Sakura adalah anak dari selir yang sejak lahir dianggap tidak memiliki kekuatan. Karena itu ia sering dibully dan diremehkan oleh keluarga bangsawan tempatnya tinggal.
Hidupnya semakin tragis ketika ia terus-menerus diracuni secara perlahan, membuat tubuhnya lemah dan sakit. Di tengah penderitaannya, satu-satunya orang yang melindunginya adalah ibunya. Namun sang ibu akhirnya dibunuh oleh pihak yang berkuasa di dalam keluarga itu.
Setelah kehilangan segalanya, Sakura yang tersisa dalam keputusasaan tanpa sadar mulai membangkitkan kekuatan besar yang tersegel di dalam dirinya. Kekuatan itu selama ini tersembunyi, dan kini perlahan mulai bangkit, mengubahnya dari gadis yang dianggap lemah menjadi sosok yang berpotensi mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 - Batas Yang Terlihat
Hari-hari berlalu dengan ritme yang sama.
Latihan.
Istirahat singkat.
Latihan lagi.
Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Sakura mulai merasakannya.
Perkembangannya…
melambat.
Bukan karena ia berhenti berusaha.
Bukan karena ia kehilangan fokus.
Tapi karena… tubuhnya seperti mencapai batas yang belum bisa ia lewati.
—
Malam hari.
Ruang alkimia.
Udara di dalam ruangan terasa dingin, hampir beku. Cahaya kristal biru di dinding berpendar redup, memantulkan bayangan Sakura yang berdiri sendirian di tengah lingkaran latihan.
Tangannya terangkat perlahan.
Napasnya diatur.
Masuk…
keluar…
Ia memejamkan mata.
“Mengalir…”
Sssst…
Angin mulai muncul di sekitarnya.
Awalnya hanya hembusan kecil ringan, seperti napas yang tak terlihat.
Namun perlahan ia membesar.
Berputar.
Mengelilingi tubuhnya.
Rambut pink Sakura terangkat pelan. Ujung pakaiannya bergetar mengikuti arus yang ia ciptakan.
Fokusnya semakin dalam.
“Lebih…”
Angin itu menebal.
Berputar lebih cepat.
Ssshhh
Sssshhh
Lantai di bawah kakinya mulai berdebu, serpihan kecil terangkat.
Namun beberapa detik kemudian
BUYAR.
Semua hilang begitu saja.
Seolah tidak pernah ada.
“…Hah…”
Napas Sakura terputus.
Dadanya naik turun.
Ia membuka mata perlahan, menatap tangannya sendiri.
Kosong.
Tidak ada aliran.
Tidak ada kekuatan.
Frustrasi mulai merayap.
“…Kenapa…”
Ia mencoba lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Setiap percobaan berakhir sama.
Muncul, stabil sebentar.
Lalu… hancur.
Seolah ada dinding tak terlihat yang menahannya.
—
Di sudut ruangan, Kaelen berdiri.
Diam.
Sejak tadi ia mengamati.
Tanpa suara. Tanpa interupsi.
Namun tatapannya tajam.
“…Kau memaksanya.”
Sakura terdiam.
Ia tidak menoleh.
“…Aku ingin lebih cepat.”
Suaranya pelan. Tertahan.
Kaelen berjalan mendekat. Langkahnya ringan, namun terasa berat di udara.
“Dan itulah kesalahanmu.”
Sakura menggenggam tangannya.
“Tubuhmu belum siap.”
Nada Kaelen datar tapi tidak bisa dibantah.
“Aliranmu masih belum stabil sepenuhnya. Kau hanya menahannya dengan kemauan.”
Sakura menunduk.
“Kalau kau terus seperti ini…”
Kaelen berhenti tepat di depannya.
“…kau akan menghancurkan apa yang sudah kau bangun.”
Kata-kata itu tidak keras.
Namun menekan.
Masuk ke dalam.
Sakura menggigit bibirnya.
“…Tapi waktuku tidak banyak…”
Turnamen.
Claudia.
Segala sesuatu terus mendekat.
