NovelToon NovelToon
Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Idola sekolah / Diam-Diam Cinta
Popularitas:923
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Mendung di Balik Matahari dan Rahasia yang Terkoyak

Pagi itu, matahari terbit dengan sinar yang teramat benderang, seolah tak peduli pada hawa dingin yang masih menyelimuti dada Jenawa Adraw. Udara di pelataran SMA Bangsa terasa ganjil. Tak ada tawa lepas yang biasanya membahana di kantin maupun selasar. Sebagai gantinya, bisik-bisik tegang merayap layaknya ular di antara deretan loker dan meja kelas. Tantangan terbuka Sang Panglima telah sampai ke telinga Agam, dan pihak seberang telah menyanggupinya. Petang nanti, di tanah lapang pabrik tua belakang stasiun, sebuah peradilan jalanan akan ditegakkan.

Seno menghampiri Jenawa yang tengah duduk diam di bangku teras belakang sekolah. Ia menyodorkan sebotol air mineral dingin.

"Utusan kita sudah kembali, Wa," lapor Seno dengan suara pelan namun sarat akan antisipasi. "Agam menerima tantanganmu. Ia akan membawa lima belas orang barisan depannya, dan kita pun akan membawa jumlah yang sama. Murni adu kepalan tangan. Tak ada senjata."

Jenawa menerima botol itu tanpa menatap Seno. Matanya menerawang jauh ke arah dedaunan mahoni yang bergoyang tertiup angin. "Pastikan anak-anak memegang teguh aturan. Siapa pun yang berani menyembunyikan balok atau besi di balik bajunya, akan berhadapan denganku lebih dulu sebelum berhadapan dengan anak Pelita."

"Bisa dipastikan, Panglima," Seno mengangguk hormat, lalu terdiam sejenak, mengamati raut wajah kawan karibnya yang tak memancarkan euforia layaknya akan menyongsong sebuah kemenangan. "Kau tampak tidak tenang, Wa. Apakah ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu?"

"Bukan apa-apa," dusta Jenawa pelan. "Hanya bersiap untuk segala kemungkinan."

Lonceng tanda istirahat berbunyi nyaring. Jenawa bangkit dari duduknya. Tanpa perlu ditanya, Seno tahu ke mana arah langkah kaki pemuda itu akan bermuara.

Di taman samping sekolah, di bawah rimbunnya pohon bougenvil tempat mereka berbagi sepucuk surat kemarin siang, Sinaca Tina telah duduk dengan sebuah buku catatan di pangkuannya. Namun kali ini, jemari lentik gadis itu tak menari di atas kertas. Ia hanya duduk terdiam, matanya menatap kosong ke arah kelopak bunga yang berjatuhan.

Langkah Jenawa terdengar berat saat mendekati bangku batu tersebut. Ia merasa seperti seorang pesakitan yang tengah berjalan menuju tiang gantungan, di mana hakim yang akan mengadilinya adalah gadis yang telah mencuri hatinya.

"Selamat siang, Sinaca," sapa Jenawa, suaranya diusahakan setenang mungkin.

Sinaca mengangkat wajahnya. Tidak ada senyum simpul yang menyambutnya hari ini. Sepasang mata kecokelatan itu menatap Jenawa dengan sebuah kedalaman yang sulit diselami, memancarkan perpaduan antara kecerdasan yang tajam dan kekecewaan yang tertahan.

"Matahari bersinar terlampau terik hari ini, Jenawa," ucap Sinaca lambat-lambat, tak membalas sapaan pemuda itu dengan semestinya. "Namun entah mengapa, aku melihat awan mendung yang begitu pekat bergelayut di sepasang matamu."

Jenawa mengambil tempat duduk di ujung bangku, menjaga jarak yang terasa beribu-ribu mil jauhnya meski mereka duduk berdekatan. "Hanya kelelahan yang biasa, Sinaca. Terlalu banyak tugas sekolah yang harus kuselesaikan semalam suntuk."

"Kau bukan seorang pembohong yang ulung, Jenawa Adraw," potong Sinaca lugas, bahasanya kembali mengeras. Gadis itu menutup buku catatannya dengan gerakan yang cukup kasar. "Dinding-dinding sekolah ini memiliki telinga, dan angin lorong selalu membawa kabar lebih cepat dari yang kau kira. Pabrik tua belakang stasiun. Petang ini. Apakah itu yang kau sebut sebagai tugas sekolah?"

Dada Jenawa terasa seolah dihantam godam yang tak kasat mata. Ia menundukkan kepalanya, menatap ujung sepatunya sendiri. Kebenaran telah terungkap jauh sebelum ia sempat merangkai kata untuk menjelaskannya.

