NovelToon NovelToon
Asmara Setelah Menikah

Asmara Setelah Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Nikah Kontrak / Obsesi / Keluarga / Penyesalan Suami / Cinta setelah menikah
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: yesstory

Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

David menghentikan mobilnya di depan rumah Tara. Setelah mematikan mesin, David memiringkan tubuhnya menatap Tara. Tara yang sedang melepas sabuk pengamannya sontak menoleh dan mengernyit.

“Kenapa?” tanya Tara saat melihat David menatapnya lekat dengan tersenyum manis.

David menggenggam tangan Tara. “Aku seneng banget. Hari ini, kita resmi berpacaran lagi. Namun kali ini, aku serius, Tara. Aku ingin menikah denganmu. Entah kapan, tapi aku akan menunggumu sampai kamu siap.”

Tara memegang tangan David dan tersenyum. “Apa kamu pikir aku ingin pacaran kayak jaman kita SMA? Enggak, Vid. Saat aku memutuskan untuk bersamamu lagi, aku sudah siap untuk melangkah lebih lanjut. Tapi, bagaimana dengan kedua orang tuamu? Kamu belum pernah menikah, sedangkan aku.. aku seorang janda.” Ucapan Tara memelan di akhir kalimat. Dia takut statusnya itu akan menjadi masalah bagi keluarga David.

“Orang tuaku pasti setuju. Sejak aku kembali ke rumah mereka, sejak saat itu pula mereka tak pernah lagi memaksa atau menyuruhku menikah dengan siapapun. Mereka menyerahkan urusan itu padaku. Aku yang akan memilih calon istriku sendiri. Dan aku memilihmu.”

Tara tersenyum lembut. Dia berharap inilah awal kebahagiaannya. Keduanya masih saling tatap. David mendekatkan wajah, lalu mencium bibir Tara. Melumatnya perlahan. Tara ikut membalasnya. Dan saat tangan David ingin menyentuh tubuh Tara, tiba-tiba saja terdengar suara kaca mobil diketuk.

David dan Tara sontak melepas pagutan dan menoleh. Mereka terbelalak saat tahu Haris lah yang mengetuk pintu kaca mobil di sebelah Tara. Tara segera merapikan penampilannya, walaupun tak ada adegan grepe-grepe. Tapi tetap saja dia takut jika Haris melihatnya.

“Tenang saja. Kaca mobilku gelap. Dari luar nggak akan kelihatan kok,” ucap David saat melihat Tara gugup dan salah tingkah.

Tara menoleh. “Kamu yakin?”

David mengangguk yakin. Tara menghela napas panjang, lalu membuka pintu mobil. Haris yang berdiri disana, menatap Tara datar sambil bersedekap dada.

“Ngapain sih di dalam? Kok lama amat keluarnya?” Haris menatap keduanya.

“Ngobrol sebentar. Lagian tumben nyamperin aku sampai mobil?” tanya Tara balik.

“Abang nungguin donat dari tadi. Jangan bilang kalau kamu lupa beliin ya, Ra.”

Tara menggeleng. “Ada. Sebentar.”

Tara membuka pintu belakang dan mengambil kantong berisi box donat. “Ini.”

Haris menerima box tersebut. “Kirain lupa.”

“Ya enggaklah.”

“Mampir dulu, Vid? Kita bisa ngopi sambil makan donat,” ajak Haris dari pintu samping mobil yang terbuka.

“Enggak, Bang. Aku mau langsung pulang. Mungkin lain kali,” tolak David yang memang tak keluar dari balik setirnya.

“Ya udah kalau gitu. Thanks udah jemput Tara.”

David mengangguk. “Aku pamit ya Bang.”

“Oke.” Haris menutup pintu mobil David.

Tara melambaikan tangan walau tak bisa melihat David dari luar mobil. Mobil David pun melaju.

Tara dan Haris masuk ke rumah mereka. “Bang, aku mau bersih-bersih dulu ya,” ucap Tara.

