Aku adalah Raka. Seorang Pebisnis yang telah mapan sebelum usia kepala tiga. Aku mempunyai kekasih seorang janda beranak satu, hubunganku di tentang oleh mama dengan alasan perbedaan pandangan adat dan statusnya.
Aku dijodohkan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenal. Akankah mama berhasil menjdohkanku atau mama akan luluh dengan pilihanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Cincin Di jari Yang Tak Kupilih
“Malam penantian panjang ya, Bang?” goda Kania di sebelahku. Aku mencubit pinggangnya, tapi ia cukup gesit menghindar.
“Bang, lihat Kak Laras. Laki-laki mana yang tak akan tergoda oleh pesonanya,” bisiknya sekali lagi, lalu menjauh mendekati Mama.
Aku menatap perempuan di antara rombongan tamu itu. Ia mengenakan kebaya berwarna emas metalik yang membalut tubuhnya dengan anggun, memantulkan cahaya lampu malam di halaman rumah. Senyum tipis di bibirnya merekah indah—tenang, nyaris terlalu tenang.
Malam ini, ia jauh lebih cantik dibanding pertemuan singkat kami di atas pesawat.
“Hm, ada yang kesemsem nih,” Radi ikut menyenggolku. Namun tatapanku tetap tertambat pada Laras.
Sebaliknya, ia tak menoleh ke arahku. Pandangannya tertunduk sopan, sebagaimana adat mengajarkan. Namun senyum itu—entah kenapa—terasa seperti sedang disuguhkan khusus untuk seseorang. Bukan untukku. Atau justru… terlalu jelas bahwa itu memang untukku.
Di sekelilingnya, suara petatah-petitih adat mulai mengalun. Kalimat-kalimat berlapik yang tak pernah menyebut namaku, tapi jelas membicarakan masa depanku dan perempuan itu.
Aku duduk kaku di sisi Mama, tangan mengepal di atas lutut. Malam terasa semakin sempit. Lampu-lampu gantung di halaman rumah seolah menyorotku seorang diri.
Perempuan itu masih tak menoleh.
Dan entah kenapa, sikapnya yang tenang justru membuat dadaku terasa ditekan pelan.
“Bang, boleh nggak aku periksa denyut nadinya pelan-pelan?” bisik Kania sangat pelan dari sebelah Mama. Aku tak membalas, hanya mendelik tajam ke arahnya. Ia tertawa kecil sambil mengerlingku.
Malam ini banyak keluarga datang ke rumahku bukan untuk bertamu, melainkan menimbang tanda. Sebuah ikatan pengikat antara aku dan gadis asing yang Mama panggil Laras.
Setelah perbincangan panjang para niniak mamak dan ketua adat, suasana mencapai titik hening yang berat. Kata-kata diputar dengan adat, disepakati dengan anggukan pelan.
Malam ini bukan angka yang ditentukan, melainkan janji. Tentang penjemputan yang kelak akan dilakukan, tentang tanggung jawab yang akan berpindah tangan.
Bajapuik belum terjadi.
Namun arah hidupku sudah ditunjuk—jelas, tanpa bisa kutarik kembali.
“Bagaimana, Raka, sudah siap?”
Sapaan Mak Uniang, ketua suku kami, membuatku mematung cukup lama.
Aku melirik sekilas pada sosok perempuan itu. Untuk kedua kalinya, ia menatapku. Dadaku bergetar hebat, ada perasaan asing yang tiba-tiba mengusik.
Bukan penolakan.
Tapi juga bukan kesiapan.
“Raka, jawab.” Papa menyenggol bahuku.
Di depan puluhan orang ini, aku terasa bagai tersangka yang sedang diadili. Semua pasang mata tertuju padaku, membuat dadaku semakin sesak.
“Bagaimana, Raka? Apakah timbang tanda bisa dimulai?”
Aku menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian yang bahkan aku tak tahu datang dari mana.
“Ya, aku siap.”
Kalimat itu keluar lebih mantap dari yang kurasakan. Satu-satunya harapanku hanya satu—agar semua ini segera selesai, dan aku bisa pergi dari kerumunan yang menyesakkan ini.
Para tetua mulai mengeluarkan bawaan dari pihak perempuan. Hingga sebuah kotak kecil berisi cincin disodorkan kepadaku.
Bisik-bisik halus terdengar di antara para tamu. Telapak tanganku mulai basah. Keringat dingin merembes pelan di pelipis.
Saat perempuan itu diminta maju ke tengah, aku pun diarahkan melakukan hal yang sama.
Kini kami duduk berhadapan di tengah kerumunan, saling menatap dalam diam yang terasa canggung dan berat.
