Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.
Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa
Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.
Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inara 6
Inara mengetuk pintu ruang kerja Mahesa dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya. Dari dalam, terdengar sahutan dingin yang sangat familier. Begitu pintu terbuka, hal pertama yang Inara sadari adalah ruangan itu kosong. Tidak ada Clarissa.
Mahesa sedang berdiri di dekat dispenser, menuangkan air putih ke dalam gelas kristal. Dia melirik Inara dari balik bahunya, lalu berjalan kembali ke kursi kebesarannya.
"Di mana Clarissa? Tumben tak menempel teres di ruangan ini?" tanya Inara lirih, suaranya terdengar begitu tipis dan serak.
"ck! Bukan urusan kamu!," jawab Mahesa tanpa minat. Dia mengulurkan tangan, meminta dokumen yang dipegang Inara.
"Mana laporannya? Sini."
Inara melangkah mendekat. Setiap langkahnya terasa sangat berat, seolah-olah ada beban berton-ton yang mengikat pergelangan kakinya. Dia meletakkan map baru itu di atas meja Mahesa dengan rapi. Tidak ada lagi kertas yang berhamburan.
Mahesa menarik map itu, membukanya, dan membacanya dalam keheningan yang mencekam. Hanya ada suara helaan napas Mahesa dan detak jam dinding yang seolah menghitung sisa waktu kewarasan Inara.
"Jauh lebih baik," ucap Mahesa akhirnya setelah beberapa menit memeriksa. Dia menutup map itu dengan ketukan pelan.
"Ternyata kamu memang harus ditekan dulu baru bisa bekerja dengan benar, Inara."
Inara tidak menyahut. Dia hanya berdiri mematung di depan meja Mahesa. Kepalanya berdenyut begitu hebat, dan pandangannya mulai memudar di bagian tepi. Angka-angka, meja kerja, dan sosok Mahesa di depannya perlahan-lahan tampak blur.
Menyadari istrinya hanya diam seperti patung, Mahesa mendongak. Alisnya bertaut rapat saat melihat wajah Inara dari jarak dekat. Di bawah lampu ruangan yang terang, wajah wanita itu benar-benar putih pucat, tanpa ada semburat darah sedikit pun. Bibirnya yang terluka semalam tampak pecah-pecah, dan ada keringat dingin yang membasahi pelipisnya.
"Inara?" panggil Mahesa, nadanya berubah sedikit lembut, bukan lagi ketus melainkan dipenuhi rasa bingung.
"Kamu dengar saya tidak? Ambil tasmu, kita turun sekarang."
"Mas..."
Suara Inara nyaris berupa bisikan. Untuk pertama kalinya dalam satu tahun ini, Inara mengabaikan panggilan profesional "Pak Mahesa" di dalam kantor. Dia memegang tepi meja Mahesa dengan kedua tangannya yang gemetar hebat, berusaha menahan tubuhnya agar tidak ambruk.
"Ada apa lagi? Jangan mulai membuat drama baru, Inara. Saya tidak punya waktu untuk ..."
"Aku tidak bohong, Mas..." Inara memotong kalimat Mahesa dengan napas yang terengah-engah.
"Kepala aku pusing sekali, Mas. Bolehkan aku menyerah! Kembalilah kepada mbak Inara dan lepaskan aku!" bisik Inara dengan suara ge-me-tar dan pelan.
Mahesa tertegun. Ada sesuatu yang menghantam dadanya saat mendengar kata 'menyerah' keluar dari mulut Inara. Pria itu berdiri dari kursinya, hendak memutari meja untuk mendekati Inara.
"Inara, apa-apaan kamu! nggak usah akting di depanku! Kamu tahu, aku ..."
Belum sempat Mahesa menyelesaikan kalimatnya, cengkeraman tangan Inara pada tepi meja terlepas. Kedua lututnya menekuk, dan tubuh rampingnya langsung tumbang ke arah depan.
Bruuuuukkk
Mahesa bergerak dengan refleks cepat. Dia berhasil menangkap tubuh Inara tepat sebelum kepala wanita itu menghantam lantai marmer. Namun, tubuh Inara sudah sepenuhnya lemas, matanya terpejam rapat, dan kesadarannya telah hilang total.
"Inara! Bangun!" Mahesa menepuk pipi pucat Inara dengan panik.
Saat jemarinya menyentuh kulit wajah dan leher Inara, Mahesa tersentak. Kulit istrinya terasa sangat dingin dan basah oleh keringat. Ketika dia merengkuh tubuh itu lebih erat untuk mengangkatnya ke sofa, barulah Mahesa menyadari betapa ringkih dan ringannya tubuh wanita yang selama satu tahun ini dia siksa dengan kata-kata beracun dan sikapnya kepada Inara.
"Inara, buka matamu! Jangan bercanda!" suara Mahesa meninggi, ada nada panik yang asing yang tiba-tiba merayap di dadanya.
