Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.
Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.
Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.
Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.
Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENJADI SUAMI POSESIF
Wajah Ardiah terasa begitu panas. Di bawah tatapan intens dari sepasang mata elang Haikal yang menuntut jawaban, jantungnya bertalu-talu tidak keruan. Sadar bahwa suaminya telah melakukan begitu banyak hal demi meyakinkan dirinya, Ardiah akhirnya memberanikan diri.
Ia memajukan wajahnya sedikit, lalu.
cup.
Sebuah kecupan yang teramat singkat mendarat di pipi kanan Haikal. Hanya sekilas, bagai kepakan sayap kupu-kupu, sebelum Ardiah buru-buru menarik tubuhnya kembali dengan napas yang tertahan.
Haikal sempat terpaku selama beberapa detik, menyentuh pipinya yang baru saja terkena sentuhan bibir lembut sang istri. Sedetik kemudian, senyum lebar yang sangat puas terukir di wajah tampannya. "Wah... dingin-dingin begini ternyata Kak Diah bisa manis juga, ya."
Meskipun di dalam lubuk hatinya Haikal merasa kurang, karena kecupan itu terlalu singkat dan berlalu begitu cepat, pria itu memilih untuk menahan diri. Ia tahu betul karakter Ardiah yang sensitif dan gampang canggung. Jika ia menuntut lebih atau bersikap agresif sekarang, alih-alih mendekat, bisa-bisa istrinya itu akan ketakutan dan kabur lagi mengunci diri.
Untuk hari ini, Haikal membiarkannya. Namun, di dalam hatinya, ia sudah membuat janji sendiri: jika nanti Ardiah sudah benar-benar membuka hati seratus persen untuknya, ia tidak akan membiarkan kecupan itu hanya berlangsung singkat. Sambil terus menyusun strategi, Haikal bertekad akan terus menghujani Ardiah dengan hal-hal romantis setiap hari, mempercepat runtuhnya sisa-sisa dinding es di hati sang istri.
Setelah makan siang usai dan jam kerja beralih ke paruh waktu sore, Haikal mengajak Ardiah keluar kantor. "Kak, ikut aku sekarang. Kita harus menemui klien penting dari perusahaan rekanan untuk presentasi final proyek interior di sebuah restoran mewah," ujar Haikal sembari merapikan jasnya.
Sebagai Kepala Divisi Desain Utama yang baru, Ardiah tentu saja mengangguk patuh. Ia menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan dan ikut masuk ke dalam mobil bersama Haikal.
Sesampainya di restoran mewah bergaya privat di pusat kota, mereka dituntun oleh pelayan menuju sebuah ruang VIP. Namun, begitu pintu ruangan digeser terbuka, langkah kaki Ardiah mendadak terkunci di lantai. Seluruh tubuhnya menegang sempurna dengan mata membulat.
Di dalam ruangan itu, duduk dua orang pria berjas rapi. Salah satunya adalah direktur utama perusahaan rekanan, dan pria yang duduk di sebelahnya... adalah Ferdi. Mantan suaminya.
Ardiah tidak pernah menyangka bahwa perusahaan tempatnya bekerja menjalin kerja sama dengan perusahaan tempat Ferdi bernaung. Fakta bahwa Ferdi menjadi salah satu perwakilan tim sukses membuat dadanya mendadak sesak oleh kilasan memori masa lalu yang tidak menyenangkan.
Haikal yang memiliki kepekaan tajam langsung menyadari perubahan drastis dari ekspresi wajah istrinya. Tatapan mata Haikal seketika menajam, mengunci sosok Ferdi yang kini juga tengah menatap Ardiah dengan pandangan syok sekaligus tidak senang.
Tanpa membuang waktu, Haikal melangkah maju, lalu dengan gerakan lambat namun penuh penekanan, ia meraih pinggang ramping Ardiah. Ia menarik tubuh wanita itu dengan begitu posesif, merapatkannya ke sisi tubuhnya sendiri seolah ingin menegaskan pada dunia, dan pada pria di depan mereka, siapa pemilik sah wanita itu sekarang.
Ferdi yang melihat tangan kekar Haikal melingkar mapan di pinggang Ardiah seketika mengepalkan tangannya di bawah meja. Gurat cemburu dan tidak suka tercetak jelas di wajahnya.
"Ah, Selamat sore, Pak Haikal! Silakan duduk," sapa sang Bos dari perusahaan Ferdi dengan sangat ramah dan hormat.
