Bayu Alexander adalah seorang karyawan rendahan yang sedang berada di titik terendah hidupnya setelah difitnah dan gajinya dipotong semena-mena oleh atasannya. Nasib miskinnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ia memindai sebuah barcode misterius di halte bus yang diam-diam menginstal Aplikasi Toko Ajaib di ponselnya.
Berbekal sisa saldo lima puluh ribu rupiah, Bayu memanfaatkan fitur diskon kilat aplikasi tersebut untuk membeli kacamata ajaib penilai barang antik, yang menjadi batu loncatan pertamanya meraup ratusan juta rupiah dari pasar loak.
Dari seorang budak korporat yang diinjak-injak, Bayu perlahan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, menggunakan item-item tak masuk akal dari sistem untuk menghancurkan karir musuh-musuhnya, mendominasi pasar saham, hingga menumpas mafia kejam yang mencoba mengusiknya, semuanya ia lakukan dalam diam sebagai miliarder baru Jakarta yang rahasianya tidak akan pernah terbongkar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Lin Zhen menatap Bayu dalam diam selama hampir satu menit penuh. Tidak ada yang berbicara. Victoria berdiri di samping kursi roda kakeknya, menahan napas. Ini adalah teknik intimidasi mental yang biasa digunakan Lin Zhen untuk menghancurkan nyali para negosiator muda.
Namun, Bayu bahkan tidak mengalihkan pandangannya. Ia membalas tatapan naga tua itu dengan ketenangan seorang prajurit di medan perang. Ia sudah menghadapi preman bersenjata tajam dan pembunuh elit. Tatapan mata seorang pria tua, sehebat apa pun dia, tidak akan membuatnya gemetar.
"Duduklah," perintah Lin Zhen akhirnya, sudut bibirnya sedikit terangkat. Ia menyukai ketenangan pemuda ini.
Bayu duduk di kursi kayu di hadapan Lin Zhen.
"Cucuku bilang, kamu adalah direktur dari PT Mandiri Alexander Investama. Perusahaan yang sangat agresif belakangan ini. Kalian menelan Delta Sekuritas dan memutus jalur Baskoro dalam waktu sangat singkat," kata Lin Zhen, jari keriputnya mengetuk-ngetuk permukaan stempel giok itu. "Tapi yang membuatku penasaran bukan kemampuan bisnismu. Aku penasaran dengan stempel ini."
Lin Zhen mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Kamu tahu persis nilai benda ini. Kamu memiliki uang untuk membelinya sendiri di pelelangan itu. Ratusan miliar rupiah bisa masuk ke kantongmu jika kamu menjualnya ke kolektor internasional. Pertanyaanku, kenapa kamu memberikannya padaku melalui Victoria?"
Pertanyaan itu adalah jebakan. Jika Bayu menjawab karena ia ingin menjilat keluarga Lin, Lin Zhen akan langsung mengusirnya karena menganggap Bayu hanyalah seorang penjilat rendahan. Jika Bayu menjawab karena ia tidak butuh uang, Lin Zhen akan menganggapnya pembohong yang arogan.
Bayu terdiam sejenak. Pikirannya menyusun kalimat yang paling mematikan.
"Sebuah stempel raja tidak akan ada gunanya jika dipegang oleh seorang rakyat biasa, Tuan Lin," jawab Bayu tenang. "Benda ini adalah simbol kekuasaan. Jika saya menjualnya, saya hanya akan mendapat lembaran uang yang bisa habis kapan saja. Tapi dengan memberikannya kepada Anda... saya mendapatkan perhatian dari raja yang sesungguhnya di kota ini."
Mata Lin Zhen sedikit melebar.
"Saya sedang membangun kerajaan saya sendiri, Tuan Lin. Uang bisa dicari, tapi jembatan emas menuju puncak kekuasaan hanya bisa dibangun dengan rasa hormat dan aliansi yang tepat," lanjut Bayu.
Hening.
Hahahaha.
Tawa Lin Zhen tiba-tiba meledak, keras dan menggelegar, menggema di seluruh aula. Victoria ikut tersenyum lega. Kakeknya sangat jarang tertawa lepas seperti ini di depan orang luar.
"Luar biasa!" kata Lin Zhen setelah tawanya mereda. Ia menatap Bayu dengan pandangan yang kini dipenuhi rasa hormat. "Kamu ambisius sekali, Bayu Alexander. Sangat ambisius. Tapi ambisi tanpa perlindungan adalah jalan menuju kematian. Aku tahu kamu sedang diawasi oleh Konsorsium Sembilan."
Mendengar nama itu dari mulut Lin Zhen, Bayu menajamkan pendengarannya. Pria tua ini memang tahu segalanya.
"Konsorsium Sembilan adalah kelompok orang-orang rakus yang mencoba memonopoli seluruh pelabuhan di utara Jakarta," jelas Lin Zhen, suaranya kembali dingin. "Keluarga Lin telah menolak tawaran akuisisi mereka tiga kali. Sekarang, mereka mulai bermain kotor. Mereka menyabotase proyek kami, menjatuhkan nilai saham perusahaan mitra kami, dan sebentar lagi mereka akan menargetkan perusahaan barumu yang mulai merepotkan mereka."
