seorang ibu muda dari istri seorang pengusaha kaya raya sedang mengandung 9 bulan dan sedang mengalami kontraksi lalu dibawa ke rumah sakit , dan bertepatan dengan mantan pembantu rumah tangganya juga melahirkan di rumah sakit yang sama dengan motor majikannya . mereka sama-sama melahirkan bayi perempuan . pembantu rumah tangga yang ingin anak perempuan yang hidup berkecukupan mempunyai rencana licik untuk menukar anak perempuan dengan anak majikannya . sampai umur dewasa perbuatan itu tidak pernah terbongkar . bagaimana kelanjutannya ? ikutin terus novel Re _ Ara ya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Bertemu Amira
Di dalam kamar yang gelap dan sunyi, Dinda duduk bersandar di dinding. Air matanya sudah kering, berganti dengan rasa kecewa yang mendalam dan membeku di hatinya.
Ia memegang pipinya yang masih terasa panas bekas tamparan Liana. Sakit fisik itu tidak seberapa dibandingkan sakit hatinya saat melihat tatapan kecewa dan jijik dari orang-orang yang baru saja ia panggil Mama, Papa, dan Nenek- neneknya .
Dinda Bergumam pelan dengan suara pecah . "Mereka... mereka semua tuduh aku pencuri. Padahal aku bersumpah aku gak pernah ambil barang siapa pun. Walaupun Dinda miskin, walaupun Dinda hidup susah... Bapak dan Ibu Sari selalu ajarin Dinda buat jujur. Tangan ini... tangan ini cuma biasa kerja keras, bukan biasa mencuri!"
Ia menatap sekeliling kamar mewah yang baru ia tempati beberapa hari ini. Semua kemewahan ini terasa hampa dan dingin. Tidak ada kehangatan, tidak ada kepercayaan. Hanya ada prasangka dan tuduhan sepihak.
"Di sini aku dianggap sampah kalau ada barang hilang. Di sini aku langsung dihakimi tanpa dengerin penjelasanku. Tapi di rumah yang kecil dan sempit itu... walaupun kami gak punya apa-apa, aku selalu dihargai. Aku gak pernah dituduh seenaknya."
Pikiran Dinda menjadi jernih. Ia mengambil keputusan besar. Ia tidak mau tinggal di tempat di mana ia tidak dipercaya.
"Aku mau pergi. Mendingan aku balik tinggal sama Bapak dan Ibu Sari. Mereka mungkin orang tua angkat ku, tapi mereka sayang aku apa adanya. Mereka gak pernah malu sama aku."
Dinda berdiri tegak, menyeka air matanya kasar. Ia mengambil koper kecilnya yang dulu ia bawa datang. Ia mulai memasukkan pakaian-pakaiannya yang dia bawa, Ia tidak mau mengambil apa pun selain miliknya sendiri.
Di ruang tengah...
Keluarga masih berkumpul dengan suasana yang suram. Nayla duduk dengan wajah puas, berpura-pura menenangkan Liana.
"Sudah lah Ma... mungkin dia butuh waktu buat sadar kesalahannya. Sabar ya Ma."
Tiba-tiba, semua mata tertuju ke arah tangga. Terlihat Dinda berjalan turun dengan langkah tegap namun wajahnya datar, tanpa ekspresi. Ia menyeret kopernya yang kecil.
Semua orang terkejut melihatnya.
"Dinda... kamu mau ke mana? Kenapa bawa koper?"tanya Liana masih dengan tatapan kecewa .
Dinda berhenti tepat di depan mereka. Ia menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat, tapi matanya tidak lagi berbinar seperti dulu. Tatapannya kini kosong.
"Dinda... pamit pergi, Pa, Ma, Nek." ucap Dinda dingin .
"Pergi ke mana? Kamu mau keluar sebentar?"
dinda menggeleng "Bukan, Pa. Dinda mau pamit pergi dari rumah ini. Dinda mau balik lagi tinggal sama Bapak Agus dan Ibu Sari."
Seketika semua orang terkejut.
"Apa?! Kamu gila ya Nak?! Itu kan bukan orang tua kandungmu! Kenapa kamu mau tinggal di sana yang susah?" geram Bu Rosa .
