan. Tubuhnya masih sakit karena demam, tapi rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit di hatinya yang kembali tergores dalam.
Ia hampir bisa merasakan kehangatan itu. Ia hampir bisa merasakan rasa aman itu. Ia hampir bisa mendekati kebenaran itu. Tapi lagi-lagi, pria itu pergi. Lagi-lagi, takdir memisahkan mereka dengan jarak yang hanya sehelai rambut saja.
“Kenapa… Kenapa setiap kali aku merasa dekat, kamu selalu pergi… Kenapa kita selalu seperti ini… Seperti dua orang yang saling mencari, tapi tidak pernah bisa bertemu…” bisik Lira pelan, air matanya akhirnya jatuh membasahi pipinya yang panas karena demam.
Di luar toko obat, Raga berdiri bersandar di tembok bangunan, menutup wajahnya dengan tangan, menangis dalam diam di tengah angin sore yang dingin. Ia baru saja memegang istrinya. Ia baru saja memeluknya. Ia baru saja merasakan kehangatan tubuh wanita itu yang sudah ia rindukan selama tiga tahun… tapi ia harus melepaskannya kembali. Ia harus melepaskannya, karena ia tahu, belum waktunya. Belum saatnya. Masih ada bahaya. Masih ada ancaman dari Lingkaran Emas yang belum habis. Masih ada masa lalu yang belum selesai. Masih ada ratusan hal yang harus diperjuangkan sebelum mereka benar-benar bisa bersatu selamanya.
Perjalanan mereka masih sangat panjang. Rasa sakit ini baru sebatas permulaan. Pertemuan yang hampir bersatu tapi selalu terpisah ini, masih akan terjadi berkali-kali, menyiksa hati mereka berdua, sampai nanti di pertengahan cerita, sampai di ujung Episode 115, saat semua rahasia terbongkar, saat semua musuh kalah, saat ingatan Lira kembali sepenuhnya… barulah mereka akan mendapatkan kebahagiaan yang sejati, yang tidak akan pernah diambil lagi oleh siapa pun.
Sampai saat itu tiba, mereka akan terus hidup dalam rasa rindu, rasa dekat namun jauh, rasa kenal namun asing, rasa cinta yang ada tapi terkurung rapat, menyimpan rasa sakit itu di dalam hati, setiap hari, setiap detik.
Bersambung ke Episode 22… )