Haikal tidak langsung duduk. Ia tetap berdiri tegap, masih memeluk pinggang Ardiah. "Selamat sore, Pak Gunawan. Maaf mengganggu waktunya sebentar sebelum kita mulai. Saya ingin memperkenalkan wanita di sebelah saya ini. Beliau adalah Ardiah, Kepala Divisi Desain Utama kami, sekaligus... istri sah saya."
Deg!
Kata 'istri' yang keluar dari mulut Haikal laksana hantaman gada besar yang memukul telinga Ferdi. Pria itu langsung berdiri dari kursinya dengan tidak sabaran, mengabaikan sopan santun di depan bosnya sendiri. Ia melangkah mendekat ke arah Ardiah dengan mata yang memancarkan emosi campur aduk.
"Diah... kamu? Bagaimana bisa?" tanya Ferdi dengan suara bergetar. Ia menatap Ardiah lekat-lekat. "Aku ingin berbicara dengamu. Tolong, kita perlu bicara berdua saja sekarang."
Melihat mantan suami istrinya berani mendekat, Haikal langsung menggeser tubuh tegapnya, memasang badannya menjadi perisai kokoh yang menghalangi pandangan Ferdi dari Ardiah. "Maaf, Pak Ferdi. Jam kerja saya dan istri saya sangat berharga. Kami ke sini untuk urusan bisnis, bukan untuk urusan pribadi yang tidak penting."
Ferdi yang mulai tersulut emosi dan ego lelakinya merasa Terluka, langsung menunjuk ke arah Ardiah dengan berani. "Tuan Haikal! Jaga batasanmu! Ardiah itu adalah istriku!"
Mendengar kalimat konyol itu keluar dari mulut pria yang pernah menyia-nyiakan istrinya, seulas senyum sinis dan dingin terukir di bibir Haikal. Tatapan matanya berubah sedingin es, memancarkan aura mengintimidasi yang sangat pekat.
"Mantan, Pak Ferdi. Mantan, bukan istri," tegas Haikal, setiap patah katanya terdengar bagai vonis yang menusuk. "Tolong bedakan kata 'pernah' dan 'sekarang'. Anda adalah masa lalunya yang sudah dibuang, dan sayalah suaminya yang sekarang. Suami sah yang memegang penuh atas dirinya."
Suasana di dalam ruangan VIP itu mendadak mencekam dan sarat akan ketegangan. Haikal yang sudah terlanjur tidak senang dan enggan membiarkan suasana hati Ardiah menjadi rusak lebih jauh, langsung berbalik menatap Pak Gunawan yang kini wajahnya sudah pucat pasi melihat kelakuan bawahannya.
"Pak Gunawan, saya rasa pertemuan hari ini tidak perlu dilanjutkan lagi," ucap Haikal dengan nada mutlak tanpa negosiasi. "Dan dengan ini, saya nyatakan seluruh rencana kerja sama antara perusahaan saya dan perusahaan Anda... resmi dibatalkan sepihak mulai detik ini."
"P-Pak Haikal, tunggu dulu! Tolong pikirkan lagi, ini hanya salah paham..." Pak Gunawan mencoba memohon dengan panik.
Namun Haikal tidak peduli. Tanpa mendengarkan kelanjutan kalimat tersebut, ia langsung menggenggam erat tangan Ardiah, membalikkan tubuh, dan membawa istrinya melangkah lebar keluar dari restoran tersebut, meninggalkan kekacauan di belakang mereka.
Begitu pintu ruangan tertutup rapat, Pak Gunawan langsung berbalik menatap Ferdi dengan napas memburu akibat amarah yang memuncak.
BRAAk!
Beliau menggebrak meja dengan keras.
"Ferdi!! Apa-apaan kelakuanmu tadi?!" bentak Pak Gunawan murka. "Kamu tahu seberapa besar nilai proyek yang baru saja kamu hancurkan karena kebodohan dan ego pribadimu itu?! Kamu benar-benar telah merusak seluruh rencana besar perusahaan kita!"
Sementara Ferdi hanya bisa berdiri mematung dengan wajah pucat, merutuki nasibnya yang kini harus menyaksikan wanita yang dulu disia-siakannya, kini telah dijaga dengan begitu rapat dan berkelas oleh seorang pria yang jauh lebih berkuasa darinya.
memang yah bu nurul kalau penyesalan pasti datang terlambat 😁😁😁