"Hanya karena aku miskin, kau membuangku seperti sampah?"
Andra, seorang kurir yang bekerja keras 14 jam sehari, baru saja diusir dari kontrakannya dan diputuskan oleh kekasihnya demi pria bermobil mewah. Namun, di saat titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Saldo Tak Terbatas Diaktifkan!]
[Level 1: Menghasilkan Rp 1.000 setiap detik secara otomatis.]
[Saldo saat ini: Rp 1.000... Rp 2.000...]
Dalam satu menit, ia mendapatkan Rp 60.000. Dalam satu jam, jutaan rupiah masuk ke rekeningnya tanpa melakukan apa pun. Dunia yang dulu menghinanya kini harus bersiap. Siapa pun yang pernah memandangnya rendah akan bersujud di bawah kakinya.
Bagi Andra, satu-satunya masalah sekarang bukan lagi cara mencari uang, tapi bagaimana cara menghabiskannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Konspirasi di Balik Tirai Emas
Limosin mewah itu meluncur membelah jalanan aspal Swiss yang licin karena sisa-sisa salju. Di dalam kabin yang kedap suara, Andra masih menatap kartu kristal akses God Eye di tangannya. Meskipun ia baru saja memaksa para penguasa dunia di The Sovereign Club berlutut, tidak ada raut kemenangan di wajahnya. Sebaliknya, gurat kecemasan mulai muncul di keningnya.
Andra menyentuh layar hologram yang melayang di depannya. Peta dunia digital muncul, bercahaya biru terang. Jutaan titik data mengalir masuk, memberikan Andra kendali atas hampir setiap sudut bumi. Namun, di tengah hamparan data yang sempurna itu, matanya tertuju pada sebuah anomali.
Di tengah Samudra Pasifik, terdapat sebuah lingkaran hitam pekat. Luasnya setara dengan sebuah negara kecil, namun satelit God Eye—yang seharusnya bisa melihat nomor seri pada kepingan koin di saku seseorang—justru tidak bisa menangkap apa pun di sana. Area itu tampak seperti lubang hitam di atas peta digital.
[Peringatan Sistem! Terdeteksi Zona Buta: Sektor 0.] [Status: Enkripsi Frekuensi Quantum. Teknologi God Eye tidak memiliki izin akses ke protokol ini.] [Analisis: Ada entitas yang memiliki teknologi setara atau lebih tinggi dari Sistem Inang.]
Andra terdiam. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Selama ini, ia merasa menjadi predator puncak karena uangnya yang tak terbatas dan sistemnya yang mahatahu. Namun, peringatan ini seperti siraman air es yang menyadarkannya: ia baru saja membuka pintu menuju dunia yang jauh lebih gelap.
"Jagal," panggil Andra tanpa menoleh.
"Iya, Tuan?" Sang Jagal yang duduk di kursi depan segera menoleh. Ia merasakan perubahan aura pada majikannya. Atmosfer di dalam mobil mendadak terasa berat dan menindas.
"Tahan rencana kepulangan kita ke Jakarta. Batalkan semua reservasi hotel mewah di Bali. Kita tidak sedang menuju akhir dari sebuah perjalanan," ucap Andra, suaranya terdengar seperti denting logam yang dingin. "Kita baru saja menginjakkan kaki di anak tangga pertama sebuah piramida yang puncaknya disembunyikan oleh awan."
"Maksud Anda, Tuan? Bukankah Baron von Rothschild dan kawan-kawannya sudah menyerahkan segalanya? Anda sudah memegang kendali atas hutang-hutang negara besar," tanya Sang Jagal dengan kening berkerut. Bagi pria seperti dia, kemenangan adalah ketika musuh menyerah atau mati. Dan tadi, musuh sudah menyerah total.
Andra tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan sarkasme. "Uang bisa membeli negara, Jagal. Tapi uang tidak bisa membeli mereka yang menciptakan konsep uang itu sendiri. Rothschild dan yang lainnya hanyalah 'satpam' depan. Mereka adalah manajer yang diletakkan di depan publik agar dunia merasa ada yang memimpin. Tapi di balik mereka... ada arsitek yang sebenarnya."
Tiba-tiba, ponsel titanium di saku jas Andra bergetar. Getarannya berbeda—lebih panjang dan memiliki ritme tertentu. Saat Andra mengeluarkannya, layar ponsel itu tidak menampilkan nomor telepon, melainkan kode biner yang terus bergerak cepat sebelum akhirnya membentuk satu set koordinat geografis.
Titik koordinat itu menunjuk ke sebuah lokasi di pedalaman hutan belantara Kalimantan, Indonesia. Sebuah area yang secara administratif tercatat sebagai hutan lindung, namun jika dilihat melalui God Eye, area itu selalu tertutup awan tebal yang tidak alami.
"Kembali ke Indonesia," perintah Andra pendek. "Tapi bukan ke peradaban. Kita menuju titik koordinat ini. Sepertinya ada 'saudara tua' yang ingin menyapa dan aku tidak ingin membuat mereka menunggu."
Sementara itu, di sisi lain dunia yang tersembunyi dari pantauan satelit, sebuah markas bawah tanah milik sisa-sisa Konsorsium Blackwood sedang berdenyut dengan aktivitas yang mengerikan. Di sebuah ruangan laboratorium yang didominasi cahaya ungu neon, seorang pria misterius mengenakan topeng perak duduk di depan puluhan layar monitor.
Di salah satu layar, profil Andra terpampang besar. Namun, profil itu bukan berisi data biografi biasa. Layar itu menampilkan grafik gelombang otak Andra dan pancaran energi aneh yang keluar dari otaknya—energi dari "Sistem".
