"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Antara Cemburu dan Keadilan
Sisa-sisa mimpi buruk itu masih membekas di wajah Baskara. Pagi harinya, ia tidak membiarkan Arini beranjak dari tempat tidur sebelum ia mendapatkan penjelasan. Suasana kamar terasa sangat berat, seolah udara pun segan untuk mengalir.
Arini menghela napas panjang, ia duduk di hadapan Baskara yang menatapnya dengan pandangan yang menuntut kejujuran. "Bas, pria yang kamu lihat di mimpimu... namanya Satria. Dia hantu pejuang yang mengikutiku dari museum di Yogyakarta."
Baskara terdiam, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menegang. "Jadi benar... dia nyata? Dia bukan hanya produk ketakutanku?"
"Dia percaya bahwa aku adalah reinkarnasi dari kekasihnya yang bernama Sekar," lanjut Arini pelan. "Itu sebabnya dia mencoba masuk ke pikiranmu, Bas. Dia ingin memisahkan kita karena dia cemburu padamu."
Mendengar itu, Baskara bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan mondar-mandir di kamar dengan langkah yang berat. Tiba-tiba ia berhenti di depan cermin, menatap pantulan dirinya sendiri dengan penuh kemarahan.
"Pengecut," desis Baskara. "Dia menyerangku di saat aku tidak bisa melihatnya. Arini, demi Tuhan, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku ingin sekali memiliki mata batinmu! Aku ingin melihat wajahnya, aku ingin mencengkeram kerahnya dan menunjukkan padanya siapa yang sebenarnya memilikimu di dunia ini!"
Mika, yang sedang bersembunyi di balik gorden, hanya bisa menelan ludah. "Waduh, Mas Jaksa mau ngajak duel hantu pejuang. Bisa-bisa rumah ini jadi ring tinju antar dimensi!"
Baskara berbalik, menatap Arini dengan tatapan yang membara. "Jangan pernah anggap dia ada, Arini. Jika dia muncul lagi, panggil aku. Meskipun aku tidak bisa melihatnya, aku akan berdiri di depanmu untuk memastikan dia tahu bahwa batas antara hidup dan mati tidak akan pernah bisa dia lampaui."
...****************...
Kasus Baru: Tragedi Sang Bintang
Ketegangan pribadi itu terpaksa harus ditekan saat sebuah panggilan darurat masuk ke ponsel Baskara. Seorang artis papan atas, Bella Luna, ditemukan tewas di apartemen mewahnya. Polisi menduga overdosis, namun ada kejanggalan yang membuat pihak berwenang meminta tim forensik terbaik—Arini.
Di ruang otopsi RS Medika yang dingin, Arini berdiri di depan jenazah Bella. Tubuh cantik itu kini kaku dan penuh dengan tanda-tanda yang mengerikan.
"Bas, ini bukan overdosis biasa," ucap Arini sambil mengamati luka-luka di tubuh korban. "Ada bekas jahitan baru yang sangat kasar di bagian perut, dan bekas tusukan jarum yang jumlahnya tidak masuk akal. Ini lebih seperti penyiksaan sistematis."
Arini mencoba mempraktekkan nasehat Sang Ratu, ia fokus pada luka fisik. Namun, ia merasakan kehadiran Satria di belakangnya. Anehnya, kali ini Satria tidak mencoba menggoda atau memancing cemburu. Aura pejuangnya bangkit saat melihat ketidakadilan di depan matanya.
"Dia tidak overdosis," suara Satria bergema lembut namun tajam di telinga Arini. "Dia adalah korban dari perdagangan organ yang dikemas dalam pesta obat-obatan. Lihatlah pergelangan kakinya, ada tanda ikat yang disembunyikan dengan riasan."
Arini tersentak, namun ia tetap berpura-pura tidak mendengar Satria. Ia mengikuti petunjuk itu dan benar saja, di balik riasan tebal, ada bekas ikatan rantai yang sangat kuat.
Arini mencoba "memanggil" arwah Bella untuk meminta kesaksian langsung, namun ia merasakan hambatan yang luar biasa. "Bas, ada yang aneh. Arwah korban ini sepertinya diikat oleh sesuatu yang sangat kuat. Aku tidak bisa merasakan energinya, seolah dia disekap bahkan setelah kematian."
Baskara mendekat, ia berdiri di samping Arini, menatap tubuh korban dengan pandangan tajam jaksanya. "Pelecehan, penyiksaan, dan bekas jahitan... ini konspirasi besar, Arini. Jika benar ada yang berani menyekap jiwanya, artinya kita berhadapan dengan orang yang juga menggunakan jasa hitam."
Tanpa sepengetahuan Baskara, Satria berdiri di sisi lain meja otopsi. Ia menatap Arini dengan penuh pengabdian. Meskipun Arini tidak menganggapnya ada, Satria mulai menunjukkan jati dirinya sebagai seorang pejuang yang benci melihat penindasan.
"Aku akan membantumu menemukan siapa yang mengikatnya, Sekar," bisik Satria. "Bukan untuk mencuri hatimu dari jaksa kaku ini, tapi karena jiwaku tidak akan tenang melihat kebusukan ini terjadi di tanah yang dulu aku bela."
Arini menggenggam pisau bedahnya erat-erat. Ia berada di tengah-tengah dua pria yang sama-sama kuat dan posesif dengan cara masing-masing. Satu melindunginya dengan hukum dan pelukan nyata, yang satu lagi melindunginya dengan kekuatan gaib yang tak terduga.
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