Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Ikatan
Hanya tinggal tiga hari lagi. Tiga hari memisahkan Citra Lestari dari hari di mana namanya akan resmi terikat menjadi satu dengan nama Putra Setiawan di hadapan negara dan Tuhan. Di rumah keluarga Lestari, suasana tampak sibuk namun tertata rapi. Para kerabat mulai berdatangan, beberapa tetangga datang memberi selamat, dan aroma masakan khas pernikahan mulai tercium memenuhi halaman rumah yang luas itu. Namun, di balik hiruk-pikuk persiapan itu, hati Citra terasa sepi dan penuh kegelisahan.
Pagi itu, Citra duduk di sudut ruang tengah, memandangi tumpukan bingkisan hantaran yang sudah disusun rapi. Matanya menatap kosong, pikirannya melayang jauh kembali ke kejadian dua hari yang lalu di butik pengantin. Sentuhan tangan Putra yang begitu kuat namun sekilas, tatapan mata pria itu yang seolah menyimpan ribuan tanya, serta kebingungan yang terlihat samar di wajah tampan itu, semuanya terus berputar di kepalanya.
"Kau sedang memikirkannya, ya?"
Suara lembut ibunya, Bu Sari, memecah lamunan Citra. Wanita paruh baya itu duduk di samping putri tunggalnya, mengusap punggung tangan Citra dengan penuh kasih sayang. Di matanya, terpancar sorot mata yang bercampur antara bahagia dan duka yang mendalam. Ia tahu betul pernikahan ini bukan keinginan anaknya. Ia tahu betul betapa berat beban yang kini dipikul oleh Citra.
Citra menoleh, tersenyum tipis berusaha menutupi kegelisahannya. "Sedikit, Bu. Aku hanya... bertanya-tanya, apakah keputusanku ini sudah benar? Apakah aku tidak sedang masuk ke dalam jebakan yang tidak akan bisa aku keluarkan lagi nanti?"
Bu Sari menghela napas panjang, menatap wajah anaknya dengan pandangan sendu. Ia meremas tangan Citra sedikit lebih erat. "Nak, Ibu tahu ini berat. Ibu tahu Mas Putra terlihat dingin dan sulit didekati. Tapi percayalah, Ibu melihat ketulusan di balik tatapan tajamnya, meski ia berusaha menyembunyikannya. Ada alasan besar mengapa semua ini harus terjadi, dan suatu saat nanti... Ibu yakin kau akan mengerti semuanya. Dan satu hal yang harus kau ingat: kau anak yang baik, Citra. Kebaikan hatimu itu yang kelak akan menjadi kunci segalanya."
"Kunci apa, Bu? Kunci untuk menyelamatkan keluarga, atau kunci untuk membuka hati pria yang bahkan menganggap kami musuh?" batin Citra menjawab dalam hati, namun ia memilih diam dan hanya mengangguk pelan. Ia tidak tega menambah beban pikiran ibunya yang tampak sudah sangat lelah dan berumur.
Belum sempat percakapan itu berlanjut, suara deru mesin kendaraan berat terdengar lagi dari luar gerbang. Suara itu sudah sangat dikenalnya sekarang, suara kendaraan yang membawa sosok yang mengubah seluruh hidupnya.
"Dia datang lagi," gumam Citra pelan.
Putra Setiawan turun dari mobilnya dengan penampilan setengah resmi. Kali ini ia mengenakan kemeja berwarna abu-abu tua dan celana bahan, tampak sedikit lebih santai namun tetap memancarkan wibawa yang tidak bisa diabaikan. Ia berjalan masuk ke halaman rumah dengan langkah tegap, matanya langsung menangkap sosok Citra yang sedang duduk bersama ibunya di teras.
Saat mata mereka bertemu, Citra merasakan dejavu yang sama seperti sebelumnya. Ada tarikan magnet yang aneh, rasa takut bercampur rasa ingin tahu yang besar. Putra berhenti sejenak di depan pintu, menatap Citra lekat-lekat, seolah ingin menghafal setiap inci wajah wanita itu sebelum benar-benar menjadi miliknya atau lebih tepatnya, sebelum benar-benar masuk ke dalam rencananya.
"Selamat pagi," sapa Putra singkat, membungkuk hormat kepada Bu Sari, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke Citra. "Aku datang untuk mengurus administrasi terakhir di kantor catatan sipil. Harus diselesaikan hari ini agar berkasnya lengkap sebelum hari pernikahan."
"Selamat pagi, Mas Putra. Terima kasih sudah datang," jawab Bu Sari ramah, lalu memberi isyarat pada Citra. "Citra, temani Mas Putra. Selesaikan urusannya dengan baik ya, Nak."
Citra mengangguk pasrah, bangkit berdiri dan membersihkan kain gamisnya. Sebelum melangkah pergi, ia sempat menangkap tatapan tajam Putra yang meneliti setiap gerak-geriknya. Di mata pria itu, ada kilatan yang sulit diartikan campuran antara ambisi yang kuat dan sesuatu yang lain yang belum bisa Citra pahami.
