NovelToon NovelToon
MUTIARA BUMI : Sang Kucing Putih & Sang CEO

MUTIARA BUMI : Sang Kucing Putih & Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:36
Nilai: 5
Nama Author: kawaichanopi

Mutiara Bumi: Sang Kucing Putih dan Sang CEO

Bai Xue adalah makhluk asing berwujud kucing berbulu putih cantik yang datang ke Bumi bersama empat temannya. Misi mereka adalah mengumpulkan Mutiara Energi untuk menyelamatkan planet asal mereka yang terancam punah. Mereka semua bisa berubah wujud menjadi manusia kapan saja.

Di Bumi, Bai Xue berubah menjadi gadis cantik berusia 20 tahun yang mungil, ceria, dan baik hati. Takdir mempertemukannya dengan Xiao Chen, seorang CEO muda kaya raya yang jenaka, tengil, agak ceroboh, dan memiliki keunikan: ia sangat alergi terhadap kucing.

Awalnya pertemuan mereka penuh insiden konyol, namun lama-kelamaan Xiao Chen mengetahui rahasia Bai Xue dan mulai jatuh hati padanya. Bersama teman-teman alien dan orang-orang kepercayaannya, mereka berusaha mengumpulkan energi sambil melawan musuh yang ingin mencuri kekuatan para alien dan menghancurkan perusahaan Xiao Chen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Di Antara Bintang

Pintu pesawat kecil terbuka perlahan, menampakkan lorong lebar yang terbuat dari logam berkilau dengan lampu energi biru yang menyala lembut di sepanjang dindingnya. Suasana di sana dingin, sunyi, dan terasa penuh kekuasaan—jauh berbeda dengan kehangatan dan keakraban yang selalu mereka rasakan di Bumi.

Xiao Chen melangkah keluar lebih dulu, diikuti erat oleh Bai Xue. Langkah mereka mantap, tidak menunjukkan rasa takut meski di sekeliling mereka berdiri puluhan prajurit berseragam ketat dengan senjata energi yang siap diarahkan kapan saja. Wajah mereka kaku, tatapan mereka tajam dan penuh kewaspadaan.

Di ujung lorong, sebuah pintu besar terbuka otomatis, memperlihatkan ruang komando yang sangat luas dan megah. Di tengah ruangan itu, di atas panggung kecil, berdiri seorang pria paruh baya dengan postur tegap dan wajah yang tegas tanpa ekspresi. Pakaiannya berwarna perak dengan lambang matahari terukir di dadanya—tanda tertinggi dari pasukan Armada Penegak. Itulah Komandan Kael.

Ia menatap kedua tamunya dengan pandangan yang menilai, dingin, dan sedikit meremehkan. Matanya terhenti sejenak pada liontin emas yang bersinar samar di dada Xiao Chen, lalu beralih ke Bai Xue.

"Jadi inilah yang menjadi pusat kekacauan ini," suara Komandan Kael terdengar berat dan menggema di seluruh ruangan. "Seorang manusia biasa dan seorang penjelajah yang melalaikan tugasnya. Di mana Ratu Lien? Mengapa dia tidak datang sendiri seperti yang diperintahkan Dewan?"

Xiao Chen melangkah maju selangkah, berdiri tegak setara dengan tatapan komandan itu. "Ibu saya tetap di Bumi untuk menjaga kedamaian. Saya yang datang mewakili dia, mewakili kedua dunia. Nama saya Xiao Chen, anak dari Ratu Lien."

Komandan Kael mengangkat alisnya sedikit, tampak terkejut namun tetap mempertahankan sikap dinginnya. "Anak? Keturunan campuran? Hal ini tidak pernah diperhitungkan dalam rencana. Kau tidak memiliki hak untuk mewakili siapa pun. Menurut hukum Xing Yun, darah campuran tidak diakui sebagai bagian dari bangsa kami."

"Kalau begitu hukum itu harus diubah," jawab Xiao Chen tegas tanpa gentar. "Hukum yang membedakan makhluk hanya berdasarkan asal-usulnya tidak adil. Bumi ini bukan musuh, manusia bukan ancaman. Kami datang bukan untuk berperang, tapi untuk menunjukkan jalan yang lebih baik."

