Han Ji-an rela dicap "mandul" dan dihina mertua demi menutupi aib suaminya, Kang Min-woo, yang tidak subur. Namun, ketulusannya dikhianati. Min-woo berselingkuh dengan sahabat sekaligus dokter kandungan Ji-an, memalsukan rekam medisnya, lalu mendepaknya tanpa sepeser uang pun.
Di titik hancur, Ji-an dinikahi Cha Jin-wook, CEO nomor satu di Korea. Tiga tahun berlalu, Ji-an membuktikan kebohongannya dengan melahirkan dua anak. Kini, ia kembali ke Seoul sebagai Nyonya Besar Cha Group yang elegan, siap menghancurkan karier, rumah tangga, dan harga diri orang-orang yang telah membuangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Benih yang Tumbuh di Musim Semi
Sinar matahari pagi di Hannam-dong tidak lagi membawa ketakutan atau bayang-bayang kegelapan. Setelah malam yang melelahkan di Dermaga 4 Pelabuhan Incheon, keheningan yang tersisa di dalam penthouse mewah itu terasa begitu murni, seperti lembaran kertas putih yang siap ditulis dengan babak baru kehidupan mereka. Angin musim semi yang berembus dari arah Sungai Han membawa aroma kelopak bunga ceri yang mulai bermekaran di sepanjang jalanan kota Seoul, menyelinap masuk melalui celah jendela balkon yang sengaja dibuka sedikit.
Di dalam kamar tidur utama yang bernuansa monokrom abu-abu dan putih gading, tirai sutra tebal masih tertutup rapat, menghalangi cahaya agar tidak mengusik tidur nyenyak sang Nyonya Besar. Han Ji-an bergerak pelan di bawah selimut bulu angsa yang hangat. Tubuhnya yang ramping terasa begitu aman karena dikunci oleh sepasang lengan kekar yang posesif.
Cha Jin-wook sudah terbangun sejak satu jam yang lalu. Namun, pria bertubuh tegap dengan garis rahang sekeras batu karang itu sama sekali tidak berniat untuk menggeser tubuhnya sedikit pun. Ia memosisikan dirinya miring, menumpu kepalanya dengan sebelah tangan, sementara tangan lainnya terjebak dengan nyaman di bawah pinggang Ji-an, menarik wanita itu tanpa celah ke dalam dekapannya.
Sepasang mata elang Jin-wook, yang biasanya berkilat dingin dan mematikan di dalam ruang rapat korporasi, kini sepenuhnya melunak. Ada binar kelembutan murni, sebuah tatapan yang sarat akan gairah kepemilikan yang mendalam dan rasa syukur yang membuncah ketika ia memandangi wajah tidur istrinya yang begitu damai. Jemari besarnya yang hangat perlahan bergerak, menyingkirkan beberapa helai rambut hitam yang menempel di pipi merona Ji-an dengan gerakan yang luar biasa hati-hati, seolah-olah wanita di hadapannya adalah porselen paling rapuh di dunia.
"Hmm..." Ji-an melenguh lembut, kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka perlahan. Hal pertama yang tertangkap oleh penglihatannya adalah senyuman miring yang sangat seksi dari suaminya—senyuman khas yang selalu berhasil membuat jantungnya berdegup kencang meski mereka sudah bertahun-tahun hidup bersama.
"Selamat pagi, Nyonya Cha," bisik Jin-wook dengan suara beratnya yang serak khas orang baru bangun tidur, mengirimkan desir halus yang langsung menggelitik tengkuk Ji-an.
Ji-an tersenyum manis, menyandarkan dahinya di dada bidang Jin-wook yang terbungkus kaus rajut tipis tanpa lengan, menghirup aroma maskulin perpaduan kayu cendana dan mint yang selalu menjadi penawar stres terbaiknya. "Selamat pagi, Presdir Cha. Mengapa kau belum bersiap ke kantor? Ini sudah hampir pukul delapan."