Kaelen menatapnya lama.
Untuk sesaat ada sesuatu yang berubah di matanya.
Lebih dalam.
Lebih… serius.
“Itu benar.”
Jawaban itu membuat Sakura membeku.
“Tapi terburu-buru tidak akan menyelamatkanmu.”
Hening.
Berat.
Seolah udara ikut menekan.
Kaelen melangkah mundur sedikit.
“Ulangi.”
—
Latihan dilanjutkan.
Namun kali ini berbeda.
Sakura tidak langsung mencoba membentuk kekuatan besar.
Ia mulai dari kecil.
Sssst…
Angin muncul.
Tipis.
Hampir tak terasa.
“Jangan dipaksa,” kata Kaelen.
Sakura mencoba menahan dorongan di dalam dirinya.
Dorongan untuk memperbesar.
Untuk mempercepat.
Untuk… melampaui batas.
Namun kali ini ia menahan diri.
Angin itu tetap kecil.
Namun bertahan.
Lebih lama.
Lebih stabil.
Beberapa detik berubah menjadi puluhan detik.
Namun saat Sakura mencoba memperbesar
BRUK.
Angin itu pecah lagi.
“…!”
Sakura hampir terhuyung.
Kaelen langsung mengangkat tangan.
“Cukup.”
“…Baru sebentar”
“Kalau kau lanjut, kau akan runtuh.”
Nada itu tegas.
Tidak memberi ruang untuk bantahan.
Sakura terdiam.
Tubuhnya terasa berat.
Seolah energinya terkuras lebih cepat dari biasanya.
Ia baru sadar bahkan mempertahankan angin kecil itu… sudah melelahkan.
—
Hari berikutnya.
Aula latihan.
Sakura berdiri sendiri, tidak ada Kaelen, tidak ada suara, hanya dirinya.
Ia menarik napas dalam.
“Kali ini…”
Sssst…
Angin muncul.
Namun lebih lemah dari kemarin.
“…Kenapa…?”
Ia mencoba lagi.
Gagal.
Lagi.
Gagal.
Frustrasi mulai naik.
Tangannya gemetar.
Napasnya tidak teratur.
“Aku sudah bisa… kenapa sekarang malah”
DUMM…
Suara itu.
Datang lagi.
Lebih dekat.
Lebih jelas.
Seolah… berasal dari dalam tubuhnya sendiri.
Sakura membeku.
Dadanya terasa panas.
Aliran di dalam dirinya bergetar liar.
Lebih kuat dari sebelumnya.
“…Tidak…”
Ia langsung menahan, nenarik napas, mengunci, menekan, kekuatan itu… ingin keluar.
Lebih besar.
Lebih liar.
Lebih… berbahaya.
Sakura menggertakkan giginya.
“Aku tidak boleh kehilangan kendali…”
Perlahan getaran itu mereda.
Namun menyisakan rasa panas yang belum hilang.
Sakura terengah.
Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Ia tahu.
Apa yang ada di dalam dirinya bukan sekadar kekuatan biasa.
—
Di sisi lain.
Arena latihan utama.
Claudia berdiri di tengah.
Cahaya putih keemasan berkumpul di tangannya.
Padat.
Terfokus.
“Lagi!”
BOOM!
Ledakan cahaya menghantam dinding latihan.
Retakan muncul.
Lebih dalam dari sebelumnya.
Fuko mundur beberapa langkah.
“Itu sudah cukup”
“Belum.”
Tatapan Claudia dingin.
“…Aku harus lebih kuat.”
Ia mengangkat tangannya lagi.
Cahaya itu berkumpul.
Namun kali ini sedikit bergetar.
Tidak stabil.
Fuko menyipit.
“…Claudia?”
“Diam.”
Claudia tetap memaksakan.
Cahaya itu dilepaskan BOOOOM!!
Ledakan lebih besar.
Namun Claudia mundur satu langkah.
Napasnya sedikit berat.
Untuk pertama kalinya kelelahan terlihat.
Namun ia tersenyum.
“…Lebih kuat…”
Meski tidak sepenuhnya stabil.
