Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.
Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.
Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.
Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Surat untuk Balqis Saat Dia Besar Nanti & Awal Petualangan Baru Kami
Sore itu, aku duduk sendirian di teras rumah, menikmati angin sepoi-sepoi yang membawa aroma tanah basah setelah hujan singkat tadi siang. Di pangkuanku, ada sebuah buku catatan kecil berwarna biru muda — hadiah dari Balqis saat ulang tahunnya yang kedua. Dia memberikannya dengan wajah serius, bilang, “Ini buat Ayah tulis cerita-cerita bagus.”
Hari ini, aku memutuskan untuk mengisi halaman pertama buku itu. Bukan dengan cerita fiksi, bukan dengan puisi indah, tapi dengan surat terbuka untuk Balqis — versi dirinya yang mungkin sedang membaca ini sepuluh, lima belas, atau bahkan dua puluh tahun lagi.
“Untuk Balqis yang sedang membaca ini,” mulaku pelan, seolah-olah dia bisa mendengarku dari masa depan.
“Ayah tidak tahu kamu sedang apa saat membaca surat ini. Mungkin kamu sedang sibuk belajar di sekolah menengah, mungkin kamu baru saja patah hati karena cinta pertama, atau mungkin kamu sedang tertawa lepas bersama teman-temanmu di kafe favorit. Tapi apapun yang sedang kamu alami, Ayah ingin kamu tahu satu hal: kamu dicintai. Lebih dari apapun di dunia ini. Lebih dari bintang-bintang di langit, lebih dari ombak di lautan, lebih dari semua kata-kata yang pernah ditulis manusia.”
Aku berhenti sejenak, menatap foto Balqis yang tertempel di halaman depan buku itu. Foto dia sedang tidur pulas, mulutnya sedikit terbuka, pipinya merona. Momen biasa, tapi bagiku, itu adalah momen paling berharga.
“Ayah masih ingat jelas hari-hari awal kehidupanmu. Hari ketika kamu pertama kali membuka mata dan melihat dunia. Hari ketika kamu pertama kali tersenyum — bukan senyum refleks, tapi senyum sungguhan, karena melihat wajah Ayah yang sedang membuat muka aneh. Hari ketika kamu pertama kali berkata ‘Aku sayang Ayah’ — dengan suara cadel yang membuat hatiku meleleh seperti es krim di bawah matahari.”
Aku tertawa kecil mengingat kenangan itu. Lalu lanjut menulis:
“Ayah juga ingat malam-malam panjang saat kamu demam tinggi, dan Ayah begadang semalaman hanya untuk memastikan kamu baik-baik saja. Ayah ingat bagaimana kamu merayu dengan jurus ‘entet’ demi nonton YouTube Kids. Ayah ingat ketakutanmu pada kecoa, dan bagaimana kamu langsung melompat ke pelukan Ayah sambil berteriak ‘Atut! OA!’ Ayah ingat betapa bangganya kamu saat berhasil naik sepeda tanpa roda bantu, meski jatuh berkali-kali. Ayah ingat setiap tawamu, setiap tangismu, setiap pertanyaan polosmu yang sering kali membuat Ayah harus berpikir keras untuk menjawabnya.”
Aku mengambil napas dalam-dalam. Rasanya seperti menonton film pendek tentang perjalanan kami selama tiga tahun terakhir.
“Balqis, Nak… Ayah tidak sempurna. Ada kalanya Ayah marah tanpa alasan yang jelas. Ada kalanya Ayah lelah sampai lupa memelukmu sebelum tidur. Ada kalanya Ayah terlalu sibuk bekerja sampai lupa janji main bareng. Tapi percayalah, di setiap detik itu, cinta Ayah padamu tidak pernah berkurang sedikitpun. Bahkan justru semakin besar, semakin kuat, semakin dalam.”
Aku menatap langit sore yang mulai berubah warna menjadi jingga keunguan. Burung-burung pulang ke sarang, anak-anak bermain di halaman tetangga, dan udara terasa begitu damai.
“Ayah tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Ayah tidak tahu apakah kamu akan memilih jurusan kuliah yang kamu impikan, apakah kamu akan menikah dengan orang yang membuatmu bahagia, apakah kamu akan punya anak sendiri dan merasakan betapa luar biasanya cinta seorang orang tua. Tapi ada satu hal yang pasti: selama kamu masih butuh pelukanku, selama kamu masih butuh tempat untuk pulang, selama kamu masih butuh seseorang yang percaya padamu bahkan saat kamu ragu pada dirimu sendiri… Ayah akan selalu ada.”
Aku tersenyum sendiri membayangkan Balqis dewasa membaca ini. Mungkin dia akan tertawa, mungkin dia akan menangis, mungkin dia akan menggeleng-gelengkan kepala sambil bilang, “Dasar Ayah, lebay banget sih.”
