Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: TRAGEDI SALURAN IRIGASI DAN LELE GAIB
"Oke, anak-anak Karang Taruna! Perhatian semuanya!" teriak Aldi lantang menggunakan megafon merah milik pos ronda.
Sesi senam kesegaran jasmani baru saja bubar lima belas menit yang lalu. Sekarang, Bapak-bapak kompleks sudah mulai memegang gergaji dan golok untuk memangkas dahan pohon yang menghalangi jalan, sementara barisan ibu-ibu pimpinan Bu Baren dan Jasmine sibuk menata konsumsi berupa rebusan pisang, singkong, dan bergelas-gelas kopi hitam di atas meja panjang.
Di dekat motor gerobak roda tiga, pasukan inti Karang Taruna sudah berkumpul. Aldi berdiri gagah dengan cangkul di pundaknya, sementara Kenan dan Sendy sudah menaikkan lengan kaos mereka sampai ke bahu, siap bertempur melawan lumpur. Bagas, Rian, dan Dika juga sudah bersiap dengan sekop masing-masing.
"Pembagian tugas!" ujar Aldi berlagak seperti komandan batalyon. "Bagas, Rian, sama Dika, kalian pegang area Taman Karya. Cabutin rumput liar sama ratain tanahnya pake sekop. Nah, gue, Kenan, sama Sendy, kita dapet jatah paling mulia dari Pak RW—babat alas di saluran irigasi sungai bawah. Salurannya mampet parah gara-gara tumpukan sampah sama lumpur purba yang ga di bersihin 700 tahun. Ada pertanyaan?"
Sendy mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Pak Ketua, kalau di dalam parit irigasi nanti kita nemu harta karun emas peninggalan Majapahit, pembagian persenannya gimana?"
"Boro-boro emas, Sen! Paling lu nemu daleman hanyut!" sembur Kenan sambil menjitak helm proyek plastik yang entah dari mana didapatkan Sendy pagi ini.
"Udah, gak usah banyak bacot. Pasukan parit, serbu!" komando Aldi memimpin pergerakan.
Ketiga pemuda itu berjalan menuju area pinggiran kompleks, tempat saluran irigasi beton sepanjang seratus meter yang menghubungkan aliran sungai kecil ke selokan warga berada. Kondisinya memang mengenaskan: airnya hitam pekat, dangkal karena tertimbun lumpur tebal, dan dipenuhi eceng gondok serta sampah plastik.
"Gila, ini mah bukan lumpur lagi, Dul. Ini mah semen cor-coran," gumam Sendy menatap ngeri ke dalam parit sedalam satu meter itu.
"Ayo turun, jangan manja lu pada. Inget, sup iga Bunda gue udah menanti di rumah," kata Aldi memberikan motivasi.
Aldi menjadi orang pertama yang melompat turun ke dalam parit. Plusssh! Lumpur hitam setinggi lutut langsung menciprat ke mana-mana. Menyusul kemudian Kenan dengan gerakan hati-hati, dan terakhir Sendy yang turun sambil menjerit geli karena kakinya bersentuhan dengan tekstur lumpur yang lembek.
"Demi Allah geli banget, Nan! Ini kalau ada lelenya, mending gue balik!" teriak Sendy heboh, badannya meliuk-liuk seperti belut kena garam.
"Diem lu, Kunyuk! Nih, pegang sekopnya, mulai keruk lumpurnya terus buang ke pinggir tanggul!" perintah Kenan yang sudah mulai bekerja dengan cekatan.
Selama tiga puluh menit pertama, kerja bakti berjalan cukup lancar meski diselingi aksi saling ciprat lumpur. Aldi yang tenaganya seperti kerbau bolos membajak sawah berhasil mengeruk tumpukan sampah plastik dalam jumlah besar. Namun, suasana tenang itu tidak bertahan lama ketika Sendy mulai bosan dan otaknya kembali ke setelan gesrek.
Saat sedang menghujamkan sekopnya ke dalam lumpur pekat, sekop Sendy mendadak membentur sesuatu yang keras dan licin di dasar parit. Sesuatu itu bergerak memercikkan air hitam.
"Eh... eh... Dul! Nan! Demi apa ini ada yang gerak-gerak di bawah kaki gue!" seru Sendy panik, matanya melotot menatap ke dalam air keruh.
"Apaan sih? Palingan plastik sasetan," sahut Aldi tanpa menoleh.
"Kagak! Ini gede banget, sumpah! Item, licin... LAH, LELE JOMBO! LELE JUMBO INI MAH!" jerit Sendy histeris ketika seekor ikan lele berukuran raksasa—hampir selengan orang dewasa—mendadak meloncat dari balik lumpur dan mendarat tepat di atas punggung kaki Kenan.
"ANJING! COPOT KAKI GUE COPOT!" latah Kenan yang biasanya kalem langsung ikutan panik. Ia melompat-lompat di dalam parit lumpur seperti orang sedang latihan tari saman darurat, membuat keseimbangannya goyah.
Gubraaakkk!
Kenan tergelincir dan jatuh terduduk di dalam lumpur hitam pekat. Seluruh bagian belakang bajunya kini berubah warna menjadi hitam, menyisakan wajahnya yang melongo kaget.
"Hahaha! Mampus lu, Nan! Kena azab sholawatan jam empat subuh lu ya!" ledak Sendy tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya, tidak sadar kalau lele raksasa tadi sekarang malah berenang cepat ke arah posisinya.
"Sen! Awas di belakang lu!" teriak Aldi memperingatkan.
