NovelToon NovelToon
Checkmate,Papa! : Strategi Sikembar Penguasa Bayangan

Checkmate,Papa! : Strategi Sikembar Penguasa Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: REBRANDING SANG KOBRA

​POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)

​Lantai marmer lobi utama Vipera Tower pagi ini memantulkan cahaya dari ratusan lampu flash kamera wartawan, menciptakan kilauan yang nyaris membutakan. Melalui lensa kacamata augmented reality yang kusandarkan di pangkal hidung kecilku, aku tidak melihat kerumunan manusia; aku melihat ribuan variabel yang bergerak dalam pola yang sudah kuprediksi.

​"Papa, detak jantung Papa naik 5 bpm dari batas normal. Tenangkan sarafmu. Jas Tom Ford itu terlalu mahal untuk dikotori oleh keringat kecemasan," ucapku datar melalui saluran radio internal yang tersambung ke anting-anting Damian.

​Aku duduk di ruang kendali tersembunyi, tepat di balik layar proyektor raksasa aula. Di depanku, enam monitor menampilkan arus data pasar modal, profil tamu undangan, dan rekaman CCTV dari setiap sudut gedung. Jemariku menari di atas keyboard mekanik, melakukan sinkronisasi terakhir pada 'Kuda Troya' yang sudah kutanam di dalam sistem presentasi.

​"Aku bukan cemas, Leo. Aku hanya tidak sabar ingin melihat wajah Selina saat dia menyadari bahwa dia tidak lagi memiliki akses ke server mana pun di gedung ini," suara Damian terdengar berat dan penuh wibawa melalui earpiece.

​"Fokuslah pada naskahmu, Papa. Ingat, hari ini Papa bukan lagi 'Vipera'. Papa adalah CEO dari Vipera Corp. Simpan taringmu untuk nanti, gunakan senyum diplomatikmu sekarang," instruksiku, mataku terpaku pada titik merah di monitor—Selina baru saja memasuki gedung melalui pintu belakang, dikawal oleh dua agen bayaran klan pusat.

​“Kak, target sosial terdeteksi. Nenek Catherine mengenakan setelan Chanel biru tua, berdiri di sudut VIP. Dia sedang mencoba memprovokasi para pemegang saham lama. Dia sedang menanam benih ketidakpercayaan terhadap legitimasi Papa sebagai pemimpin bisnis,” suara Lea berdesir di benakku melalui Shadow Talk.

​“Biarkan dia menanam benihnya, Lea. Aku sudah menyiapkan 'pestisida' digital. Begitu dia mulai bicara, aku akan merilis data penggelapan pajaknya di London ke semua ponsel tamu di ruangan ini. Pastikan Mama tetap di samping Papa, jadikan dia 'Perisai Moral' terkuat kita,” balasku.

​Aku menekan tombol 'Execute'. Logo lama Vipera yang berbentuk kobra melingkar di layar raksasa perlahan memudar, digantikan oleh logo baru yang kurancang sendiri: sebuah garis geometris minimalis yang tetap membentuk kepala ular, namun tampak sangat modern, elegan, dan... legal.

​Pukul 10.00 tepat. Simfoni kehancuran—atau kebangkitan—baru saja dimulai.

​POV: DAMIAN XAVIER

​Aku melangkah keluar dari balik tirai panggung, disambut oleh gemuruh tepuk tangan yang memekakkan telinga. Di depanku, ribuan mata menatap—dari pejabat pemerintahan, konglomerat, hingga musuh-musuh terselubung yang menunggu aku terpeleset.

​Biasanya, di saat seperti ini, aku akan meraba pistol di balik jas. Namun sekarang, yang kurasakan hanyalah genggaman tangan Qinanti yang lembut di lenganku. Dia berdiri di sampingku dengan gaun sutra berwarna putih tulang, tampak seperti malaikat yang berdiri di samping iblis.

​"Kau bisa melakukannya, Damian," bisik Qinanti lirih.

​Aku mengangguk, lalu berdiri di depan podium. Aku melirik ke arah kursi VIP terdepan. Alexander Xavier, ayahku, duduk di sana dengan wajah kaku. Di sampingnya, Selina berdiri dengan tablet di tangan, menatapku dengan seringai kemenangan yang prematur. Aku tahu apa yang dia rencanakan. Dia ingin memutar video rekaman transaksi senjata gelapku di Dermaga 09 saat presentasi dimulai.

