NovelToon NovelToon
Tahta Darah Sembilan Cakrawala

Tahta Darah Sembilan Cakrawala

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Di Benua Awan Gelap, yang kuat dihormati bagai dewa, dan yang lemah diinjak bagai semut. Shen Yuan, seorang pemuda dengan pembuluh nadi bawaan yang cacat, hidup dalam kehinaan di sudut kota terpencil. Namun, takdirnya berubah ketika kepingan darah dari masa purbakala menyatu dengan jantungnya, memberikannya warisan "Jalan Iblis Penelan Surga".

Dari seorang buangan, ia melangkah di atas lautan darah dan gunung tulang. Ia akan menantang keangkuhan para putra langit, menghancurkan sekte-sekte berusia ribuan tahun, dan menguak tabir kebohongan para dewa yang bertahta di Sembilan Cakrawala. Ini adalah kisah tentang fana yang menggugat takdir, selangkah demi selangkah menuju keabadian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah Membasahi Paviliun

Paviliun Angin Musim Gugur dulunya adalah tempat yang paling sunyi dan dihormati di kediaman Keluarga Shen. Di tempat inilah mantan jenius nomor satu, Shen Jian, menghabiskan waktunya untuk menyeduh teh daun bambu dan melatih ilmu pedangnya. Namun malam ini, udara di sekitar paviliun tersebut dipenuhi oleh bau arak murahan, tawa yang memekakkan telinga, dan aroma pesta pora yang bejat.

Di dalam aula utama yang diterangi oleh puluhan lampion mutiara, meja-meja dari kayu gaharu dipenuhi oleh hidangan daging binatang buas panggang dan buah-buahan roh tingkat rendah. Beberapa pelayan wanita berwajah pucat berdiri gemetar di sudut ruangan, dipaksa melayani para pemuda dari keluarga cabang.

Duduk di kursi utama yang dilapisi kulit harimau salju adalah Shen Tian. Wajahnya memerah karena pengaruh arak, dan matanya memancarkan kesombongan yang tak tertandingi. Hawa murni di sekitar tubuhnya berdesir kencang, pertanda bahwa ia belum sepenuhnya mampu mengendalikan kekuatan barunya setelah menembus Ranah Penempaan Raga Lapisan Keempat.

"Saudara Tian—ah tidak, Tuan Muda Shen Tian! Selamat atas terobosan Anda! Dengan kekuatan Lapisan Keempat di usia enam belas tahun, Anda pasti akan bersinar di Ujian Tahunan bulan depan!" seru seorang pemuda kurus bernama Shen Kai, mengangkat cangkir araknya tinggi-tinggi. Ia adalah antek setia Shen Tian yang berada di Lapisan Kedua.

Shen Tian tertawa terbahak-bahak, menyandarkan tubuhnya dengan angkuh. "Hanya Lapisan Keempat. Ini barulah permulaan! Berkat 'sumbangan' Pil Tulang Besi dari si sampah Shen Yuan itu, fondasiku melonjak tajam. Sayang sekali anak cacat itu tidak bisa melihat kehebatanku hari ini karena tubuhnya pasti sudah dicabik-cabik oleh serigala di Jurang Ratapan."

"Hahaha! Membahas orang mati hanya akan merusak selera arak kita," sahut pemuda lain yang bertubuh gempal, Shen Li. "Lagipula, paviliun ini sekarang telah menjadi milik Tuan Muda Shen Tian. Bau kemiskinan dari ayah dan anak buangan itu akhirnya lenyap dari tempat ini."

Shen Tian tersenyum sinis, menatap ke sekeliling aula. "Tentu saja. Semua yang ada di Keluarga Shen akan segera menjadi milik kubu kakekku. Setelah Ujian Tahunan, aku akan meminta Tetua Agung untuk menunjukku sebagai pewaris mutlak—"

DUAARRR!

Sebelum kata-kata arogan itu selesai terucap, sebuah ledakan memekakkan telinga memecah tawa di dalam aula. Dua daun pintu utama yang terbuat dari kayu ulin setebal tiga inci hancur berkeping-keping, terlempar ke udara seolah baru saja dihantam oleh godam raksasa. Potongan-potongan kayu tajam melesat ke segala arah, menancap pada pilar-pilar batu dan meja perjamuan.

