Elara Safira Nirmala hanyalah gadis yatim piatu biasa di dunia modern, ia ditinggal oleh orang tuanya sejak kecil dan dia tinggal di kos-kos an sederhana di salah satu kota. Pagi itu Elara hanya ingin pergi ke sekolahnya tetapi ada suatu yang terjadi padanya, ada sebuah tragedi membuatnya terbangun sebagai Elara Mirabel Astoria, lady terbuang dan tak berguna di kerajaan kuno, dengan kemampuan modern yang canggung dan komentar sarkastiknya Elara harus bertahan di tengah drama keluarga bangsawan, intrik politik, dan mungkin sedikit cinta yang tak terduga. Langsung baca aja yuk ceritanya daripada penasaran!!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ꧁Diajeng rini꧂, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Melihat Ayahnya disudutkan Lilian merasa inilah saatnya dia tampil sebagai "pahlawan" sekaligus memikat hati Pangeran dengan pesonanya. Dia melangkah maju dengan gerakan yang dibuat seanggun mungkin, tangannya bertaut di depan perut dan wajahnya dipasang semelas mungkin seolah dia adalah malaikat yang paling tulus.
"Pangeran Mahkota yang terhormat" suara Lilian keluar dengan nada yang lembut dan mendayu-dayu "Mohon maaf jika saya lancang menyela. Namun Ayahanda hanya ingin yang terbaik untuk Kak Elara. Sebenarnya... Kak Elara ini memang pribadi yang sangat sulit diatur dan sering membangkang"
Lilian melirik Elara sebentar dengan tatapan "prihatin" yang dibuat-buat.
"Kami menaruhnya di paviliun belakang...maksud saya gudang itu bukan untuk menyiksanya. Justru Ayah ingin Kak Elara belajar mandiri dan sadar akan posisinya, agar dia bisa memperbaiki sikapnya sebelum benar-benar terjun ke masyarakat. Itu adalah bentuk kasih sayang Ayah yang tegas" lanjut Lilian sambil tersenyum manis berharap Kaelen akan terkesan dengan kebijaksanaannya.
Elara hampir saja tersedak udara sendiri.
"Mandiri? Kasih sayang tegas? Wah ini akting Lilian beneran harus dapet piala Oscar kategori tukang ngibul terbaik sih ini" batin Elara sambil menahan tawa.
Pangeran Kaelen terdiam. Dia menatap Lilian dari atas sampai bawah. Namun bukannya tatapan terpesona matanya memancarkan rasa jijik yang sangat dalam seolah-olah dia baru saja melihat sesuatu yang kotor di lantai marmernya yang bersih.
"Mandiri?" Kaelen mengulang kata itu dengan suara yang dingin membuat senyum Lilian perlahan luntur "Kau bilang menaruh seorang Lady di gudang yang tidak layak huni adalah cara untuk mengajarinya kemandirian?"
Kaelen melangkah mendekati Lilian membuat gadis itu mundur selangkah karena terintimidasi.
"Jika menurutmu gudang penuh debu dan sisa barang rongsokan adalah tempat yang bagus untuk belajar mandiri..." Kaelen menjeda kalimatnya, suaranya kini terdengar seperti belati yang mengiris keheningan aula "...Maka mulai malam ini aku akan meminta pengawal istana untuk menyiapkan sebuah sel di penjara bawah tanah untukmu Lady Lilian. Kau bisa belajar mandiri di sana selamanya agar kau sadar bahwa martabat seorang Lady tidak ditentukan oleh tempat pembuangan"
Lilian membelalak dan wajahnya berubah pucat pasi seputih kapas "P-Pangeran... bukan itu maksud saya..."
"Diam" potong Kaelen telak "Mendengar caramu membela kekejaman Ayahmu dengan kata-kata 'kelembutan' itu justru membuatku merasa mual. Kau tidak hanya tidak punya empati tapi kau juga tidak punya harga diri karena berbohong di depan Yang Mulia Raja dan Aku sang Putra Mahkota, mungkinkah kau juga ikut andil dalam menyiksa Lady Elara dulu"
Duke Alaric hampir pingsan di tempat. Semua orang di aula mulai berbisik-bisik menghina ke arah Lilian.
Elara yang melihat itu cuma bisa bersedekap dada sambil manggut-manggut "Wah Pangeran kalau ngeroasting ngeri juga ya. Lilian mending kamu cari tempat sembunyi deh, itu muka udah kaya adonan donat yang gagal ngembang, serak-serak berserakan awokawok"
Duke Alaric gemetaran dan keringat dingin sebesar biji jagung jatuh dari dahinya "P-Pangeran Mahkota, mohon maafkan ketidaktahuan putri bungsu saya... dia hanya terlalu menyayangi kakaknya dengan cara yang salah"
Elara berjalan maju satu langkah dan senyum miringnya makin lebar "Waduh Ayah, kalau sayang dengan cara yang salah itu namanya toxic bukan kasih sayang, Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Pangeran, mumpung lagi bahas 'keamanan' dan 'kemandirian'..."
Elara merogoh sesuatu dari balik korset gaun mahalnya. Duke Alaric membelalak mengira Elara akan mengeluarkan belati tapi ternyata Elara mengeluarkan sepotong roti gandum yang sudah kering, keras dan berwarna agak kehijauan atau jamuran yang sengaja dia simpan dari gudang kemarin sebagai bukti otentik.
Elara menaruh roti itu di atas meja kecil di dekat singgasana.
"Ini menu 'kemandirian' saya kemarin, kalau Lilian atau Ayah mau coba biar makin mandiri, silakan. Rasanya unik, ada sensasi pait-pait tanahnya" ucap Elara dengan nada santai tapi mematikan.
