NovelToon NovelToon
Kontrak 90 Hari Sang CEO

Kontrak 90 Hari Sang CEO

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Febriana Hanifah

*Sinopsis*

Evelyn Mahesa bukan orang yang percaya cinta instan.
Ia hanya percaya pada satu hal: ibunya harus sembuh.

Saat tagihan rumah sakit 200 juta menumpuk dan semua jalan buntu, muncul Matthias Virel—CEO dingin, kaya, dan paling ditakuti di dunia bisnis.
Ia menawarkan jalan keluar yang mustahil ditolak:
*4,5 miliar rupiah. Syaratnya, Evelyn harus jadi istri kontraknya selama 90 hari.*

Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Hanya peran di depan publik demi menenangkan nenek Matthias yang sekarat.

Awalnya, Evelyn pikir ini cuma transaksi.
Tapi tinggal serumah dengan pria yang jago bikin jengkel sekaligus bikin jantung berdebar itu… ternyata lebih sulit dari yang ia kira.

90 hari.
Cukup untuk jatuh cinta?
Atau cukup untuk saling membenci sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Isi USB Itu

Hari ke-122.

USB drive itu masih tergeletak di laci meja kerja Matthias.

Nggak disentuh. Nggak dibuka.

Kayak bom waktu yang sengaja dibiarin nggak meledak.

Evelyn pura-pura cuek.

Tapi tiap lewat ruang kerja, matanya selalu nyangkut ke laci itu.

Dia nggak tanya. Matthias juga nggak bahas.

Kayak ada kesepakatan diam-diam: selama nggak dibuka, ancaman itu belum nyata.

Sampai malam itu.

Jam 1 pagi, Evelyn bangun karena mimpi buruk lagi.

Mimpi dia di ruang sidang, semua orang nunjuk ke perutnya sambil teriak “bukan anaknya!”.

Dia duduk di ranjang, napas nggak teratur.

Matthias langsung bangun.

“Kamu kenapa?”

Evelyn geleng.

“Nggak apa. Cuma... gue pengin tahu isi USB itu.”

Matthias diem.

Dia duduk, nyalain lampu kecil.

“Yakin? Kalau isinya bohong, lo bakal kepikiran 2 minggu nggak tidur.”

“Kalau isinya bener, gue berhak tahu sekarang. Daripada tahu dari orang lain.”

Matthias ngeliat dia lama.

Terus dia bangun, buka laci.

Ambil laptop. Colok USB.

Layar hitam.

Satu file video.

Nama filenya cuma: _truth.mov_

Matthias liat Evelyn.

“Siap?”

Evelyn genggam tangan dia erat.

“Siap.”

Play.

---

Video mulai.

Ruangan gelap. Kamera goyang.

Suara perempuan.

“Nama saya Sari. Perawat di Klinik Harapan Bunda tahun 2022.”

Evelyn langsung kaku.

Itu klinik yang sama.

“Pada 12 Maret 2022, saya lihat Nyonya Evelyn masuk ruang fertilitas.

Saya nggak tahu detailnya. Tapi saya lihat dia keluar bawa amplop cokelat.

Saya pikir itu donor sperma. Saya salah. Saya minta maaf.”

Video cut.

Ganti suara laki-laki. Disamarkan.

“Gue yang bayar Sari buat ngomong gitu.

Gue juga yang sebar foto Evelyn di parkiran.

Perintahnya dari Nona Clarissa Hendrawan.

Dia bilang, ‘Bikin hidup Evelyn hancur lagi. Biar dia nggak bahagia sama Matthias.’”

Video mati.

Ruangan hening.

Cuma ada suara AC dan napas Evelyn yang pelan.

Matthias langsung tutup laptop.

Dia ngeliat Evelyn.

“Kamu denger itu?”

Evelyn ngangguk.

Tapi mukanya kosong.

“Bukan soal isi video. Gue udah duga Clarissa di belakang ini.

Yang bikin gue hancur... itu kalimat terakhir.”

“Kalimat apa?”

“‘Biar dia nggak bahagia sama Matthias.’”

Evelyn ketawa kecil, pahit.

“Jadi 3 tahun gue dihancurin, cuma karena dia nggak mau gue bahagia?”

Matthias narik dia peluk.

“Dia nggak bakal bisa. Karena lo bahagia. Sama gue. Sekarang.”

Evelyn peluk balik.

Tapi tangannya gemetar.

“Gue capek, Matthias. Capek jadi target.”

Matthias elus punggungnya pelan.

“Udah. Besok gue yang beresin.”

---

Pagi harinya, Matthias nggak ke kantor.

Dia panggil tim hukum, tim IT, dan Om Dimas.

