NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Penyelamat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Candra Arista

Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 – Syarat dan Ketentuan

Pagi tiba, namun belum sepenuhnya membawa terang.

Langit masih abu-abu, sisa hujan semalam meninggalkan genangan air di halaman rumah sakit. Udara terasa lembap, melekat di kulit layaknya beban tak kasatmata.

Alya belum tidur.

Ia melewati malam di kursi ruang tunggu, dengan map kontrak itu masih tergenggam di tangannya. Berulang kali ia membaca, menghafal setiap kata dan pasal, seolah berharap ada bagian yang akan berubah jika ia menatapnya cukup lama.

Namun, tidak ada yang berubah.

Segalanya tetap tak berubah.

Dingin.

Tegas.

Dan… nyata.

Ia mengembuskan napas perlahan, lalu menutup map itu. Matanya terasa berat, tetapi pikirannya terlalu ramai untuk beristirahat.

Suara langkah kaki yang mendekat membuatnya menoleh.

Seorang dokter keluar dari ruang rawat ibunya.

Alya segera berdiri.

“Dokter, bagaimana kondisi ibu saya?”

Dokter itu melepas maskernya sejenak, wajahnya tampak lelah, namun tetap profesional.

“Kondisinya stabil sementara ini, tetapi kita tidak dapat menunda operasi lebih lama,” katanya dengan hati-hati. “Semakin cepat dilakukan, semakin baik peluangnya.”

Alya menelan ludah.

“Berapa lama… waktu yang saya miliki?”

Dokter itu terdiam sejenak.

“Beberapa hari.”

Jawaban itu bagaikan palu yang menghantam kepalanya.

Beberapa hari.

Bukan minggu.

Bukan bulan.

Alya mengangguk perlahan, meskipun dadanya terasa sesak.

“Terima kasih, Dok.”

Setelah dokter itu pergi, Alya kembali duduk perlahan. Tangannya meraih kembali map itu, membukanya secara tak sadar.

Angka itu.

Angka itu selalu.

Seolah memanggilnya.

Menariknya.

Menggodanya agar menyerah pada logika yang selama ini ia pegang teguh.

“Ini bukan tentang benar atau salah…” gumamnya lirih.

Ini tentang hidup dan mati.

Pintu ruang tunggu terbuka.

Alya mendongak.

Dan bagaikan *déjà vu*, pria itu kembali muncul.

Raka Pratama.

Dengan jas rapi yang sama, ekspresi dingin yang sama, dan langkah yang sama tenang seperti semalam sebelumnya.

Seolah ia tidak pernah ragu.

Tidak pernah bimbang.

Berbeda dengan Alya.

“Anda belum pergi?” tanya Alya, sedikit terkejut.

Raka berhenti di depannya.

“Saya menunggu jawaban.”

Langsung. Tanpa basa-basi.

Alya mengembuskan napas panjang.

“Menunggu di sini semalaman?”

“Ya.”

Jawaban singkat itu membuat Alya sedikit terdiam.

Ada yang aneh dari pria ini.

Terlalu serius.

Terlalu fokus.

Seolah ia benar-benar menginginkan ini… bukan sekadar formalitas belaka.

Alya menatap map di tangannya, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke wajah Raka.

“Kenapa harus secepat ini?” tanyanya.

“Karena saya juga memiliki batas waktu.”

Alya mengerutkan kening. “Untuk tujuan apa sebenarnya pernikahan ini?”

Raka menatapnya beberapa detik, lalu berkata, “Untuk menjaga sesuatu tetap berada di tempatnya.”

Jawaban yang samar.

Dan lagi-lagi… tidak menjelaskan apa pun.

Alya mengembuskan napas perlahan. Ia tahu pria ini tidak akan memberikan jawaban lebih.

“Jika saya setuju…” katanya perlahan, “apa saja yang harus saya lakukan?”

Untuk pertama kalinya, Raka mengubah sedikit posisinya. Ia duduk di kursi seberang Alya, kini jarak mereka hanya dipisahkan oleh meja kecil.

“Tidak banyak,” jawabnya. “Anda hanya perlu menjalankan peran sebagai istri saya di depan publik.”

“Dan di belakang publik?”

“Kita tidak memiliki hubungan.”

Jawaban itu terlalu cepat.

Terlalu tegas.

Seolah ia sudah memastikan batas itu sejak awal.

Alya mengangguk perlahan.

“Tidak ada… kewajiban lain?”

“Tidak.”

“Tidak ada hubungan fisik?”

Raka menatapnya langsung.

“Tidak akan ada hal yang tidak Anda setujui.”

Nada suaranya tetap datar, tetapi entah mengapa… kalimat itu terasa bagaikan sebuah jaminan.

Bukan janji manis.

Melainkan kepastian.

Alya menunduk, mencoba menata pikirannya.

“Berapa lama?”

“Satu tahun.”

“Dan setelah itu?”

“Kita berpisah.”

Sederhana.

Seolah pernikahan ini hanyalah sebuah kontrak kerja.

Yang memiliki tanggal mulai… dan tanggal berakhir.

Alya mengembuskan napas panjang.

“Jika saya melanggar aturan?”

“Ada konsekuensi.”

“Tertulis?”

“Semuanya tertulis.”

Ia kembali membuka map itu, menelusuri beberapa bagian yang semalam terlewatkan olehnya.

Pasal demi pasal.

Hak dan kewajiban.

Sanksi.

Semuanya tertulis rapi, bagaikan dokumen hukum profesional.

Ini bukan sesuatu yang disusun mendadak.

Ini direncanakan.

Disusun dengan matang.