"Dia bergerak terlalu cepat," ucap pria bertopeng perak itu. Suaranya telah dimodifikasi secara digital, terdengar seperti suara mesin yang tidak memiliki emosi. "Sistem yang tertanam di otaknya... itu bukan hasil rekayasa manusia saat ini. Itu adalah 'Benih' yang seharusnya belum boleh mekar secepat ini."
Di sudut ruangan, dua sosok manusia terikat di kursi besi. Mereka adalah Erwin dan Siska. Kondisi mereka sangat mengenaskan. Erwin hanya mengenakan kaus kutang yang sudah berubah warna menjadi abu-abu karena debu ledakan motel, sementara Siska tampak hancur secara mental, matanya kosong menatap lantai laboratorium yang dingin.
Seorang ilmuwan dengan jubah putih bersih mendekat ke arah Erwin. Di tangannya terdapat sebuah tabung suntik berisi cairan kental berwarna ungu gelap yang tampak bercahaya, seolah-olah cairan itu hidup dan bernapas.
"Tuan... tolong lepaskan kami... kami tidak tahu apa-apa tentang Andra..." ratap Erwin dengan suara serak. "Ambil saja apa yang kalian mau, tapi jangan bunuh kami..."
Pria bertopeng perak itu berdiri dan berjalan mendekati Erwin. Ia mencengkeram rahang Erwin dengan kekuatan yang luar biasa. "Kami tidak butuh informasi darimu, Erwin. Kami tahu Andra telah menghancurkanmu hingga tak bersisa. Kami tahu kamu membencinya lebih dari apa pun di dunia ini. Bukankah begitu?"
Erwin terdiam. Ketakutannya perlahan mulai bercampur dengan api dendam yang membara setiap kali nama Andra disebut. "I-iya... aku ingin dia mati... aku ingin dia merasakan apa yang aku rasakan..."
"Bagus. Kebencian adalah bahan bakar terbaik untuk evolusi," bisik pria bertopeng itu. "Kami akan memberikanmu kekuatan untuk merobek jantung pria itu dengan tanganmu sendiri. Kami akan mengubahmu menjadi senjata yang bahkan satelit miliknya pun tidak akan bisa mendeteksi."
Tanpa peringatan, ilmuwan di sampingnya menusukkan jarum suntik itu langsung ke pembuluh darah di leher Erwin.
ARGHTTTTTTTTT!
Erwin menjerit dengan suara yang tidak lagi terdengar seperti manusia. Tubuhnya melengkung, tulang-tulangnya mulai berderak dan memanjang secara tidak alami. Otot-ototnya membengkak hingga merobek kaus tipis yang ia kenakan. Kulitnya berubah warna menjadi pucat kebiruan dengan urat-urat menonjol yang berwarna ungu gelap.
Di layar monitor medis, grafik jantung Erwin melonjak hingga batas yang mustahil bagi manusia biasa. Ia bukan lagi Erwin sang pengusaha sombong. Ia sedang diubah menjadi "Unit Pemangsa" (Predator Unit), sebuah eksperimen biologis yang dirancang khusus untuk memburu pemilik Sistem.
Siska hanya bisa menjerit histeris hingga suaranya hilang, melihat pria yang dulu pernah ia cintai berubah menjadi monster mengerikan di depan matanya. Ia menyadari bahwa dendam Andra sebelumnya hanyalah permainan anak kecil dibandingkan dengan apa yang sedang dipersiapkan oleh organisasi misterius ini.
Kembali ke jet pribadi Andra yang sedang membelah angkasa menuju Kalimantan. Andra duduk di ruang kerjanya, menatap keluar jendela pada hamparan awan. Sistem di otaknya kembali memberikan notifikasi, tapi kali ini dengan nada yang berbeda—lebih mirip seperti sebuah bisikan.
[Ding! Deteksi Ancaman Tak Terduga.] [Koneksi Sistem Sedang Dipantau oleh Pihak Luar.] [Saran: Tingkatkan Keamanan Biometrik Inang. Musuh Baru Mengincar Inti Sistem.]
Andra mengepalkan tangannya di atas meja jati kuno itu. Ia menyadari bahwa kemenangan-kemenangan sebelumnya atas Erwin, Siska, bahkan para miliarder di Swiss, hanyalah sebuah ujian kelayakan. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.
"Tuan," Sang Jagal masuk membawa sebuah tablet militer. "Kita baru saja mendeteksi sinyal frekuensi tinggi yang keluar dari arah Jakarta, tepat dari koordinat motel yang meledak tempo hari. Sinyalnya sangat aneh, menyerupai pola detak jantung manusia namun dengan frekuensi mesin."
Andra mengambil tablet itu dan melihat grafiknya. Matanya menyipit. "Erwin..." gumamnya pelan.
"Maksud Anda?"
"Mereka menggunakan sampah yang kubuang untuk menyerangku balik," ucap Andra dengan nada dingin yang mematikan. "Jagal, persiapkan Unit Protokol Pemusnah. Jika Erwin benar-benar kembali sebagai monster, maka aku akan memastikan dia mati sebagai bangkai eksperimen yang terlupakan."
Andra berdiri, menatap bayangannya di kaca pesawat. Di dalam matanya yang hitam, tampak kilatan cahaya emas dari sistem yang semakin terang.
"Kalian ingin bermain dengan Tuhan?" bisik Andra pada kegelapan di luar sana. "Maka aku akan tunjukkan bagaimana Tuhan menghancurkan ciptaan yang gagal."
Jet pribadi itu terus melaju, membawa Andra menuju jantung hutan Kalimantan, di mana konspirasi kuno dan teknologi masa depan akan bertemu dalam sebuah pertempuran yang akan menentukan nasib umat manusia. Dan di sana, di balik rimbunnya pepohonan, sesuatu yang jauh lebih tua dari uang sedang menunggu kedatangannya.