"Kantor bisa menunggu, Ji-an. Bahkan jika seluruh bursa saham Seoul runtuh pagi ini, tugasku yang paling utama adalah memastikan ibu dari calon anakku memilikinya pagi yang sempurna," balas Jin-wook posesif.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Ji-an untuk membalas, Jin-wook mencondongkan wajahnya, menangkap bibir merah muda Ji-an dalam sebuah ciuman pagi yang lambat, hangat, dan dipenuhi oleh kerinduan yang pekat setelah badai yang mereka lalui semalam. Ciuman itu tidak terburu-buru, melainkan sebuah eksplorasi yang dalam dan intim, sebuah penegasan tanpa suara bahwa mereka telah memenangkan pertempuran melawan masa lalu. Ji-an mendesah lembut, meremas bahu kokoh Jin-wook saat suaminya memperdalam tautan mereka, mengubah keheningan kamar menjadi atmosfer romantis khas drakor yang begitu kental.
Ketika tautan bibir mereka akhirnya terlepas, Jin-wook tidak langsung menjauh. Ia menggeser kecupannya ke sudut bibir, turun ke rahang tegas Ji-an, dan berhenti tepat di atas syal sutra kecil yang masih melingkar di leher istrinya. Dengan gerakan yang sangat sensual namun penuh kehati-hatian, Jin-wook menarik pelan ujung syal tersebut, memamerkan tanda kemerahan yang ia tinggalkan dua malam lalu sebelum ia pergi ke Incheon.
"Hari ini, kau tidak boleh keluar dari kamar ini tanpa seizinku," ujar Jin-wook, suaranya melembut namun penuh dengan otoritas mutlak seorang suami yang protektif. Tangannya perlahan turun, menyelinap di balik gaun tidur sutra longgar milik Ji-an, mendaratkan telapak tangan hangatnya di atas perut rata Ji-an. Di sana, di balik kulit yang lembut itu, ada sebuah detak jantung baru yang sedang tumbuh—sebuah berkah luar biasa yang akan menjadi penerus takhta Cha Group berikutnya.
Ji-an memegang tangan besar Jin-wook yang berada di atas perutnya, menatap mata suaminya dengan binar air mata kebahagiaan yang mulai menggenang. "Aku tahu, sayang. Aku akan menjaga diriku dan bayi kita dengan baik. Terima kasih karena telah membersihkan segalanya untuk kami."
"Aku yang harus berterima kasih padamu, Ji-an. Karena kau telah bertahan di sisiku dan memberikan keluarga yang seutuhnya untukku," bisik Jin-wook parau, sebelum kembali mengecup kening Ji-an lama, menyalurkan seluruh jiwa dan raganya ke dalam pelukan yang seolah tidak akan pernah ia lepaskan seumur hidup.
Pukul sepuluh pagi, suasana di ruang makan lantai bawah tampak begitu hangat dan ceria. Sesuai dengan perintah ketat Cha Jin-wook, seluruh pelayan dan koki pribadi telah memperketat protokol sterilisasi bahan makanan. Tidak ada lagi pasokan luar yang bisa masuk tanpa melalui pemeriksaan pemindai kimia tiga tahap yang dipasang di area basemen logistik.
Cha Hyun-woo dan Seo-ah sudah duduk rapi di kursi makan mereka masing-masing. Di hadapan mereka, terdapat piring-piring berisi panekuk pisang organik dan segelas susu hangat. Sementara itu, di ujung meja, Jin-wook—yang kini hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku tanpa dasi—sedang sibuk menuangkan sup rumput laut hangat ke dalam mangkuk porselen khusus untuk Ji-an.
"Ibu! Lihat, aku mendapat nilai seratus untuk tes matematika kemarin!" seru Hyun-woo dengan bangga, memamerkan selembar kertas dengan angka merah besar kepada Ji-an yang baru saja melangkah turun dari tangga dengan dibimbing oleh Jin-wook.
"Wah, anak pintar Ibu memang luar biasa," Ji-an memberikan senyuman terbaiknya, mengecup kening Hyun-woo dengan penuh kasih sayang sebelum duduk di kursi yang telah ditarikkan oleh suaminya.
Seo-ah yang tidak mau kalah, ikut menarik ujung baju Ji-an. "Ibu, apakah adik bayi di dalam perut Ibu juga suka makan panekuk seperti Seo-ah?"
