Di mata Arum, Angkasa Wardana tampak seram badan tinggi besar, bertato ukiran Jawa di lengan kanan, dan berwibawa. Namun, di balik penampilan itu, tersimpan suara lembut dan tutur kata halus. Pertemuan tak sengaja si penulis novel dengan pengusaha sukses itu, perlahan mengungkap makna mendalam di balik setiap goresan tinta dan tato yang menghiasi lengan lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGHABISKAN WAKTU MALAM MINGGU BERDUA
Enam bulan berlalu begitu cepat sejak Angkasa dan Arum resmi menjalin hubungan. Waktu terasa berjalan makin cepat dan menyenangkan saat dijalani bersama orang yang dicintai. Meski sudah setengah tahun mereka saling memiliki, perasaan sayang di antara keduanya bukannya berkurang atau menjadi biasa saja, malah makin tumbuh subur, makin dalam, dan makin hangat.
Malam itu, Angkasa mengajak Arum pergi ke pasar malam yang sedang diadakan di alun-alun kecamatan, tidak terlalu jauh dari desa tempat tinggal mereka. Biasanya pasar malam ini hanya ada sebulan sekali, dan selalu ramai dikunjungi orang karena lengkap, mulai dari aneka jajanan, pakaian, sampai berbagai macam permainan seru.
Arum sudah bersiap sejak sore, senyumnya tak pernah lepas dari bibir begitu Angkasa datang menjemput dengan motor kesayangannya. Malam minggu ini adalah waktu yang selalu mereka tunggu-tunggu, momen untuk melepas penat dari kesibukan sehari-hari dan sekadar bersenang-senang berdua saja.
Sesampainya di lokasi, suasana memang benar-benar meriah. Lampu-lampu warna-warni menyala terang, musik dangdut dan suara pedagang bersahutan menciptakan keramaian khas pasar malam. Angkasa menggenggam tangan Arum erat, menuntun gadis itu berjalan menyusuri kerumunan orang.
"Pelan-pelan , Sayang. Pegang tangan saya, biar nggak terpisah," ucap Angkasa lembut, menoleh sedikit ke belakang untuk menatap wajah Arum.
Jantung Arum langsung berdegup kencang seketika. Sudah enam bulan, tapi setiap kali Angkasa memanggilnya dengan sebutan "Sayang" atau berbicara dengan nada selembut itu, rasanya Arum selalu salah tingkah, rasanya selalu ada kupu-kupu yang beterbangan di perutnya. Apalagi kalau Angkasa mulai memadukan ucapannya dengan bahasa Jawa halus yang selalu ia gunakan untuk bersikap sopan sekaligus manja, seperti kebiasaannya.
"Inggih, Mas. Udah pegangan ini" jawab Arum lirih dengan pipi yang mulai memerah, berusaha menutupi rasa malunya dengan bersandar pelan di punggung Angkasa.
Di sepanjang jalan itu, mereka berdua punya kebiasaan khas masing-masing. Angkasa yang dari dulu memang suka mencoba hal baru, langsung tertarik pada deretan permainan yang ada. dia mengajak Arum mencoba main papan berputar, melempar bola susun, sampai naik kincir angin kecil yang berputar pelan.
Angkasa selalu bersemangat sekali, kadang sampai berkeringat dingin karena terlalu fokus ingin memenangkan hadiah boneka kecil untuk Arum. Dan setiap kali ia berhasil mendapatkan satu boneka kecil saja, ia akan tersenyum bangga dan memberikannya pada Arum seolah itu adalah hadiah paling mahal sedunia.
Sebaliknya, Arum... begitu melihat deretan pedagang makanan, matanya langsung berbinar cerah. Benar kata orang, kalau soal makanan, Arum memang terkenal "kalap". Tidak ada satu pun jajanan yang ingin ia lewatkan. Mulai dari sate kere, telur gulung, cilok, es doger, sampai kue cubit, semuanya ia beli. Tangan kanan dan kirinya penuh dengan bungkus makanan, mulutnya terus mengunyah dengan nikmat, dan matanya berbinar puas.
"Mas... coba ini enak banget loh," ucap Arum sambil menyodorkan sate ke mulut Angkasa, pipinya masih belepotan sedikit bumbu kacang.
Angkasa memakannya sambil tertawa pelan.