Hembusan angin malam yang membawa hawa dingin dan aroma darah seketika menyapu ke dalam aula, memadamkan lebih dari separuh lampion mutiara yang menyala. Para pelayan wanita menjerit ketakutan dan bersembunyi di bawah meja.

"Siapa yang berani mencari mati di tempatku?!" raung Shen Tian. Ia melompat berdiri, membanting cangkir araknya hingga hancur. Hawa murni Lapisan Keempat meledak dari tubuhnya, menepis serpihan kayu yang beterbangan ke arahnya.

Di ambang pintu yang kini hancur lebur, di bawah siraman rintik hujan malam, sesosok bayangan berdiri tegak.

Cahaya kilat menyambar di langit, menerangi wajah pemuda yang mengenakan pakaian compang-camping berlumuran darah kering. Rambut panjangnya basah menempel di lehernya. Sepasang matanya yang hitam pekat menyala dengan niat membunuh yang sedingin es purbakala.

Udara di dalam aula seolah membeku seketika. Cangkir-cangkir arak terlepas dari tangan para pemuda keluarga cabang, pecah berantakan di atas lantai pualam.

"S-Shen Yuan...?" Shen Kai tergagap, wajahnya berubah sepucat kertas. Kakinya gemetar hebat hingga ia terhuyung mundur. "T-Tuan Muda... bukankah Anda bilang dia sudah dilempar ke Jurang Ratapan? Apakah... apakah dia kembali menjadi roh penasaran?!"

Mata Shen Tian menyipit tajam. Ada kilatan keterkejutan di pupilnya, namun dengan cepat digantikan oleh niat membunuh yang pekat. "Roh penasaran? Jangan konyol! Lihatlah bayangannya di lantai. Sampah ini rupanya cukup beruntung karena tersangkut di dahan pohon dan tidak jatuh sampai ke dasar. Dan alih-alih melarikan diri untuk hidup sebagai anjing liar, dia malah berani merangkak kembali ke mari!"

Shen Yuan melangkah masuk secara perlahan. Setiap langkah kaki telanjangnya yang menginjak lantai pualam menghasilkan suara gema yang aneh, seolah-olah ia sedang menginjak jantung setiap orang yang berada di ruangan itu.

Tatapannya menyapu aula yang kotor oleh pesta pora itu, lalu berhenti pada Shen Tian.

"Kau mengotori rumahku," ucap Shen Yuan dengan suara datar yang membawa hawa kematian mutlak.

"Rumahmu? Hahaha!" Shen Tian tertawa ganas, mencoba menutupi rasa gelisah yang aneh di hatinya. Ia tidak bisa merasakan sedikit pun hawa murni dari tubuh Shen Yuan, membuatnya berpikir bahwa pemuda itu masihlah seorang cacat di Lapisan Pertama.

"Shen Kai, Shen Li! Patahkan kedua kakinya dan seret dia ke hadapanku. Malam ini, aku akan memastikan dengan tanganku sendiri bahwa kepalanya terpisah dari lehernya!" perintah Shen Tian.

Shen Kai dan Shen Li saling berpandangan. Meskipun mereka merasa ada sesuatu yang tidak wajar dari kemunculan Shen Yuan, namun memikirkan bahwa mereka berada di Ranah Penempaan Raga Lapisan Kedua dan Ketiga, keberanian mereka kembali muncul. Mengalahkan seorang cacat adalah hal yang mudah.

"Terima kematianmu, Sampah!" raung Shen Li yang bertubuh gempal. Ia melesat maju seperti babi hutan yang mengamuk, memusatkan kekuatan Lapisan Ketiganya ke kepalan tangan kanannya. Udara berderak pelan saat tinjunya mengarah langsung ke pelipis Shen Yuan.

Di saat yang sama, Shen Kai mencabut pedang pendek dari pinggangnya dan menusukkannya ke arah perut Shen Yuan, bermaksud menjepitnya dari dua sisi.

Menghadapi serangan mematikan dari dua arah, Shen Yuan bahkan tidak berkedip. Nadi Iblis Penelan Surga di dalam tubuhnya berdenyut malas, seolah dihina karena harus menanggapi serangan semut-semut fana ini.

Baru ketika tinju Shen Li tinggal berjarak satu jengkal dari wajahnya, Shen Yuan bergerak.