Dinda Mengangkat wajahnya, menatap mereka satu per satu dengan tenang "Karena di sana, Dinda merasa lebih dihargai Nek. Walaupun kami miskin, mereka tidak pernah menuduh Dinda pencuri tanpa bukti. Mereka tidak pernah menghakimi Dinda sepihak kayak di sini."
Kalimat itu menusuk hati Liana dan Leonardo.
"Dinda... Mama tadi emang lagi emosi. Mama kecewa karena..."
Dinda Memotong ucapan Liana dengan lembut namun tegas "Dinda mengerti, Ma. Tapi kepercayaan itu gampang dihancurin, susah dibalikin. Dinda sakit hati Ma... Dinda dituduh mencuri padahal Dinda gak ngelakuin apa-apa. Dinda janji sama diri sendiri, Dinda gak akan pernah ambil barang orang lain sekalipun Dinda lapar dan miskin."
Air mata Dinda jatuh lagi, tapi ia segera menghapusnya.
"Di sana, walaupun kami makan nasi sayur doang, perut kenyang dan hati tenang. Di sini... makan enak tapi hati sakit terus. Jadi... Dinda pamit ya. Makasih buat semua yang udah diterima Dinda selama ini."
Dinda membungkuk dalam, lalu berbalik badan hendak berjalan keluar pintu.
Nayla di sudut ruangan tersenyum lebar dalam hati. "Sempurna! Dia pergi sendiri! Aku menang! Akhirnya dia keluar dari hidupku!"
"Dinda, tunggu! Jangan pergi dulu! Kita bisa bicarakan ini baik-baik!" cegah Leonardo, namun suaranya ragu.
Namun Dinda tidak menoleh. Ia terus berjalan maju. Pintu utama terbuka, dan gadis itu melangkah keluar, meninggalkan rumah megah yang kini terasa bagai penjara baginya.
Ia lebih memilih hidup sederhana dengan damai daripada hidup mewah namun penuh fitnah dan kecurigaan
Langkah kaki Dinda terasa berat bagai diisi timah. Matahari siang itu bersinar sangat terik, membakar kulitnya, namun tidak sepanas rasa sakit yang menghancurkan hatinya.
Ia berjalan menyusuri trotoar, menyeret koper kecilnya dengan tangan yang gemetar. Air matanya tak henti menetes, membasahi pipinya yang pucat. Ia tidak peduli lagi orang melihatnya, ia tidak peduli lelah atau lapar. Yang ada di pikirannya hanyalah kekecewaan mendalam.
Dinda Bergumam lirih "Kenapa semuanya jadi begini... Aku cuma mau jujur... Kenapa susah banget buat dipercaya..."
Karena kelelahan dan rasa sedih yang mendera, Dinda akhirnya berhenti. Ia duduk di pinggir jalan, di bawah pohon yang rindang namun tidak cukup meneduhkan. Ia memeluk lututnya, menatap kosong ke jalan raya yang ramai, merasa dirinya tak berguna dan tak diinginkan di mana pun.
Tiba-tiba...
Sebuah mobil mewah berwarna hitam melintas pelan di depannya. Di dalam mobil itu, duduklah Amira, sahabat karib Liana sejak kecil, bersama putranya yang tampan dan gagah, Gio, yang kini masih duduk di bangku SMA.
Amira yang sedang melihat ke luar jendela, matanya tiba-tiba terfokus pada sosok gadis yang duduk sendirian itu.
Amira Dalam hati "Hah? Gadis itu... wajahnya kok sangat mirip sekali sama Liana ya? Mirip banget waktu Liana muda. Tapi kenapa dia duduk di pinggir jalan gitu? Pakai baju sederhana dan kelihatan lagi sedih banget?"
Rasa penasaran menguasai dirinya. Ia menyuruh sopirnya menepi.
Mobil pun berhenti. Amira turun diikuti oleh Gio yang berjalan di belakangnya. Gio menatap gadis itu dengan tatapan iba dan penasaran. Ia melihat air mata yang mengalir di pipi gadis itu, membuat hatinya tergerak untuk menolong.