Lin Zhen menatap stempel giok di mejanya, lalu menatap Bayu.
"Stempel ini adalah pusaka yang tak ternilai. Sebagai balasannya, aku menawarkan sebuah aliansi perlindungan. Keluarga Lin akan membuka proyek pengembangan pelabuhan bernilai sepuluh triliun rupiah minggu depan. Aku ingin perusahaanmu, Mandiri Alexander, masuk sebagai penjamin dana utama untuk dua puluh persen dari proyek tersebut."
Bayu menelan ludah. Ini adalah lompatan yang sangat masif. Terlibat dalam proyek infrastruktur sepuluh triliun bersama Lin Group akan membuat status perusahaannya melesat dari sekadar pemain baru menjadi raksasa yang tidak bisa disentuh oleh sembarang orang, bahkan oleh Konsorsium Sembilan sekalipun tanpa memicu perang ekonomi berskala nasional.
"Ini bukan sekadar tawaran bisnis, Bayu. Ini adalah deklarasi perang terbuka kepada Konsorsium. Jika kamu berdiri di sampingku, kamu akan menjadi target utama mereka bersama Victoria. Apakah kamu punya nyali untuk bermain di liga ini?" tantang Lin Zhen.
Bayu berdiri dari kursinya. Ia merapikan jas abu-abunya. Matanya memancarkan api ambisi yang selama ini ia sembunyikan.
"Siapkan kontraknya besok pagi, Tuan Lin. Saya akan memastikan saham Konsorsium yang akan hancur lebih dulu sebelum mereka bisa menyentuh pelabuhan Anda."
Lin Zhen tersenyum puas. Ia menyodorkan tangan kanannya yang gemetar namun masih bertenaga. Bayu menyambut jabatan tangan itu dengan mantap. Aliansi antara naga tua dan serigala muda telah terbentuk.
Setelah pertemuan itu selesai, Victoria mengantar Bayu kembali ke gerbang depan. Langit senja memantulkan warna jingga ke wajah Victoria, membuatnya terlihat semakin memukau.
"Kakek sangat menyukaimu, Bayu. Itu pencapaian yang jarang terjadi," kata Victoria lembut. Ia berdiri sangat dekat dengan Bayu, aroma parfum mawar dan vanilanya tercium jelas.
"Aku hanya mengatakan kebenarannya, Victoria."
"Kau tahu, proyek pelabuhan ini artinya kita akan sangat sering bertemu dalam beberapa bulan ke depan. Aku yang akan memimpin tim dari pihak Lin Group," bisik Victoria, matanya menatap tepat ke bibir Bayu sejenak sebelum kembali ke matanya. Sebuah godaan yang sangat elegan dan mematikan.
Bayu tersenyum tipis, menjaga jarak profesional namun tidak menolak pesona wanita itu.
"Aku menantikan kerja sama kita yang intensif, Nona Lin."
Ting.
Ponsel di saku Bayu berbunyi. Sebuah pesan masuk. Bayu membukanya sekilas. Itu dari Tari.
Bay, lo di mana? Udah sore. Jangan lupa makan, gue udah pesenin soto ayam kesukaan lo ke apartemen. Kafein Nusantara hari ini pecah rekor penjualan lagi loh! Balik cepetan, gue mau laporan keuangan.
Bayu membaca pesan itu. Ada rasa hangat yang berbeda mengalir di dadanya. Perasaan nyaman, sederhana, dan membumi. Sangat kontras dengan gemerlap dan bahaya yang ditawarkan oleh Victoria.
"Ada masalah darurat dari kantormu?" tanya Victoria, menyadari perubahan ekspresi Bayu.
"Tidak. Hanya pesan dari asistenku yang mengingatkan jam makan," jawab Bayu. Ia memasukkan kembali ponselnya ke saku. "Aku harus kembali sekarang, Victoria. Sampai jumpa besok di meja perundingan."
Bayu melangkah masuk ke dalam taksi yang sudah menunggu, meninggalkan Victoria yang menatap kepergiannya dengan senyum penuh misteri. Sang pewaris Lin itu telah mendapatkan mainan baru yang sangat menarik hatinya.
Di kursi belakang taksi, Bayu menatap ke luar jendela. Perang korporat terbesar di Jakarta baru saja dimulai. Ia memiliki Lin Group sebagai pelindung, Tetes Mata Kejujuran sebagai alat intelijen, dan otak strategisnya sebagai senjata. Namun, di antara intrik bisnis triliunan rupiah itu, hatinya perlahan mulai ditarik ke dua arah yang berlawanan.
Sistem di sakunya mungkin bisa memanipulasi kebenaran, tapi sistem tidak akan pernah bisa memanipulasi perasaan manusia.