Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.
Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.
Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Setelah berjalan hampir setengah jam, telinga Li Zhen menangkap sebuah suara kepakan sayap berat yang bercampur dengan suara kokokan merdu. Suara kokokan itu terdengar berwibawa layaknya nyanyian bidadari, namun memiliki ritme yang sangat identik dengan ayam jantan di desa.
Langkahnya langsung dipercepat, menerobos semak-semak daun perak yang menggores jubah kasarnya hingga semakin robek di beberapa bagian. Perutnya bergemuruh liar, membayangkan hidangan ayam panggang lezat yang menari-nari di pelupuk matanya yang lelah.
Di balik semak-semak raksasa itu, terbentang sebuah padang rumput biru yang dipagari oleh pilar-pilar batu giok berukir naga. Di dalam pagar tersebut, ratusan ekor burung raksasa seukuran tubuh balita sedang berjalan mondar-mandir dengan gaya yang sangat angkuh.
Burung-burung itu memiliki bentuk persis seperti ayam jantan, namun bulu mereka memancarkan tujuh warna pelangi yang sangat menyilaukan mata. Di atas kepala mereka bertengger mahkota dari kristal merah darah, menunjukkan bahwa mereka adalah unggas spiritual berdarah bangsawan murni.
Ini adalah Peternakan Ayam Spiritual Ekor Pelangi, sumber protein tingkat tinggi yang biasanya hanya disajikan untuk Kepala Sekte saat perayaan besar. Li Zhen menelan ludah dengan susah payah, matanya berbinar terang menatap lautan bahan makanan premium yang berkeliaran bebas di depannya.
Dia melangkah mendekati pagar energi gaib yang memisahkan padang rumput itu dengan area luar, menyilangkan tangannya di dada dengan senyum penuh arti. Layar biru neon sistem seketika berkedip-kedip dengan agresif, memindai kerumunan unggas legendaris tersebut secara massal.
[Target: Ayam Spiritual Ekor Pelangi (Hewan Spiritual Tingkat 4). Kelemahan Mental: Mereka merasa sangat tidak aman dengan berat badan mereka yang berlebih. Mereka selalu mengira diri mereka adalah keturunan Phoenix, namun frustrasi karena tubuh gemuk mereka membuat mereka tidak bisa terbang tinggi.]
Li Zhen mengusap dagunya perlahan, kekehan jahat keluar dari sela-sela bibirnya saat dia menemukan cara yang sempurna untuk berburu malam ini. Dia tidak perlu menggunakan senjata tajam atau perangkap rumit, dia hanya membutuhkan lidahnya yang setajam belati untuk melumpuhkan mangsanya.
Dia sengaja menendang pilar batu giok di dekatnya dengan keras, menciptakan suara benturan nyaring yang langsung menarik perhatian ratusan unggas tersebut. Ayam-ayam pelangi itu menghentikan langkah angkuh mereka secara serempak, menoleh ke arah Li Zhen dengan tatapan mata yang penuh kesombongan.
Beberapa ayam jago raksasa membusungkan dada mereka ke depan, memamerkan kilau bulu tujuh warna mereka di bawah cahaya bulan purnama. Mereka mengepakkan sayap mereka yang lebar, bersiap mengeluarkan aura intimidasi spiritual untuk mengusir pemuda gembel di luar pagar.
"Wah, wah, lihatlah sekumpulan bola-bola lemak warna-warni yang sedang mencoba terlihat menakutkan ini," teriak Li Zhen dengan suara yang sangat lantang dan mengejek. Dia menunjuk ke arah sekumpulan ayam jago yang membusungkan dada itu dengan jari telunjuknya, tawanya menggelegar ke seluruh penjuru peternakan.
Ayam-ayam spiritual itu membeku di tempat, kokokan ancaman mereka tertahan di tenggorokan saat mendengar kata 'bola lemak' yang sangat menyinggung. Mata bulat mereka melebarkan pandangan, saling menatap satu sama lain dengan raut kebingungan yang sangat kentara.
"Kalian membusungkan dada seperti itu berharap terlihat seperti Phoenix yang agung? Yang kulihat hanyalah sekelompok burung unta cacat yang makan terlalu banyak biji-bijian," serang Li Zhen tanpa henti.
Bulu-bulu pelangi yang tadinya berkilauan indah itu mendadak meredup pucat, kehilangan aura spiritualnya seiring dengan anjloknya rasa percaya diri mereka. Beberapa ayam betina bahkan mulai mencoba menyembunyikan perut bulat mereka di balik sayap teman di sebelahnya dengan panik.
"Jangan bermimpi bisa terbang melintasi awan, dengan perut segemuk itu, melompat melewati pagar batu ini saja kalian pasti akan jatuh berguling-guling seperti bola daging," tambah Li Zhen semakin kejam.
Kata-kata itu menghantam luka terdalam di hati kawanan unggas legendaris tersebut, menghancurkan fantasi mereka sebagai keturunan dewa dalam sekejap mata. Suara isakan pelan mulai terdengar bersahut-sahutan, ratusan ayam spiritual itu menundukkan kepala mereka dalam-dalam hingga mahkota kristalnya menyentuh tanah.
Mereka berdesak-desakan mundur ke sudut peternakan, menyembunyikan wajah mereka di balik sayap karena rasa malu yang benar-benar tidak tertahankan. Dao Heart kawanan unggas itu hancur berjamaah, membuat mereka lemas tak berdaya layaknya ayam potong biasa yang siap disembelih.
