Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita yang Menyebut Ibuku dengan Nama Depan
📖 BAB 29: Wanita yang Menyebut Ibuku dengan Nama Depan
Kabut di atas Jembatan Charles bergerak pelan seperti tirai panggung.
Puluhan pria berbaju gelap sudah menutup seluruh sisi jembatan. Langkah mereka rapi, senyap, dan terlalu terlatih untuk disebut sekadar pengawal.
Di tengah lingkaran itu, wanita elegan berusia sekitar lima puluh tahun berdiri dengan mantel panjang warna hitam dan sarung tangan kulit.
Wajahnya cantik dalam cara yang dingin.
Mata abu-abu tajam.
Dan senyumnya memiliki jenis ketenangan yang hanya dimiliki orang yang terbiasa memerintah nasib orang lain.
Liora mundur satu langkah.
“Itu dia.”
Qingyan melirik gadis itu.
“Siapa dia?”
Wanita itu menjawab sendiri.
“Sopan santunmu buruk, tapi Elena memang keras kepala.”
Ia menatap Qingyan dari kepala sampai kaki.
“Perkenalkan. Aku Vivienne Moreau.”
Han berbisik lewat earpiece dari kejauhan,
“Nama yang sangat jahat.”
---
“Kenapa kau menyebut ibuku dengan nama depan?” tanya Qingyan.
Vivienne tersenyum tipis.
“Karena kami saling mengenal sebelum kau ada.”
Jantung Qingyan menegang.
“Apa kau keluarganya?”
“Lebih rumit.”
“Aku benci jawaban seperti itu.”
“Bagus. Berarti kita sudah cocok.”
Liora berdiri kaku di samping Qingyan, tangan menggenggam erat tali kotak biolanya.
“Jangan dengarkan dia,” bisiknya.
Vivienne memiringkan kepala.
“Kau masih memainkan nada sumbang, rupanya.”
Liora memucat, tapi matanya membara.
“Aku tidak akan ikut.”
“Kau akan ikut. Kau hanya belum tahu caranya.”
---
Qingyan maju setengah langkah.
“Kalau kau datang untuk menculik seseorang, pilih orang lain. Aku sedang lelah.”
Beberapa pria bersenjata langsung menegang.
Vivienne justru tertawa kecil.
“Lucu. Elena juga bicara begitu saat pertama kali menodong pistol padaku.”
Nama itu lagi.
Semua orang tampaknya punya potongan ibunya kecuali dirinya.
“Apa maumu?”
Vivienne menatap Qingyan dalam-dalam.
“Aku datang mengambil apa yang seharusnya tidak pernah hilang.”
“Kalau maksudmu Liora, tanya dulu apakah dia barang.”
“Kalau maksudku dirimu?”
Sunyi jatuh di jembatan.
Kabut terasa lebih dingin.
---
Liora menoleh cepat ke Qingyan.
“Aku bilang kita harus pergi.”
“Kita?”
“Kau dengar yang penting saja.”
Qingyan hampir tersenyum.
Gadis ini tajam, gugup, dan menyebalkan dengan cara yang akrab.
Vivienne mengangkat satu tangan.
Dua pria membawa tablet dan map maju ke depan.
“Qingyan, kau dibesarkan dengan kebohongan. Keluarga Qin memakaimu. Adrian Vale mengklaimmu. Keluarga Gu menyembunyikanmu.”
Ia berhenti sejenak.
“Sekarang dengarkan satu kebenaran.”
Tablet dinyalakan.
Foto lama muncul.
Elena Qin muda berdiri bersama Vivienne dan seorang pria asing di depan gedung laboratorium.
Mereka tampak... dekat.
“Tidak mungkin,” bisik Qingyan.
Vivienne tersenyum.
“Oh, sangat mungkin.”
---
Suara langkah pelan datang dari balik kabut sisi kanan.
Gu Beichen muncul seolah malam memang miliknya.
Mantel hitam panjang, tangan di saku, ekspresi dingin.
Ia berjalan santai melewati dua pria bersenjata yang terlalu gugup untuk menembak.
Han muncul di belakang pilar batu sambil membawa kopi panas.
“Saya bawa dukungan moral.”
Vivienne menatap Beichen.
“Putra Zhengyuan.”
“Wanita asing yang terlalu banyak bicara.”
“Kurang ajar. Aku suka.”
Beichen berdiri di sisi Qingyan tanpa melihatnya.
“Aku bilang jangan datang sendiri.”
“Aku tidak sendiri.”
“Benar.”
Ia melirik Liora.
“Sekarang kita tambah masalah.”
---
Vivienne memandangi Beichen lama.
“Ayahmu berutang padaku.”
“Ambil nomor antrean.”
“Masih seperti dulu. Keluarga Gu tak pernah bisa membedakan percaya diri dan arogansi.”
Beichen menatap pasukan di sekeliling.
“Keluarga Moreau rupanya tak bisa membedakan kota wisata dan zona perang.”
Han berbisik,
“Saya mencatat dua hinaan elegan malam ini.”
Qingyan memotong.
“Cukup. Jelaskan sekarang. Siapa kau bagi ibuku?”
Vivienne terdiam sesaat.
Lalu menjawab,
“Aku adalah orang yang menyelamatkan Elena saat semua keluarganya ingin menjualnya.”
Jantung Qingyan berdegup keras.
“Aku tidak percaya.”