Video itu diserahkan ke pengacara sebagai bukti baru.

Laporan pencemaran nama baik dinaikkan jadi pidana.

Ancaman: 6 tahun penjara.

Clarissa dipanggil polisi siang itu juga.

Dia nggak kabur.

Dia datang pakai jas hitam, muka pucat.

Di ruang interogasi, dia cuma ngomong satu kalimat:

“Saya cemburu. Itu aja.”

Berita itu bocor 2 jam kemudian.

Judulnya: _“Clarissa Hendrawan Akui Dalang Fitnah Evelyn Virel”_

Komentar publik meledak.

Tapi kali ini nggak ada yang bela Clarissa.

Bahkan fans lama Hendrawan Group pada unfollow.

Evelyn lihat berita itu sambil sarapan.

Dia nggak senang. Nggak puas.

Cuma lega.

Matthias duduk di depannya.

“Gimana perasaan lo?”

Evelyn mikir.

“Kayak... akhirnya gue bisa napas tanpa ngeliat bayangan dia.”

Matthias ngangguk.

“Terus sekarang?”

“Sekarang gue mau fokus ke anak kita. Nggak mau buang energi buat dia lagi.”

---

Sore harinya, Clarissa minta ketemu.

Lewat pengacara.

Cuma 10 menit. Tanpa wartawan.

Evelyn setuju.

Mereka ketemu di kafe kecil di lantai dasar mansion.

Clarissa datang sendiri. Nggak ada bodyguard.

Wajahnya beda. Nggak ada makeup tebal. Nggak ada senyum palsu.

“Evelyn.”

“Clarissa.”

Clarissa duduk.

Dia nggak nangis. Tapi matanya merah.

“Saya minta maaf. Buat semua. Buat kakak saya, buat kamu, buat anak kamu.”

Evelyn diem.

Dia nggak langsung jawab.

“Kenapa sekarang?”

“Karena saya lihat kamu di berita kemarin. Kamu nggak hancur. Kamu malah lebih kuat.

Dan saya sadar... kalau saya terus gini, saya yang akan hancur sendiri.”

Evelyn napas pelan.

“Gue maafin lo, Clarissa. Tapi gue nggak akan lupa.”

Clarissa ngangguk.

“Itu cukup. Saya nggak minta kamu lupakan.”

Mereka diem 1 menit.

Terus Clarissa berdiri.

“Jaga anak kamu baik-baik. Dia beruntung punya ibu kayak kamu.”

Clarissa pergi.

Nggak ada pelukan. Nggak ada drama.

Cuma permintaan maaf yang telat, tapi tulus.

---

Malamnya, Evelyn dan Matthias duduk di balkon.

USB itu udah hancur. Dilebur sama Om Dimas.

Nggak ada bukti. Nggak ada jejak.

Yang ada cuma mereka berdua, dan perut Evelyn yang udah keliatan 13 minggu.

“Gimana kalau dia nanya nanti?” tanya Evelyn pelan.

“Nanya apa?”

“Kenapa mama dan papa dulu digosipin gitu?”

Matthias mikir.

“Nanti kita bilang...

Karena mama dan papa saling milih di tengah semua orang yang bilang nggak bisa.”

Evelyn senyum.

“Bagus. Gue suka jawaban itu.”

Matthias tarik tangan Evelyn, cium punggung tangannya.

“Tidur ya. Dokter bilang lo butuh 8 jam.”

Evelyn mengangguk.

“Tapi lo temenin gue sampe ketiduran.”

“Selalu.”

Mereka masuk kamar.

Lampu dimatiin.

Di luar, Jakarta masih ribut.

Di dalam, akhirnya tenang.

---

Hari ke-130.

Evelyn USG lagi.

Dokter senyum lebar.

“Jenis kelaminnya keliatan, Bu. Mau tahu sekarang?”

Evelyn liat Matthias.

Matthias ngangguk.

“Mau.”

Dokter nunjuk layar.

“Itu... bayi perempuan, Pak, Bu. Sehat. Beratnya 140 gram.”

Evelyn nutup mulut.

Air mata jatuh.

Matthias di sampingnya nggak bisa ngomong.

Dia cuma genggam tangan Evelyn lebih erat.

Perempuan.

Anak perempuan mereka.

Malam itu mereka nggak tidur.

Mereka duduk di lantai, bikin daftar nama.

Arka dicoret.

Ganti jadi: *Aurelia Virel*.

“Aurelia,” bisik Evelyn.

“Cahaya.”

Matthias senyum.

“Cocok. Karena dia cahaya kita.”

---

Ancaman belum 100% selesai.

Tapi untuk pertama kalinya dalam 3 tahun...

Mereka merasa menang.

---

Bersambung ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!