Rayya, seorang perawat yang terperangkap dalam permainan cinta dan kekuasaan Marsel, seorang ketua Mafia yang sangat di takuti.
Marsel tidak mau melepaskan nya, Rayya sudah memiliki pacar dan akan segera menikah, akan tetapi Marsel menyatakan kepemilikan terhadap Rayya.
Marsel membuat Rayya tidak bisa menikah selain dengan nya. Ciuman di pertemuan pertama mereka membuat Marsel tidak bisa tenang memikirkan Rayya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumling, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cintaku
Ddrrrtt....
Baru saja keluarga Rayya ingin meninggalkan ruang tamu setelah kepergian Marsel bersama para bawahan nya, suara panggilan masuk yang berasal dari Tas Rayya berbunyi. Semua mata segera tertuju pada gadis itu, Rayya segera membuka tasnya dan di sana tertera nama 'CINTAKU'
Kening Rayya berkerut membaca nama kontak itu.
'Ini kontak siapa?' batin Rayya dan teringat ponselnya baru saja berada di tangan Marsel.
'Ini pasti ulahnya lagi. Kurang ajar, Riko saja tidak memperlakukan aku begini, tapi dia malah bersikap seolah aku dan dia adalah kekasih!' batin Rayya kesal.
Ia teringat di sana ada keluarga nya, jangan sampai mereka tahu kalau yang menelpon itu ada Marsel. Pasti akan heboh lagi, sepertinya Ia harus berpura-pura tidak tahu di depan keluarga nya tentang panggilan dari Marsel itu.
"Hallo?"
Rayya memulai bertanya karena tidak ada suara yang terdengar di balik sambungan.
Karena tidak kunjung mendapat sahutan, Rayya hendak mematikan sambungan, sebelum nya ia sudah me load speaker karena mengira kekecilan sampai tidak bisa ia dengar.
"Rayyaku, siapkan dirimu. Kita akan segera menikah."
Marsel yang berada di balik telepon tersenyum tipis pada sudut bibirnya, Ia membayangkan ekspresi Rayya saat mendengar ucapannya tadi.
Semua orang dalam rumah itu bisa mendengar apa yang terdengar dari sambungan tersebut. Rayya pura-pura mengecek nomor itu dan berlagak tidak tahu itu milik siapa, karena Rayya tidak mau mendapatkan pertanyaan-pertanyaan lagi dari keluarga nya.
"Apa kamu ini, Riko?" tanya Rayya sambil tersenyum di depan keluarga nya dan memperlihatkan wajah malu-malu nya di depan semua orang. Seakan Ia sedang berbicara dengan Riko sang kekasih.
"Nomor mu belum terdaftar, tadi ku kira siapa yang telepon," kata Rayya lagi sambil melangkah pelan keluar dari rumah agak ucapan nya setelah ini tidak di dengar oleh yang lain. Rayya juga segera mengecilkan suara yang sempat Ia perjelas tadi.
"Kok, suara di telepon tadi kayak aneh," bingung Sella yang merasa percakapan Riko dan Rayya terdengar tak wajar di telinganya.
Untuk apa juga Riko menyuruh Rayya untuk menyiapkan diri, bukankah mereka memang sedang menyiapkan nya bersama-sama.
Sella hendak ingin menyusul Rayya, tapi terhenti setelah mendengar ucapan Indah.
"Sudahlah, untuk apa repot dengan urusan mereka," kata Indah ketus. Sejujurnya Ia juga tidak terlalu suka pada Riko. Lebih tepatnya pada Rayya dan Riko.
Sementara itu, di luar kediaman keluarga Rayya, tepat nya dalam mobil mewah keluaran terbaru yang rupanya belum juga meninggalkan lokasi itu, Marsel mengepalkan tangannya, kenapa Rayyanya tidak bisa mengenali suaranya dan malah mengira Ia adalah Riko.
"Rayyaku, apa kamu tidak salah, hmm? Jangan menyebut nama pria lain jika berbicara dengan ku. Atau mereka akan hilang dari bumi."
Marsel menatap tajam pada sosok wanita yang berdiri di depan pintu, matanya seakan menembus mobil dan ingin melahap gadis itu.
Marsel juga tidak suka dengan reaksinya ini, Ia juga tidak terima jika Rayya bercerita tentang pria lain saat berbicara dengan nya.
Sementara Rayya yang berada di balik telepon, wanita itu berjalan cepat menjauh dari pintu dan melihat ke halaman ujung, benar saja, Marsel di sana.
Dari dalam mobil Marsel bisa melihat Rayya yang kini juga menatap dirinya dan menembus ke dalam mobil dengan tatapan tajam. Tentu saja Marsel tau tatapan itu bukan tatapan cinta, namun berbeda dengan Marsel yang justru sebaliknya.
"Tunggu aku kembali menjemputmu sebagai pengantin wanitaku," kata Marsel lagi dan Rayya masih mendengar apa yang pria itu katakan melalui sambungan.
"Jangan kau kira semua orang akan mendengarkan perkataan mu. Kau salah besar jika mengira aku seperti yang lain dan takut pada orang seperti mu," kata Rayya.