Dan itu membuat Alya semakin yakin—

Bahwa ia bukan pilihan acak.

“Apakah Anda sudah menyiapkan ini untuk orang lain sebelumnya?” tanyanya tiba-tiba.

Raka tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu.

“Tidak.”

Satu kata.

Namun cukup untuk membuat Alya semakin curiga.

“Jadi… kenapa saya?”

Raka menatapnya lagi.

Lebih lama dari sebelumnya.

Tatapan itu tidak dingin kali ini.

Lebih… dalam.

Seolah ada sesuatu yang ingin disampaikannya, namun ditahan.

“Karena Anda memenuhi kriteria.”

Jawaban yang terlalu formal.

Dan terlalu menghindar.

Alya hampir tertawa.

“Kriteria apa? Wanita yang sedang putus asa?”

Raka tidak tersenyum.

“Tahan tekanan. Tidak mudah bergantung. Dan… tidak memiliki keterikatan yang dapat mengganggu.”

Kalimat terakhir itu membuat Alya terdiam.

Tidak memiliki keterikatan.

Ia tahu maksudnya.

Ayahnya sudah meninggal.

Ibunya… satu-satunya keluarga yang tersisa, sedang berjuang di ruang perawatan.

Dan selain itu—

Ia memang tidak memiliki siapa-siapa lagi.

“Jadi saya cocok karena saya sendirian?” suaranya sedikit getir.

Raka tidak menjawab langsung.

“Terkadang… itu justru merupakan sebuah keuntungan.”

Alya menatapnya tajam.

“Bagi Anda.”

“Bagi kita berdua,” koreksi Raka.

Hening sejenak.

Suara langkah kaki orang lain di koridor menjadi latar yang aneh bagi percakapan ini.

Alya menutup map itu perlahan.

“Jika saya setuju…” katanya lagi, suaranya lebih pelan, “kapan semuanya akan dimulai?”

Raka tidak ragu.

“Secepatnya.”

“Secepatnya itu kapan?”

“Hari ini.”

Alya membeku.

“Hari ini?!”

“Ya.”

“Itu… terlalu cepat.”

“Waktu Anda tidak banyak.”

Kalimat itu bagaikan tamparan.

Alya segera terdiam.

Ia tahu itu benar.

Terlalu benar.

Ia menoleh ke arah ruang rawat ibunya.

Pintu itu tertutup rapat.

Namun di baliknya… waktu terus berjalan.

Tanpa menunggu.

Tanpa peduli.

Alya menunduk.

Tangannya mencengkeram kembali map itu.

Pikirannya berputar.

Ini gila.

Menikah hari ini?

Dengan orang yang bahkan baru ia kenal semalam?

Tanpa cinta.

Tanpa perasaan.

Hanya kontrak.

Namun…

Ibunya.

Operasi itu.

Kesempatan untuk hidup itu.

Semuanya ada di balik keputusan ini.

“Apakah saya boleh…” suaranya sedikit bergetar, “menemui ibu saya terlebih dahulu?”

Raka mengangguk.

“Tentu.”

Alya berdiri.

Langkahnya terasa berat saat mendekati pintu ruang rawat.

Ia berhenti sejenak di depan pintu, menarik napas dalam-dalam.

Lalu masuk.

Ruangan itu sunyi senyap.

Hanya suara mesin monitor yang terdengar jelas.

Ibunya terbaring lemah tak berdaya, rautnya pucat, napasnya dibantu alat pernapasan.

Alya melangkah pelan mendekat, lalu mendudukkan diri di sisi ranjang.

Tangannya meraih jemari ibunya yang terasa dingin.

“Ibu…” gumamnya lirih.

Tak ada sahutan.

Hanya deru mesin.

Mata Alya mulai berkaca-kaca.

“Alya janji… akan menemukan caranya.”

Suaranya parau.

Ia menunduk, mengeratkan genggaman tangan itu.

“Bagaimana pun caranya.”

Hening.

Waktu seolah membeku.

Dan pada momen itu… Alya menyadari.

Ia telah mengambil keputusan.

Perlahan, ia menyeka air matanya, lalu bangkit berdiri.

Sorot matanya berubah.

Tanpa keraguan.

Tanpa kebimbangan.

Ketika ia keluar dari ruangan, Raka masih berdiri di tempat yang sama.

Menanti.

Seolah ia telah menduga jawaban yang akan diterimanya.

Alya melangkah mendekati.

Berhenti persis di hadapannya.

Untuk beberapa saat, ia hanya memandang pria itu.

Kemudian—

“…Saya setuju.”

Tak ada getar dalam suaranya kali ini.

Yang ada hanyalah ketegasan.

Raka mengangguk pelan sekali.

Seolah memang itulah hasil yang ia harapkan.

“Baiklah.”

Ia berdiri.

“Kalau begitu, kita bisa memulainya sekarang.”

Alya menelan ludah.

“Sekarang?”

“Ya.”

Semuanya terasa begitu mendadak.

Namun tak ada jalan untuk kembali.

Raka mengambil ponselnya, menekan beberapa digit.

“Saya akan mengurus sisanya.”

Alya menatapnya, masih berupaya mencerna situasi.

“Dan saya?”

Raka menatapnya sekilas.

“Mulai sekarang, Anda adalah istri saya.”

Kalimat itu terasa… ganjil.

Membebani.

Dan entah mengapa… sedikit mencekam.

Alya mengeratkan genggamannya pada map itu.

Hujan di luar telah reda.

Tapi badai dalam kehidupannya—

Baru saja berawal.

1
Mtch🍃
Tiba tibaaa bngt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!