Pertanyaan polos dari putri kecil mereka seketika membuat seluruh ruangan dipenuhi oleh tawa hangat. Ji-an mengusap rambut kuncir dua Seo-ah dengan lembut. "Tentu saja, sayang. Adik bayi bilang dia ingin tumbuh besar dan kuat seperti Kakak Seo-ah dan Kakak Hyun-woo."
Jin-wook duduk di samping Ji-an, meletakkan mangkuk sup rumput laut di hadapan istrinya. Tatapan matanya yang tajam beralih ke arah koki pribadi yang berdiri tidak jauh dari sana. "Mulai besok, tambahkan menu suplemen zat besi yang direkomendasikan oleh dokter kepresidenan ke dalam sarapan Nyonya Besar. Dan pastikan semua buah yang disajikan telah dikupas di depan mataku sendiri."
"Baik, Presdir," jawab koki dengan membungkuk hormat sebelum undur diri ke dapur belakang.
Ji-an menyenggol lengan Jin-wook dengan sikunya, berbisik pelan agar tidak terdengar oleh anak-anak. "sayang, kau membuat semua orang di rumah ini ketakutan karena sikap protektifmu yang berlebihan itu."
Jin-wook mengambil sendok, menyendokkan sedikit sup rumput laut, lalu meniupnya dengan telaten sebelum mengarahkannya ke depan mulut Ji-an. "Tidak ada kata berlebihan untuk keselamatan keluargaku, Nyonya Cha. Sekarang, buka mulutmu dan habiskan ini."
Ji-an tidak punya pilihan lain selain menerima suapan romantis dari suaminya dengan pipi yang merona merah muda. Pemandangan manis ala drama Korea di meja makan itu menjadi saksi bahwa kebahagiaan sejati telah kembali ke rumah mereka, mengubur dalam-dalam sisa abu kehancuran yang ditinggalkan oleh Kang Min-woo di Pelabuhan Incheon.
Namun, di saat kemegahan dan kedamaian menyelimuti Hannam-dong, di lantai tiga puluh gedung pusat Cha Corporation di distrik Gangnam, sebuah ketegangan baru mulai merayap di antara koridor bursa saham.
Sekretaris Kim berdiri di depan meja kerja besar milik Jin-wook dengan wajah yang tampak serius. Di tangannya, terdapat sebuah laporan keuangan rahasia dari konsorsium investasi global yang berbasis di Singapura. Meskipun ancaman fisik dari Kang Min-woo dan ancaman hukum dari Nyonya Besar Kang telah dihancurkan, dunia korporasi tidak pernah benar-benar bersih dari pemangsa.
Tok, tok, tok.
Pintu ruang kerja terbuka, dan Cha Jin-wook melangkah masuk tepat pukul satu siang. Aura kelembutan yang ia tunjukkan di rumah seketika lenyap, digantikan oleh ekspresi dingin penguasa tertinggi Cha Group yang sangat berwibawa. Jas hitam pekatnya kini sudah terpasang sempurna di tubuh tegapnya.
"Bagaimana perkembangan transfer sisa saham dari Jeju?" tanya Jin-wook dingin sembari duduk di kursi kebesarannya.
"Semua aset milik Nyonya Besar Kang sudah resmi disita oleh negara, Presdir. Namun..." Sekretaris Kim menjeda kalimatnya, meletakkan laporan dari Singapura ke atas meja. "...ada pergerakan modal asing yang mencurigakan dalam tiga jam terakhir. Sebuah perusahaan cangkang bernama Ares Global baru saja membeli sisa saham publik Cha Corporation dalam jumlah besar secara bertahap."
Jin-wook menyipitkan sepasang mata elangnya, menatap grafik pergerakan modal di layar monitor besar di dinding ruangannya. "Ares Global? Siapa orang di balik perusahaan itu?"
"Kami sedang melacaknya melalui unit intelijen keuangan kita di Swiss, Presdir. Namun, indikasi awal menunjukkan bahwa modal ini berasal dari sekutu lama mendiang kakek Anda yang pernah didepak dari jajaran pendiri tiga puluh tahun lalu. Tampaknya, mereka memanfaatkan momen kekosongan dewan komisaris pasca-pemecatan Cha Tae-sung untuk melakukan infiltrasi balik."