Kecipak! Lele tu meloncat tinggi, ekornya yang penuh lumpur menyabet tepat di pipi kanan Sendy sebelum akhirnya ikan itu mendarat masuk ke dalam celana pendek milik Sendy yang longgar.
"ALLAHUAKBAR! DIA MASUK KE CELANA GUE! DIA MATIL GUE, NAN! TOLONG, DIA MAU MAKAN MASA DEPAN GUE!" jerit Sendy dengan nada melengking.
Sendy langsung kesetanan. Ia berlari naik ke atas tanggul parit sambil memegangi bagian depan celananya yang tampak bergerak-gerak heboh. Kelakuan Sendy yang lari melompat-lompat di atas rumput sambil menjerit-jerit histeris mengundang perhatian warga yang sedang berada di lapangan tengah, termasuk barisan ibu-ibu ghibah dan Jasmine.
"Loh, loh, itu Mas Sendy kenapa kok lari-lari kayak orang kesurupan jaran kepang?" tanya Bu Widuri menudingkan jarinya.
"Wah, kena sawan parit itu, Jeng. Makanya kalau kerja bakti tuh assalamualaikum dulu," timpal Bu Ratna sok tahu.
Jasmine yang sedang membawa nampan berisi gelas kopi langsung berjalan mendekat ke arah pinggir parit karena khawatir. "Mas Aldi! Itu Mas Sendy kenapa? Kok sampai lepas celana begitu?!"
Aldi yang masih berada di dalam parit menengok ke atas tanggul. Benar saja, Sendy sudah dalam posisi setengah telanjang, berusaha mengocok-ngocok celana pendeknya agar lele jumbo itu keluar, sementara Kenan yang seluruh tubuhnya sudah penuh lumpur hitam berusaha memegangi badan Sendy agar tidak lari ke jalan utama.
"Keluar lu, Ikan Setan! Jangan makan aset berharga gue!" raung Sendy frustrasi.
Plop!
Ikan lele raksasa itu akhirnya berhasil lolos dari celana Sendy, meluncur jatuh ke atas rumput lapangan dan menggelepar-gelepar hebat. Melihat ada lele gratis ukuran monster, jiwa berburu Sendy mendadak bangkit kembali. Rasa malunya hilang entah ke mana.
"Jangan kabur lu! Udah melecehkan harga diri gue, harus berakhir di penggorengan!" seru Sendy langsung tiarap di atas rumput, menerkam lele itu dengan dada telanjangnya.
Plakkk! Lele itu kembali meronta, ekornya menampar hidung Sendy hingga cowok itu bersin keras-keras di atas rumput.
Aldi yang menyaksikan seluruh tragedi komedi itu dari dalam parit hanya bisa menyandarkan dahinya di gagang cangkul, bahunya terguncang hebat karena menahan tawa sampai air matanya keluar. "Sumpah ya... punya temen dua biji gak ada yang waras. Pantesan malaikat pencatat amal mereka sering minta lembur."
Kenan yang badannya sudah seperti tentara kamuflase hutan bakau langsung duduk selonjoran di pinggir tanggul sambil geleng-geleng kepala. "Dul... kalau nanti siang pas rapat di balai desa si Irene nanya kenapa badan gue bau comberan, lu wajib jawab karena gue habis menyelamatkan aset masa depan si Sendy dari serangan lele mutan."
Jasmine yang menyusul ke dekat mereka akhirnya tidak bisa menahan tawa. Suara tawa renyahnya pecah melihat pemandangan tiga pemuda Karang Taruna yang kondisinya sudah hancur lebur tak berbentuk. Sendy dengan muka penuh lumpur sambil memeluk erat seekor lele jumbo, Kenan yang berubah jadi patung lumpur hidup, dan Aldi yang mukanya merah padam karena kebanyakan tertawa.
"Ya ampun, kalian bertiga ini ada-ada saja ya," ujar Jasmine sambil menyodorkan beberapa lembar tisu dari kantong jaket merah mudanya ke arah Aldi. "Ini, Mas Aldi, dilap dulu mukanya. Itu lumpurnya sampai masuk ke kuping lho."
Sentuhan perhatian kecil dari Jasmine seketika membuat tawa Aldi berhenti. Ia menerima tisu itu dengan tangan gemetar akibat salting tingkat dewa yang kembali menyerang. "E-eh, iya, Bu RT. Makasih banyak ya. Ini... anu... kita lagi menerapkan metode pembersihan irigasi berbasis kearifan lokal," jawab Aldi ngeles asal-asalan.
"Kearifan lokal matamu, Bedul! Ini murni musibah!" teriak Sendy yang sekarang sudah berhasil mengikat mulut lele itu menggunakan tali rafia bekas dengan wajah penuh kemenangan. "Ayo, Nan, Dul! Kita balik ke rumah Aldi sekarang! Mandi besar kita! Sekalian minta Tante Baren buat goreng ini lele dajjal buat lauk tambahan sup iga!"
Kerja bakti pembersihan saluran irigasi pagi itu akhirnya terpaksa dihentikan sementara akibat tragedi lele gaib. Di bawah tatapan sinis nan heran dari duo lambe turah Bu Ratna dan Bu Widuri, ketiga pemuda andalan RT 04 itu berjalan beriringan pulang menuju rumah dengan membawa satu ekor lele raksasa, tubuh penuh lumpur hitam, dan kenangan kocak yang dipastikan akan menjadi bahan ghibah legendaris di pos ronda selama tujuh turunan ke depan.