DIJUAL SEBAGAI PELUNAS HUTANG.
SEKARANG DIA YANG MENENTUKAN HARGA NYAWA MEREKA.
Lima tahun lalu Zara diinjak harga dirinya oleh keluarga sendiri.
Hari ini, dia kembali sebagai Zevana Ardhani.
Bukan korban lagi. Tapi sang mafia wanita yang ditakuti di dunia korporat.
Misinya satu: BALAS DENDAM.
Sampai Arka muncul.
Putra dari guru Mafianya sendiri.
Polos. Tulus. Satu-satunya yang melihat Zevana sebagai manusia, bukan monster.
Antara nyawa, racun, dan cinta.
Zevana harus memilih: Menenggelamkan mereka semua dalam kebencian,
atau hancur karena satu-satunya pria yang bisa meluluhkan hatinya?
[MAFIA WANITA] [BALAS DENDAM] [DARK ROMANCE]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelamat Asing
Brukh!
"Awh! Lihat-lihat dong Kak! Jalan tuh pakai mata!" bentak seorang wanita berpenampilan modis yang hampir terjatuh akibat tersenggol bahu Zara.
"Dih! Bukannya minta maaf malah melotot!" tegur wanita itu sembari mendorong bahu Zara.
Rambutnya yang sejak tadi terurai, jadi tersingkap. Tampaklah luka-luka memar di tangan dan wajah Zara.
"Haha! Nona ini cantik-cantik galak amat! Dia jalannya pakai kaki, gak pakai mata, soalnya matanya kebuka jadi melotot! Hahaha!" gelak sang petugas kebersihan sembari mendorong Zara supaya terlepas dari jangkauan wanita itu.
Menyadari ia punya kesempatan untuk pergi, Zara pun segera melangkah dengan cepat.
"Oy! Cewek udik! Gila aja, langsung nyelonong!" gerutu wanita itu.
"Haha biarin aja Nona, mungkin dia sibuk ahaha!" gelak petugas kebersihan itu lagi.
"Ih! Bapak ini juga gila ya? Dari kemarin tiap ketemu ketawa gak jelas mulu! Nyebelin! Masa hotel mewah gini, pekerjanya gila sih? Awas ah!" bentak wanita itu sembari mendorong sang petugas kebersihan.
Tap! Tap! Tap!
Zara menuruni tangga dengan langkah terseok-seok lantaran kaki kirinya terluka bekas ikatan kencang oleh Hardi. Meski perih menjalar di sekujur tubuhnya, ia tak memperlambat langkah sedikit pun. Sorot matanya menyala seolah akan mengeluarkan sinar laser kapan pun ia mau, namun tentu saja itu hanya kiasan. Zara tak pernah benar-benar mengharapkan keajaiban. Kini, ia sudah muak dengan hal-hal seperti keberuntungan, keajaiban, ataupun harapan. Tekadnya bulat, tujuannya hanya tertuju pada satu hal, namun itu hanya ia yang tahu.
Sampai di ujung tangga, ia melihat pintu keluar, lalu ia pun bernapas lega. Mengeratkan topinya, ia lantas melangkah dengan hati-hati sembari terus menunduk menghindari tatapan orang-orang yang berlalu lalang. Perasaan asing itu selalu menyelimuti Zara di mana pun ia berada. Namun keramaian yang begitu asing itu, tidak lebih buruk daripada ketika ia berada di rumah. Jadi ketika hiruk-pikuk segala aktivitas manusia mengelilingi dirinya, ia merasa lebih baik. Karena setidaknya, semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing, tanpa melibatkan dirinya yang memang bukan siapa-siapa bagi semua orang.
Tak terasa hari mulai gelap, lecet di kakinya semakin terasa perih. Perutnya juga sudah sangat lapar, bahkan sudah keroncongan sejak ia keluar dari tempat yang ternyata adalah sebuah hotel itu. Zara pun menghentikan langkahnya di sebuah warung pinggir jalan.
Bermodalkan beberapa lembar uang yang diselipkan oleh petugas kebersihan tadi, ia memberanikan diri mendekat ke warung tersebut. Tanpa berucap sepatah kata, Zara mengambil beberapa makanan dan sebotol air mineral. Melihat tingkah Zara yang mencurigakan, Ibu pemilik warung mendekat.
"Beli apa, Kak?" tanyanya sambil menyentuh tangan kanan Zara.
Deg!
Terkejut oleh teguran sang pemilik warung, botol mineral yang dipegang Zara pun terjatuh.
"A-ah, maaf, saya ada uang. Saya beli!" ujar Zara gugup sembari mengeluarkan beberapa lembar uang sepuluh ribuan kepada Ibu warung.