Jin-wook menyandarkan punggungnya di kursi kulitnya, jemari tangannya bertaut di depan dada. Sebuah senyuman miring yang dingin dan penuh tantangan terukir di wajah tampannya. "Mereka pikir mereka bisa memanfaatkan situasi saat aku sedang fokus menjaga kehamilan istriku? Sungguh naif."
"Apakah kita perlu melakukan intervensi pasar untuk menaikkan harga saham secara paksa, Presdir?" tanya Sekretaris Kim.
"Tidak perlu," sergah Jin-wook, suaranya terdengar begitu mutlak dan penuh perhitungan. "Biarkan mereka membeli sebanyak yang mereka mau. Begitu kepemilikan mereka menyentuh angka lima persen, kita akan menjatuhkan klausul Poison Pill yang sudah kita siapkan dalam amandemen RUPS kemarin. Aku akan membuat mereka menelan modal mereka sendiri hingga bangkrut dalam hitungan hari."
Jin-wook mengambil ponsel pribadinya, melihat layar kunci yang menampilkan foto Han Ji-an yang sedang tersenyum manis di taman bunga. Seketika itu juga, ketegangan di wajahnya mencair. Siapa pun musuh baru yang akan datang, Jin-wook tidak akan pernah membiarkan mereka menyentuh sejengkal pun dari kekaisaran bisnis yang ia bangun untuk masa depan anak dan istrinya.
Sore harinya, matahari mulai tenggelam di ufuk barat kota Seoul, memancarkan warna jingga keemasan yang luar biasa indah di atas permukaan Sungai Han.
Ji-an sedang berdiri di balkon kamar, mengenakan mantel rajut tebal berwarna krem yang dipadukan dengan syal sutra putih pemberian Jin-wook. Angin sore berembus sedikit kencang, memainkan helai-helai rambut hitamnya yang panjang. Tangannya tidak pernah lepas dari perutnya, seolah sedang melakukan dialog tanpa suara dengan janin yang dikandungnya.
Tiba-tiba, sepasang lengan kekar melingkar dari arah belakang, menarik tubuh Ji-an masuk ke dalam dekapan hangat yang sangat protektif. Jin-wook telah kembali dari kantor lebih cepat dari biasanya, meletakkan dagunya di atas bahu Ji-an sembari menghirup aroma tubuh istrinya yang selalu menjadi candu baginya.
"Mengapa kau berdiri di luar saat angin sedingin ini, Ji-an?" tanya Jin-wook lembut, mempererat pelukannya agar tubuh Ji-an tidak terkena terpaan angin langsung.
Ji-an memiringkan kepalanya, mengecup pipi Jin-wook yang terasa dingin akibat perjalanan luar. "Aku hanya merindukanmu, sayang. Dan aku ingin menunjukkan kepada anak kita betapa indahnya pemandangan kota ini dari tempat kita berdiri."
Jin-wook tersenyum mendalam, membalikkan tubuh Ji-an agar wanita itu menghadap sepenuhnya ke arahnya. Ia menatap lekat sepasang mata manis Ji-an yang berkilau di bawah cahaya senja, lalu mencondongkan wajahnya untuk memberikan sebuah kecupan yang sangat dalam, manis, dan sarat akan gairah cinta yang pekat di bibir istrinya.
Aliansi cinta mereka di Hannam-dong tidak akan pernah bisa digoyahkan oleh badai apa pun, karena di setiap detak jantung mereka, ada sebuah janji suci yang akan selalu mereka jaga hingga akhir hayat. Namun, di seberang samudra, surat undangan dari pertemuan rahasia Ares Global di Singapura baru saja dicetak, siap menguji kekuatan takhta sang Presdir di episode berikutnya.
Ancaman baru dari raksasa finansial misterius mulai mengintai kemegahan Cha Group! Bagaimanakah taktik Nyonya Cha mendampingi sang suami mempertahankan takhta mereka dari serangan global?
kutunggu kehadiran kaliam🤗✨️