Amira mendekat perlahan. Ia tidak langsung bertanya siapa gadis itu, takut membuatnya kaget atau tersinggung. Ia memutuskan untuk berpura-pura bertanya arah.
"Permisi ya Nak... Maaf mengganggu." tanya Amira .
Dinda yang sedang melamun tersentak, ia segera mengusap air matanya kasar dan menoleh.
"I... Iya Tante? Ada yang bisa dibantu?" suaranya parau dan lemah.
Amira Tersenyum ramah, semakin yakin wajah ini sangat identik dengan Liana "Begini Nak, Tante sebenarnya lagi cari alamat rumah teman Tante, tapi Tante agak lupa jalannya. Kebetulan Tante lihat kamu duduk di sini, boleh nanya gak? Ini daerah mana ya? Jalan apa?"
Sambil bertanya, Amira mengamati wajah Dinda dengan saksama. Hidung, mata, bentuk alis... sungguh sangat mirip. Bahkan cara gadis itu menunduk malu pun mirip sekali.
Dinda Menjawab dengan sopan meski sedih . "Oh... ini jalan Anggrek, Tan. Kalau Tante mau cari tempatnya mungkin lebih baik lewat jalan depan terus belok kiri."
Gio yang berdiri di samping ibunya tidak bisa mengalihkan pandangannya. Ia melihat mata gadis itu yang merah dan bengkak karena menangis. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Kakak... kakak nggak apa-apa? Kenapa nangis? Dan kenapa duduk di sini sendirian di panas-panas begini? Bahaya lho." tanya gio .
Dinda menunduk, tidak sanggup menjawab. Rasanya ingin menangis lagi karena ada orang yang peduli padanya saat ini.
"Iya nak, kamu kayaknya lagi ada masalah ya? Maaf kalau Tante kepo, tapi wajah kamu itu... Tante lihat kok sangat mirip sekali sama sahabat Tante, namanya Liana. Kamu kenal sama Bu Liana gak? Atau kamu ada hubungan keluarga sama dia?"
Pertanyaan itu membuat Dinda terhenti. Ia menatap Amira dengan mata berkaca-kaca.
"Tante... kenal sama Mama Liana?"
Amira Mata membelalak, jantungnya berdegup kencang "Mama?! Jadi beneran?! Kamu anaknya Liana?! Dinda?! Ya Ampun! Jadi kamu Dinda yang diceritain Liana kemarin itu?!"
Amira sangat terkejut. Ia tahu cerita pertukaran anak itu dari Liana. Ia tahu Dinda adalah anak kandung yang baru ditemukan.
"Terus kenapa kamu bisa ada di sini Nak?! Kenapa kamu bawa koper?! Kenapa kamu nangis begini?!"
Dinda tidak kuat menahan diri lagi. Mendengar pertanyaan penuh perhatian itu, tangisnya pecah kembali.
"Tante... Dinda mau pulang ke rumah orang tua angkat Dinda. Dinda nggak mau tinggal di rumah keluarga Dewantara lagi... Dinda dituduh mencuri... padahal Dinda nggak ngelakuinnya... Mereka nggak percaya sama Dinda Tan..."
Mendengar itu, wajah Amira berubah menjadi marah dan sedih sekaligus. Ia tidak menyangka sahabatnya dan keluarga bisa menyakiti hati anak sebaik ini.
"Ya Allah... Mereka gila ya?! Menuduh anak baik-baik begini! Kasihan kamu Nak... Ayo, jangan duduk di sini. Masuk ke mobil Tante. Tante antar kamu. Jangan menangis lagi ya sayang..."
Gio segera maju membantu mengambil koper dari tangan Dinda.
"Ayo Kak, saya bawa. Panas sekali di sini. Masuk mobil saja dulu, adem." ajak gio
Gio menatap Dinda dengan tatapan protektif dan penuh simpati. Ia berjanji dalam hati, ia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti gadis ini lagi. apalagi dia putri Tante Liana . Yang sudah dianggap mamanya sendiri .
Dinda yang merasa lelah dan butuh sandaran, akhirnya mengangguk patuh. Ia dibantu masuk ke dalam mobil yang dingin dan nyaman itu, meninggalkan panasnya jalanan dan rasa sakit yang sementara.
...----------------...