—
Malam hari.
Sakura duduk di luar.
Langit gelap.
Angin berhembus pelan.
Ia menatap tangannya.
Diam.
“…Aku tidak berkembang…”
Suaranya pelan.
Namun berat.
Ia menutup mata.
Mengingat semuanya.
Latihan.
Kegagalan.
Rasa sakit.
Dan suara itu.
“…Kalau aku tidak berubah…”
Tangannya mengepal.
“…aku akan kalah.”
Hening.
Angin kecil muncul.
Sangat lemah.
Namun tidak hilang.
Sakura membuka mata.
Menatapnya.
Untuk pertama kalinya ia tidak memaksa.
Tidak menahan.
Tidak mengejar.
Ia hanya…
membiarkan.
Angin itu bergerak pelan.
Mengalir.
Mengikuti ritmenya.
Lebih halus.
Lebih alami.
Dan saat itu sesuatu berubah.
Sakura menarik napas perlahan.
“Kalau aku tidak bisa memaksanya…”
“…maka aku harus mengikutinya.”
Matanya fokus.
Tangannya bergerak sedikit.
Angin itu merespon.
Bukan dipaksa tapi diajak.
Ssshhh…
Angin mulai membesar.
Perlahan.
Stabil.
Tidak pecah.
Sakura sedikit terkejut.
Namun tidak menghentikan.
Ia melanjutkan.
Lebih dalam.
Lebih tenang.
Angin itu berputar.
Membentuk lingkaran di sekitarnya.
Lalu lebih besar.
Lebih cepat.
Tanah di sekitarnya mulai bergetar.
Debu terangkat.
Sssshhhh
Sssshhhhhh
“Ini…”
Sakura memperlebar gerakannya.
Angin itu naik.
Berputar ke atas.
Membentukpusaran.
Puting beliung kecil.
Untuk pertama kalinya ia berhasil.
Stabil.
Tidak hancur.
Tidak lepas kendali.
Matanya membesar.
Namun ia tetap tenang.
“Aku bisa…”
Ia mengangkat tangan lainnya.
Angin itu terpecah.
Berubah bentuk.
Mengelilinginya menjadi lapisan.
Perisai.
Angin tipis namun padat berputar di sekeliling tubuhnya.
Ia merasakannya.
Tekanan.
Perlindungan.
Bukan sekadar angin biasa.
Tapi sesuatu yang bisa menahan serangan.
“…Perisai…”
Sakura menarik napas.
Lalu menajamkan fokusnya.
Angin di satu sisi berkumpul.
Memanjang.
Memadat.
Membentuk ujung runcing.
Sssst
Tombak angin.
Bergetar.
Namun stabil.
Sakura menatapnya.
Jantungnya berdetak cepat.
“…Aku…”
Ia tidak menambah kekuatan.
Tidak memaksa lebih.
Ia hanya mempertahankan.
Puting beliung kecil.
Perisai angin.
Dan tombak angin.
Tiga bentuk.
Tiga kontrol.
Dan semuanya stabil.
Untuk pertama kalinya ia merasa…
benar.
Bukan kuat.
Bukan besar.
Tapi… tepat.
Sakura tersenyum tipis.
“…Begini…”
—
Di kejauhan.
Dalam bayangan pepohonan.
Kaelen berdiri.
Mengamati.
Sejak tadi.
Tanpa Sakura sadari.
“…Akhirnya.”
Matanya menyipit.
Ada kepuasan di sana.
Namun juga perhitungan.
“…Dia mulai mengerti.”
Bukan tentang kekuatan.
Tapi tentang kendali.
Namun jauh di dalam pikirannya rencana lain tetap berjalan.
Waktu terus bergerak.
Turnamen semakin dekat.
Dan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar latihan sedang menunggu.
Sesuatu yang bahkan Sakura sendiri belum siap untuk menghadapinya.
Angin malam berhembus pelan.
Menyapu dedaunan.
Dan untuk sesaat semuanya terasa tenang.
Namun ketenangan itu tidak akan bertahan lama.