Merasa kesal karena ada yang mengatakan bahwa dirinya tidak akan laku bahkan akan terus menjomblo seumur hidup, tidak ada satu pun pria yang tertarik padanya.
"Enak aja dia bilang begitu padaku! Awas saja kau! Akan aku buktikan diriku ini bisa memiliki seorang kekasih dan layak untuk dicintai!" geramnya wanita cantik itu.
Ia bersumpah pada dirinya sendiri, setelah mendapatkan kekasih justru ia akan langsung memamerkan kemesraannya terhadap orang yang telah berani berkata seperti itu.
"Tapi tunggu! Dari mana aku akan mendapatkan seorang kekasih!?" ia gelisah dan mondar-mandir.
"Astaga..." dirinya mengusap wajah dengan kasar.
"Hah, semoga dapat ya?" batinnya berdoa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xeynica_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode Enam
"Pasti ada seseorang yang diam-diam menyukaimu, Ren. Jadi tolong hilangkan perasaan itu, ya" kata Cellsyia.
"....." Aren tidak berbicara, pria itu mendekati Cellsyia sementara Cellsyia bergeser ke arah kiri, dan mentok sudah.
Cellsyia terjebak disana, dirinya tidak bisa pergi karena kedua tangan milik Aren bertumpu di sebelah kanan dan kirinya.
"Re...Ren..."
"Bisakah kamu menjauh?" kata Cellsyia, wanita itu merasa tidak nyaman apalagi posisi keduanya saling berdekatan.
"Yia, mau ya jadi kekasihku?" pintanya Aren dengan lembut.
Perlahan tangan terangkat lalu refleks Cellsyia menutup mata, ia berpikir pasti Aren akan menamparnya namun kenyataannya pria itu mengelus pipinya.
"Eh?" Cellsyia terkejut saat merasakan elusan lembut di pipi, ia pun membuka matanya dan tepat ketika itu Aren pula tengah menatap lekat ke arahnya.
Gluk
Dengan susah payah Cellsyia menelan ludah kasar.
"Yia" tangan Aren beralih menjadi membelai wajah cantiknya wanita itu.
"Kamu tahu?"
"Aku mati-matian menahan rasa ini selama 4 tahun, aku berharap kamu menerimaku untuk jadi kekasihku" kata Aren dengan lirih.
"Yia, mau kan? Mau jadi kekasih dari Aren?" pria itu memastikan kembali.
"Aduh...gimana ini? Aku sebenarnya sama sekali tidak memiliki rasa apapun terhadap Aren" batinnya Cellsyia berkata dengan gelisah.
"Kalau aku menolaknya?" pikirnya Cellsyia.
"Aren.." panggil wanita itu.
"Ya?" jawab singkat Aren.
"Maaf aku tidak bisa" kata Cellsyia.
Deg
Bagaikan petir di siang bolong hati pria itu terasa sakit tak terduga.
"Yi..Yia..ka..kam..kamu..pasti..bercanda, kan? Hahaha, iya bercanda kamu" Aren menggelengkan kepala lalu memegang kedua bahu wanita itu.
"Aku tidak bercanda, Ren" jawab Cellsyia.
"Enggak, hiks..kamu bercanda" pria tampan itu mulai menangis dan terisak.
"Kamu hiks...jahat. Hiks jahat..." ucap Aren seraya berbisik lirih, kepalanya menunduk ke bawah.
"Kamu..kamu pernah bilang sama aku! Kalau tipemu itu tinggi, putih, bule, dan itu semua ada pada diri aku" Aren berkata sambil menatap tajam wanita itu.
"Aku bule, loh! Dan kamu suka kan, sama bule? Tolong terima aku, Yia. Hiks..terima pria bule ini" kata Aren, air matanya tidak berhenti mengalir.
"Astaga! Dia masih mengingat ucapanku itu!" batinnya wanita itu berkata.
"Aku terima Aren, begitu?" tanyanya Cellsyia pada dirinya.
"Yia, kumohon terima aku.." pinta Aren.
Cellsyia, wanita itu kembali teringat akan orang-orang yang pernah mengatakan bahwa dirinya tidak akan laku dan jomblo seumur hidup, bahkan satu pun pria tidak tertarik sama sekali padanya. Seketika tangan kirinya mengepal erat, sorot matanya tajam, Aren melihat itu dirinya terdiam.
"Yia, ada apa dengan kamu? Sorot matanya tajam seakan menyimpan sesuatu dan membuatnya marah seperti ini" batinnya Aren.
"Baiklah, aku menerimu Ren sebagai kekasih" ucap Cellsyia.
Mendengar jawaban itu Aren tersenyum senang, tanpa pikir panjang ia memeluk erat sang pujaan hatinnya.
Grep
"Terima kasih, Yia. Terima kasih" membisikannya pada telinga Cellsyia.
"Hm" wanita itu menganggukkan kepala.
Tangan pria itu ke atas lalu mengusap pelan punggung Cellsyia sembari berbicara.
"Pujaan hatiku, terima kasih telah menerimaku, aku sungguh bahagia sekali" kata Aren.
"Walaupun kamu belum ada rasa terhadapku, maka aku akan membuatmu jatuh cinta padaku dan sekali pun sudah masuk ke dalam kehidupanku, maka jangan harap aku melepaskan dirimu, oh kekasihku"