​"Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya," suaraku bergema di seluruh aula, jernih dan penuh otoritas. "Selama puluhan tahun, nama Xavier dikaitkan dengan bayang-bayang. Namun hari ini, bayang-bayang itu secara resmi kita hapus. Vipera Corp hadir sebagai pilar baru industri teknologi dan logistik nasional."

​Aku menekan kontroler di tanganku. Layar di belakangku mulai menampilkan grafik pertumbuhan dan visi perusahaan.

​Tepat saat itu, aku melihat Selina menekan sesuatu di tabletnya. Wajahnya menegang saat layar raksasa itu berkedip sejenak. Aku bisa membayangkan apa yang dia harapkan: video kriminalitas yang akan menghancurkan reputasiku dalam sekejap.

​Namun, yang muncul di layar bukanlah video senjata.

​Itu adalah rekaman audio dan visual percakapan Selina dengan Alexander Xavier di ruang pribadi kemarin sore.

​"Tuan Alexander, saya sudah memindahkan 40% aset Vipera ke akun pribadi Anda di London. Begitu Damian dipermalukan di pameran ini, Anda bisa mengambil alih kendali penuh dan menjadikannya boneka."

​Suasana aula mendadak menjadi sangat sunyi. Begitu sunyi hingga suara napas Selina yang terengah-engah bisa terdengar lewat mikrofon yang (entah bagaimana) sudah diretas oleh Leo agar menangkap suaranya.

​"Anomali terdeteksi di server kami," ucapku dengan nada yang dibuat sedingin mungkin, menatap Selina lurus ke mata. "Nampaknya ada karyawan senior yang mencoba melakukan sabotase... dan pencurian aset massal."

​Aku melihat Alexander Xavier berdiri dengan wajah merah padam, sementara Selina menjatuhkan tabletnya ke lantai.

​POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)

​Aku berdiri di lantai balkon, memegang keranjang bunga kecil sebagai bagian dari 'hiasan' acara. Dari sini, aku bisa melihat segalanya. Wajah Selina? Total Collapse. Pupil matanya melebar, tangannya gemetar hebat, dan dia sedang mencari jalan keluar tercepat.

​Analisis: Selina sedang mengalami serangan panik. Dia tidak lagi menjadi ancaman intelektual.

​Namun, fokusku beralih ke Nenek Catherine. Dia mencoba menyelinap pergi melalui pintu samping saat semua orang terfokus pada skandal Alexander.

​“Kak, Nenek mencoba kabur. Dia membawa dokumen fisik di tasnya—mungkin itu adalah surat wasiat palsu yang sering dia banggakan. Aku akan mencegatnya di koridor B,” lapor kuku lewat pikiran.

​“Jangan gunakan kekerasan, Lea. Gunakan 'The Social Guillotine',” balas Leo.

​Aku berlari kecil menyusuri koridor, gaun putihku berkibar. Aku memotong jalan dan berdiri tepat di depan Catherine Xavier yang sedang terburu-buru.

​"Nenek, mau ke mana? Acaranya baru saja mulai!" seruku dengan suara anak kecil yang paling nyaring, sengaja menarik perhatian beberapa wartawan yang sedang berjaga di koridor.

​Catherine menatapku dengan kebencian murni. "Minggir, anak haram! Aku tidak punya waktu untukmu!"

​Aku tersenyum manis, senyum yang membuat Catherine membeku. "Nenek, tas itu... kenapa ada logo bank Swiss yang sudah dibekukan oleh polisi internasional tadi pagi? Leo bilang, Nenek baru saja kehilangan seluruh tabungan masa tua Nenek karena mencoba menyuap dewan direksi Vipera. Sangat malang, ya?"

​Beberapa wartawan mulai mendekat, kamera mereka mulai membidik Catherine.

​"Apa benar Anda mencoba melakukan suap, Nyonya Xavier?!" tanya salah satu wartawan.

​Catherine menutupi wajahnya dengan tas, namun aku sudah berhasil menarik satu dokumen dari tasnya saat dia lengah. Aku mengangkat dokumen itu tinggi-tinggi. "Wah, lihat! Ini surat kontrak Selina! Mama, Papa, lihat apa yang kutemukan!"

​Kekuasaan domestik Catherine hancur dalam sekejap. Dia bukan lagi ratu sosial yang dihormati; dia hanyalah seorang wanita tua yang tertangkap basah sedang berkonspirasi melawan anaknya sendiri.

​POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)

​Di monitor, aku melihat unit 'Ghost' yang menyamar sebagai petugas keamanan mulai meringkus Selina dan para agen bayarannya dengan sangat tenang di tengah aula. Polisi yang sudah kuberi 'umpan' data korupsi Selina sejam yang lalu juga sudah masuk ke gedung.

​Skakmat yang sangat bersih.

​Aku memutar kursi, menatap ke arah panggung di monitor. Papa sedang menggenggam tangan Mama, mereka berdiri tegak di tengah sorotan lampu. Citra Vipera Corp baru saja disemen dengan darah para pengkhianatnya sendiri. Di mata publik, Damian adalah korban dari konspirasi internal yang berani melakukan pembersihan demi integritas perusahaan.

​Brilian. Strategi ini meningkatkan nilai saham potensial kita sebesar 200% bahkan sebelum pameran berakhir.

​Aku menutup tabletku, merapikan jas miniku, dan melangkah keluar dari ruang kendali. Aku butuh udara segar, dan mungkin... aku butuh melihat wajah Papa secara langsung.

​Saat aku sampai di aula, kerumunan mulai mencair. Polisi membawa Selina pergi. Alexander Xavier duduk tertunduk di kursinya, ditinggalkan oleh semua relasinya. Kekuasaan Orde Lama sudah resmi berakhir.

​Aku berjalan menuju Papa dan Mama. Damian melihatku, dia berlutut dan merentangkan tangannya. Aku membiarkannya menggendongku—meski jiwaku yang berumur puluhan tahun ini merasa sedikit konyol.

​"Kerja bagus, Jenderal," bisik Damian di telingaku.

​"Skor eksekusi: 92/100, Papa. Papa sedikit terlambat saat menyebutkan poin merger tadi," jawabku datar, namun aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menyandarkan kepalaku di bahunya. Tubuh anak delapan tahun ini benar-benar lelah setelah melakukan peperangan digital.

​Lea datang berlari, melompat ke pelukan Mama. "Mama hebat sekali tadi! Semua orang bilang Mama adalah Ratu Vipera yang sebenarnya!"

​Qinanti mencium pipi Lea, matanya berkaca-kaca karena lega. "Kita pulang sekarang? Mama lelah dengan semua lampu ini."

​"Ya, kita pulang," ucap Damian tegas. Dia menatap seluruh aula, lalu menatap kami semua. "Ke rumah kita."

​Saat kami berjalan keluar dari Vipera Tower, melewati barisan wartawan yang kini menatap kami dengan rasa hormat yang baru, aku menatap ke langit Jakarta yang mulai gelap. Fase 2 telah mencapai puncaknya. Vipera telah berganti kulit.

​Namun, di sudut monitor di kepalaku, sebuah peringatan baru muncul. Baron. Dia masih bersembunyi di lubangnya, merencanakan sesuatu yang jauh lebih fisik daripada sekadar sabotase data.

​"Lea," bisikku lewat Shadow Talk.

​"Aku tahu, Kak. Baron sedang mengumpulkan tentara bayaran di perbatasan. Dia tahu dia tidak bisa menang secara intelektual, jadi dia akan menggunakan cara terakhirnya: kekuatan militer murni," balas Lea, matanya yang imut kini menatap tajam ke arah kegelapan malam.

​Aku menyeringai tipis. "Bagus. Aku sudah bosan dengan papan catur korporasi. Saatnya menunjukkan pada Baron bagaimana seorang Marsekal Perang sesungguhnya memimpin sebuah pengepungan."

​Kami masuk ke dalam mobil SUV hitam antipeluru. Pintu tertutup rapat, mengunci suara bising dunia luar. Di dalam sini, hanya ada kami. Sebuah keluarga yang aneh, berbahaya, namun tak terpatahkan.

​"Checkmate, Papa," bisikku saat mobil mulai melaju.

​Damian tertawa, merangkul kami erat. "Ya, Leo. Untuk hari ini, kau pemenangnya."

​Malam itu, di bawah bayang-bayang gedung pencakar langit Jakarta, sang Kobra tidak lagi bersembunyi. Ia telah bertransformasi menjadi naga yang siap menelan siapa pun yang berani mengusik sarangnya.

1
Xenovia_Putri
.ceritanya bagus tpi sayang.q pov char bukan pov author... sorry skipp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!