“Iya udah. Udah makan belum?”

“Belum.”

“Ya udah. Abang pesenin makanan ya.”

Tara mengangguk lalu melangkah menuju kamarnya.

***

Lalu apa kabar dengan Devan?

Jika Tara sudah siap untuk melanjutkan hidup bersama David, maka Devan masih betah dengan kesendiriannya. Kesendirian tanpa seorang wanita di hidupnya. Semakin kesini, hidup Devan semakin belok saja, keluar dari jalur normal.

Devan semakin jauh dari kodratnya. Dia masih berhubungan dengan Alan. Seperti saat ini, mereka tengah makan bersama di rumah Devan. Alan resmi tinggal bersama Devan sejak beberapa bulan lalu.

Tentu saja tak ada orang yang curiga dengan hubungan mereka berdua. Di depan umum, mereka tampak seperti dua orang pria yang bersahabat dekat. Mereka hanya menunjukkan kemesraan mereka di dalam kamar.

Begitupun orang tua Devan yang tak tahu jika Devan memiliki kelainan orientasi seksual. Saat orang tua Devan berkunjung dan mendapati Alan di sana, Devan beralasan jika dia kesepian di rumah dan meminta temannya untuk menemaninya. Tentu saja orang tua Devan setuju. Mereka tak pernah menyangka jika putra mereka dan pria yang diklaim teman sang putra mempunyai hubungan khusus dalam tanda kutip.

“Dev, naik gunung yuk. Kayaknya seru. Atau mungkin kita liburan. Ke Jogja mungkin,” usul Alan.

“Ehm.. boleh juga. Kapan?”

“Nanti kalau liburan semester.”

“Oke deh. Atur aja waktu dan tempatnya.”

Alan mengangguk senang. Alan juga seorang guru. Itulah awalnya kenapa Devan bisa mengenal Alan, begitupun sebaliknya. Karena mereka teman satu profesi tapi beda sekolah. Namun, semenjak Devan bercerai dari Tara, Devan sudah tak menjadi guru lagi. Dia resign. Dia sekarang fokus mengurusi usaha-usahanya.

Alan sibuk dengan ponselnya, mencari referensi tempat wisata yang menurutnya asyik dan seru untuk dikunjungi. Saat sedang mencari-cari itulah, akun milik mantan istrinya Devan mengunggah sebuah postingan. Alan memang sengaja mengikuti akun media sosial milik Tara sejak Tara masih menjadi istrinya Devan. Tapi sayangnya, Tara tak mengikutinya balik.

Alan menyeringai sinis saat melihat postingan Tara.

“Dev, lo lihat ini.” Alan menyodorkan ponselnya.

Devan menoleh heran. “Apa?”

“Lo lihat aja.”

Devan menerima ponsel Alan yang layarnya masih terbuka. Devan terbelalak.

“Sepertinya mantan bini lo mau nikah lagi,” ucap Alan memerhatikan raut wajah Devan yang begitu terkejut.

“Lo ngikutin akun Tara?” tanya Devan menatap Alan datar.

“Dari dulu. Sejak dia jadi bini lo.”

Devan kembali menatap postingan Tara. Hanya foto bunga mawar merah di dalam pot. Tapi captionnya yang membuat hati Devan sedikit tak nyaman.

@Rinelda_Tara : ‘Aku siap melangkah ke depan bersamamu. Terima kasih atas mawar yang selalu mekar karena kegigihanmu menungguku. Mawar itu kini siap untuk dipetik pemiliknya.’

“Lo baik-baik aja, Dev?” Alan menatap lekat Devan yang hanya terdiam sambil memperhatikan postingan tersebut.

Devan mengangguk lesu. Dia menyerahkan lagi ponsel Alan. Menghela napas berulang kali. Entah kenapa, dia merasa hatinya tak suka melihat Tara sudah melupakannya. Terbukti dari postingannya. Tara tak sembarangan menulis caption. Dia yakin jika saat ini Tara pasti sedang dekat dan menjalani hubungan serius dengan entah siapa.

