NovelToon NovelToon
DOPAMIN

DOPAMIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: Key Kastara

Balas dendam adalah hidangan paling nikmat, tapi juga yang paling memabukkan.

Lima tahun lalu, Zara dijual, dihina, dan diinjak harga dirinya oleh kerabat sendiri. Diselamatkan sekaligus ditempa oleh Garda, ia berubah menjadi Zevana Ardhani—wanita cerdas, berkuasa, dingin, dan mematikan yang hidupnya hanya punya satu tujuan: Balas Dendam.

Namun segalanya goyah saat Arka hadir. Pemuda tulus dan polos—anak musuh terbesarnya—mencintainya tanpa syarat, perlahan mencairkan hati beku yang ia bangun bertahun-tahun.

Di tengah pusaran kebencian yang memberi kepuasan sesaat layaknya efek dopamin… Zevana dihadapkan pada pilihan terberat yaitu antara terus memburu kehancuran, atau berani berhenti demi cinta yang menawarkan kesembuhan sejati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyelamatt Asing

Brukh!

"Awch! Lihat-lihat dong kak! Jalan tuh pakai mata!" bentak seorang wanita berpenampilan modis yang hampir terjatuh akibat tersenggol bahu Zara.

"Dih! Bukannya minta maaf malah melotot!" tegur wanita itu sembari mendorong bahu Zara.

Rambutnya yang sejak tadi terurai, jadi tersingkap. Nampaklah luka-luka memar di leher dan wajah Zara.

"Haha! Non ini cantik-cantik galak amat! Dia jalannya pakai kaki, gak pakai mata, soalnya matanya kebuka jadi melotot! Hahaha!" gelak sang petugas kebersihan sembari mendorong Zara supaya terlepas dari jangkauan wanita itu.

Menyadari ia punya kesempatan untuk pergi, Zara pun segera pergi dengan langkah cepat.

"Oy! Cewek udik! Gila aja, langsung nyelonong!" gerutu wanita itu.

"Haha biarin aja Non, mungkin dia sibuk ahhaha!" gelak petugas kebersihan itu lagi.

"Ih! Bapak ini juga gila ya? Dari kemarin tiap ketemu ketawa gak jelas mulu! Nyebelin! Masa hotel mewah gini, pekerjanya gila sih? Awas ah!" bentak wanita itu sembari mendorong sang petugas kebersihan.

Tap! Tap! Tap!

Zara menuruni tangga dengan langkah terseok-seok lantaran kaki kirinya terluka akibat cambukkan sabuk Herdi. Meski perih menjalar di sekujur tubuhnya, ia tak memperlambat langkah sedikitpun. Sorot matanya menyala seolah akan mengeluarkan sinar laser kapanpun ia mau, namun tentu saja itu hanya kiasan. Zara tak pernah benar-benar mengharapkan keajaiban. Kini, ia sudah muak dengan hal-hal seperti keberuntungan, keajaiban, ataupun harapan. Tekadnya bulat, tujuannya hanya tertuju pada satu hal, namun itu hanya ia yang tahu.

Sampai di ujung tangga, ia melihat pintu keluar ia pun bernafas lega. Mengeratkan topi, ia lalu melangkah dengan hati-hati sembari terus menunduk menghindari tatapan orang-orang yang berlalu lalang. Perasaan asing itu selalu menyelimuti Zara di manapun ia berada. Namun keramaian yang begitu asing itu, tidak lebih buruk dari pada ketika ia berada di rumah. Jadi ketika hiruk pikuk segala aktivitas manusia mengelilingi dirinya, ia merasa lebih baik. Karena setidaknya, semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing, tanpa melibatkan dirinya yang memang bukan siapa-siapa bagi semua orang.

Tak terasa hari mulai gelap, lecet di kakinya semakin terasa perih. Perutnya juga sudah sangat lapar, bahkan sudah keroncongan sejak ia keluar dari tempat yang ternyata adalah sebuah hotel itu. Zara pun mengehentikan langkah di sebuah warung pinggir jalan.

Bermodalkan beberapa lembar uang yang diselipkan oleh petugas kebersihan tadi, ia memberanikan diri mendekat ke warung tersebut. Tanpa berucap kata, Zara mengambil beberapa makanan dan sebotol air mineral. Melihat tingkah Zara yang mencurigakan, Ibu pemilik warung mendekat.

"Beli apa kak?" tanyanya sambil menyentuh tangan kanan Zara.

Deg!

Terkejut oleh teguran sang pemilik warung, botol mineral yang dipegang Zara pun terjatuh.

"A-ah maaf, saya ada uang. Saya beli!" gugup Zara sembari mengeluarkan beberapa lembar uang 10.000-an kepada Ibu warung.