[Ding! Target Massal Ayam Spiritual Ekor Pelangi mengalami kehancuran harga diri tingkat ekstrim. Mendapatkan +2.500 Poin Sampah.]
Li Zhen tersenyum sangat lebar, dengan santai memanjat pagar batu giok itu dan melompat masuk ke dalam area padang rumput biru. Dia berjalan tegap menuju sudut peternakan, memilih dua ekor ayam jago yang paling gemuk, lalu menenteng kedua kakinya terbalik tanpa ada perlawanan sedikit pun.
"Sekarang aku sudah punya bahan utamanya, yang aku butuhkan hanyalah api yang cukup panas untuk memanggang lemak tebal kalian," gumam Li Zhen sambil menimbang kedua ayam itu. Dia berbalik untuk keluar dari peternakan, namun langkahnya terhenti secara tiba-tiba oleh sebuah getaran hebat dari arah belakang bebatuan raksasa.
Sebuah geraman rendah yang sangat berat bergema di seluruh lembah, memicu aura membunuh yang langsung membuat suhu udara merosot tajam. Dari balik bebatuan pualam, muncul seekor anjing serigala berukuran raksasa setara beruang dewasa dengan bulu hitam legam yang mengeluarkan percikan api biru.
Binatang buas itu adalah Anjing Petir Ekor Tiga, sang penjaga utama peternakan yang ditugaskan khusus oleh sekte untuk mencabik-cabik para pencuri. Tiga ekornya yang panjang dan berduri berayun liar di udara, setiap ayunannya menciptakan suara lecutan petir yang sangat mengerikan.
Mata kuningnya menyala buas dalam kegelapan, menatap Li Zhen lekat-lekat sementara air liur yang menetes dari rahangnya langsung menghanguskan rumput di bawahnya. Hewan itu merendahkan tubuh depannya, mengumpulkan energi petir di dalam mulutnya untuk mengubah penyusup kurus ini menjadi abu hitam.
Namun, Li Zhen tidak mundur selangkah pun apalagi menjatuhkan ayam di tangannya, dia justru mendesah lelah dan memutar bola matanya dengan malas. Sistem Pembicara Sampah Surgawi dengan sigap memunculkan layar analisis tepat di atas kepala monster anjing berkepala tiga tersebut.
[Target: Anjing Petir Ekor Tiga (Binatang Buas Penjaga Tingkat 5). Kelemahan Mental: Sangat membenci ketiga ekornya karena selalu menyangkut di pepohonan dan membuatnya sering tersandung saat berlari, ia merasa dirinya sangat ceroboh dan tidak keren.]
Membaca informasi berharga itu, urat ketakutan yang sempat muncul di leher Li Zhen langsung memudar digantikan oleh seringai kemenangan. Dia berkacak pinggang dengan satu tangan, menatap anjing raksasa itu seolah-olah dia sedang melihat seekor anak anjing kampung yang kotor.
"Kau menggeram sekeras itu hanya untuk menutupi fakta bahwa kau tidak bisa berlari lurus tanpa tersandung ekormu sendiri, kan?" teriak Li Zhen memecah ketegangan. Percikan api biru di mulut monster itu mendadak padam seketika, matanya yang buas mengerjap cepat menunjukkan kebingungan yang luar biasa.
"Tiga ekor sama sekali tidak membuatmu terlihat berbahaya, itu hanya membuat pantatmu terlihat sangat sibuk dan berantakan," ejek Li Zhen tanpa kenal takut. "Aku berani bertaruh, setiap kali kau mencoba mengejar musuh, ekor ketigamu pasti tersangkut di dahan pohon dan membuatmu jatuh terjungkal dengan menyedihkan."
Anjing Petir Ekor Tiga itu membeku, geramannya tertahan di pangkal tenggorokan seiring dengan hilangnya seluruh niat membunuh dari matanya. Telinganya yang tadinya berdiri tegak kini turun layu menempel pada tengkoraknya, menunjukkan rasa tidak aman yang selama ini dia sembunyikan.
Hewan buas itu menoleh ke belakang, menatap ketiga ekornya sendiri dengan pandangan penuh penyesalan dan kebencian yang mendalam. Ia kemudian menjatuhkan tubuh raksasanya ke tanah, menyembunyikan hidungnya di balik kedua kaki depannya sambil mengeluarkan suara rengekan pelan yang sangat memelas.
[Ding! Target Anjing Petir Ekor Tiga mengalami depresi anatomis. Mendapatkan +1.800 Poin Sampah.]
Li Zhen berjalan mendekati monster yang sedang menangis itu, lalu menendang pelan kaki depannya dengan ujung sepatu bolongnya. "Berhenti menangis seperti anak anjing yang kehilangan tulang, bangun dan ikut aku kembali ke gubuk," perintah Li Zhen dengan nada otoriter.
Anjing raksasa itu mendongak perlahan, menatap Li Zhen dengan mata kuningnya yang basah oleh air mata, seakan menunggu perintah selanjutnya. "Aku butuh api biru milikmu itu untuk memanggang ayam-ayam gemuk ini, jadi kau akan menjadi kompor pribadiku malam ini," tambah pemuda itu.
Binatang buas legendaris yang ditakuti ribuan murid sekte itu hanya bisa mengangguk pelan, merangkak bangkit dengan sisa-sisa harga diri yang hancur berantakan. Li Zhen tersenyum puas, melangkah keluar dari peternakan malam itu dengan dua ayam raksasa di tangan dan seekor monster petir yang berjalan mengekor di belakangnya bagai hewan peliharaan penurut.