NovelToon NovelToon
Sisa Rasa Yang Terlarang

Sisa Rasa Yang Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: HebiKage

Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.

Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:

Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Dua Kota

Sudah berlalu tiga minggu sejak aku mengirimkan hasil perbaikan pada sepuluh halaman pertama naskah novelku kepada Tante Ratna.

Tiga minggu yang terasa jauh lebih panjang dari hitungan waktunya—seolah telah berjalan selama tiga bulan penuh. Hari-hariku dipenuhi dengan proses penyempurnaan tulisan, pembetulan bagian demi bagian, serta percakapan dan diskusi panjang yang terus berlangsung lewat surat elektronik. Setiap minggunya, aku secara rutin mengirimkan sepuluh halaman berikutnya yang telah aku susun dengan sebaik mungkin. Dan setiap minggunya pula, balasan dari Tante Ratna selalu datang disertai catatan perbaikan yang rinci, mendalam, dan terkadang cukup banyak.

“Bagian percakapannya coba diperluas lagi, Mbak. Berikan ruang agar emosi dan maksud tersiratnya terasa lebih jelas.”

“Jangan lupa menggambarkan bagaimana perasaan dan suasana hati tokoh utama pada setiap kejadian yang dialaminya.”

“Jangan ragu atau takut menghadirkan pertentangan dan perselisihan. Justru konfliklah yang membuat sebuah cerita terasa hidup dan memikat hati pembaca.”

“Untuk adegan pertama kali mereka berbagi momen yang dekat, coba lambatkan iramanya. Jangan tergesa-gesa menyelesaikannya; biarkan ketegangan dan rasa ingin tahunya terbangun perlahan-lahan.”

Setiap kali membaca saran dan permintaan untuk memperbaiki tulisan itu, rasanya seperti menerima pukulan ringan namun terasa menyentuh bagian paling dalam dari usahaku. Namun di balik rasa itu, aku sadar satu hal penting: setiap kali aku menyempurnakan tulisan sesuai arahannya, karyaku menjadi semakin kuat, semakin terasa nyata, dan semakin mendekati apa yang sebenarnya ingin aku sampaikan.

Perlahan aku mulai memahami satu kenyataan: menjadi seorang penulis tidak hanya sekadar memiliki kemampuan merangkai kata-kata menjadi kalimat dan paragraf. Lebih dari itu, ia melibatkan keberanian untuk menghapus apa yang dirasa belum pas, menulis ulang dengan cara yang lebih baik, lalu menghapus lagi dan menyusun kembali hingga terasa sempurna. Ia juga berarti memiliki hati yang lapang untuk menerima kritik dan masukan tanpa merasa tersinggung atau rendah diri. Serta percaya sepenuhnya bahwa setiap proses perbaikan yang dijalani akan membawa ceritaku ini semakin dekat pada bentuk terbaiknya.

***

Pagi itu, tepat pukul sembilan pagi, ponsel yang tergeletak di atas meja kerjaku tiba-tiba bergetar pelan. Sebuah pesan masuk, dan pengirimnya tertulis jelas: Tante Ratna.

“Selamat pagi, Mbak Tari. Semoga harimu menyenangkan. Ada kabar baik yang ingin saya sampaikan.”

Begitu membaca kalimat pembukanya, detak jantungku seketika berpacu lebih cepat dari biasanya. Rasa penasaran dan sedikit kecemasan muncul bersamaan dalam benakku.

“Selamat pagi juga, Tante. Terima kasih. Kabar baik apa yang bisa membuat saya terkejut?” balasku segera.

Tak butuh waktu lama hingga jawabannya muncul kembali di layar.

“Beberapa waktu lalu, salah seorang pengamat sastra yang juga kolumnis di harian Kompas sempat membaca sebagian naskah kasar novel Mbak. Beliau menyatakan ketertarikannya dan berencana menulis sebuah ulasan khusus sebelum buku ini resmi terbit dan beredar di pasaran.”

Aku tertegun, mataku terbelalak tak percaya. “Sebuah ulasan… sebelum buku ini bahkan diterbitkan?” tanyaku kembali untuk memastikan bahwa aku tidak salah membaca.

“Benar sekali. Beliau mengungkapkan pendapatnya bahwa cerita ini memiliki kekuatan dan kualitas yang cukup baik, serta berpotensi besar menjadi salah satu karya sastra yang banyak dibicarakan dan diminati pembaca pada tahun ini.”

