Sinopsis / Deskripsi
Adella hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup dengan ritme yang tenang—mungkin terlalu tenang hingga terasa hampa. Kesehariannya berubah ketika ia bertemu dengan sosok pendidik yang karismatik, seseorang yang menawarkan "kehangatan" dan perhatian yang belum pernah Adella rasakan sebelumnya.
Bagi Adella, guru ini adalah pelindung, tempatnya bersandar dari kerasnya dunia. Namun, di balik tutur kata yang lembut dan tatapan yang menenangkan, tersimpan rahasia gelap yang tersusun rapi di balik dinding rumahnya yang sunyi.
Satu per satu kejanggalan mulai muncul. Perhatian yang semula terasa manis perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Adella segera menyadari bahwa kehangatan yang ia dambakan bukanlah sebuah pelukan, melainkan sebuah jerat. Di dunia yang penuh intrik ini, Adella harus memilih: tetap terbuai dalam kenyamanan yang semu, atau melarikan diri sebelum ia menjadi bagian dari koleksi rahasia sang guru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Pelarian kali ini terasa berbeda. Adella tidak lagi merasa seperti tikus yang ketakutan di dalam labirin. Ada amarah dingin yang mengalir di nadinya—darah Adwan yang selama ini ia benci kini memberinya kekuatan untuk berpikir sepuluh langkah di depan.
"Kita tidak bisa terus berlari, Viona," ujar Adella saat mereka bersembunyi di sebuah apartemen tua milik kenalan Viona. "Julian memiliki sumber daya yang tak terbatas. Satu-satunya cara adalah menghancurkan Baron dari dalam."
"Bagaimana caranya? Baron dijaga seperti benteng," sahut Viona sambil memeriksa layar laptopnya. "Tapi tunggu... ada sesuatu yang menarik. Seseorang baru saja mengirimiku pesan terenkripsi melalui server lama yayasan."
Adella mendekat. Di layar muncul sebuah nama yang membuat jantungnya berdegup kencang: Nyonya Sarah.
"Ibu kandung Nadia?" bisik Adella.
"Dia sudah mencarimu selama berminggu-minggu," kata Viona. "Dia memiliki bukti yang tidak kita miliki. Dia tahu lokasi 'Gudang Kedua' milik Baron—bukan gudang arsip, tapi tempat penyimpanan dokumen-dokumen politik kotor yang digunakan Baron untuk menyuap para hakim."
Adella menyadari bahwa ini adalah aliansi yang ia butuhkan. Jika Pak Adwan mengoleksi gadis-gadis untuk obsesi estetikanya, maka Baron mengoleksi kelemahan orang-orang berkuasa untuk mempertahankan dinastinya.
Pertemuan dengan Nyonya Sarah terjadi di sebuah kapel tua di pinggiran kota. Wanita itu tampak hancur namun memiliki dendam yang sangat murni di matanya. Ia menyerahkan sebuah kunci perak kepada Adella.
"Nadia menghilang karena dia tanpa sengaja menemukan kunci ini di ruang kerja Pak Adwan," ujar Nyonya Sarah dengan suara bergetar. "Kunci ini menuju ke sebuah brankas di bawah tanah sekolah Persada. Pak Adwan tidak hanya mengoleksi siswi di sana; dia juga menyimpan 'jaminan' milik kakeknya."
Adella tersenyum pahit. Pak Adwan memang gila, tapi dia cukup cerdas untuk memiliki asuransi jika kakeknya memutuskan untuk membuangnya. Dan sekarang, asuransi itu ada di tangan Adella.
Namun, pengkhianatan muncul dari arah yang tak terduga. Saat Adella dan Viona hendak meninggalkan kapel, Viona mendadak menghentikan langkahnya. Ponsel Viona bergetar, dan raut wajahnya berubah menjadi pucat pasi.
"Adella... maafkan aku," bisik Viona.
Sebelum Adella sempat bereaksi, pintu kapel didobrak terbuka. Bukan oleh anak buah Julian, melainkan oleh tim taktis milik Baron Adwan sendiri. Dan di tengah-tengah mereka, berdiri Julian yang kini tampak bekerja sama kembali dengan ayahnya.
"Viona, kamu melakukan hal yang benar," Julian melangkah maju, menatap Viona yang tertunduk malu. "Baron menjanjikan kebebasan untuk keluargamu jika kamu membawa Adella kepadaku."
Adella menatap Viona dengan rasa sakit yang mendalam. Pengkhianatan kedua dari orang yang sama. "Kenapa, Viona? Setelah semua yang kita lalui?"
"Mereka memegang adikku, Adella! Aku tidak punya pilihan!" Viona menangis tersedu-sedu.
Julian mendekati Adella, mengambil kunci perak dari tangannya dengan kasar. "Kamu pikir kamu bisa memecah belah kami, Adella? Darah lebih kental dari air, bahkan jika darah itu beracun. Ayah tahu kamu memegang akta kelahiran itu. Dia tidak ingin membunuhmu. Dia ingin kamu kembali ke Menara, untuk melakukan 'upacara' pengakuan."
Adella ditarik paksa menuju mobil. Di tengah keputusasaan itu, ia melihat Nyonya Sarah yang masih duduk tenang di bangku kapel. Wanita itu memberikan anggukan kecil yang nyaris tak terlihat.
Saat berada di dalam mobil, Adella meraba saku rahasia di dalam hoodie-nya. Kunci perak yang diambil Julian... itu adalah kunci palsu yang sudah disiapkan Adella di pasar induk tadi pagi sebagai antisipasi. Kunci yang asli masih ada padanya.
Sisi pandai Adella menyadari satu hal: Julian dan Baron saling tidak percaya. Julian membawanya ke Baron bukan untuk menyelamatkan keluarga, tapi untuk menunjukkan bahwa dialah yang paling berjasa, agar dia bisa menggeser posisi Pak Adwan selamanya.
"Julian," panggil Adella di tengah perjalanan. "Kamu pikir Baron akan memberikan takhtanya padamu setelah semua ini? Kamu hanya alat baginya, sama seperti Pak Adwan. Begitu rahasia darahku terkubur, kamu adalah orang berikutnya yang akan dia singkirkan karena kamu tahu terlalu banyak."
Julian terdiam sejenak, genggamannya pada kemudi mengeras. Benih keraguan yang ditanam Adella mulai tumbuh.