Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.
Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~
Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.
Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.
Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.
Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.
Rana tahu.
Rana melihat.
Ia menyadari.
Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.
Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?
Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26
Selamat membaca
°°°°°
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pucuk 22
Pagi itu, suasana di salah satu taman kanak-kanak bergensi di kawasan Utara Yogyakarta terasa jauh lebih ramai dari biasanya. Gedung sekolah elit yang letaknya tak jauh dari kawasan Hyarta residence itu- KinderStation Preschool Yogyakarta- dipenuhi oleh para orang tua murid yang datang dengan pakaian rapi dan wajah penuh antusias.
Hari itu adalah hari pentas seni tahunan.
Seluruh rangkaian acara diadakan di sebuah auditorium indoor milik sekolah- ruangan luas berlangit-langit tinggi dengan pencahayaan temaram yang hangat, kursi-kursi empuk tertata rapi berbaris, serta panggung megah yang dihiasi ornamen balon warna-warni, bunga-bunga segar, dan backdrop bertuliskan;
"Little Stars, Big Dreams"
Tawa anak-anak, bisik-bisik orang tua, serta suara kamera yang sesekali berbunyi memenuhi ruangan.
Rana duduk dibarisan tengah bersama Masayu yang tenang di pangkuannya. Hari itu Rana mengenakan dress panjang berwarna beige lembut dengan cardigan putih tulang, sederhana namun tetap anggun. Rambut hitamnya digerai rapi, sementara wajah cantiknya terlihat sedikit muram- meski bibirnya terus memaksakan senyum demi kedua anaknya.
Matanya beberapa kali menatap layar ponsel.
Kosong.
Tidak ada balasan dari Dipta.
Tidak ada pesan.
Tidak ada kabar.
Di atas panggung, yang salah satu guru yang bertugas menjadi MC berdiri dengan mikrofon di tangan.
"Selamat pagi, Ayah dan Bunda murid yang kami hormati..."
Suara tepuk tangan memenuhi ruangan.
"Sebentar lagi pentas seni akan kita mulai. Mari kita saksikan penampilan luar biasa dari putra-putri hebat kita hari ini."
Acara pun dimulai.
Satu per satu penampilan berganti. Ada yang menari, membaca puisi, bermain pianika, hingga drama musikal kecil yang mengundang gelak tawa.
Namun dibalik panggung, Alaric duduk gelisah. Jari-jarinya menggenggam ujung kostum tampilnya- kemeja putih dengan dasi kupu-kupu merah dan suspender hitam. Sepatu pantofel kecilnya mengetuk lantai berulang kali karena gugup.
Lebih dari itu, hatinya masih kecewa.
Ayahnya belum datang, dan mungkin tidak akan datang.
"Mas Al, siapa ya. Setelah ini giliran kamu." Ucap salah satu guru lembut.
Alaric mengangguk pelan, tapi wajah mungil itu kehilangan semangat. Ia berjalan menuju undakan tangga panggung, bersiap naik-
Langkah kecilnya terhenti.
Di ambang pintu auditorium yang besar, siluet seorang pria tinggi dengan tubuh proporsional yang mengenakan black theree- piece suit dengan waistcoat tampak memasuki ruangan.
Tegap.
Berwibawa.
Wajah dingin yang begitu familiar.
Tuan Adhikara Pradipta Mahendra.
Mata Alaric membulat.
Wajah kecilnya yang tadi murung mendadak bersinar seperti mentari pagi.
"Ayah!" serunya pelan namun penuh suka cita.
Dari kejauhan, Dipta mengangkat tangan, melambaikannya kecil pada putranya.
Alaric langsung membalas lambaian tangan itu dengan penuh semangat, melompat kecil sampai membuat beberapa guru tersenyum geli. Gerakannya ringan membuat hampir seluruh kepala di auditorium spontan menoleh kebelakang. Begitu pula Rana. Dan untuk beberapa detik, napasnya seperti tertahan.
Matanya bertemu dengan lelaki yang sudah satu Minggu menghilang dari rumah. Dipta melewati deretan kursi tamu dengan langkah tenang. Wajahnya tetap datar, nyaris tanpa ekspresi, aura dinginnya tak berubah sedikit pun.
Ia berhenti tepat di samping Rana.
Tanpa sapaan. Tanpa teguran. Tanpa kalimat pembuka.
Lelaki itu hanya duduk di kursi kosong sebelah Rana seolah tidak pernah terjadi pertengkaran besar di antar mereka.
Namun kehadirannya membawa perubahan besar. Masayu yang sejak tadi duduk manis di pangkuan Rana langsung mengulurkan kedua tangan kecilnya.
"Ayah..."
Dipta menoleh.
Sesaat kemudian, untuk pertama kalinya pagi itu, raut dingin di wajahnya sedikit melunak. Ia mengambil putri kecilnya, mendudukkannya di pangkuan, lalu memeluk tubuh mungil itu erat.
Masayu tertawa kecil, memeluk leher ayahnya dengan manja. Rana diam. Tangannya terkepal di atas pangkuan.
Jarak mereka begitu dekat, namun terasa sangat jauh.