Bai Xue melangkah berdiri di sampingnya, suaranya tenang namun jelas terdengar. "Saya Bai Xue, penjelajah yang dikirim untuk mengumpulkan energi guna menyelamatkan Xing Yun. Selama di sini, kami menemukan bahwa energi tidak harus diambil dengan paksa. Bumi ini memiliki sumber daya yang melimpah, dan penduduknya memiliki hati yang penuh perasaan—yang justru menghasilkan energi murni yang jauh lebih kuat daripada yang bisa diambil secara paksa."

Komandan Kael mendengarkan dengan ekspresi tidak berubah, namun matanya menunjukkan ketertarikan samar. Ia berjalan turun dari panggung, melangkah mendekat hingga jaraknya hanya beberapa meter dari mereka.

"Kalian berbicara tentang hal yang tidak kalian pahami. Xing Yun sedang sekarat. Sumber energinya telah habis selama ribuan tahun. Jika kita tidak bertindak cepat, seluruh bangsa kita akan punah. Cara damai yang kalian bicarakan akan memakan waktu ratusan tahun—kita tidak punya waktu sebanyak itu."

"Kau salah," potong Xiao Chen. Ia mengangkat tangannya perlahan, dan seketika cahaya emas lembut memancar dari telapak tangannya, menyebar ke seluruh ruangan. Suhu di ruangan yang tadinya dingin perlahan berubah menjadi hangat, dan para prajurit yang tadinya tegang mulai merasa lebih tenang, seolah beban di bahu mereka sedikit berkurang.

"Ini adalah energi kehidupan—energi yang dihasilkan dari kasih sayang, persahabatan, dan keinginan untuk saling melindungi. Ini adalah energi yang disimpan dalam benda-benda bersejarah, dalam kenangan, dalam hati setiap makhluk hidup. Selama ini kalian hanya mencari energi kasar, padahal yang dibutuhkan Xing Yun justru energi murni seperti ini. Dan kami telah mengumpulkannya, sedikit demi sedikit."

Dari dalam saku bajunya, Xiao Chen mengeluarkan kotak kecil transparan yang berisi cahaya keemasan yang berdenyut lembut. Itu adalah Mutiara Energi yang telah mereka kumpulkan selama ini.

"Ini hanya sebagian kecil. Tapi ini sudah cukup untuk menyalakan inti energi Xing Yun selama satu tahun penuh. Dan kami bisa mengumpulkan lebih banyak lagi—tanpa harus menghancurkan Bumi, tanpa harus berperang."

Komandan Kael menatap kotak itu dengan mata terbelalak. Ia bisa merasakan kekuatan yang luar biasa memancar dari dalamnya—lebih murni, lebih kuat daripada apa pun yang pernah ia lihat seumur hidupnya. Tangannya yang besar terulur perlahan, menyentuh permukaan kotak itu, dan seketika rasa lelah yang selama ini ia rasakan hilang seketika.

"Tapi... Dewan Tertinggi telah memutuskan," katanya pelan, suaranya sedikit bergetar. "Mereka telah mempersiapkan segalanya. Jika saya kembali dengan cara ini, mereka akan menganggap saya pengkhianat juga."

"Apakah kau lebih takut pada perintah daripada pada kenyataan?" tanya Bai Xue dengan lembut namun tegas. "Apakah kau rela melihat dua dunia hancur hanya untuk mematuhi aturan yang sudah ketinggalan zaman? Lihatlah energi ini—ia tidak menyakiti siapa pun, ia memberi kehidupan. Apakah itu bukan tujuan sebenarnya dari misi kita?"

Tiba-tiba, layar besar di dinding ruangan menyala, menampilkan wajah-wajah tua yang serius dan kaku—anggota Dewan Tertinggi. Mereka telah mendengar seluruh percakapan itu.

"Cukup!" suara berat bergema dari layar. "Kalian berbicara omong kosong! Energi semacam itu tidak cukup untuk menyelamatkan seluruh planet kita! Dan keturunan campuran tidak boleh memegang Mutiara Inti! Komandan Kael, tangkap mereka! Bawa Mutiara Inti dan benda itu kembali ke sini, atau hancurkan tempat itu jika perlu!"