"Sinaca, aku bisa menjelaskannya..."

"Menjelaskan apa?" Sinaca memiringkan tubuhnya menghadap pemuda itu, nada suaranya bergetar menahan emosi yang meluap. "Menjelaskan bahwa janji yang kau ucapkan kemarin petang di bawah pohon tanjung hanyalah bualan belaka? Bahwa manisnya sore kita kemarin tak lebih dari sekadar jeda sebelum kau kembali memburu darah dan rasa sakit?"

"Bukan begitu!" Jenawa serta merta mengangkat wajahnya, menatap Sinaca dengan sorot mata yang memohon pengertian. "Aku tak pernah berniat mengingkari janjiku padamu. Namun Agam... ia pengecut, Sinaca. Saat aku berjalan mengawalmu pulang, komplotannya mencegat Bimo dan anak-anak kelas sepuluh di gang utara. Mereka mengeroyok kawan-kawanku hingga dilarikan ke klinik!"

Napas Jenawa memburu. Rahangnya kembali mengeras saat bayangan perban berdarah di pelipis Bimo terlintas di benaknya.

"Aku bisa menelan egoku saat mereka memakiku di jalanan. Aku bisa menahan tanganku demi dirimu," lanjut Jenawa, suaranya parau. "Namun sebagai seorang pemimpin, aku tak memiliki kemewahan untuk berdiam diri saat orang-orang yang berada di bawah lindunganku dilukai dari belakang. Jika aku tak mengambil alih dan menantang Agam secara jantan, anak-anak Bangsa akan menyerbu membabi buta malam tadi."

Sinaca terdiam. Dadanya kembang kempis mencerna rentetan fakta pahit dari dunia yang tak pernah ia sentuh itu. Logikanya membenarkan tindakan Jenawa sebagai seorang pemimpin, namun nuraninya sebagai seorang perempuan yang diam-diam menaruh simpati pada pemuda itu menjerit tak terima.

"Apakah sebuah perseteruan harus selalu ditebus dengan perseteruan baru?" lirih Sinaca, sebulir air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya menetes, jatuh membasahi sampul buku catatannya. "Apakah kau tak memikirkan... bagaimana perasaanku jika kau kembali dengan tubuh yang tak utuh?"

Melihat air mata itu jatuh, pertahanan Jenawa runtuh sepenuhnya. Ia mengulurkan tangannya, ragu-ragu, namun akhirnya memberanikan diri menyentuh punggung tangan Sinaca yang bergetar.

"Maafkan aku," bisik Jenawa, suaranya nyaris hilang ditelan embusan angin siang. "Ini adalah jalan hidup yang telah kupilih jauh sebelum aku mengenalmu. Aku berjanji, ini adalah konfrontasi terakhir untuk menutup segala urusan dengan Agam. Setelah petang ini, aku tak akan lagi mencampuri urusan aspal jalanan."

Sinaca perlahan menarik tangannya dari sentuhan Jenawa. Bukan karena ia membenci pemuda itu, melainkan karena ia tak sanggup merasakan kehangatan dari sebuah tangan yang sebentar lagi akan digunakan untuk menghancurkan orang lain. Gadis itu bangkit berdiri, merengkuh bukunya erat-erat di depan dada.

"Pergilah, Jenawa," ucap Sinaca dengan suara yang teramat letih. Ia tak memandang wajah pemuda itu, pandangannya tertunduk meratapi kelopak bougenvil yang terinjak. "Penuhi tugasmu sebagai seorang panglima. Namun ingatlah satu hal..."

Sinaca menjeda kalimatnya, mengambil napas panjang sebelum akhirnya menatap lurus ke dalam manik mata kelam Jenawa, menyalurkan sebuah kepedihan yang mendalam.

"Setiap luka yang kau bawa pulang petang nanti, tak hanya akan mengoyak kulitmu, melainkan akan turut menorehkan luka yang sama dalamnya pada kepercayaan yang baru saja kita bangun."

Tanpa menanti jawaban dari pemuda yang kini mematung dengan dada sesak itu, Sinaca membalikkan badan dan melangkah pergi. Ia meninggalkan Jenawa sendirian di bawah rindangnya bougenvil, terjebak dalam pusaran rindu yang baru tumbuh, dan seteru yang tak bisa lagi dihindari. Lonceng sekolah berdentang, mengiringi sang panglima yang kini harus bersiap menyambut badai sendirian.

1
Nita
pertama...
semangat Thor nulisnya...💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!