Aku melirik ke arahnya. Ia menyunggingkan senyum tipis—tenang, nyaris membuatku lupa bernapas sejenak. Ada sesuatu dari sorot matanya yang mengusik, berbeda dari perempuan-perempuan yang pernah singgah dalam hidupku.
“Boleh dimulai, Raka. Saling tukar cincinnya.”
Suara itu membuatku tersentak. Aku mengangguk pelan, lalu membuka kotak kecil di tanganku.
“Ayo, Raka. Nggak usah gugup,” ujar Buk Tia, tetangga Mama.
“Sebentar lagi sudah resmi, Raka,” kelakar ibu-ibu lain yang ikut datang malam ini.
Cincin itu dingin ketika kusentuh. Wanita itu mengangkat tangan kanannya, menyodorkan jari-jarinya kepadaku. Tanganku terasa ditimpa beban berton-ton. Bukan karena beratnya, tapi karena maknanya.
Ada canggung dan rasa asing. Sebab kami memang belum pernah saling mengenal.
“Ayo, Raka,” suara Mama kembali menegurku.
Jemarinya putih dan ramping, terbuka di hadapanku tanpa ragu. Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang menyerahkan masa depannya pada lelaki asing. Aku menatap tangan itu beberapa detik terlalu lama, seolah sedang mencari alasan untuk menunda.
Dalam kepalaku muncul bayangan lain—tangan yang pernah kugenggam tanpa adat, tanpa saksi, tanpa beban. Tangan yang kupilih sendiri. Dan malam ini, aku justru diminta memilih yang sebaliknya.
Cincin di tanganku terasa semakin berat. Bukan karena emasnya, tapi karena makna yang diselipkan orang-orang di sekelilingku. Janji. Tanggung jawab. Nama baik keluarga. Semua dititipkan pada satu gerakan sederhana: menyarungkan cincin ke jari kanan perempuan ini.
Aku sadar, begitu cincin ini terpasang, tak ada lagi ruang untuk mundur. Tidak sepenuhnya milik siapa pun—tapi juga bukan lagi milikku sendiri.
Kukumpulkan kekuatan dan kubaca doa diam-diam dalam hati. Dengan napas yang tak lagi terkontrol, akhirnya aku berhasil menyarungkan cincin ke jari indah perempuan itu.
Jantungku berdetak lebih cepat. Mata indah itu menoleh kepadaku, melukis lengkungan halus di bibirnya. Aku membalasnya sekadarnya. Wajahku mengeras sebelum pikiranku sempat menyusul.
Tangan lembut itu menyentuh punggung tanganku. Darahku berdesir hebat. Aku mendelik sejenak, dan ia pun membalas tatapanku. Lagi-lagi aku mati kutu dibuatnya.
“Saya Laras, Bang,” ucapnya saat ia menyelipkan cincin di jari manisku.
“Pasti kamu sudah tahu nama Abang?” balasku, berusaha terdengar jantan. Padahal aku benar-benar gugup.
“Iya, Mama Abang sudah cerita banyak,” jawabnya. Ternyata ia tak sedingin kesan awal.
“Aku tahu, Bang, ini bukan pilihanmu. Tapi tolong beri aku kesempatan untuk mengabdi dalam hidup Abang.”
Kali ini ia menunduk. Ucapannya seolah membaca isi pikiranku. Terasa tertampar—tidak berbekas, tapi menyakitkan.
Untuk pertama kalinya malam ini, aku sadar: perempuan ini datang dengan niat utuh.
Bukan karena paksaan.
Bukan karena takut menolak.
Ia datang karena memilih.
Dan justru itu yang membuat dadaku terasa sesak.
Laras bukan perempuan setengah-setengah. Jika ia menyerahkan diri, maka seluruh hidupnya akan ia bawa—kesetiaan, kesabaran, bahkan luka. Sementara aku… bahkan belum sepenuhnya selesai dengan masa laluku sendiri.
Cincin di jariku terasa mengikat lebih kuat dari seharusnya. Bukan sebagai janji cinta, melainkan pengingat bahwa mulai malam ini, setiap langkahku tak lagi bisa sembarangan.
Bayangan wajah lain menyelinap ke benakku. Ningsih.
Aku tahu, perempuan itu tak akan tinggal diam. Tidak setelah aku pergi tanpa benar-benar memberi penjelasan.
Napasku terasa berat.
Laras datang dengan ketulusan.
Sementara aku… datang dengan ketakutan.
“Maafkan Abang, Laras,” ucapku akhirnya. “Abang belum sepenuhnya siap. Tapi Abang akan belajar menerimamu.”
Kata-kata itu terdengar pengecut.
Namun setidaknya, untuk pertama kalinya malam ini, aku memilih jujur—pada Laras, dan pada diriku sendiri.