Ia tidak peduli Marsel mau bilang apa, lagi pula minggu depan Rayya sudah akan menikah dengan Riko, tentu hal itu tidak bisa Marsel halangi. Memang nya orang itu siapa? Biarlah Marsel menyiapkan pernikahan untuk dirinya sendiri, karena Rayya akan menjadi istri Riko satu minggu lagi, itu artinya Marsel tidak akan bisa lagi mengganggu nya.
Sepertinya Rayya lupa jika Marsel bisa berbuat apa saja yang pria itu inginkan. Termasuk membatalkan pernikahan Rayya, itu hal mudah bagi pria seperti Marsel, apalagi Ia punya segalanya yang tidak orang lain miliki.
"Ya, karena Rayyaku tidak takut padaku, makanya Rayyaku harus menjadi wanita ku. Keputusan ada di tangan mu sayang, menikah dengan ku atau siap kehilangan sesuatu yang berharga."
Marsel langsung memutuskan sambungan sementara Rayya yang hendak membalas malah kesal karena rupanya Marsel sudah memutuskan sambungan.
"Siapa yang mau menjadi wanita mu, aku tidak sudi dan tidak akan pernah mau!"
Rayya berteriak dari luar agar Marsel bisa mendengar nya.
Marsel hanya tersenyum mendengar teriakkan Rayya dan segera memerintahkan agar mereka pergi dari sana pada supir.
Sedangkan Rayya masih belum hilang rasa kesalnya, apalagi melihat mobil Marsel malah pergi begitu saja tanpa meladeni dulu dirinya, ia tidak akan pernah mau menikah dengan Marsel. Memiliki hubungan saja tidak sudi, apalagi menjadi istri nya.
"Bagaimana ini....! Dasar Mafia sialan!" teriak Rayya marah campur cemas, dadanya naik turun bergemuruh hebat.
Ia terbayang ucapan terakhir Marsel tadi, apa yang harus Rayya lakukan untuk mengatasi nya. Tidak semudah itu melawan Mafia menakutkan seperti Marsel, dan ancaman nya pasti tidak main-main.
"Apa kalau aku menikah secepatnya orang gila itu tidak akan mau mengganggu lagi?" tanyanya pada diri sendiri dan tidak yakin dengan perkataan nya tersebut.
Rayya segera menghubungi Riko kekasih nya dan berbicara serius dengan pria itu.
"Bisakah kita menikah besok?" tanya Rayya dengan nafas yang agak tercekat karena masih ada gemuruh di dalam dada. Semua harus di percepat agar tidak ada celah untuk Marsel mengganggu mereka.
Rayya yakin pria gila seperti Marsel hanya penasaran saja padanya, setelah itu pasti Rayya akan di campakkan begitu saja. Bukankah para Mafia memang semena-mena seperti itu?
"Ada apa sayang, kamu sudah tidak sabar untuk menjadi istri ku?"
Terdengar tawa ringan setelah pertanyaan tersebut, Rayya yang mendengar nya justru tidak bisa tersenyum sedih pun.
"Bukan Riko. Aku tanya sekali lagi, mau menikah besok atau tidak sama sekali!" kata Rayya tegas agar Riko mengerti jika saat ini Rayya tidak sedang bercanda.
"Kita menikah besok."
Rayya bernafas lega setelah mendengar keputusan Riko itu, Ia sedikit tersenyum dan semoga setelah besok Marsel menyerah untuk mengganggu nya dan keluarga nya.
_______________
Tidak terasa hari telah berlalu, Rayya sudah berada di depan sebuah kaca dan sedang di rias oleh penata rias. Kecantikan nya semakin terpancar saat wajah putih susu nya di poles sedemikian rupa dengan berbagai makeup yang bisa membuat semua orang pangling.
"Sayang, Riko dan keluarga nya sudah datang."
Sella memasuki kamar Rayya dan memberitahukan hal tersebut, perasaan Rayya yang awalnya biasa saja mendadak tidak karuan mendengar rombongan keluarga Riko telah sampai. Ia jelas bahagia namun juga sedikit deg-degan, hal itu tentu merupakan hal lumrah yang semua pengantin rasakan. Namun selain itu, tempo yang di percepat dari yang seharusnya juga menjadi alasan besar Rayya tidak tenang.
Ia tersenyum tapi pikiran nya agak cemas memikirkan Marsel yang mungkin saja tahu hal ini dan datang mengganggu lagi. Kemarin setelah berbicara dengan Riko Rayya juga beralih pada keluarga nya yang sangat kaget dengan keputusan Rayya.
Undangan yang tersebar masih ada seminggu lagi dan Rayya malah meminta untuk di percepat. Rio dan yang lain ingin menolak, tapi mendengar alasan Rayya membuat mereka setuju dengan permintaan Rayya.
"Rayya...," seru Sella saat melihat kecantikan putrinya. Rayya memang sudah sangat cantik tanpa makeup, apalagi jika sudah di poles seperti ini, semakin bersinar wajah cantiknya.
"Putri Mama cantik sekali. Ayo sayang, kita keluar. Pasti Riko semakin jatuh cinta jika melihat mu," goda Sella membuat Rayya tersipu malu. Ia melihat pantulan wajahnya di cermin, dirinya memang mengakui wajah yang ia miliki benar-benar cantik.
Ting.
Suara pesan masuk di ponsel Rayya. Gadis yang tengah tersipu akan pujian Sella beralih mengambil handphonenya.
"Rayyaku sayang, kamu mau diam-diam menikah di belakang ku."