Potensi menjadi fenomena sastra.

Kalimat itu terasa begitu berat dan asing ketika melintas di pikiranku. Bagaimana mungkin? Aku hanyalah seorang mahasiswi biasa yang sedang menempuh pendidikan dan baru belajar menyusun cerita. Bukan penulis besar yang sudah memiliki banyak karya, bukan sastrawan yang namanya dikenal luas. Aku hanyalah Tari—seorang gadis yang mencoba menuangkan pengalaman dan perasaannya lewat tulisan.

“Tante, saya… sungguh tidak menyangka mendengar hal ini. Saya bahkan tidak tahu harus menjawab apa atau merasa bagaimana sekarang,” tulisku jujur.

“Kamu tidak perlu menjawab apa pun atau merasa terbebani dengan hal itu, Mbak. Tugasmu hanya satu: teruslah menulis dan menyelesaikan kisah ini sebaik yang kamu bisa. Sisanya, biarkan kami dari pihak penerbit yang mengurus segala keperluan dan promosinya nanti.”

“Baiklah, Tante. Saya mengerti. Terima kasih banyak atas kabar baik dan kepercayaan yang diberikan kepada saya,” balasku sambil menarik napas panjang untuk menenangkan diri.

Setelah meletakkan ponsel, aku menatap lurus ke arah dinding kamar yang polos.

Sebuah ulasan di media massa terkemuka… dikatakan berpotensi menjadi karya yang diperbincangkan banyak orang. Rasanya seperti sedang terbang di tengah mimpi indah yang belum sepenuhnya percaya akan menjadi kenyataan.

***

Pukul sepuluh pagi, aku memutuskan untuk berjalan keluar dan menuju taman kecil yang terletak tidak jauh dari kompleks apartemen tempatku tinggal.

Taman itu tidak luas—hanya memiliki beberapa bangku kayu yang tersebar di bawah naungan pepohonan, dikelilingi oleh hamparan bunga berwarna-warni yang tumbuh rapi. Kedatangan musim semi mengubah tempat ini menjadi lebih hidup: kuncup-kuncup bunga bermekaran mekar sempurna, burung-burung kecil terbang dan berkicau riang dari satu dahan ke dahan lain, serta sinar matahari pagi yang hangat menyelinap lewat celah dedaunan, membentuk pola cahaya yang indah di atas tanah.

Aku duduk di bangku kayu kesukaanku, tepat di bawah pohon berdaun lebat yang mulai menghijau segar. Suasana di sini terasa tenang, hening, dan jauh dari hiruk pikuk aktivitas kampus serta pekerjaan menulis. Tempat yang sangat pas untuk menenangkan pikiran dan merenung.

Sambil memandang ke sekeliling, aku meraih ponselku kembali dan membuka ruang obrolan dengan Aldo.

“Aldo, ada kabar yang cukup mengejutkan hari ini. Tante Ratna bilang seorang pengamat sastra dari harian Kompas sudah membaca sebagian naskahku dan ingin menulis ulasannya sebelum bukunya terbit.”

Balasannya datang dengan sangat cepat, seolah ia sudah menunggu kabar dariku.

“Apa?! Sungguh? Itu luar biasa kabarnya, Tari! Kamu pasti senang sekali mendengarnya.”

“Jujur saja, aku lebih merasa gugup daripada senang saat ini, Aldo.”

“Kenapa harus gugup? Bukankah itu tanda bahwa ceritamu dianggap bagus oleh orang yang memahami dunia tulisan?”

“Aku takut nanti ulasannya justru berisi kritik yang buruk atau mengatakan ceritaku belum layak dibaca.”

“Itu tidak akan terjadi, Tari. Percayalah. Ceritamu itu bagus, sangat bagus. Bahkan aku sendiri sudah membacanya.”

Mataku terbelalak membaca kalimat terakhirnya. “Kamu sudah membacanya? Sejak kapan?”

“Saat kamu masih berada di sini di Melbourne, beberapa waktu yang lalu. Kamu sempat meninggalkan laptopmu di kamarku sebelum kembali ke tempat tinggalmu, dan aku sempat membuka serta membaca sebagian isinya saat kamu tertidur lelap.”

Aku tersenyum sendiri sambil menggelengkan kepala. Selalu saja ada cara-cara kecil yang ia lakukan yang membuatku merasa diperhatikan dan dicintai sepenuh hati.