Dia menatap wajah pingsan Inara dalam jarak yang sangat dekat, menyadari bahwa wanita ini benar-benar berada di titik lemah karena dirinya. Tidak ada akting, tidak ada drama. Di dalam ruangan yang kedap suara itu, hanya ada Mahesa yang mendadak disergap ketakutan luar biasa, memeluk tubuh istrinya yang tak berdaya.
Rasa panik yang belum pernah dirasakan Mahesa seumur hidupnya mendadak menyergap, mencekik tenggorokannya hingga ia hampir kesulitan bernapas. Tubuh Inara di pelukannya terasa begitu ringan, sedingin es, dan sama sekali tidak bergerak.
"Inara! Hei, bangun! Jangan main-main!" Suara Mahesa meninggi, bergetar hebat.
Mahesa kembali menepuk-nepuk pipi pucat Inara, namun kelopak mata wanita itu tetap terpejam rapat. Tidak ada reaksi. Hanya ada napas pendek dan tipis yang keluar dari bibirnya yang pecah-pecah.
Drrrrrtttttt
Drrrrrtttttt
Ponsel Mahesa di atas meja bergetar nyaring. Layarnya menyala, menampilkan nama Clarissa. Panggilan itu mati, lalu sedetik kemudian berubah menjadi sebuah pesan singkat yang muncul di layar.
'Mas, aku sudah di lobi sama tim strategi. Kamu di mana? Aku naik lagi ke ruanganmu ya?'
Membaca pesan itu, jantung Mahesa mencelos. Entah mengapa, ada dorongan posesif dan rasa takut yang luar biasa di dalam dirinya jika Clarissa melihat kondisi Inara saat ini. Dia tidak ingin Clarissa menyaksikan kerapuhan istrinya, tidak ingin wanita lain menghina Inara dalam keadaan seperti ini. Yang paling utama, entah kenapa ego Mahesa menolak memperlihatkan kepanikannya yang brutal ini di depan sang mantan istri.
Dengan gerakan cepat yang didorong oleh adrenalin, Mahesa menyusupkan satu lengannya di bawah lutut Inara dan lengan lainnya di bawah punggung wanita itu. Dia mengangkat tubuh ringkih Inara, membawanya dengan setengah berlari menuju pintu utama ruang kerjanya.
Ckleeekk
Ckleeekk
Mahesa memutar kunci pintu dari dalam hingga dua kali putaran. Tidak puas sampai di situ, dia juga menekan tombol kunci otomatis pada gagang pintu digitalnya. Ruangan kerja direktur itu kini terkunci rapat, mengisolasi mereka berdua dari dunia luar.
Tepat setelah kunci mengklik, dari balik pintu kaca buram yang kedap suara itu, Mahesa bisa melihat siluet seseorang berdiri di sana.
Toookkk
Toookkk
Toookkk
"Mahesa? Kamu di dalam?" Suara Clarissa terdengar sayup-sayup dari luar, mencoba memutar knop pintu namun gagal.
"Mas? Kok dikunci? Kita harus berangkat sekarang, klien sudah menunggu."
Mahesa mengabaikan ketukan itu. Napasnya memburu. Dia berbalik, menuju ke tempat Inara berada. Di ruang rahasia miliknya di sana. Ruangan yang hanya di ketahui oleh dirinya dan sang asisten. Inara masih terlihat enggan bangun. Wajahnya sangat pucat.
"Inara, dengar saya! Tolong bangun," bisik Mahesa, suaranya parau. Dia berlutut di lantai marmer, mensejajarkan tubuhnya dengan tempat tidur kecil itu.
Dia meraih tangan kanan Inara. Tangan yang biasanya bergerak lincah menyajikan kopi untuknya atau mengetik laporan semalaman itu kini terasa sekaku dan sedingin mayat. Mahesa menggosok pergelangan tangan Inara dengan kedua telapak tangannya, mencoba menyalurkan kehangatan yang selama satu tahun ini selalu ia pangkas habis dari pernikahan mereka.
Ketukan di luar semakin tidak sabar.
"Mas Mahesa! Kamu di dalam, kan? Sekretaris bilang kamu belum turun!" seru Clarissa lagi. Wanita itu masih berada di sana dengan sangat tidak sabar.
kak ayoo donk ,,
dtggu pake. bangeet kelanjutan ny ,,
pengen liat muka ungu mahesa krn kenyataan tak sesuai ekspetasii ny ,, Dan muka ijooo Clarissa krn semua tdk sesuai keinginan ny 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
pengen tau yg terjadi di gedung enoh, bawa dah tuh Mahesa mantan terindah loe😛
harus d laporkan k polisi ituuuuu
pasal perampasan aset🤭🤭🤭
pergi yang jauh mulai kehidupan baru dengan ibumu😍