"Astagfirullah, kaget ya? Maaf. Habis Kakaknya bengong dan celingukan, saya pikir Kakak bingung mau beli apa," ujar sang pemilik warung sembari memunguti makanan ringan dan botol mineral yang terjatuh.
Sementara itu, terlihat sesosok pria misterius berhelm sepeda motor, memperhatikan Zara dari seberang jalan.
"Saya menemukannya, Bos," ucap pria itu sembari mendekatkan ponsel ke telinganya.
"Gadis itu," imbuhnya.
[Bawa dia], titah pria di seberang telepon dengan nada datar.
"Baik!"
Tut.
Zara mengunyah roti selai cokelat dengan perlahan, diselingi tegukan air setiap kali ia menelannya. Ia terlalu lelah bahkan untuk menelan makanan itu. Selain itu, rotinya memang terasa keras dan agak apek; tadinya ia hanya memikirkan makanan apa yang sekiranya cukup mengenyangkan perutnya untuk beberapa lama.
Glek! Glek!
"Hah...." desahnya lega setelah air di dalam botolnya habis.
Setelah itu, ia menengadah menatap langit malam. Gelap, pekat. Tak ada satu pun bintang maupun bulan. Ia pun memejamkan matanya, merasakan semilir angin yang berembus menerpa wajahnya—membuat rambut hitamnya yang panjang berkibar ke belakang. Tampaklah kedua matanya yang tajam dan lentik itu, kini tengah menatap lurus ke sebuah pohon besar yang berada beberapa meter di hadapannya.
Meski malam sudah mulai larut, suasana taman kota itu tidak kunjung sepi. Bahkan mungkin lebih ramai dibanding siang hari. Salah satu alasannya, mungkin anak muda lebih suka berkencan di malam hari sembari menikmati pemandangan kota dan lampu-lampu malam. Namun satu hal yang mengusik perhatian Zara adalah laki-laki yang memakai helm motor, yang tengah duduk di atas kendaraannya di bawah pohon besar itu. Meski tak ada yang aneh dengan hal itu, ia merasa seolah sedang diawasi.
Hap!
Zara pun bangkit dari duduknya, meregangkan tubuh dengan santai, mengetuk-ngetuk sepatu karetnya, lalu....
"Hufth ... Hah!"
Wush!
Tanpa diduga, ia melompat ke belakang bangku taman yang baru saja ia duduki, lalu berlari secepat kilat.
"Sial!" dengus pria berhelm itu sembari menyalakan motornya.
"Lapor! Bos, target kabur. Dia lari!" seru pria itu sembari menekan alat komunikasi yang menempel di telinganya.
[Apa? Bukannya kamu bilang dia sedang duduk makan?] tanya orang di seberang telepon.
"Sepertinya dia sadar sedang diawasi!" teriak pria itu sembari melajukan motornya mengikuti arah ke mana Zara pergi.
Tap! Tap! Tap!
"Benar, ternyata memang ngikutin," gumam Zara dalam hati.
"Siapa? Hardi? Reno? Susi?" pikirnya keras sembari terus berlari.
"Ck! Bukan. Mereka gak mungkin mau repot-repot menyewa orang," decak Zara.
Brum! Ngeng....!
Motor melaju dengan kecepatan tinggi, hingga tinggal beberapa meter lagi mendekat ke arah Zara.
Swung!
Spontan Zara memutar arah, memasuki gang sempit di sebelah kanannya, tepat di antara dua ruko pinggir jalan.
Ckit....!
"Ck!" decak pengemudi motor misterius itu sambil mengerem mendadak.
Hap!
Brak!
Ia pun melompat hendak mengejar Zara tanpa menggunakan motornya, yang diletakkannya begitu saja tanpa diparkirkan terlebih dahulu. Namun saat ia memasuki gang yang dimasuki Zara, ternyata itu adalah gang buntu, dan tidak ada siapa pun di sana.
"Brengsek!" dengusnya sembari membuka helmnya dengan kasar.
"Anak kucing rumahan apanya!" rutuknya sembari mengedarkan pandangan.
Terlihat ada pipa-pipa paralon yang basah, licin, dan sudah patah menempel di dinding ruko tua itu. Di kanan dan kirinya berdiri ruko dan toko tua setinggi tiga lantai. Tidak memungkinkan untuk dipanjat, dan seolah tidak ada tempat bersembunyi—lantaran tepat di hadapannya terdapat tembok gedung lain yang lebih tinggi dari kedua ruko itu.
Klik!
"Bos! Hilang, targetnya," desahnya dengan perasaan frustrasi.