Wajah Komandan Kael berubah tegang. Ia menatap kedua pemuda di depannya, lalu menatap layar yang menampilkan atasan-atasisnya. Di satu sisi ada perintah yang harus ia patuhi, di sisi lain ada bukti yang jelas bahwa cara damai itu mungkin.

Namun, sebelum ia bisa mengambil keputusan, getaran hebat mengguncang seluruh kapal induk. Alarm berbunyi keras, dan suara petugas terdengar panik dari sistem komunikasi:

"Komandan! Terdeteksi pergerakan energi besar dari permukaan Bumi! Sebuah perisai energi raksasa telah terbentuk, dan ada gelombang energi yang menetralkan senjata-senjata kita! Selain itu... ada sinyal yang dikirim ke seluruh pesawat kita—menunjukkan kebenaran tentang keadaan Xing Yun dan sumber energi baru!"

Xiao Chen dan Bai Xue saling pandang—mereka tahu itu pasti perbuatan Ratu Lien dan teman-teman mereka di Bumi. Mereka tidak menyerang, tapi mereka menunjukkan kekuatan dan menyebarkan informasi yang selama ini disembunyikan Dewan Tertinggi.

Komandan Kael menatap layar lain yang menampilkan pesan-pesan yang diterima oleh para prajuritnya. Wajah mereka berubah dari kaku menjadi bingung, lalu penuh harapan. Selama ini mereka hanya diberitahu bahwa Bumi adalah satu-satunya jalan, namun sekarang mereka tahu ada cara lain yang tidak berdarah.

Komandan Kael menoleh kembali ke arah Xiao Chen. "Jika kita memilih jalan damai... apakah kalian benar-benar bisa menjamin kelangsungan hidup Xing Yun?"

"Kami bisa," jawab Xiao Chen mantap. "Bumi dan Xing Yun bisa bekerja sama. Kita bisa bertukar ilmu, saling membantu, dan mengumpulkan energi murni bersama-sama. Ini bukan akhir, tapi awal dari persahabatan antar dua dunia."

Komandan Kael menarik napas panjang, lalu perlahan menurunkan tangan yang tadinya siap memberi perintah. Ia menatap layar yang masih menampilkan wajah-wajah Dewan Tertinggi yang semakin marah.

"Saya telah melihat bukti sendiri. Dan saya tidak akan memimpin pasukan saya untuk berperang melawan orang-orang yang justru menawarkan penyelamatan," katanya tegas, lalu berbalik menghadap seluruh prajuritnya. "Mulai saat ini, kami menghentikan persiapan penyerangan. Kami akan membuka saluran komunikasi resmi dan bernegosiasi dengan perwakilan Bumi."

"Kael! Kau berani memberontak?!" teriak suara dari layar.

"Saya tidak memberontak," jawab Komandan Kael dengan tenang. "Saya hanya memilih jalan yang benar. Jika Dewan tidak setuju, mereka bisa datang sendiri untuk membuktikan bahwa cara kekerasan lebih baik daripada cara damai."

Layar itu kemudian padam seketika, namun tidak ada perintah serangan yang datang. Rupanya Dewan Tertinggi tidak berani bertindak sembarangan ketika pasukan utama mereka sendiri telah memilih untuk tidak melanjutkan perang.

Suasana di ruangan menjadi hening sejenak, lalu perlahan berubah menjadi tenang. Xiao Chen dan Bai Xue saling tersenyum lega. Ancaman perang telah dihindari, namun perjalanan mereka belum selesai—masih banyak hal yang harus disepakati dan diatur.

Komandan Kael menoleh kembali ke arah mereka, kali ini dengan ekspresi yang lebih lembut dan penuh rasa hormat.

"Baiklah, perwakilan dari dua dunia. Mari kita bicara dengan sungguh-sungguh. Tunjukkan padaku bagaimana cara kerja rencana ini, dan mari kita cari jalan agar kedua dunia bisa selamat."

Di luar kapal induk, langit yang tadinya kelabu perlahan mulai cerah kembali. Cahaya matahari pagi menembus awan, menyinari pesawat-pesawat yang tadinya siap berperang kini berdiri diam. Hari itu, di antara bintang-bintang, benih perdamaian mulai tumbuh, dibawa oleh dua hati yang tidak membedakan asal-usul, hanya melihat kebaikan dan harapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!