Tapi itu tidak masalah. Karena yang penting adalah pesannya sampai.
“Jangan pernah lupa, Nak. Kamu itu kuat. Kamu itu cerdas. Kamu itu cantik — bukan cuma dari luar, tapi dari dalam. Kamu punya hati yang baik, pikiran yang tajam, dan semangat yang menyala-nyala. Dunia mungkin kadang keras, kadang tidak adil, kadang membuatmu ingin menyerah. Tapi jangan pernah biarkan dunia mengubah siapa dirimu sebenarnya. Tetaplah menjadi Balqis yang ceria, yang berani, yang penuh rasa ingin tahu, yang tidak takut gagal, yang selalu bangkit lagi setelah jatuh.”
Aku menulis lebih cepat sekarang, seolah-olah kata-kata itu mengalir deras dari hatiku langsung ke kertas.
“Dan kalau suatu hari nanti kamu merasa kesepian, atau bingung, atau takut… buka kembali surat ini. Ingatlah bahwa ada seseorang yang selalu percaya padamu, bahkan sebelum kamu percaya pada dirimu sendiri. Ada seseorang yang rela begadang semalaman demi kamu, yang rela kalah dalam permainan rayuan demi senyummu, yang rela mengorbankan apapun demi kebahagiaannya. Orang itu adalah Ayah. Dan cintanya padamu tidak akan pernah pudar, tidak akan pernah berakhir, tidak akan pernah berubah.”
Aku menutup buku catatan itu perlahan, lalu menempelkannya di dada. Rasanya hangat, seperti memeluk Balqis versi masa depan.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki kecil berlari menuju teras.
“Ayah! Ayah lagi apa?” seru Balqis, muncul dari balik pintu dengan wajah berseri-seri, rambutnya acak-acakan, dan baju kotornya penuh lumpur.
“Ayah lagi nulis surat buat Balqis,” jawabku sambil tersenyum, menyembunyikan buku catatan itu di belakang punggung.
“Surat apa? Buat Balqis yang sekarang atau Balqis yang udah gede?” tanyanya penasaran, langsung memanjat pangkuanku.
“Ayah tulis buat Balqis yang udah gede. Biar nanti kalau dia lupa seberapa hebatnya dia, dia bisa baca surat ini dan ingat bahwa Ayah selalu bangga sama dia.”
Balqis berpikir sejenak, lalu tersenyum lebar. “Kalau gitu, Balqis yang sekarang juga mau surat! Tulis dong, Yah! Tentang Balqis yang suka makan es krim, suka main pasir, suka tidur di motor Ayah, suka rayu Ayah biar boleh nonton HP…”
Aku tertawa terbahak-bahak, lalu mencium keningnya. “Oke, oke. Nanti Ayah tulis khusus buat Balqis yang sekarang. Tapi syaratnya, Balqis harus mandi dulu. Badanmu penuh lumpur!”
“Nggak mau! Mau dipeluk Ayah dulu!” rengeknya sambil memeluk leherku erat-erat.
“Ya sudah, sini. Pelukan spesial anti-lumpur!” godaku sambil mengangkatnya tinggi-tinggi, membuatnya tertawa girang.
Di momen itu, aku sadar. Ini bukan akhir. Ini hanya jeda. Karena selama Balqis masih tertawa, masih bertanya, masih merayuku, masih butuh pelukanku… maka cerita ini akan terus berlanjut.
Season 1 mungkin akan segera berakhir. Tapi petualangan kami? Oh, itu baru saja dimulai.
Karena cinta antara ayah dan anak tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berganti bab, berganti tema, berganti tantangan — tapi intinya tetap sama: kehadiran, perlindungan, dan cinta tanpa syarat.
Jadi, untuk para pembaca yang telah menemani kami hingga bab ini… terima kasih. Terima kasih telah tertawa bersama kami, menangis bersama kami, dan merasakan setiap momen kecil yang kami bagikan. Ini bukan akhir dari perjalanan Ayah Balqis. Ini hanya istirahat sebentar sebelum kami melanjutkan petualangan baru di Season 2.
Karena selama Balqis masih ada, selama dia masih butuh cerita, selama dia masih punya imajinasi liar… maka Ayah akan selalu ada untuk menuliskannya.
— Ayah Balqis
P.S.: Untuk Balqis yang sedang membaca ini di masa depan… Jangan lupa, ya. Ayah selalu bangga sama kamu. Selalu. Dan kalau kamu kangen pelukan Ayah, cukup tutup mata, tarik napas dalam-dalam, dan rasakan… pelukan itu masih ada di sana. Selalu. ❤️👨✨
P.P.S.: Kalau kamu suka cerita ini, silakan tinggalkan komentar atau rating ya! Siapa tahu Season 2 bisa segera hadir berkat dukungan kalian! 😄📚