"Astagfirullah, kaget ya? Maaf. Habis kakaknya bengong dan celingukan, saya pikir kakak bingung mau beli apa," ujar sang pemilik warung sembari memunguti makanan ringan dan botol mineral yang Zara jatuhkan.

Sementara itu, terlihat sesosok pria misterius berhelm trail, memperhatikan Zara di seberang jalan.

"Saya menemukannya Bos," ucap pria itu sembari mendekatkan ponsel ke telinganya.

"Gadis itu," imbuhnya.

[Bawa dia] titah pria di seberang telepon datar.

"Baik!"

Tut.

***

Zara mengunyah roti selai coklat dengan perlahan, diselingi oleh tegukan air setiap kali ia menelannya. Ia terlalu lelah bahkan untuk mendorong roti itu ke perutnya. Selain itu, rotinya juga memang keras dan agak apek, tadinya ia hanya memikirkan makanan apa yang sekiranya cukup mengenyangkan perutnya untuk beberapa lama.

Glek! Glek!

"Hah...." desahnya lega setelah air di dalam botolnya habis.

Setelah itu, ia menengadah menatap langit malam. Gelap, pekat. Tak ada satupun bintang maupun bulan. Ia pun memejamkan matanya merasakan semilir angin yang berembus menerpa wajahnya–membuat rambut hitamnya yang panjang berkibar ke belakang. Nampaklah kedua netranya yang tajam dan lentik itu kini tengah menatap lurus ke sebuah pohon besar yang berada beberapa meter di hadapannya.

Meski malam sudah mulai larut, suasana taman kota itu tidak kunjung sepi. Bahkan mungkin lebih ramai dibanding siang hari. Salah satu alasannya, mungkin muda mudi lebih suka berkencan di malam hari sembari menikmati jalanan kota dan lampu-lampu malam. Namun satu hal yang mengusik perhatian Zara, adalah laki-laki yang menggunakan helm trail yang tengah duduk di atas motor di bawah pohon besar itu. Meski tak ada yang aneh dengan hal itu, ia merasa seperti sedang diawasi.

Hap!

Zara pun bangkit dari duduknya, meregangkan tubuh dengan santai, mengetuk-ngetuk sepatu karetnya, lalu....

"Hufth ... Hah!"

Wush!

Tanpa diduga ia melompat ke belakang kursi taman yang baru saja ia duduki lalu berlari secepat kilat.

"Sial!" dengus pria berhelm trail sembari menyalakan motornya.

"Lapor! Bos, target kabur. Dia lari!" seru pria itu sembari menekan alat yang menempel di telinganya.

[Apa? Bukannya kamu bilang dia sedang duduk makan?] tanya orang di seberang telepon.

"Sepertinya dia sadar sedang diawasi!" teriak pria itu sembari menyalakan motornya lalu melajukan motornya mengikuti arah ke mana Zara pergi.

Tap! Tap! Tap!

"Benar, ternyata memang ngikutin," monolog Zara dalam batin.

"Siapa? Herdi? Reno? Susi?" imbuhnya berpikir keras sembari terus berlari.

"Ck! Bukan. Mereka gak mungkin mau repot-repot sewa orang," decak Zara.

Brum! Ngeng....!

Motor melaju dengan kecepatan tinggi, hingga tinggal beberapa meter lagi mendekat ke arah Zara.

Swung!

Spontan Zara memutar arah, memasuki gang sempit di sebelah kanannya, tepat di antara dua ruko pinggir jalan.

Ckit....!

"Ck!" decak pengemudi motor misterius itu sambil mengerem motornya mendadak.

Hap!

Brak!

Ia pun melompat hendak mengejar Zara tanpa menggunakan motornya yang ia geletakkan begitu saja tanpa memarkirkannya terlebih dahulu. Namun saat ia memasuki gang yang Zara masuki, ternyata itu merupakan gang buntu, dan tidak ada siapapun di sana.

"Brengsek!" dengusnya sembari membuka helmnya dengan kasar.

"Anak kucing rumahan apanya!" rutuknya sembari mengedarkan pandangan.

Terlihat ada pipa-pipa paralon basah, licin dan sudah patah di dinding ruko tua itu. Di kanan dan kirinya merupakan ruko dan toko tua setinggi tiga lantai. Tidak memungkinkan untuk dipanjat, dan tidak akan bisa bersembunyi di manapun lantaran tepat di hadapannya merupakan punggung gedung lain yang lebih tinggi dari dua ruko di antaranya.

Klik!

"Bos! Hilang, targetnya," desahnya frustrasi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!