"Pelan-pelan makannya, Sayang. Gak bakal ada yang mau ambil makanan kamu," godanya sambil mengusap pelan sudut bibir Arum yang kotor itu dengan ibu jarinya. Gerakan itu begitu lembut dan perhatian, membuat Arum kembali menunduk malu.
"Rasanya enak semua mas,jadi aku gak bisa makan pelan pelan," jawab Arum polos dengan mulut masih penuh makanan.
Angkasa hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. Ia gemes sekali melihat tingkah kekasihnya itu. Meski sudah enam bulan bersama, reaksi Arum yang selalu malu-malu, selalu bersemu merah kalau dipuji atau dipanggil sayang, dan sisi manjanya yang selalu muncul saat sedang salah tingkah... semuanya masih sama persis seperti saat awal mereka pacaran. Dan jujur saja, bagi Angkasa, melihat Arum salting dan malu-malu adalah salah satu hobi barunya yang paling ia sukai. Ia sengaja sering bicara makin lembut, makin banyak panggil "Sayang", atau pakai bahasa Jawa halus yang kian terdengar manis, cuma untuk melihat wajah Arum yang memerah lucu itu.
Tak lama kemudian, mereka duduk di bangku panjang yang agak sepi untuk beristirahat sejenak. Angkasa menatap Arum yang sedang membereskan sisa bungkus makanan dengan tatapan lekat dan penuh kekaguman.
"Cantik banget deh kamu kalau lagi seneng gini, Arumku sing ayu," ucap Angkasa tiba-tiba dengan suara rendah, lembut sekali. Matanya menatap tepat ke manik mata Arum, tak berkedip sedikit pun.
Itu sudah cukup. Kalimat sederhana itu, ditambah tatapan tajam namun lembut itu, langsung membuat Arum diam mematung. Wajahnya yang tadi biasa saja, seketika berubah merah padam sampai ke leher. Jantungnya berdegup makin kencang, rasanya ingin sekali ia sembunyikan wajahnya.
Dan seperti kebiasaannya kalau sudah tidak tahan menahan rasa malu, sisi manja Arum langsung muncul. Tanpa bicara, Arum langsung maju selangkah dan memeluk lengan Angkasa dengan erat, membenamkan wajahnya di lengan kekasihnya itu agar tidak terlihat kemerahannya.
"Mas Angkasa nih...gombal mulu" gerutunya pelan, suaranya terdengar manja dan tertahan di kain baju Angkasa.
Angkasa tertawa kecil merasakan pelukan itu. Ia tahu betul reaksi Arum. Tapi belum cukup baginya. Ia malah semakin mendekatkan wajahnya ke telinga Arum, berbisik pelan namun cukup jelas terdengar:
"Loh, kok gombal? Emang bener kok. Kowe kuwi wedok paling ayu, Lan paling tak tresnani sak jagad raya iki. Ngerti ta?"
Kalimat itu adalah bom waktu bagi Arum. Rasa malunya meluap habis. Ia langsung melepaskan pelukannya, lalu memukul lengan Angkasa pelan-pelan,pukulan yang penuh dengan rasa manja dan gemas.
"Mas Angkasa!! Dihh... diem ah! Kok ngomong gitu terus sih! Awas ya Mas, nanti aku pulang duluan!" ancam Arum dengan wajah merah merona, matanya terpejam menahan rasa malu yang luar biasa.
Padahal ancaman itu sama sekali tidak menakutkan, malah terlihat semakin menggemaskan.
Angkasa malah tertawa terbahak-bahak melihat reaksi itu. Ia menangkap tangan Arum yang sedang memukul-mukul lengannya, lalu menggenggamnya erat sambil menatap Arum dengan tatapan paling teduh dan bahagia.
"Ya sudah, ... maaf ya, Sayangku. Kamu lucu banget sih kalau gini," ucap Angkasa sambil mencium punggung tangan Arum sekilas.
"Aku seneng aja lihat kamu malu-malu gini. Rasanya kamu makin gemes."
Arum mendengus kesal sambil memalingkan wajah, tapi ujung bibirnya tetap tersenyum bahagia. Ia tahu, sampai kapan pun, meski hubungan mereka sudah berjalan lama, Angkasa akan selalu jadi orang yang sama yang bisa membuatnya berdebar hanya dengan satu panggilan sayang atau satu kalimat lembut saja. Dan Arum pun sadar, ia sendiri tidak akan pernah bosan dimanja, digoda, dan dicintai sedalam ini oleh Angkasa.