Arga, seorang pemuda yatim piatu miskin yang berjuang hidup sebagai nelayan sampan, harus menelan pil pahit saat dihina habis-habisan oleh mantan teman-teman sekolahnya di sebuah acara reuni.
Merasa putus asa dan tidak terima dengan ketidakadilan takdir, ia melampiaskan emosinya dengan memancing di tengah malam, namun kailnya justru menarik sebuah umpan logam berkarat misterius yang menyerap darahnya dan membangkitkan Sistem Mancing Mania Mantap.
Berbekal sistem aneh yang menggunakan emosi sebagai umpan dan menunjukkan lokasi pancing yang tidak masuk akal, Arga tidak lagi sekadar memancing ikan biasa, melainkan menarik harta karun dimensi lain, pusaka kuno, hingga kekuatan gaib yang akan memutarbalikkan nasibnya dari pemuda rendahan menjadi sosok kaya raya yang ditakuti semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Sinar matahari pagi yang hangat perlahan menyentuh wajah Arga yang sedang tertidur di atas geladak kapal.
Arga membuka matanya dan meregangkan seluruh otot tubuhnya yang terasa sangat kaku.
Pertarungan melawan makhluk bawah laut semalam benar-benar menguras tenaga fisiknya sampai ke batas maksimal.
Dia berdiri dan merapikan pakaiannya yang compang-camping akibat sabetan cakar jin laut itu.
Arga berjalan perlahan menuju pintu kabin kemudi dan mengetuk kaca jendelanya beberapa kali.
Tok tok tok.
Kunci pintu diputar dari dalam dan wajah Kapten Johan yang masih terlihat mengantuk muncul di balik pintu.
"Pagi Mas Arga, syukurlah malamnya udah lewat dengan aman," sapa Johan mengusap wajahnya.
"Pagi Pak Johan, maaf semalam tidurnya jadi agak terganggu gara-gara suara ribut di luar," balas Arga tersenyum ramah.
"Gak masalah Mas Arga, yang penting kita semua selamat dan kapal saya juga masih utuh gak kurang satu apa pun," kata Johan melihat sekeliling geladak.
Mata Johan sempat tertuju pada noda lendir hitam yang mengering di atas lantai kayu kapal.
Namun dia memutuskan untuk pura-pura tidak melihatnya karena teringat akan uang sewa dan tip besarnya.
"Kita bisa nyalain mesin dan pulang ke Marina Ancol sekarang kan Pak?" tanya Arga memastikan.
"Bisa banget Mas Arga, cuaca pagi ini juga sangat cerah dan ombaknya tenang buat jalan pulang," jawab Johan kembali masuk ke kabin kemudinya.
Suara deru mesin kapal kembali terdengar memecah kesunyian lautan yang damai di pagi hari.
Brum.
Kapal motor cepat itu berputar arah dan mulai membelah ombak menuju ke daratan kota Jakarta.
Arga duduk di kursi geladak sambil menikmati embusan angin laut pagi yang menyegarkan paru-parunya.
Dua jam kemudian kapal mereka akhirnya bersandar kembali di pelabuhan Marina Ancol dengan selamat.
Arga berpamitan dengan Kapten Johan dan langsung berjalan menuju area parkir tempat mobil SUV hitamnya berada.
Dia masuk ke dalam mobil dan segera melaju menuju kawasan Menteng tempat ruko barunya berada.
Arga sengaja tidak pulang ke kos karena dia ingin memeriksa hasil tangkapannya semalam di tempat yang paling aman.
Ruko di Menteng itu sudah dilindungi oleh jimat sistem sehingga tidak ada aura gaib yang akan bocor ke luar.
Sekitar pukul sepuluh pagi Arga memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu kaca rukonya.
Dia membuka kunci digital rukonya dan melangkah masuk ke dalam ruangan yang terasa sangat sejuk tersebut.
Arga mengunci kembali pintu dari dalam dan berjalan menuju area tengah ruangan lantai dasar.
'Sistem, keluarin Tombak Karang Kuno dari inventaris sekarang,' perintah Arga di dalam pikirannya.
Tombak bermata tiga itu muncul di udara dan jatuh ke atas lantai marmer dengan suara logam yang beradu.
Tring.