Tangannya terangkat dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang. Tidak ada hawa murni yang meledak, hanya murni kekuatan jasmani dari Puncak Ranah Penempaan Raga Lapisan Keempat yang telah dibersihkan sumsumnya oleh Teratai Tulang Putih.

Baaam!

Shen Yuan menangkap kepalan tangan Shen Li yang besar itu seolah menangkap sehelai kapas yang melayang. Wajah ganas Shen Li seketika membeku, digantikan oleh rasa ngeri yang tak terlukiskan. Tinjunya yang bisa memecahkan batu bata tertahan dengan sempurna, tidak bisa maju walau hanya seukuran rambut!

"Kekuatan sebesar ini... kau menyebut dirimu petarung?" bisik Shen Yuan di telinga Shen Li.

Krek!

Shen Yuan memutar pergelangan tangan Shen Li dengan gerakan santai. Suara tulang lengan yang patah terdengar nyaring. Tulang hasta dan pengumpil pemuda gempal itu menembus keluar dari kulitnya, menyemburkan darah segar ke udara.

"AARRGGHHH!" Shen Li menjerit histeris.

Tanpa membuang waktu, Shen Yuan menarik tubuh Shen Li ke depannya, menjadikannya perisai hidup tepat saat pedang Shen Kai menusuk ke depan.

Jleb!

Pedang pendek Shen Kai menembus dada temannya sendiri. Mata Shen Kai terbelalak lebar, tangannya gemetar melepaskan gagang pedang itu. "L-Li... a-aku tidak bermaksud..."

Sebelum Shen Kai bisa menyelesaikan kalimat penyesalannya, dari balik tubuh Shen Li yang roboh, seberkas cahaya merah kehitaman melesat bak kilat. Tangan kanan Shen Yuan menyapu udara, mendarat dengan telak di dada Shen Kai.

Tapak Penghancur Nadi!

Hawa murni iblis meledak dari telapak tangan Shen Yuan. Kekuatan brutal itu langsung meremukkan tulang rusuk Shen Kai dan menyusup ke dalam tubuhnya, menghancurkan seluruh jalur nadinya dalam sekejap mata. Pemuda kurus itu terhempas ke udara sejauh belasan tombak, menghancurkan dua meja perjamuan sebelum akhirnya jatuh tak bernyawa, darah hitam mengalir dari ketujuh lubang di wajahnya.

Hanya dalam dua kali tarikan napas, dua pendekar keluarga cabang tewas dengan cara yang mengerikan.

Keheningan yang mencekik kini menguasai Paviliun Angin Musim Gugur. Sisa pemuda lainnya jatuh terduduk, kaki mereka lemas hingga tak mampu berdiri, air seni menggenangi lantai di bawah mereka.

Shen Tian mundur selangkah. Mata angkuhnya kini dipenuhi oleh keterkejutan dan ketakutan yang mendalam. Ia menatap tangan Shen Yuan yang berlumuran darah, lalu menatap mayat Shen Kai.

"Hawa murni... kau bisa menggunakan hawa murni! Dan kekuatan fisik itu... itu bukan Lapisan Pertama! Tidak, itu bahkan melampaui Lapisan Ketiga! Kau... ranah apa kau sebenarnya, sampah?!" jerit Shen Tian, suaranya melengking karena panik.

"Sampah?" Shen Yuan melangkah maju perlahan melewati mayat-mayat itu. Tubuhnya memancarkan aura buas yang seolah bukan milik manusia, melainkan seekor naga kuno yang merangkak keluar dari dasar jurang pembantaian. "Kau menelan pusaka milik ibuku untuk menembus ke Lapisan Keempat. Jika kau menyebutku sampah, lalu apa sebutan untukmu yang sebentar lagi akan mati di bawah telapak kakiku?"

"Omong kosong! Kau pikir karena kau mendapatkan semacam pertemuan kebetulan dan menyembuhkan nadimu, kau bisa meremehkanku?!" Wajah Shen Tian berkerut ganas. Harga dirinya tidak mengizinkannya mundur di hadapan orang yang selalu ia injak-injak.

"Mati kau!"

Shen Tian mengaum, memacu seluruh hawa murni Lapisan Keempatnya ke batas maksimal. Lapisan cahaya tipis menyelimuti kedua lengannya. Ia menggunakan jurus bela diri tingkat menengah kebanggaan kubu Tetua Agung, Cakar Elang Membelah Angin. Jari-jarinya melengkung tajam, melesat merobek udara menuju tenggorokan dan jantung Shen Yuan.