"Semiskin-miskin nya aku di dunia dulu, aku ngga pernah makan roti kaya tai kudanil gini jir" batin Elara
Pangeran Kaelen menatap roti itu lalu menatap Duke Alaric dengan tatapan yang seolah-olah ingin mencabut gelar bangsawannya detik itu juga "Jadi ini 'kasih sayang tegas' yang kau maksud Duke?"
Aula kembali hening tapi kali ini heningnya mencekam. Raja yang sedari tadi diam tiba-tiba berdiri dari singgasananya membuat semua orang langsung menunduk ketakutan kecuali Elara yang malah sibuk benerin sarung tangannya.
"Cukup" suara Raja menggelegar "Duke Astoria, kau telah menghina martabat bangsawan dengan memperlakukan darah dagingmu sendiri lebih rendah dari pelayan. Tidak mungkin kau tidak tahu kalau aku sangat membenci orang yang menelantarkan anaknya sendiri, dan kau Lady Lilian..."
Raja menatap Lilian yang sudah lemas di lantai "Bawa dia keluar. Aku tidak sudi melihat wajah seseorang yang menganggap penyiksaan sebagai bentuk kemandirian. Masukkan dia ke ruangan isolasi istana sementara aku memikirkan hukuman yang pantas untuk keluargamu!"
Ya, Raja sangat membenci orang yang menelantarkan anaknya karena... dia pernah diposisi itu, maka dari itu dia akan memastikan seluruh rakyat bahkan bangsawan tidak ada yang menelantarkan anaknya, mendengar Duke Astoria yang notabennya adalah bangsawa tertinggi di kerajaan malah melanggar peraturan yang di buat oleh Yang Mulia Raja.
Lilian langsung menjerit histeris saat dua prajurit menyeretnya keluar. Duke Alaric jatuh berlutut kehilangan semua harga dirinya di depan seluruh pejabat kerajaan.
Elara cuma bisa geleng-geleng kepala "Makanya dari dulu anak tuh dijaga, karena ga ada mana sihir aja di telantarin, aneh. Dah lah mending nanya ke Pangeran prasmanannya sebelah mana"
Duke Alaric masih berlutut dan wajahnya menempel ke lantai marmer yang dingin. Keheningan di aula itu begitu pekat sampai suara napas tertahan para bangsawan pun bisa terdengar. Pangeran Kaelen melangkah pelan mengitari Duke yang gemetaran lalu berhenti tepat di samping Elara.
"Jadi Duke" suara Kaelen terdengar sangat tenang, tapi justru itu yang paling menakutkan. "Karena kau sangat peduli pada 'keamanan' Elara, aku memutuskan untuk mengambil alih tugas itu sepenuhnya. Mulai detik ini Lady Elara Mirabel Astoria berada di bawah perlindungan langsung Istana Kerajaan"
Mata Duke membelalak. Itu artinya dia tidak bisa menyiksa Elara dan kehilangan akses ke posisi politik yang mungkin bisa didapat melalui Elara.
"Tapi... tapi Pangeran..." gagap Duke
"Tidak ada tapi-tapian" potong Kaelen "Kau boleh pulang. Bawa istrimu dan renungkan bagaimana caranya menjadi manusia sebelum menjadi seorang Duke. Soal hukuman resmi untuk kebohongan Lilian di depan Raja tunggu surat dari pengadilan istana besok pagi"
Duke Alaric berdiri dengan kaki lemas berjalan gontai keluar aula tanpa berani menoleh lagi.
Elara melihat punggung ayahnya menghilang, lalu dia menghembuskan napas lega yang panjang "Fiuuh... akhirnya drama keluarga ini selesai juga satu episode. Cape juga ya akting jadi korban padahal aslinya pengen banting meja"
Kaelen menoleh ke arah Elara menatapnya dengan satu alis terangkat "Akting? Jadi kau tidak benar-benar merasa menderita?"
Elara nyengir tanpa rasa berdosa "Ya menderita sih Pangeran. Tapi kalau kelamaan sedih ngga bikin perut kenyang. Ngomong-ngomong ini urusan 'keamanan' udah selesai kan? Saya sudah boleh makan belum? Tadi saya lihat ada pelayan bawa baki isinya kue sus wanginya sampai sini loh"
Kaelen terdiam sebentar lalu sudut bibirnya berkedut, dia hampir tertawa lagi "Kau benar-benar unik Elara. Di saat semua orang ketakutan melihat amarah Raja kau malah memikirkan kue sus"
"Ya gimana energi buat ngeroasting Lilian tadi itu besar banget, butuh asupan glukosa" sahut Elara asbun sambil merapikan gaunnya yang sedikit miring.
_______________________________________________
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
⊂_ヽ
\\
\( ͡° ͜ʖ ͡°)
> ⌒ヽ
/ へ\
/ / \\
レ ノ ヽ_つ
/ /
/ /|
( (ヽ
| |、\
| 丿 \ ⌒)
| | ) /
ノ ) Lノ
(_/
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* 🗿
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* moga-moga nggak ada genre haramnya
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* hancurkan dan bumi hanguskan wanita murahan itu
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* 👍
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* up
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* /Smile/
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* 🙂
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* /Shy/
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
\\
\( ͡° ͜ʖ ͡°)
> ⌒ヽ
/ へ\
/ / \\
レ ノ ヽ_つ
/ /
/ /|
( (ヽ
| |、\
| 丿 \ ⌒)
| | ) /
ノ ) Lノ
(_/