Cahaya hijau kebiruan yang memancar dari tombak itu menerangi sebagian ruangan ruko yang agak remang.
Arga berjongkok di dekat tombak itu dan segera mengaktifkan Keterampilan Penilaian Barang Gaib miliknya.
Matanya terasa dingin saat sebuah kotak informasi transparan muncul tepat di atas senjata kuno tersebut.
Nama Barang: Trisula Penakluk Ombak.
Tingkat Kelangkaan: Epic.
Deskripsi: Senjata pusaka peninggalan raja laut kuno yang memiliki kemampuan mengendalikan aliran air di sekitarnya.
Efek Tambahan: Pemegang trisula ini dapat bernapas di dalam air dan kebal terhadap tekanan laut dalam.
Arga menelan ludah membaca status tingkat kelangkaan Epic yang jauh melampaui guci keramiknya kemarin.
'Pantas aja sistem sampai ngasih peringatan bahaya, barang ini beneran pusaka dewa laut,' batin Arga takjub.
Arga mengulurkan tangannya dan menggenggam gagang trisula yang diselimuti oleh fosil terumbu karang itu.
Sensasi dingin yang sangat menyegarkan langsung mengalir dari telapak tangan menyebar ke seluruh aliran darahnya.
Luka-luka memar ringan di punggung Arga akibat pertarungan semalam perlahan mulai memudar dan sembuh dengan sendirinya.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan keras dari arah pintu kaca depan ruko.
Tok tok tok.
Arga terkejut dan langsung memerintahkan sistem untuk menyimpan kembali trisula itu ke dalam ruang inventaris.
Dia berdiri dan berjalan perlahan mendekati pintu kaca untuk melihat siapa tamu yang datang pagi-pagi begini.
Seorang pria tinggi kurus berdiri di luar pintu memakai setelan jas hitam yang potongannya sangat rapi.
Pria itu memakai kacamata hitam dan memegang sebuah tongkat jalan berbahan kayu hitam mengkilap.
Di bagian dada kiri jasnya terdapat sebuah pin logam kecil berbentuk bunga teratai perak.
Arga tidak mengenali pria itu sama sekali namun instingnya mengatakan bahwa orang ini sangat berbahaya.
Dia membuka kunci pintu dan menggeser pintu kaca itu sedikit untuk berbicara dengan pria misterius tersebut.
"Maaf toko kami belum resmi beroperasi dan sedang dalam tahap renovasi," sapa Arga dengan nada datar menutupi jalan masuk.
Pria berjas hitam itu tersenyum tipis dan melepaskan kacamata hitamnya perlahan.
"Saya tidak datang kemari untuk membeli barang antik pajangan Saudara Arga," ucap pria itu dengan suara yang sangat berat dan tenang.
"Perkenalkan, nama saya Baskara dari divisi pengawasan Asosiasi Pusaka Nusantara."
Arga mengerutkan dahinya mendengar nama organisasi aneh yang baru pertama kali ia dengar di telinganya itu.
"Gue gak pernah dengar nama asosiasi itu, ada urusan apa lo datang ke ruko gue pagi-pagi?" tanya Arga tidak mengurangi kewaspadaannya.
"Kami adalah organisasi independen yang mengawasi peredaran barang-barang pusaka beraura gaib di seluruh wilayah Indonesia," jelas Baskara dengan sangat sopan.
"Radar energi di kantor pusat kami mendeteksi ledakan aura gaib tingkat tinggi di perairan utara Jakarta semalam."
Jantung Arga sedikit berdebar namun dia berusaha sekuat tenaga mempertahankan ekspresi wajahnya agar tetap sedatar tembok.
"Terus apa hubungannya ledakan aura di laut itu sama gue yang lagi santai di Menteng?" elak Arga berpura-pura bodoh.
Baskara tertawa kecil dan mengetukkan tongkat kayunya ke lantai teras ruko sebanyak satu kali.
Tuk.
"Tolong jangan meremehkan jaringan intelijen kami Saudara Arga," kata Baskara menatap langsung ke kedua bola mata Arga.
"Kami tahu Anda menyewa kapal Kapten Johan semalam dan kami juga mendeteksi sisa energi laut itu terbawa masuk ke dalam bangunan ini."