Mereka pun berangkat berdua lagi. Di dalam mobil, keheningan kembali menyelimuti, namun kali ini rasanya berbeda. Tidak lagi sekadar dingin dan penuh permusuhan, tapi ada ketegangan yang terasa mendekat, seolah batas antara mereka semakin menipis.
"Kau terlihat tenang hari ini," ucap Putra tiba-tiba, memecah keheningan. Matanya tetap menatap jalanan di depan, namun tangannya yang memegang setir sedikit mengencang. "Padahal, tiga hari lagi hidupmu akan berubah total. Kau tidak takut akan hidup bersamaku? Dengan seseorang yang bahkan tidak kau kenal hatinya?"
Pertanyaan itu begitu dalam dan tajam, membuat Citra menoleh kaget. Ia menatap profil samping wajah Putra yang tegas itu, berusaha mencari jawaban di sana.
"Aku sudah takut sejak awal, Mas," jawab Citra jujur, suaranya tenang namun jelas. "Aku takut karena aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Mas Putra. Aku takut karena aku merasa ada rahasia besar yang disembunyikan, dan aku terjebak di tengah-tengahnya. Tapi... aku sudah berjanji. Aku akan menjalani ini. Aku hanya berharap, sekeras apa pun hati Mas Putra, setidaknya kita bisa saling menghormati sebagai manusia."
Putra terdiam. Kata-kata Citra itu seolah menamparnya pelan namun tepat sasaran. Menghormati? batinnya mencemooh diri sendiri. Bagaimana aku bisa menghormati anak dari orang yang menghancurkan hidupku? Bagaimana aku bisa bersikap baik padanya, sementara bayangan wajah orang tuaku yang meninggal mengenaskan terus menghantuiku setiap malam?
Namun, di sisi lain, suara wanita itu terdengar begitu tulus, begitu polos, dan begitu tidak bersalah. Rasa benci yang selama ini ia bangun kokoh, perlahan namun pasti mulai retak sedikit demi sedikit setiap kali ia mendengar suara itu, setiap kali ia menatap mata jernih itu.
"Jangan berharap terlalu banyak, Citra," jawab Putra akhirnya, nadanya lebih kasar dari yang ia inginkan, seolah ia sedang berusaha keras melindungi dirinya sendiri dari pesona wanita di sebelahnya ini. "Aku bukan pria yang baik. Aku bukan pria yang bisa memberikan kebahagiaan seperti yang kau bayangkan. Ingat satu hal: pernikahan ini adalah transaksi. Kau menukar kebebasanmu demi nama baik keluargamu, dan aku... aku menerima ini demi tujuanku sendiri. Jangan pernah lupakan itu."
"Dan apa tujuan Mas Putra sebenarnya?" tanya Citra berani, menatap lurus ke arah samping wajah pria itu. "Kalau Mas Putra memang sangat tidak menginginkan ini, kenapa menerima? Kenapa tidak menolak saja dari awal? Kenapa harus bersusah payah melakukan semua ini kalau hanya ingin menyakiti kami?"
Mata Putra mengerjap kencang. Pertanyaan itu menusuk tepat ke inti masalah. Kenapa? Karena dia ingin balas dendam. Karena dia ingin melihat keluarga Lestari hancur. Karena dia ingin mereka merasakan kehilangan yang sama. Tapi, apakah dia masih benar-benar ingin melakukannya, saat ia mulai mengenal Citra wanita yang sama sekali tidak mirip dengan ayahnya?
"Kau tidak perlu tahu alasannya," jawab Putra dingin, suaranya berat dan serak. "Cukup kau tahu bahwa ada hal-hal yang lebih besar dari sekadar keinginan kita sendiri. Ada harga yang harus dibayar atas kesalahan masa lalu."
Percakapan itu terhenti sampai mereka tiba di kantor dinas. Proses pengurusan berkas berjalan lancar namun terasa begitu lambat bagi Citra. Setiap tanda tangan yang ia tulis di atas kertas resmi itu terasa seperti menandatangani surat perjanjian yang mengikatnya selamanya. Di sampingnya, Putra terlihat sangat paham prosedur, berbicara dengan petugas dengan wibawa militer yang membuat siapa saja segan.
Saat semua berkas sudah lengkap dan sah, pegawai di sana tersenyum ramah kepada mereka berdua.
"Selamat kepada Bapak dan Ibu. Berkas ini sah. Segala urusan administrasi sudah beres. Semoga pernikahannya lancar, langgeng, dan menjadi keluarga yang bahagia. Pasangan yang serasi sekali, Bapak gagah, Ibu cantik dan lembut. Cocok sekali."
Putra hanya tersenyum tipis, senyum yang tak sampai ke matanya, lalu mengangguk berterima kasih. Citra hanya membalas dengan senyum sopan, meski hatinya menjerit. Bahagia? batinnya. Akankah kebahagiaan itu ada di antara kami, di tengah tumpukan masalah dan kebencian ini?