Serangan ini cukup kuat untuk merobek lempengan baja. Angin tajam dari cakar itu bahkan membuat wajah para pemuda di sudut ruangan terasa perih.

Namun, di mata Shen Yuan, gerakan itu penuh dengan celah.

"Fondasimu dipaksakan oleh pil obat. Hawa murnimu mengambang dan lemah. Kau tidak tahu apa artinya bertarung di ambang kematian," ucap Shen Yuan datar.

Ia tidak mundur. Alih-alih menghindar, Shen Yuan langsung menyongsong serangan badai cakar itu. Ia mengerahkan hawa murni Puncak Lapisan Keempatnya, membiarkan Sutra Penelan Surga berputar di sekujur lengannya.

Tangannya menjelma menjadi palu perang yang tak bisa dihentikan. Saat cakar Shen Tian hampir menyentuh lehernya, Shen Yuan langsung meninju telapak tangan Shen Tian.

Baaam!

Dua kekuatan bertabrakan keras. Namun hasilnya tidak seimbang. Hawa murni Shen Tian yang dipaksakan dari pil sama sekali tidak berdaya melawan hawa murni Shen Yuan yang ditempa melalui pemurnian Teratai Tulang Putih dan penelanan esensi darah.

Cakar angin itu hancur berkeping-keping. Jari-jari Shen Tian patah berantakan dengan suara retakan yang memilukan.

"Ahhhh!" Shen Tian berteriak kesakitan, terhuyung mundur sambil memegangi tangannya yang bengkok.

Tapi Shen Yuan tidak memberinya kesempatan untuk bernapas. Bagaikan hantu, ia melesat maju, menyusul tubuh Shen Tian yang terhuyung. Tangan kanannya terangkat, diselimuti oleh kabut merah darah yang kental, lalu menampar keras dada Shen Tian.

Tapak Penghancur Nadi!

Bum!

Punggung Shen Tian melengkung ke belakang layaknya udang yang direbus. Hawa murni iblis meledak di dalam Dantian-nya, menyapu ke seluruh jalur nadi utama di tubuhnya. Suara ledakan-ledakan kecil terdengar dari dalam tubuh Shen Tian seiring dengan hancurnya semua pembuluh nadinya.

Ranah Penempaan Raga Lapisan Keempatnya lenyap seketika, menguap bagai embun di pagi hari!

Shen Tian terhempas ke lantai, memuntahkan darah segar dalam jumlah besar. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak penuh keputusasaan saat ia menyadari bahwa pusat hawa murninya telah dihancurkan sepenuhnya. Ia telah menjadi cacat!

"K-Kau... kau menghancurkan nadiku..." rintih Shen Tian, suaranya bergetar hebat antara ketakutan dan kebencian. "Kakekku... Tetua Agung tidak akan pernah melepaskanmu! Dia akan mengulitimu hidup-hidup!"

Shen Yuan berjalan mendekat. Ia menginjak dada Shen Tian dengan kaki kanannya, menekan luka di sana hingga Shen Tian memekik tertahan.

"Aku akan mencarinya sebelum dia sempat mencariku," bisik Shen Yuan dingin. Ia sedikit memutar telapak tangannya ke arah Shen Tian, berniat menyerap esensi darahnya dengan Sutra Penelan Surga untuk menebus hilangnya Pil Tulang Besi.

Namun, tepat pada detik itu...

"BINATANG KECIL! BERANINYA KAU MELUKAI CUCUKU!"

Sebuah raungan menggelegar dari kejauhan, membawa gelombang suara yang menggetarkan atap Paviliun Angin Musim Gugur. Niat membunuh yang sangat kuat, jauh melampaui Ranah Penempaan Raga, menyelimuti seluruh area bagaikan jaring laba-laba raksasa.

Hawa murni yang luar biasa tebal menekan udara di sekitar paviliun, membuat para pelayan yang tersisa jatuh pingsan karena tidak kuat menahan tekanan tersebut.

Seorang ahli di Ranah Pengumpulan Lautan Qi telah tiba!

1
Bucek John
kiankun kepala keluarga Lin disio siokan, gak ditoleh, padahal harta sdh jelas byk sekali n harta klan lin gak diambil, sia sia harta menang prang..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!