NovelToon NovelToon
Sweet Love

Sweet Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:536
Nilai: 5
Nama Author: Chocoday

Dia tidak pernah terlihat.... tapi selalu ada.

“Kalau abang serius… kamu mau kenalin abang ke dia?”

Hanif tidak pernah benar-benar muncul di depan Riyani. Namun ia tahu banyak tentangnya—lebih dari yang seharusnya.
Dari kebiasaan kecil, cara berbicara, hingga senyum yang diam-diam ia tunggu.

Melalui adiknya, Hanif memilih jalan yang tidak biasa: mendekati Riyani tanpa pernah benar-benar “hadir” sebelumnya.
Tapi…
bisakah seseorang menerima cinta dari orang yang hampir tidak pernah ia sadari keberadaannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aa

(Gosip apa emangnya?)

"Gosip kalau dokter Hanif deket sama cewek,"

"Emang sebelumnya beneran belum pernah deket sama cewek ya?"

(Kamu gak percaya?)

(Mau tanyain ke ibu saya?)

"Haha... enggak, Dok. Cuman ngerasa gak wajar aja."

(Gak wajar gimana?)

(Saya normal ya)

Riyani terkekeh membacanya.

Sejak saat itu, obrolan semakin intens diantara Hanif dan Riyani. Lebih sedikit dekat dibanding rasa canggung sebelumnya.

...----------------...

Pagi ini, Riyani sudah ada janji dengan Hanif untuk menemaninya membeli sesuatu. Lelaki itu sudah datang tepat di jam 9, sedangkan Riyani masih santai dengan pakaian yang baru saja dipakainya.

Suara ketukan pintu terdengar, disusul panggilan dari neneknya dari balik pintu.

"Neng, itu dokter hanif udah datang. Buruan dandannya."

"Iya nek. Suruh tunggu sebentar," ucap Riyani dari dalam.

Hanya dengan beberapa menit saja, Riyani sudah siap dengan sedikit makeup yang menempel pada wajahnya. Hampir tidak terlihat, tapi mampu memanjakan mata hanif sekarang.

Hanif mengedarkan pandangan. Lelaki itu menoleh pada kakek yang sejak tadi menemaninya mengobrol lalu pamit pada kakek dan nenek, begitupun dengan Riyani.

Hanif membukakan pintu mobil untuknya.

"Kirain pake motor, Dok."

"Enggak, kebetulan ayah saya lagi di rumah. Makanya saya bawa mobil aja, takutnya hujan nanti," jawab Hanif.

"Ayah sama ibu sehat?" tanya Riyani, "udah lama kayaknya gak ketemu sama mereka. Sejak pindah."

Hanif mengangguk.

(Iya, saya juga gak pernah lihat kamu lagi setelah itu)

"Mereka masih suka pulang ke sini kok. Enggak pindah sepenuhnya, cuman kalau lagi ada panen atau urusan di kebun. Baru ke sana."

"Oh gitu... Jadi kangen waktu dulu suka main ke sana," ucap Riyani, "tapi dari dulu gak pernah liat dokter ada di rumah."

Hanif tersenyum tipis.

"Dulu pas masih awal kerja lumayan sibuk, sekarang juga sibuk sih. Cuman gak sesibuk dulu maksudnya, soalnya masih banyak yang belum ngerti. Makanya lebih sering diem di rumah sakit, jarang pulang."

"Emang pas aku masih sekolah, Dokter udah kerja ya?"

"Kayaknya waktu itu masih kuliah, terus pas kamu mulai jarang ke rumah, saya baru mulai kerja. Jadi wajar aja kalau kamu gak pernah ketemu saya," jelas Hanif.

Riyani mengangguk.

"Kalau kangen ibu sama ayah, kamu main aja ke rumah. Kan sekarang bukan cuman kenal sama mereka,"

"HAH?"

Hanif terkekeh pelan.

...----------------...

Setibanya di tempat perbelanjaan, Hanif membawa Riyani ke toko pakaian dan peralatan untuk bayi.

"Mau beli apa dok?" tanya Riyani, "kok ke toko bayi."

Hanif menoleh. Ia menghentikan langkahnya.

"Bisa gak jangan panggil dokter lagi? Kita kan bukan lagi konsul."

Riyani terkekeh mendengarnya.

"Terus mau dipanggil apa?"

"Abang?"

Hanif menggeleng.

"Sayang, kalau boleh."

"Gak boleh."

"Kenapa?"

"Kita gak ada ikatan apa-apa, ngapain panggil sayang."

"Ya udah ayo ikat,"

"Ihhhh!!!" protes Riyani.

Hanif terkekeh.

"Panggil Aa aja gimana?"

Riyani terdiam lalu mengangguk pelan.

Hanif menggandeng tangannya masuk ke toko bayi.

"Saya kan belum sempat bilang sama kamu, kalau saya minta antar itu buat beli peralatan bayi. Saya bingung soalnya mau kasih apa."

"Emang siapanya Aa?"

Hanif sempat terdiam.

Wajahnya sedikit merona sembari mengedarkan pandangan.

"Kok malah diem?"