Keluar dari kantor dinas, langit tampak mulai mendung. Angin berhembus lebih kencang, membawa aroma tanah yang basah. Putra berjalan lebih dulu menuju mobil, namun langkahnya terhenti saat ia menyadari Citra berjalan agak di belakang, menatap berkas di tangannya dengan pandangan kosong dan sedih.
Hati Putra berdenyut nyeri. Pemandangan itu wanita cantik yang lembut dan penuh ketulusan, yang kini menjadi miliknya namun dengan cara yang keliru membuat sesuatu di dalam dadanya bergejolak hebat. Ia berjalan mundur, berhenti tepat di depan Citra.
"Kenapa masih menatapnya?" tanyanya rendah. Suaranya tidak lagi kasar seperti tadi, melainkan terdengar lebih lelah dan bingung.
Citra mengangkat wajahnya, menatap mata hitam yang sama bingungnya itu. "Karena aku merasa... hidupku mulai ditentukan oleh kertas-kertas ini, Mas. Dan aku takut... aku takut aku tidak akan sanggup menghadapi apa pun yang akan Mas Putra lakukan nanti. Aku manusia biasa, Mas. Aku punya hati yang bisa sakit."
Kalimat itu seperti pukulan telak bagi Putra. Ia menatap wajah Citra lekat-lekat, meneliti setiap inci wajah yang begitu indah dan polos itu. Rasa benci, dendam, ambisi, dan rasa kagum, rasa tertarik, rasa ingin melindungi semuanya bercampur aduk menjadi satu kekacauan besar di dalam dada seorang prajurit yang biasanya teguh pendirian.
Tangan Putra terangkat perlahan, hampir menyentuh pipi Citra, ingin menghapus kerutan sedih di dahi wanita itu. Namun, di detik terakhir, ia menahan dirinya sendiri. Ia menarik tangannya kembali mengepal kuat di sisi tubuhnya, seolah sedang berperang melawan dirinya sendiri.
"Kau harus sanggup, Citra," ucap Putra parau, matanya menyala penuh emosi yang tertahan. "Karena mulai saat kau menandatangani kertas itu, kau adalah bagian dari hidupku. Dan... aku belum tahu apakah aku akan menjadi neraka atau surga untukmu."
Tanpa menunggu jawaban, Putra berbalik dan masuk ke dalam mobil. Citra mengikuti di belakangnya dengan langkah gemetar. Di dalam mobil, suasana terasa jauh lebih berat dari sebelumnya. Putra menyetir dengan kecepatan yang sedikit lebih tinggi dari biasanya, seolah ingin lari dari segala perasaannya sendiri.
Dalam perjalanan pulang, hujan mulai turun deras, membasahi kaca jendela mobil, mengaburkan pemandangan luar. Di dalam keheningan itu, Putra berbicara lagi, kali ini suaranya sangat pelan, hampir seperti bisikan untuk dirinya sendiri namun cukup terdengar oleh Citra.
"Aku berjanji satu hal... Aku tidak akan menyakitimu secara fisik. Sebagai seorang prajurit, aku punya prinsip. Tapi soal hatimu... aku tidak bisa berjanji apa-apa. Karena hatiku sendiri pun sudah hancur berkeping-keping sejak lama, dan aku tidak tahu bagaimana cara menyusunnya kembali."
Kalimat itu membuat air mata Citra akhirnya jatuh diam-diam. Di balik rasa dingin dan kejam yang ditampilkannya, ternyata ada rasa sakit yang luar biasa besar di dalam diri pria itu. Citra menyeka air matanya dengan cepat, berjanji dalam hatinya: Aku akan menjadi dokter, bukan hanya untuk pasienku di rumah sakit, tapi juga untuk luka di hati suamiku nanti. Meski dia membenciku, meski dia ingin menghancurkan keluargaku... aku akan mencoba. Aku akan mencoba menyembuhkan luka itu, entah bagaimana caranya.
Mobil akhirnya sampai di depan rumah Citra. Hujan masih turun deras. Putra mematikan mesin, namun tidak segera turun. Ia menatap lurus ke depan, berbicara tanpa menoleh.
"Dua hari lagi. Di hari pernikahan, jangan memandangku dengan tatapan sedih itu. Berpakaianlah indah, tersenyumlah, dan jadilah istri yang pantas. Biarkan semua orang melihat bahwa keluarga Lestari masih memiliki harga diri, meski sedang di ujung jurang."
Citra mengangguk, menelan rasa sakit di tenggorokannya. "Baik, Mas. Aku akan melakukannya."
Ia turun dari mobil dan berlari kecil menerobos hujan menuju teras rumah. Sebelum masuk ke dalam, ia sempat menoleh ke belakang. Mobil jip hitam itu masih diam di tempatnya. Melalui kaca yang berembun, Citra bisa melihat siluet Putra yang masih duduk diam di dalam, menatap ke arahnya. Sosok yang gagah, kuat, dan ditakuti banyak orang itu, terlihat begitu kesepian dan hancur di balik kemewahan dan seragamnya.
Di dalam mobil, Putra menatap punggung Citra yang menghilang di balik pintu rumah. Ia menekan kepalanya ke setir, mengerang pelan karena frustasi.
Bersambung...