“Lo bisa cari tahu bini lo sama siapa sekarang kalau lo mau. Gue bisa bantu,” tawar Alan.

Devan menggeleng. “Tara udah jadi masa lalu gue, Lan. Dengan siapapun itu, selama bisa membuat Tara bahagia, gue bakal ikut bahagia kok. Dia berhak mendapat kebahagiaan setelah apa yang gue lakuin sama dia selama pernikahan kami.”

“Tapi hati lo masih belum ikhlas, Dev. Gue bisa lihat dari wajah lo. Jauh di sudut hati lo, ada cinta untuk mantan bini lo itu. Tapi yah… mungkin kalian emang tak ditakdirkan berjodoh sampai akhir. Mau dipaksa pun, kalau tak berjodoh, tetap saja nggak akan bisa bertahan.”

Devan mengangguk. Setuju dengan kalimat Alan. “Yah.. gue telat nyadarin perasaan itu. Dan saat gue sadar, gue udah kehilangan dia.”

Alan menepuk bahu Devan, menguatkan. “Ya sudahlah. Lo bilang lo bakal bahagia kalau dia udah nemuin kebahagiaannya, kan ? Jadi, harusnya lo senyum dong. Jangan sedih gitu. Omongan lo sama raut wajah lo tuh nggak singkron.”

Devan tertawa getir. Ya. Semuanya sudah berlalu, bukan? Dengan siapapun Tara bahagia, dia tak bisa ikut campur lagi dalam kehidupan Tara. Tara bebas menentukan pilihannya, walau dalam hati, dia sangat penasaran. Siapa pria yang sedang dekat dengan Tara saat ini?

Didorong oleh rasa penasaran, maka keesokan harinya, Devan ke rumah Tara pagi-pagi. Dia beralasan pada Alan bahwa ada urusan di toko cabang tengah kota, jadi dia terpaksa berangkat pagi-pagi untuk menghindari kemacetan. Untunglah Alan memercayainya.

Jam enam pagi, Devan sudah berada tak jauh dari rumah Tara. Mobilnya terpakir rapi di depan jalan sebuah rumah, entah rumah siapa. Devan menunggu. Chat terakhirnya dengan Tara beberapa bulan lalu, Tara mengatakan sudah mendapat pekerjaan di sebuah kantor. Dan Devan yakin, Tara pasti akan dijemput oleh kekasihnya. Devan hanya ingin tahu siapa pria yang tengah dekat dengan mantan istrinya itu.

Jam tujuh tepat, sebuah mobil parkir di depan rumah Tara. Seorang pria keluar dari sana. Devan menyipitkan mata. Pria itu masuk ke halaman rumah Tara, dan tak lama kemudian pria itu keluar lagi dengan menggandeng tangan Tara. Keduanya tampak saling melempar senyum.

Devan terbelalak, terkejut saat melihat wajah pria itu. Dia melihat dengan jelas saat pria itu membukakan pintu mobil untuk Tara. Itu David.

Devan menggeleng tak percaya. Apakah kekasih baru Tara itu adalah David? Devan terus memandangi mobil mereka hingga menghilang di tikungan jalan.

Dia menyandarkan punggungnya. Apa yang terjadi? Tara kembali berhubungan lagi dengan David? Devan mengepalkan tangannya. Dia sudah mewanti-wanti Tara untuk tak bersama David lagi setelah apa yang dilakukan pria itu di masa lalu. Tapi, rupanya Tara tetap nekat.

Devan mengambil ponsel dan mengirim sebuah pesan pada seseorang. Setelah itu, dia menyalakan mobilnya dan pergi dari sana.

Ting!

Sebuah pesan masuk ke ponsel Tara. Tara mengambil ponselnya dan membuka pesan itu.

Devan [Bisa kita ketemuan, Ra? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan.]

Tara mengernyit. Tumben sekali Devan mengajaknya bertemu?

“Kenapa, Sayang? Pesan dari siapa?” David menoleh sesaat.