“Jadi kamu mengintip dan membacanya tanpa izin? Itu namanya curang, Aldo.”

“Bukan curang, melainkan hanya rasa penasaran yang tak bisa ditahan. Aku ingin tahu seperti apa bentuk kisah yang sedang kamu tuliskan dengan penuh semangat itu setiap harinya.”

“Baiklah kalau begitu. Lalu menurutmu sendiri, bagaimana ceritanya? Apakah ada bagian yang terasa membosankan atau tidak pas?”

“Aku sangat menyukainya, Tari. Sangat menyukainya. Yang membuatnya istimewa adalah cara penulisanmu yang begitu jujur dan apa adanya. au menulis bukan sekadar menyusun kata-kata, melainkan menumpahkan seluruh isi hatimu dan perasaan yang sebenarnya kamu alami. Itulah yang membuatnya terasa nyata dan menyentuh.”

Aku merasakan kehangatan menyelimuti dadaku. “Terima kasih banyak, Aldo. Pujian darimu adalah yang paling berharga untukku.”

“Jadi jangan lagi merasa takut atau ragu, ya. Kamu sudah bekerja keras dan melakukan yang terbaik. Kamu sudah menjadi penulis yang hebat menurut versiku.”

Aku menggigit pelan bibir bawahku, menahan rasa haru yang tiba-tiba muncul.

“Aldo… aku sangat menyayangimu.”

“Dan aku pun sangat menyayangimu, Tari. Lebih dari yang bisa kamu bayangkan.”

***

Pukul satu siang, aku kembali masuk ke dalam apartemen.

Segera setelah melepas jaket dan sepatu, aku membuka laptop dan kembali membuka berkas naskah novelku untuk melanjutkan pekerjaan. Tepat di kotak masuk surel, sudah terkirim pesan dari Tante Ratna yang berisi catatan perbaikan untuk Bab 7. Isinya cukup panjang, hampir memenuhi satu lembar halaman penuh.

“Mbak Tari, bab ini menceritakan pertemuan pertama tokoh utama wanita dengan ibu dari tokoh utama pria. Ini adalah salah satu adegan yang paling penting dalam keseluruhan cerita, karena di sinilah benih perselisihan dan rintangan utama mulai terlihat jelas. Coba perdalam lagi alur percakapannya, tambahkan suasana tegang dan rasa tidak nyaman yang menyelimuti pertemuan itu. Jangan takut membuat sosok ibu itu terlihat tegas, keras, atau bahkan terasa menantang; pembaca perlu merasakan langsung tekanan berat yang harus dihadapi oleh tokoh utama wanita.”

Aku membaca kembali versi Bab 7 yang sudah aku tulis sebelumnya, dan perlahan menyadari apa yang dimaksudkan oleh Tante Ratna. Benar saja, adegannya terasa terlalu datar, lancar, dan bebas hambatan. Sosok ibu itu tergambarkan terlalu baik hati dan mudah menerima kehadiran tokoh utama, padahal kenyataannya—seperti yang aku alami bersama Bu Dewi—suasana pertemuan itu justru penuh ketegangan, kecurigaan, dan perbedaan pendapat yang tajam.

“Baiklah, berarti aku harus menulis ulang adegan ini agar lebih mendekati kenyataan dan lebih terasa hidup,” gumamku pada diri sendiri.

Jari-jariku mulai bergerak di atas papan ketik, menyusun kembali adegan itu dengan hati-hati dan mendalam.

“Ruangan itu terasa sangat hening, begitu sunyi hingga aku bisa mendengar dengan jelas detak jantungku sendiri yang berdegup kencang dan keras. Bu Rika duduk tepat di hadapanku, menatap lurus ke arah mataku dengan pandangan yang terasa sedingin es—lebih dingin daripada udara luar yang membuatku menggigil, meski di dalam ruangan ini pendingin ruangan diatur pada suhu yang cukup nyaman.

‘Nak Ayu,’ sapanya perlahan namun dengan nada yang tajam dan menusuk ke dalam dada. ‘Apakah kamu sudah paham alasan mengapa aku meminta kehadiranmu di sini hari ini?’

Aku menelan ludah dengan susah payah, berusaha menenangkan gugup yang meluap. ‘Menurut penjelasan Rama, Ibu ingin bertemu dan mengenal saya lebih dekat,’ jawabku pelan.

