Cantika perempuan miskin dari desa ,karena salah paham warga hingga dipaksa menikah dengang pria yang baru ia kenal,dan Cantika tidak menyangka kalau suami dadakannya adalah CEO, bagaimana Cantika menjalankan rumah tangga dadakannya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan menuju Dunia Asing
Begitu pintu mobil tertutup dan mesin dinyalakan, suasana di dalam mobil langsung terasa sunyi. Di luar, tangis adik-adik Cantika masih terdengar samar-samar, menusuk hati. Cantika menempelkan keningnya ke kaca jendela yang dingin. Rumah kecilnya di gang sempit itu semakin mengecil, lalu lenyap di tikungan jalan.
Air matanya tak berhenti mengalir. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, bahunya berguncang hebat. Isakan tertahan yang keluar dari mulutnya terdengar begitu menyiksa.
“Berhentilah menangis,” ujar Arka pelan, suaranya datar.
Cantika tidak menjawab. Ia hanya menggeleng kecil, seolah kata-kata itu tak bisa menembus kesedihannya.
Arka melirik sekilas. “Saya tidak membawamu ke tempat jagal, Cantika. Saya membawamu ke Jakarta. Kamu akan tinggal di apartemen yang nyaman, punya pakaian bagus, dan makanan enak setiap hari. Hidupmu akan jauh lebih baik.”
Cantika menurunkan tangannya perlahan. Matanya merah dan bengkak. Ia menatap Arka dengan pandangan yang penuh luka. “Tuan tidak mengerti … Buat apa pakaian bagus kalau hati saya tertinggal di gubuk itu? Buat apa makanan enak kalau saya tidak tahu apakah adik-adik saya bisa makan hari ini?”
Arka menghela napas panjang. “Saya sudah bilang berkali-kali, saya sudah mengatur semuanya. Sore ini perawat akan datang menjaga ibumu. Bahan makanan akan dikirim rutin setiap minggu. Adik-adikmu akan sekolah lagi. Mereka akan baik-baik saja.”
Bentakan kecil itu keluar tanpa sengaja. Arka sendiri langsung menyesal, tapi ia tidak tahu lagi cara menenangkan gadis di sampingnya. Cantika terdiam. Ia menunduk, meremas tas kain lusuh di pangkuannya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Keheningan menyelimuti mereka selama berjam-jam. Mobil mewah hitam metalik itu meluncur mulus di jalan tol. AC dingin meniup pelan, kursi kulit empuk terasa asing bagi Cantika yang biasa duduk di bangku kayu atau tanah.
Arka sesekali melirik ke samping. Cantika akhirnya tertidur karena kelelahan menangis. Wajahnya masih terlihat sangat sedih. Sisa air mata mengering di pipinya yang kecokelatan. Tangan kanannya masih menggenggam erat tas kain itu, seolah tas itu adalah satu-satunya pegangan yang tersisa dari dunia lamanya.
Arka menghela napas lagi, lebih dalam kali ini. Ia mengalihkan pandangan ke jalan tol yang membentang lurus di depan.
“Apa yang sudah aku lakukan?” gumamnya dalam hati.
Dua puluh empat jam lalu, hidupnya masih terkontrol sempurna. Ia adalah Arka Wijaya, pengusaha sukses berusia 30 tahun yang membangun kerajaan bisnis properti dari nol. Jadwal rapat, keputusan besar, mobil mewah, apartemen penthouse, dan reputasi yang selalu terjaga. Semua berjalan sesuai rencana.
Pernikahan bagi Arka hanya di atas kertas, hanya untuk menutup mulut orang-orang yang suka bergosip. Tapi bagi Cantika, itu berarti meninggalkan segalanya. Ibu yang sakit-sakitan, tiga adik kecil yang masih bergantung padanya, dan kehidupan sederhana di desa tempat kelahirannya.
Arka menggeleng pelan. Ia tidak pernah menyangka tanggung jawab yang ia ambil akan terasa seberat ini.
Di rumah kecil yang ditinggalkan, Ibu Ratih masih duduk diam di kursi teras dengan mata nanar. Rara yang berusia sepuluh tahun, Galih yang empat belas tahun, dan Dodi yang baru tiga tahun berdiri di pinggir gang. Mereka menatap ke arah jalan yang sudah kosong. Mereka belum benar-benar mengerti apa yang terjadi, tapi rasa kehilangan sudah menusuk dada kecil mereka.
“Kak Cantika … kapan pulang?” tanya Dodi dengan suara kecil sambil menggenggam tangan kakaknya.
Rara hanya bisa mengusap air mata adiknya tanpa menjawab.
Sementara itu, di dalam mobil, Cantika terbangun ketika mobil melintasi jalan yang lebih mulus. Ia mengucek mata, lalu menatap ke luar jendela. Pemandangan sawah hijau yang biasa ia lihat setiap hari mulai berganti dengan bangunan-bangunan tinggi di kejauhan. Dunia barunya sudah semakin dekat.
Hatinya berdegup kencang. Campuran antara ketakutan, kesedihan, dan secercah harapan kecil yang tak mau ia akui. Harapan bahwa adik-adiknya benar-benar akan baik-baik saja.
Arka memperhatikan perubahan ekspresi di wajah Cantika. Suaranya kali ini lebih lembut. “Kita akan singgah sebentar untuk makan siang nanti. Kamu harus makan. Jangan sampai sakit di jalan.”