“Tak masalah. Kebenaran tak butuh izin.”
---
Liora maju tiba-tiba.
“Dia bohong setengah!”
Vivienne menoleh tajam.
“Liora.”
“Kaulah yang menahan Ibu Elena bertahun-tahun!”
Qingyan membeku.
“Apa?”
Vivienne mendesah tipis.
“Bahasa anak-anak selalu dramatis.”
Liora menatap Qingyan.
“Setelah kebakaran, Elena tidak mati. Dia dibawa Vivienne ke Eropa.”
Dunia terasa berhenti.
Ibunya hidup... setelah kebakaran?
Qingyan hampir tak bisa bicara.
“Dia... hidup?”
Liora mengangguk pelan.
“Hidup beberapa tahun.”
“Dan meninggal karena pengkhianatan,” kata Vivienne datar.
Semua menoleh padanya.
---
Kabut menebal.
Suara sungai di bawah jembatan terdengar lebih keras.
Qingyan merasakan lututnya melemah, namun ia memaksa berdiri tegak.
“Kau bilang ibuku hidup. Kau bilang kau menyelamatkannya. Lalu dia mati.”
Tatapannya menusuk.
“Pilih satu cerita.”
Vivienne tak tersinggung.
“Dua-duanya benar.”
Ia melangkah lebih dekat.
“Elena datang padaku dengan dua bayi, tubuh rusak, pikiran hancur, diburu Qin, Vale, dan Gu.”
Beichen menegang sedikit.
Vivienne melihat itu dan tersenyum.
“Ya, bahkan keluargamu.”
Qingyan menoleh ke Beichen.
Ia tak membantah.
Dadanya menegang lagi.
“Lalu?” tanya Qingyan.
“Aku menyembunyikannya. Menyelamatkan satu bayi.”
“Yang mana?”
Vivienne menatap Liora.
“Dia.”
---
Liora memalingkan wajah.
Qingyan menatap gadis itu lama.
“Jadi kau dibesarkan olehnya?”
“Dibesarkan?” Liora tertawa pahit. “Lebih tepatnya disimpan.”
Vivienne menghela napas.
“Anak muda suka memilih kata kasar.”
“Kau melatihku seperti alat.”
“Aku membuatmu bertahan hidup.”
“Dengan mengunci pintu!”
Beichen berkata pelan,
“Cukup.”
Suara itu tak keras, tapi semua orang diam.
Ia menatap Vivienne.
“Kau datang bukan untuk nostalgia.”
“Benar.”
Vivienne mengangkat dagu ke arah Qingyan.
“Aku datang untuk membawanya.”
---
Puluhan senjata terangkat bersamaan.
Han mundur satu langkah.
“Ini bagian yang saya tidak suka.”
Beichen bergerak setengah langkah di depan Qingyan.
Gerakan kecil, naluriah.
Melindungi.
Vivienne memperhatikan itu.
“Menarik.”
“Tidak untukmu,” kata Beichen.
Qingyan menatap wanita itu.
“Kenapa aku?”
“Karena kau milik Elena. Dan Elena pernah berjanji menyerahkanmu padaku jika dunia runtuh.”
“Aku bukan kontrak.”
“Kau adalah warisan.”
“Aku bukan benda.”
Vivienne tersenyum tipis.
“Persis ibumu.”
---
Liora mendadak membuka kotak biolanya.
Bukan biola.
Di dalamnya ada pistol pendek, beberapa magazine, dan pisau lipat.
Han berkedip.
“Saya resmi jatuh cinta pada konsepnya.”
Liora melempar satu pistol ke Qingyan.
“Tangkap.”
Qingyan menangkap refleks.
“Kenapa bawa itu di kotak biola?”
“Orang jarang memeriksa musik.”
Masuk akal.
Sangat mengganggu.
Vivienne menutup mata sejenak seperti ibu lelah.
“Kau sungguh mengecewakan.”
“Terima kasih.”
---
Keheningan pecah saat satu pria Moreau mencoba meraih Liora.
Liora menembak lututnya tanpa ragu.
Jeritan menggema.
Dan jembatan berubah kacau.
Beichen menarik Qingyan ke belakang patung batu sambil membalas tembakan presisi.
Han berteriak sambil merunduk,
“Saya ke Praha untuk budaya!”
Xue muncul entah dari mana di atas patung sambil menendang satu pria ke sungai.
“Kau dapat budaya.”
Mira menembak lampu jalan, membuat sebagian area gelap.
Kabut, jeritan, tembakan, langkah kaki.
Jembatan tua berubah medan perang.
---
Di tengah kekacauan, Vivienne tetap berdiri tenang.
Ia menatap Qingyan melalui asap tipis.
Lalu berkata cukup keras untuk terdengar:
“Elena tidak mati karena aku.”
Qingyan menegang.
“Lalu karena siapa?”
Vivienne tersenyum dingin.
“Karena ayahmu yang lain.”
Qingyan membeku.
Ayah... yang lain?
Sebelum ia sempat bertanya, granat asap dilempar ke tengah jembatan.
Kabut putih meledak.
Pandangan lenyap.
Saat asap menipis beberapa detik kemudian—
Vivienne menghilang.
Dan Liora juga tidak ada di tempatnya.
Di lantai batu hanya tersisa satu liontin perak kecil.
Di dalamnya foto Elena Qin... sedang menggendong dua bayi.
BERSAMBUNG