Lalu lampu panggung menyorot terang. Suara musik anak-anak mengalun riang, dan muncullah Alaric di tengah panggung. Anak laki-laki itu berdiri tegak di depan mikrofon, matanya mencari satu titik di kursi penonton- ayah dan bundanya. Ketika anak itu melihat Dipta duduk disana, Alaric tersenyum lebar. Semua rasa kecewa tadi seketika lenyap, ia membawakan lagunya penuh riang gembira.
Alaric terlihat semangat membawakan lagunya, suaranya menggema- khas suara anak-anak, bening nan ceria. Sesekali gerakan kecil nan lincah serta ekspresi ceria membuat para penonton bertepuk tangan.
Beberapa orang tua tersenyum kecil, saling berbisik kagum melihat keberanian bocah lima tahun itu.
"Wah...lincah banget."
"Anaknya sapa sih?"
"Itu lho, yang barusan lewat. Ganteng temenan ayahnya..."
"Kalau Ndak salah, ayahnya itu tuan Adhikara Pradipta Mahendra. Itu lho, pewaris keluarga Mahendra."
"Seriusan?"
"Iya, itu istrinya! Cantik kan?"
"Ah..., benar-benar pasangan yang sempurna..."
Suara-suara kecil itu tak sepenuhnya terdengar oleh Rana maupun Dipta. Hanya saja terdengar samar, Rana menoleh kepada Dipta yang sibuk menatap putranya di panggung, Masayu duduk anteng menyandarkan kepalanya pada dada bidang ayahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tepuk tangan meriah memenuhi auditorium begitu penampilan terakhir selesai. Suara riuh anak-anak, gelak tawa para orang tua, dan ucapan selamat saling bersahutan memenuhi ruangan yang sejak tadi pagi dipenuhi kehangatan.
Di atas panggung, Alaric menunduk kecil memberi salam hormat seperti yang di ajarkan gurunya. Wajah mungilnya semringah, kedua matanya berbinar-binar mencari satu titik- kursi tempat ayah dan bundanya duduk.
Dan ketika melihat Dipta masih berada di sana, Alaric tersenyum lebar. Senyum yang sejak seminggu terakhir jarang terlihat.
Begitu acara resmi di tutup, para orang tua beranjak dari kursi masing-masing. Anak-anak berhamburan mencari pelukan ayah dan bundanya.
Alaric berlari kecil menghampiri.
"Ayah!"
Bocah lima tahun itu langsung memeluk kaki Dipta erat-erat. Tanpa banyak kata, Dipta menunduk lalu mengangkat tubuh putranya ke gendongan satu tangan- gerakan yang membuat Alaric tertawa riang. Di sampingnya, Masayu yang masih berada dalam dekapan Rana mulai merentangkan tangan mungilnya.
"Ayah...Ayu mau..."
Dipta menoleh, lalu mengambil putri kecilnya ke pelukan yang lain. Kini kedua anak itu menempel pada tubuh ayahnya, seolah takut lelaki itu pergi lagi.
Rana yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka hanya diam. Ada perasaan hangat yang menyelinap di dadanya melihat pemandangan itu- namun bersamaan dengan itu, ada sekat dingin yang masih membentang di antara dirinya dan Dipta.
Mereka seperti dua orang asing yang di paksa berdiri dalam bingkai keluarga yang sama. Tak lama, suara bariton Dipta memecah canggung. Datar. Tenang. Nyaris tanpa emosi.
"Kita makan siang di luar."
Rana mengangkat wajah. Matanya menatap suaminya seolah memastikan ia tidak salah dengar.
Dipta melanjutkan.
"Setelah itu kita menginap semalam."
"Menginap?" ulang Rana pelan.
"Di Hotel Tentrem" katanya singkat.
Mata Alaric langsung membulat.
"Serius, Ayah? Kita staycation?" ucap anak itu dengan masih cadel dan pelafalan seperti anak usia lima tahun pada umumnya.
Nada suaranya penuh semangat hingga beberapa orang tua di sekitar menoleh sambil tersenyum. Masayu ikut bertepuk tangan kecil di gendongan Dipta.
"Holle...kita lenang!!!"
Dipta tidak menjawab, tapi sudut bibirnya samar terangkat- sangat tipis bahkan nyaris tak terlihat.
Rana memandangi lelaki itu dalam diam. Ia tahu ini bukan sekadar ajakan makan siang biasa.
Entah bentuk permintaan maaf, entah usaha memperbaiki keadaan, atau mungkin cara Dipta menebus ketidakhadirannya selama satu Minggu terakhir. Namun melihat wajah bahagia kedua anaknya, Rana tak punya hati untuk menolak.
"Pak Vito," panggil Dipta kepada supir pribadinya. Pria paruh baya itu mendekat, "bapak sama Mbak Sari pulang saja ke rumah pakai mobil istri saya. kami mungkin tidak pulang malam ini, untuk itu jaga rumah baik-baik." Pintanya.
"Nggih, Tuan muda." Ucap Pak Vito sopan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung....
Mohon dukungannya ☺️
Btw makasih udah mampir 🫶