Bu Rika hanya mendengus singkat, seolah tidak setuju dengan jawabanku. ‘Rama memang selalu berbicara dengan cara yang halus dan lembut. Tapi aku tidak perlu berbasa-basi. Aku ingin meluruskan beberapa hal yang terasa ganjil bagiku.’

Ia melirik sekilas ke arah Rama yang duduk diam di sudut ruangan, lalu kembali menatapku dengan tatapan yang tak berubah. ‘Nak Ayu, dulu kau adalah kekasih dari Edo, anak sulungku. Dan tak lama setelah hubungan itu berakhir, kau langsung terlihat sangat dekat dan menjalin kedekatan dengan Rama—adik kandungnya. Hanya dalam waktu beberapa hari saja.’

Rasa sesak seketika memenuhi rongga dadaku, membuat napasku terasa berat untuk ditarik. ‘Menurut pandanganmu sendiri… apakah hal itu terasa wajar dan tidak aneh terjadi?’”

Aku berhenti mengetik sejenak, lalu membaca ulang kalimat-kalimat itu. Rasanya sudah jauh lebih pas. Ada ketegangan yang terasa, ada tekanan yang menyelimuti suasana, dan terasa lebih mendekati apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupanku.

“Ini lebih baik. Lebih kuat, lebih nyata, dan lebih mampu menyampaikan suasana hatinya,” pikirku puas, lalu melanjutkan mengetik hingga selesai.

***

Pukul enam sore, akhirnya aku berhasil menyelesaikan seluruh proses penyempurnaan pada Bab 7.

Aku membacanya kembali dari awal hingga akhir, memeriksa tata bahasa, ejaan, alur percakapan, serta kesesuaian sikap dan sifat setiap tokohnya. Setelah merasa yakin tidak ada bagian yang terlewat atau terasa kurang, aku segera mengirimkan berkas hasil revisi itu ke alamat surel Tante Ratna, disertai pesan singkat:

“Tante, ini dia versi perbaikan dari Bab 7 sesuai arahan yang disampaikan. Semoga kali ini sudah lebih baik dan sesuai harapan. Mohon bimbingannya lagi.”

Beberapa menit kemudian, balasan masuk.

“Terima kasih atas kerja kerasnya, Mbak Tari. Saya akan membacanya dengan saksama dan menyampaikan tanggapan saya besok hari.”

“Baik, Tante. Terima kasih banyak.”

***

Pukul delapan malam, ponselku kembali berdering. Layarnya menampilkan nama pengirim panggilan: Mama.

Aku segera mengangkatnya dengan perasaan senang. “Halo, Ma?”

Suara Mama terdengar dari ujung sana, sedikit parau dan lembut. “Halo, Nak. Mama hanya ingin mendengar suaramu dan bilang kalau Mama sangat merindukanmu.”

Aku langsung merasakan ada yang berbeda dari nada bicaranya. “Mama baru saja menangis, ya? Kenapa sampai begitu? Ada apa?”

“Tidak apa-apa, Sayang. Benar-benar tidak ada masalah. Hanya rasa kangen yang tiba-tiba meluap begitu saja,” jawabnya berusaha menenangkan. “Sudah, jangan ikut sedih. Mama tidak menangis lagi sekarang.”

“Mama harus menjaga kesehatan dan perasaannya, ya. Nanti aku juga ikut terbawa suasana kalau Mama menangis,” ucapku lembut.

“Baiklah, baiklah. Oh ya, Papa juga ingin menyampaikan kalau ia merindukanmu juga.”

Dari latar belakang suara, aku mendengar Papa menyela pelan, “Bilang Tari jangan lupa makan teratur dan jangan hanya bergantung pada makanan instan saja!”

Aku tersenyum mendengarnya. “Sampaikan pada Papa, aku makan teratur kok. Tidak sampai kelaparan atau kekurangan gizi.”

“Katanya kamu makin kurusan sejak tinggal di sana,” sahut Papa lagi.

“Bilang Papa aku tetap sehat dan bertenaga, Ma. Tidak perlu dikhawatirkan,” kataku lagi.

“Tari… kapan kira-kira kamu bisa pulang ke rumah lagi?” tanya Mama perlahan.

“Masih ada waktu sekitar satu setengah tahun lagi, Ma. Sebentar saja kok, nanti cepat berlalu rasanya.”

