Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.
Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.
Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Udara di koridor SMA Tunas Bangsa terasa lebih berat dari biasanya bagi Arga Baskara. Suara riuh rendah siswa yang berlarian menuju kantin atau sekadar mengobrol di depan kelas hanya terdengar seperti dengungan samar di telinganya. Arga masih bergeming di kursinya, pojok paling belakang kelas sebelas mipa satu, tempat yang menurutnya paling aman untuk mengamati dunia tanpa perlu menjadi bagian dari keramaian itu sendiri.
Pandangannya tertuju pada punggung seorang gadis yang duduk tiga baris di depannya. Nala Anindita. Nama itu telah bersemayam di kepala Arga selama delapan tahun, menjadi sebuah jangkar yang menahannya untuk tidak berpaling ke mana pun. Namun, kenyataan yang ia hadapi sejak pagi tadi terasa seperti hantaman keras yang belum juga mereda. Nala telah kembali, tetapi ia membawa versi dirinya yang sama sekali baru, versi yang tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk memori masa kecil mereka di permukiman pinggiran kota Sinduraya.
Arga, kamu tidak mau ke kantin?
Suara lembut itu membuyarkan lamunan Arga. Ia menoleh dan mendapati Tania Larasati sudah berdiri di samping mejanya. Gadis itu tersenyum manis, memegang sebuah kotak bekal kecil yang tampaknya sengaja ia bawa dari rumah. Tania adalah satu dari sedikit orang yang bersikap sangat baik pada Arga, meski Arga sering kali membalasnya dengan kalimat singkat atau anggukan pelan.
Belum, Tania. Aku masih ingin di sini, jawab Arga berusaha sesopan mungkin.
Tania tampak sedikit kecewa, namun ia tidak menyerah. Kalau kamu lapar, aku bawa kue cokelat lebih. Kamu mau coba?
Terima kasih, tapi aku belum lapar, balas Arga lagi.
Di seberang kelas, Dimas Pratama yang baru saja selesai membereskan bukunya hanya bisa menggelengkan kepala melihat pemandangan itu. Dimas menghampiri meja Arga setelah Tania berjalan menjauh dengan bahu sedikit layu.
Sampai kapan kamu mau jadi patung di sini, Ga? Itu Nala sudah mau keluar kelas sama Satria. Kamu tidak mau menyapa atau apa gitu? tanya Dimas dengan nada bicara yang blak-blakan.
Arga hanya diam. Ia melihat Satria Dirgantara, kapten tim basket sekolah yang populer itu, kini berdiri di samping meja Nala. Satria tampak tertawa lebar, sebuah pemandangan yang membuat dada Arga terasa sedikit sesak.
Dia tidak ingat aku, Dim, gumam Arga nyaris tak terdengar.
Mana mungkin dia tidak ingat? Kalian itu dulu hampir setiap hari main bareng sebelum dia pindah. Mungkin dia cuma butuh waktu buat memproses suasana baru, sahut Dimas berusaha logis, meski sebenarnya ia sendiri mulai ragu.
Belum sempat Arga membalas ucapan sahabatnya, Nala tiba-tiba berbalik. Langkah kakinya bergerak menuju arah belakang kelas, melewati barisan meja hingga ia berhenti tepat di depan meja Arga. Jantung Arga mendadak berdegup kencang, seolah-olah seluruh pasokan oksigen di ruangan itu tersedot habis.
Hai, kamu Arga, kan? tanya Nala.
Suaranya masih sama seperti dalam ingatan Arga, jernih dan menenangkan. Namun, sorot matanya berbeda. Tidak ada binar pengenalan di sana. Nala menatapnya dengan cara yang sama seperti ia menatap teman-teman kelas lainnya yang baru saja ia temui hari ini.
Iya, aku Arga, jawab Arga pelan. Ia berusaha mencari celah di mata Nala, mencari sisa-sisa kenangan tentang pohon mangga di belakang rumah lama mereka atau tentang janji untuk tidak pernah saling melupakan.
Tadi aku lihat di daftar absen, nama lengkapmu Arga Baskara. Salam kenal ya, aku Nala. Maaf tadi pagi aku belum sempat menyapa karena masih bingung dengan jadwal pelajaran, ucap Nala sambil mengulurkan tangan dengan ramah.
Arga memandang telapak tangan Nala yang terbuka. Sebuah formalitas yang terasa sangat menyakitkan. Bagi Nala, ini adalah perkenalan pertama. Bagi Arga, ini adalah peruntuhan seluruh harapannya selama bertahun-tahun.
Salam kenal, Nala, balas Arga sambil menjabat tangan gadis itu. Telapak tangan Nala terasa hangat, namun sikapnya terasa sedingin es yang membekukan hati Arga.
Kamu sudah lama sekolah di sini? tanya Nala lagi, mencoba bersikap ramah sebagai murid pindahan yang ingin beradaptasi.
Sejak kelas sepuluh, jawab Arga singkat.
Nala mengangguk-angguk kecil. Syukurlah kalau begitu. Nanti kalau aku bingung soal tugas kimia, aku boleh tanya kamu? Kata Rara, kamu cukup pintar di mata pelajaran itu.
Tentu, boleh saja.
Nala tersenyum lebar, senyum tulus seorang asing yang merasa telah mendapatkan satu lagi teman baru. Oke, terima kasih ya, Arga. Aku duluan ke kantin, Satria dan yang lain sudah menunggu.
Gadis itu berbalik dan berjalan pergi tanpa beban. Di ambang pintu, Rara Kinanti sempat menoleh sebentar ke arah Arga. Sebagai teman dekat Nala yang baru, Rara memiliki intuisi yang cukup tajam. Ia menyadari ada sesuatu yang aneh dalam tatapan Arga, sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar tatapan sesama teman sekelas. Namun, Rara memilih untuk diam dan mengikuti Nala keluar.
Dimas menepuk bahu Arga cukup keras, seolah ingin membangunkan sahabatnya itu dari mimpi buruk.
Sudah aku bilang, kan? Dia benar-benar lupa, Ga. Dia menganggap kamu orang asing yang kebetulan namanya ada di daftar absen. Sudahlah, move on. Di depanmu ada Tania yang jelas-jelas peduli, kenapa kamu masih mengejar bayangan masa lalu yang sudah dihapus pemiliknya sendiri?
Arga tidak menjawab. Ia menunduk, menatap meja kayu yang penuh dengan goresan-goresan lama. Delapan tahun ia merawat ingatan itu sendirian. Ia ingat setiap detail saat Nala menangis karena lututnya terluka, ia ingat bagaimana Nala berjanji akan mengirim surat yang tak pernah datang, dan ia ingat betapa hancurnya perasaan itu saat truk pindahan membawa Nala pergi dari pandangannya.
Ternyata, benar kata orang. Bagian tersulit dari merindukan seseorang bukanlah jarak, melainkan kenyataan bahwa orang yang kita rindukan telah menjadi sosok yang sama sekali berbeda. Di mata Nala, Arga Baskara hanyalah deretan huruf di kertas absen kelas. Tidak kurang, tidak lebih.