"Saya lagi ngatur napas dulu, denger kamu panggil Aa rasanya bikin saya seneng banget," ucap Hanif membuat Riyani terkekeh mendengarnya.

Riyani memilihkan beberapa pasang pakaian, sendal serta peralatan makan untuk hadiah keponakan Hanif.

Iya, kakak sepupunya yang melahirkan.

"Kamu mau gak temenin saya jenguk bayinya?"

"Saya? Emangnya gak apa-apa?" tanya Riyani sedikit tidak yakin.

"Ya gak apa-apa. Kan kamu juga nantinya bakal jadi aunty dia,"

Riyani memukul pelan lengan hanif.

"Kamu bicaranya santai banget."

Hanif terkekeh mendengarnya.

...----------------...

Pada akhirnya, Riyani ikut dengan Hanif untuk menjenguk bayi kakak sepupunya yang baru lahir.

Keduanya berjalan berdampingan, membuat beberapa pandangan tertuju pada mereka. Apalagi dengan beberapa orang yang mengenal Hanif di sana.

"Aa pernah kerja di sini ya?" tanya Riyani.

Hanif mengangguk.

"Dulu, waktu pertama kali kerja di rumah sakit ini. Tapi menurut Aa, kurang enak lingkungannya. Makanya pindah ke yang sekarang."

"Aku juga ngerasa gak nyaman kalau ke sini,"

"Kenapa emangnya?" tanya Hanif sempat melirik.

"Serem. Banyak tempat gelapnya," jawab Riyani membuat lelaki itu terkekeh.

Genggaman tangan yang sejak tadi terikat, terus hingga sampai pada ruang perawatan sepupunya.

Hanif membawa Riyani masuk.

Sedikit terkejut, karena Seyila dan kedua orang tuanya ternyata sedang berada di sana.

Riyani tersenyum canggung.

Apalagi melihat ibu dan ayah sudah tersenyum saat ia datang.

Tapi kenapa mereka tidak terkejut?

"Akhirnya, yang tua ini bakal menyusul," ucap sepupu Hanif yang baru saja melahirkan.

Riyani yang tidak paham dengan hal itu hanya terdiam canggung.

Ibu Hanif tersenyum.

"Neng sini, duduk sama ibu. Mau lihat bayinya gak? Kamu kan suka bayi."

Riyani duduk di samping ibu hanif, begitupun dengan Hanif yang menyusulnya duduk pada sofa di ruangan.

"Mau coba pangku?" tanya Ibu.

"HAH?"

"Nih," ucap ibu hanif menyerahkan bayinya pada pangkuan riyani.

Riyani memang sudah tidak asing lagi memangku bayi. Dirinya sudah merasa terlatih karena mengurus Haikal dulu.

Hanif terus menatap wanitanya, hingga Seyila menyenggol ibu dan juga ayahnya.

"Bang, yang diliat bayinya bukan Riyani," ledek ibu membuat Riyani mendongak pada lelaki di sampingnya.

"Mau pangku gak?" tanya Riyani.

Hanif mengangguk. Ia mengambil bayi itu dari pangkuan Riyani. Nampak seperti ayah yang sedang memangku bayinya.

"Ini kalian cocok banget ya. Seyila bagus banget jadi makcomblangnya," ucap ayah hanif membuat Riyani sedikit malu.

Hanif tersenyum.

"Ayah udah, kasian calon menantunya malu."

"Aa!!!" protes Riyani pelan.

...----------------...

Hari sudah malam, Riyani diantar untuk pulang ke rumah nenek dan kakeknya. Sedangkan Hanif langsung pamit setelah itu.

Setibanya di rumah, Hanif duduk pada sofa ruang tengah. Berniat mengobrol dengan ibu dan ayahnya.

"Kamu awas ya kalau cuman main-main sama Riyani," ucap ibu.

"Iya ibu. Lagian ngapain juga sih main-main," timpal Hanif.

"Tapi kenapa kamu sebentar antarnya? Rumah Riyani kan lumayan jauh,"

"Dia lagi di rumah nenek sama kakeknya," jawab Hanif lagi.

"Dia lagi ada masalah sama orang tua dan abangnya, Bu. Makanya tinggal sama nenek dan kakeknya sekarang," jelas Seyila yang baru saja keluar dari kamarnya.

"Masalahnya apa sih, Dek? Kok bisa sampe segitunya," tanya Hanif penasaran.

"Riyani pasti gak cerita ya sama abang?"

"Waktu itu sih ceritanya tentang Haikal gitu," jawab Hanif.

"Sebenernya Yila juga gak begitu tau sampe detail, cuman kalau masalahnya emang dari kakak iparnya," jawab Seyila, "kasian tau bang. Dia dulu emang sempet tinggal juga di rumah neneknya itu, cuman sesekali pulang. Kayaknya sekarang bakal menetap di situ."

"Tapi kamu setuju gak kalau dia jadi kakak ipar kamu? Gimana kalau setelah jadi kakak ipar dia berubah sama kamu?" tanya Hanif.

Lelaki itu lalu menoleh pada ibu dan ayahnya.

"Kalau ayah sama ibu gimana?" tanyanya lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!