“Ehm… Devan.”

David mengernyit. “Dia kirim pesan apa?”

“Dia ngajak ketemu.”

David menoleh. “Ketemu? Buat?”

“Aku nggak tahu. Katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan.”

David terdiam. Tara menoleh. “Apa aku boleh ketemu dengannya?”

David menghela napas perlahan. “Apa kalian masih sering chattingan atau telponan?” tanya David, tanpa menjawab pertanyaan Tara sebelumnya.

Tara menggeleng. “Kami jarang chattingan. Paling cuma nanya kabar aja. Itupun jarang banget. Kami juga nggak pernah telponan.”

“Tapi kenapa dia tiba-tiba ngajak kamu ketemu? Apa dia ingin kembali rujuk sama kamu?” David mulai berpikir negatif.

“Aku rasa enggak. Kalau dia mau rujuk, kenapa harus menunggu selama ini?”

Ya. Tara yakin jika Devan tak akan meminta rujuk. Dia lah yang paling tahu bagaimana Devan. Devan tak akan pernah berubah. Walaupun lelaki itu berubah, Tara tetap tak ingin kembali pada Devan. Sudah cukup perasaannya mati oleh sikap Devan yang sangat keterlaluan.

“Ya bisa aja. Seseorang itu baru menyadari perasaannya setelah dia kehilangan. Sama kayak aku dulu. Aku baru sadar kalau aku benar-benar mencintaimu, setelah aku kehilangan kamu. Dan mungkin saja Devan juga baru menyadarinya.”

Tara menggeleng. “Devan nggak akan pernah minta rujuk, Vid. Kamu bisa percaya sama aku.”

David menghela napas berat. “Oke. Kamu boleh ketemu sama dia. Maaf, Ra. Bukannya aku mengekangmu, tapi.. aku hanya cemburu. Apalagi dia mantan suami kamu.”

Tara tersenyum menatap David. “Dia nggak mencintaiku sekalipun kami menikah. Kamu tahu itu kan.”

“Tapi tetap saja kalian tinggal satu atap selama tiga tahun. Aku yakin, perasaan itu pasti tetap ada walau sedikit. Aku cuma khawatir, kamu tergoda lagi dengannya.”

Tara menyentuh paha David dan mengelusnya. David sontak menatap Tara penuh peringatan. Namun Tara acuh, mengedikkan bahu. “Yang ada dalam pikiranku sekarang itu cuma kamu, Sayang. Devan hanya masa lalu. Dan kamu lah masa depanku.”

David mulai duduk dengan gelisah. Apalagi tangan Tara yang seolah sengaja menggodanya dengan mengelus-elus pahanya yang ditutupi celana jeans.

“Jangan menggodaku, Sayang. Kita lagi perjalanan buat berangkat kerja. Jangan sampai aku membawamu ke rumahku dekat sini,” ancam David serius. Dia memang selalu hampir kehilangan akal sehatnya jika Tara sudah menyentuhnya.

Tara menarik tangannya dan terkikik. “Kamu murahan sekali, Sayang. Baru di sentuh sedikit, udah ngancem aja mau bawa aku ke rumahmu yang sepi itu.”

“Karena aku normal, Sayang. Ditambah aku mencintaimu. Jadi, please jangan goda aku disaat yang nggak pas gini. Tanpa kamu goda pun, aku sudah tergoda. Dan ya.. aku ijinkan kamu ketemu sama mantan suamimu itu. Tapi jangan macam-macam. Apalagi niat selingkuh.”

Tara tersenyum dan mengangguk. Dia tahu jika David pria yang normal. Dan Tara yakin, keputusannya untuk bersama dengan David, adalah keputusan yang tepat. Dia akan merasakan kebahagiaan itu. Sebentar lagi.

Bersambung ….

1
Atik R@hma
ok ka yes,salam kenal🤣🤣
yesstory: Terima kasih banyak kak Atik yang setia baca karyaku. Semoga suka ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!