Cantika hanya mengangguk pelan tanpa menjawab. Ia memeluk tas kain lusuhnya lebih erat. Bagi Cantika, tas itu bukan sekadar tas. Di dalamnya ada foto keluarga yang sudah kusut, dan surat kecil dari ibunya yang ditulis dengan tulisan tangan gemetar.
Mereka singgah di sebuah restoran pinggir tol yang cukup mewah. Arka memesan nasi goreng spesial, ayam goreng, dan jus segar untuk Cantika. Gadis itu makan dengan pelan, hampir tanpa selera. Setiap suapan terasa seperti batu di tenggorokannya.
“Kamu suka?” tanya Arka mencoba memecah keheningan.
Cantika mengangguk kecil. “Enak, Tuan.”
Arka meringis mendengar panggilan itu. “Kamu tidak perlu memanggil saya ‘Tuan’ lagi. Kita sudah menikah, meski … hanya di atas kertas.”
Cantika menunduk. “Maaf … Arka.”
Nama itu terasa asing di lidahnya. Dua hari lalu, ia bahkan belum pernah bertemu pria ini. Kini ia harus memanggilnya suami.
Perjalanan dilanjutkan setelah makan siang. Matahari mulai condong ke barat ketika mobil memasuki wilayah Jakarta. Gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi, lampu-lampu kendaraan berkelap-kelip, suara klakson dan deru mesin memenuhi telinga Cantika yang biasa mendengar kicau burung dan suara angin di sawah.
Cantika menatap semua itu dengan mata lebar. Dunia ini begitu asing. Begitu ramai. Begitu dingin.
Arka memperhatikannya diam-diam. Ia melihat bagaimana tangan Cantika yang kasar penuh bekas luka dari mencuci pakaian dan bekerja di ladang itu kini gemetar pelan di pangkuan. Kulitnya yang kecokelatan karena sering terkena matahari terlihat kontras dengan interior mobil yang mewah. Rambutnya yang diikat sederhana dengan karet gelang biasa terlihat kusut setelah perjalanan panjang.
“Besok pagi saya akan antar kamu ke salon dan butik. Kamu butuh pakaian yang lebih… sesuai,” kata Arka pelan.
Cantika hanya diam. Ia tidak peduli dengan pakaian bagus. Yang ada di pikirannya hanyalah wajah adik-adiknya yang menangis tadi pagi, dan suara ibunya yang berbisik lemah, “Pergilah, Nak. Ini demi masa depan kalian semua.”
Mobil akhirnya memasuki kawasan apartemen mewah di kawasan Sudirman. Gerbang tinggi terbuka otomatis. Lift khusus membawa mereka langsung ke lantai penthouse.
Ketika pintu apartemen terbuka, Cantika terpaku di tempat. Ruangan itu luas sekali. Lantai marmer mengkilap, sofa kulit putih yang empuk, dapur modern dengan peralatan mengilap, dan jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta di malam hari. Lampu-lampu gedung berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh ke bumi.
“Ini … rumah Tuan?” tanya Cantika hampir berbisik.
“Ini rumah kita sekarang,” jawab Arka sambil meletakkan kunci di meja.
Cantika melangkah pelan, takut merusak sesuatu. Sepatu kets lusuhnya terasa sangat tidak pantas di lantai yang begitu bersih. Ia berdiri di depan jendela, menatap kota yang berkilauan di bawah sana.
Arka berdiri di belakangnya, menyelipkan kedua tangan ke saku celana. “Kamu bisa tidur di kamar tamu. Saya akan tidur di kamar saya sendiri . Kita … tidak perlu berbagi ranjang.”
Cantika mengangguk pelan. “Terima kasih.”
Malam itu, setelah mandi dengan air hangat yang mengalir deras dari shower mewah, Cantika duduk di tepi ranjang king size yang terasa terlalu besar untuknya seorang diri. Ia mengeluarkan foto keluarga dari tas kainnya. Di foto itu, ia tersenyum lebar bersama ibu dan ketiga adiknya di depan rumah kecil mereka.
Air matanya jatuh lagi, menetes ke foto yang sudah pudar.
“Maafkan Kakak … Kakak janji akan sering kirim uang. Kakak janji akan pulang kalau sudah boleh,” bisiknya pelan.
Di ruang tamu, Arka duduk sendirian dengan segelas whisky di tangan. Ia menatap layar ponsel yang menampilkan foto pernikahan sederhana mereka yang diambil kemarin. Cantika tersenyum kaku dalam kebaya pinjaman, sementara ia berdiri dengan wajah datar.
Arka meneguk minumannya dalam satu tegukan.
“Selamat datang di hidupku, Cantika,” gumamnya pelan, mengulang kata-kata yang sama seperti tadi siang.
Di luar, hujan mulai turun membasahi Jakarta. Di dalam apartemen mewah itu, dua orang asing yang kini terikat sebagai suami-istri duduk di ruangan yang berbeda, masing-masing tenggelam dalam pikiran dan kesedihan mereka sendiri.
Perjalanan panjang menuju dunia asing baru saja dimulai.
Dan entah berapa lama waktu yang dibutuhkan, hingga hati mereka berdua bisa saling menemukan di tengah perbedaan yang begitu besar.