“Waktu setahun lebih itu terasa lama sekali bagi kami yang menunggumu di sini,” keluhnya halus.

“Janji deh, mulai hari ini aku akan menghubungi Mama setiap hari, agar rasanya tidak terasa jauh dan lama menunggunya.”

Mama terdiam sejenak, lalu terdengar suaranya yang lembut dan penuh kasih sayang. “Mama sangat menyayangimu, Nak.”

“Aku pun sangat menyayangi Mama, Papa, dan semuanya di rumah.”

“Sebentar ya, Dinda dan Rangga juga ingin bicara sebentar.”

Dinda yang masih duduk di bangku sekolah mengambil alih telepon dengan suara riangnya. “Kak Tari! Jangan lupa bawa oleh-oleh yang banyak dan enak nanti saat pulang!”

“Siap, Din. Kakak pasti ingat dan akan membawakan yang terbaik untukmu.”

“Beneran ya, jangan lupa!”

“Janji, tidak akan dilupakan.”

Setelah Dinda, giliran Rangga yang masih duduk di bangku dasar menyampaikan kerinduannya. “Kak, aku kangen sekali ingin bermain dan bercanda dengan Kakak lagi.”

“Kakak juga sangat kangen padamu, Rangga. Nanti setelah pulang, kita main game dan olahraga bersama seperti dulu lagi, ya?”

“Janji, ya?”

“Janji. Kakak tidak akan mengingkarinya.”

Setelah selesai berbincang dengan adik-adikku, telepon kembali diserahkan pada Mama. “Sudah cukup dulu ya, Tari. Kamu harus istirahat yang cukup dan jangan sering begadang hingga larut malam.”

“Baik, Ma. Mama dan Papa juga harus menjaga kesehatan dengan baik. Jangan terlalu lelah bekerja.”

“Baiklah, Nak. Selamat malam dan semoga tidurmu nyenyak.”

“Selamat malam juga, Ma.”

Panggilan ditutup, namun aku masih menatap layar ponsel dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa bahagia karena mendengar kabar keluarga, namun ada juga rasa rindu yang dalam menyelimuti hatiku.

“Aku rindu kalian semua… Mama, Papa, Dinda, Rangga… dan tentu saja Aldo.”

***

Pukul sembilan malam, langit di luar jendela sudah sepenuhnya gelap.

Aku melangkah ke arah balkon dan berdiri memandang ke luar, menyaksikan pemandangan malam kota Melbourne yang mulai dipenuhi cahaya lampu berkelap-kelip. Udara malam terasa lebih hangat dibandingkan minggu-minggu sebelumnya, pertanda bahwa musim semi segera berganti menjadi musim panas yang cerah dan hangat.

Di kejauhan, gedung-gedung tinggi menjulang megah, kendaraan berlalu lalang di jalan raya, serta orang-orang berjalan santai menikmati suasana malam.

“Hidup terus berjalan, berputar, dan melangkah maju—baik di tanah kelahiranku di Jakarta, maupun di sini di Melbourne, dan di mana pun orang berada,” gumamku pelan.

Aku mengangkat tanganku ke leher, lalu menggenggam erat kalung yang tergantung di sana—kalung dengan liontin berbentuk buku kecil, pemberian dari Aldo yang selalu menjadi pengingat kehadirannya di sampingku.

“Aku akan tetap berjalan dengan baik dan menyelesaikan semua mimpi ini dengan sempurna, Aldo. Aku janji padamu.”

Aku menarik napas panjang untuk mengisi paru-paruku dengan udara segar malam itu, lalu memutar tubuh masuk kembali ke dalam ruangan dan menutup rapat pintu balkon. Aku merebahkan tubuh di atas kasur yang empuk, membiarkan pikiranku melayang pada segala hal yang telah terjadi hari ini.

Di luar sana, angin malam terus berhembus lembut melewati celah-celah jendela, seolah berbisik membawa pesan rindu ke seberang benua.

Dan di dalam hatiku, hanya satu nama yang terus terucap bersama setiap detak jantungku…

Aldo.

1
Tamaa
/Toasted//Toasted/
Tamaa
Omoshiroi
Reverie_Vex: Makasih banyak! Senang banget kamu merasa ceritanya seru 🤗
Semoga tetap menyenangkan dibaca sampai bab-bab selanjutnya ya!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!